Oleh: sugiarno | April 26, 2009

26. DASAR BELA NEGARA

DASAR BELA NEGARA

“Di saat perahu hendak tenggelam karena bocor dan dihantam badai, penumpang berpegangan pada apapun yang bisa dijadikan pegangan agar selamat”

“Jika” krisis multi dimensi dan ancaman globalisasi tak terbendung lagi maka Indonesia adalah tempat berpegangan bagi Bangsa Indonesia,. Mari, kita cari bersama serpihan perahu yang masih tersisa agar dapat selamat semuanya.

Beberapa serpihan di antaranya adalah: Kutai, Piagam Jakarta, Jumat, 17 Agustus 1945 /9 Romadhon 1364 H, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila, Merah Putih, Rupiah, ABRI yang solid, stabilitas nasional yang terkendali, hasil Pemilu 9 April 2009 “yang demokratis”, Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, Presiden (RI 1), dan semoga Anda dapat menemukan yang lain. Semua itu menjadi Dasar Bela Negara sekaligus sebagai modal dan bekal bagi indonesia untuk melewati Jalan Indonesia agar dapat sampai ke INDONESIA.

Hanya saja, selama “langit atas” ribut, debunya akan terus beterbangan dan merusak tatanan di bumi. Ingat, dulu para pahlawan pernah bersatu menghalau “penjajah”. Sekarang, seharusnya, darah pahlawan pun begitu. INDONESIA yang ada di seberang Jalan Indonesia menyediakan Negeri Khayangan.

Jangan khawatir tidak mendapatkan tempat duduk di sana. Asal, jangan ribut. Sebab, Jalan Indonesia bukan jalan sembarangan. Bayangkan, lama perjalanan 9 tahun dan masih harus menghadapi Banjir Uang. Untuk melewatinya, kepala harus tunduk kepada TUHAN YANG MAHA ESA (Tuhannya Agama). dan juga tunduk pada tuhan yang maha esa (Tuhannya Pancasila).

Jika mau, sekarang pun dapat melihat kursi Anda. Silakan lihat Negeri Khayangan yang ada di atas itu dan cari sendiri, di mana posisi Anda yang seharusnya. Ingat, meskipun seribu kurang satu bukan seribu namun hidup di muka bumi tidak harus menjadi nomor satu.

Wallahualam

Oleh: sugiarno | November 13, 2009

81. MENGHITUNG SISA UANG KORUPTOR

Oleh: sugiarno | Februari 7, 2010

97. KANAL 4

97. Kanal 4

1. Perubahan dimulai dari atas (atasnya lagi, lebih atas lagi, dan yang paling atas). Perubahan yang dimaksud bukanlah person -nya, melainkan cara pandangnya. Selama cara pandang mereka yang berada di atas tetap dan tidak berubah maka jangan pernah bermimpi akan terjadi perubahan, apalagi perubahan yang mendasar. Sedangkan kesejahteraan dimulai dari bawah. Padahal, perubahan = reformasi …

2. ”Pada dekade 2010, terjadi perubahan mendasar di negeri Indonesia. Bangsa Indonesia tidak mau lagi berkepanjangan hidup dalam ketidakpastian hukum, berputar-putar mengelilingi simbul merdeka, dan berhenti dari satu titik krisis ke titik krisis yang lain. Mereka ingin segera mengakhiri semua kebohongan dan kepalsuan. Sebuah gerakan nasional untuk SADAR DIRI pun dimulai …. “ (Dipetik dari: Gila Indonesia, http://www.sangnata.wordpress.com)

3. Meski hanya berbekal bambu runcing, Indonesia mendapatkan kemenangan yang gemilang di garis depan. Itu dulu, dulu sekali yaitu dengan berhasil menghalau bangsa sampah keluar teritorialnya.. Mengapa bisa begitu? Sebab, di garis depan semua turun tangan membantu militer /tentara. Namun, di garis belakang tidak, sekali lagi tidak. Di garis belakang, Indonesia kedodoran. Mengapa bisa begitu? Sebab, semua telah hanyut dalam efforia merdeka … sementara guru berjuang seorang diri di sana untuk menghalau ilmu bangsa sampah dari dalam kelasnya. Alih-alih membantu, justru guru dinistakan dengan dipandang sebagai Agen Perubahan, justru guru dikalungi bunga telasih sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, dan justru dikencingi dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 162/U/2003. Muara dari kedodorannya guru bukan meledak di dalam kelas, namun di Jakarta …

4. Ketika uang diangkat sebagai nomor satu maka rusaklah semua lini kehidupan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh uang harus diselesaikan dengan uang, itu baru bisa dikatakan mendekati adil. Rupiah adalah uang resmi di negara ini. Duka Rupiah tak terperi, sudah dua ”orang” anaknya (baca: ketip dan sen) mati, dicarikan madu, dilacurkan, dan dikurangi kuantitasnya. Ketika anak-anak rupiah mati, ia bagai perempuan tanpa pakaian dalam (maaf). Ketika Rupiah dicarikan madu, rusaklah ”hati” Rupiah. Ketika Rupiah dilacurkan, nistalah Rupiah. Ketika kuantitas Rupiah tidak sebanding dengan kualitasnya, rusaklah perekonomian …

5. Sudah tiba saatnya bagi Bangsa Indonesia untuk belajar taat kepada para pemimpin. Sudah tiba pula saatnya bagi para pemimpin untuk belajar tidak mengkhianati mereka yang dipimpin. Sudah saatnya bagi Bangsa Manusia Indonesia untuk mempelajari Tarian Raja Garuda …
”Tarian Raja Garuda, tarian asli Indonesia
Bergerak bersama, berhenti bersama
Taat pada Yang Esa.
Tarian Raja Garuda, tarian asli Indonesia
Satukan hati, satukan langkah
Menuju Indonesia Raya …..”

Itu kalau mereka mau. Sekali lagi, kalau mereka mau.
Wallahualam.

Oleh: sugiarno | Februari 5, 2010

10. INDONESIA Road across Indonesia, indonesia

10. INDONESIA Road across Indonesia, indonesia
March 23, 2009
Read the headline above, may make some readers confused. But, take it easy. I do not mean to make you be like that. Instead, I want to take you through the road in order to achieve Indonesia INDONESIA safely.
INDONESIA which was across the street is different from Indonesia Indonesia. If you’re observant, you will be able to see there are three subjects in it, namely: Indonesia, Indonesian Road, and INDONESIA.
Indonesia Indonesia is our present. He said: successful development, education and free health care, and rows of other successes. Still he did, unemployment increased from year to year, the handling of corruption with corruption as primadonanya still like it, law enforcement still philosophize sword, the bare woods, juvenile delinquency (and former teens), and a row of portraits of other black.
Three orders have risen to the surface and lead the nation. Everything has worked up, I and you believe. Despite all the advantages and kekuranganya, all-order leaving sweet memories in some and vice versa in others.
I’m not being herded you follow my train of thought. However, if you want to stop for a moment and “off your glasses” and you will see that … .. INDONESIA was still there across the street, and the road was called the Way of Indonesia.
Indonesia street is “cocoon”. Time for the “worm” repent, stop doing the mistake of denouncing the other side. Because, apparently, who denounced no better than the reprehensible. History has proven, the outcome of the Old Order is the 1965 political crisis, the outcome of the New Order is the 1998 financial crisis, and the Order of the Reformation is corruption with corruption as a prima donna. Unfortunately, for the Indonesia Road took nine years, and it set in stone.
Indeed, INDONESIA in Indonesia across the new road can be seen “pictures”. Please click on “State Khayangan”. From the picture, you will be able to see that apparently, there is a place for everything and so on … .. Do not you want to live safe, secure, cheap clothing, cheap food, safe, peaceful, just, prosperous, and prosperous?
If you are satisfied with present conditions, then forget that you have read this article. However, if you want to live more meaningful for future generations so prepare yourself for the Indonesia Road.
Remove the self-interest, group, or groups. Let’s join hands, Squeeze line, combine steps, let’s move forward together … ..
Wallahualam.

Oleh: sugiarno | Februari 4, 2010

14. HEAD OF SCHOOL, NOT. TEACHER, ALSO NOT

14. HEAD OF SCHOOL, NOT.
TEACHER, ALSO NOT

Bizarre. That’s education if the writing on really happening in public schools, especially elementary schools are implementing the State only in the technical sub-district level ..

According to Minister of Education Decree No. 162/U/2003, dated October 21, 2003, on the Assignment of Teachers as Headmaster, stated that what is meant by the Principal is ….. and so on. That means, a driver’s license (read: SK). Be headmaster “only” valid for four years and after that the relevant return to be a teacher, except when accomplished.

The author does not want to talk about the principal achievements. Therefore, performance criteria themselves to be biased when in the field. Simple example, for instance, concerned the management of this organization, board the organization, this cadre, the cadre was already “considered” achievement.

Increasingly sold outside the school principal, school penah do not even face to face, and so on. as befits a teacher – was the achievement. Business school how, what the teachers said in school.

While those who did not become anything, even upside down in managing the school so as not to tilt is considered quiet, considered to be outstanding.

Back to the headline above. “The headmaster, instead. Teachers, nor is it “, that can occur when a principal of his decree is due four years (the validity period finished) but still sit in the chair of school leaders, still running the school named Bear, was still angry with the teacher, and so on. That’s funny. SK was already expired, the card is dead, but still played. While SK Assignment Teacher with additional duties as the new principal, not yet released.

Simple question, in what capacity at the school? Principal, instead. Teachers, nor is it.

Therefore, the future need for judicial education which will govern the educational bureaucrats will neglect the duties and obligations, a troubled teacher prosecute, prosecute corruption in the sphere of education, and so on. Remember, the problem of education does not end with increasing education budget to 20% of the national budget. The rest read “Noto Education” on the “Start A Revolution Numbers Justice”

Fortunately, there are no court of Education so that parasite-parasite can thrive in the education trees ..
Wallahualam.

Oleh: sugiarno | Januari 23, 2010

96. PAMONG RAKYAT X

96. Pamong Rakyat X

Yang dimaksud Rakyat X dalam tulisan ini adalah sebagian rakyat Indonesia juga. Saya masukkan dalam kategori X karena (menurut saya) mereka berada di wilayah abu-abu, merah tidak, putih juga bukan. Siapakah mereka? Tebakan Anda benar, mereka adalah para politisi yang kita kenal selama ini.
Politisi adalah sebutan akrab bagi “aktor” politik, ahli siasat, ahli strategi, atau yang semakna dengan itu. Memang, natar milik mereka berada di situ. Artinya, kecenderungan hidup yang mereka jalani berada di area itu. Politisi tulen sangat dibutuhkan. Mereka handal, jeli, kritis, dan konsisten dalam membela kepentingan orang banyak.
Politisi tulen berbeda dengan politisi sayur. Yang belakang ini, tidak handal, tidak jeli, tidak kritis, dan tidak konsisten. Oleh karena itu, politisi sayur tidak memiliki greget. Bisa jadi hal ini disebabkan: Pertama, praktik demokrasi yang mereka lakukan adalah demokrasi model sana, bukan model sini. Padahal, tanpa seperti itu pun, mereka sudah menjadi orang terhormat. Kedua, jumlah mereka yang mutlak menguasai parlemen menjadikan mereka sebagai pemain tunggal –meskipun jempol besar, namun tanpa jari yang lain maka yang didapat hanya besarnya. Jika dugaan saya ini benar, berarti kekuranggrgetaan tersebut menjadi bukan murni salah mereka.
Sebagaimana natar-natar Rakyat Murni yang lain, Rakyat X juga mempunyai pamong sebagai pemimpinnya. Selama ini, tokoh tersebut disebut ketua partai politik. Misalnya, Tuan Z adalah Ketua Partai Onde-Onde, Nyonya Y adalah Ketua Partai Serabi, dan sebagainnya. Pamong Rakyat X menguasai 10 % kursi di parlemen.
Oleh karena itu, saringan bagi para politisi makin ketat. Sebab, jumlah partai politik di INDONESIA yang ada di seberang jalan tidaklah lebih dari 10 buah. Ingat, semua identitas rakyat yang melekat sudah tidak dinafikan lagi. Di samping itu, unsur Pancasila sudah mendapatkan tempat. Unsur agama sudah mendapatkan tempat. Unsur birokrasi pun sudah menemukan tempatnya. Semua unsur rakyat bisa duduk bersama dan setara.
Memang, ini adalah pola emansipatif, bukan pola pragmatis. Dengan pola emansipatif, energi bangsa ini bisa dihemat. Dengan pola emansipatif, dana bangsa ini bisa dihemat. Dengan pola emansipatif, selesailah sudah era devide et impera dengan sempurna … dan itu adalah bagian dari bela negara. Wallahualam.

Oleh: sugiarno | Januari 22, 2010

95. PAMONG KOMUNIKASI

95. Pamong Komunikasi

Bisa Anda bayangkan betapa kacaunya hidup ini jika sampai terjadi keterputusan komunikasi informasi antara kanan dan kiri, antara atas dan bawah, antara sana dan sini, dan antara-antara yang lain. Memang, komunikasi verbal dua arah tidak selalu memerlukan pihak ketiga. Namun, ketika informasi yang dikomunikasikan menyangkut hajat orang banyak maka media perantara menjadi sangat penting.
Rakyat murni yang memposisikan diri sebagai perantara informasi disebut Natar Komunikasi. Oleh karena itu, mereka menguasai alur komunikasi dari hulu sampai ke hilir. Hulu komunikasi ada pada sumber informasi (baca: nara sumber), sedangkan hilirnya ada pada khalayak umum yang memerlukan informasi tersebut.
Rakyat komunikasi dimulai dari para wartawan, kurir, pos, sampai dengan perusahaan raksasa yang bergerak dalam bidang itu. Oleh karena itu, menjadi wajar jika mereka memiliki pemimpin. Juga menjadi wajar jika para pemimpin tersebut mendapatkan tempat untuk menyuarakan kepentingan mereka, misalnya dalam hal perlindungan /keselamatan kerja.
Mengingat jumlah mereka yang hanya sedikit maka menjadi sangat berat kewajiban rakyat komunikasi. Sebab, selain berkewajiban mencari berita guna melayani pencari berita, mereka juga mempunyai kewajiban menjadi filter berita itu sendiri. Layak tidak layaknya sebuah informasi disebarkan untuk umum, tingkat kerahasiaan informasi, dan (bila perlu) melindungi kerahasiaan sumber informasi menjadi tanggung jawab moral baginya. Lebih-lebih dengan kian mudahnya dunia maya menembus dinding rumah rakyat …
Ada kemungkinan Pamong Komunikasi belum dapat muncul pada level kelurahan, desa, kecamatan, kawedanan, maupun kota. Kemungkinan sososk ini baru akan muncul pada level kabupaten. Sungguhpun demikian, pada level negara, Pamong Komunikasi menduduki 10 % dari kursi di parlemen. Pamong Komunikasi adalah pemimpin rakyat murni dengan Natar Komunikasi. Adalah menjadi kewajiban bela negara bagi kita semua untuk mengantarkan mereka untuk sampai ke sana.
Wallahualam.

Oleh: sugiarno | Januari 20, 2010

94. BENTUK BELA NEGARA

Oleh: sugiarno | Januari 12, 2010

93. Kanal 3

93. Kanal 3

1. Saya hanya khawatir, bangsa ini menjadi bangsa aduuuuu adaaaaa, melihat kebesarannya aduuuuu (kagum), melihat yang dihasilkan adaaaaa (remeh) … Saya hanya khawatir, para pejabat di negara ini menjadi pejabat aduuuuu adaaaaa, melihat jabatannya aduuuuu (kagum), melihat hasil kerjanya adaaaaa (remeh) … Saya hanya khawatir, para atasan di atas bawahan bermental aduuuuu adaaaaa, melihat posisinya aduuuuu (kagum), melihat hasil kerjanya adaaaaa (remeh) …

2. Sejak dahulu kala, dunia sudah mengakui kebesaran bangsa ini. Ingat, di saat bangsa-bangsa barat masih dalam masa kegelapan, bangsa ini sudah mampu membuat candi Borobudur. Ingat, bala tentara Khan pernah ditumbangkan oleh strategi jitu Raden Wijaya dan bahkan kekuasaan Majapahit mampu melebihi luas Indonesia yang sekarang. Sebelum sana memperkenalkan tokoh hero semacam Superman, bangsa ini sudah mengenal Gatotkaca. Ingat, Sriwijaya pun menyimpan kebesaran … Itu, dulu, dulu sekali. Sekarang? Sebagian pejabat, sebagian atasan, dan sebagian yang “dipaksakan” menjadi atasan sibuk mencari patron, mencari contekan, atau mencari bahan jiplakan dengan dalih studi banding ke sana dan ke sana. Hasilnya? Benang kusut!!! Sekolah mahal, akan lulus mahal, cari kerja mahal, naik pangkat mahal, bea berobat mahal, harga pupuk mahal, harga beras mahal, harga minyak mahal, semua mahal, mahal, dan mahal … Maling ayam digebuk, maling bank melenggang. Maling coklat disikat, maling uang rakyat nakmat.

3. Enam puluh empat tahun telah terjadi kemandekan dalam berpikir, bukanlah singkat. Bisa saja Anda menganggap saya mengada-ada. Tapi, Anda harus cepat sadar. Cara berpikir yang dipakai bangsa ini masih cara lama, masih bergaya bangsa inlander. Padahal, Belanda putih telah pergi. Kebekuan dalam berpikir harus cepat dicairkan. Caranya? Gampang!!! Anda harus loyal kepada pemimpin Anda (baca: atasan Anda) sepanjang perintahnya tidak melanggar hukum Tuhan YME (Tuhan sesuai ajaran agama yang Anda anut). Loyal bukan berarti taat buta. Loyal bukan berarti menelan mentah-mentah setiap perintah. Loyal bukan berarti membebek atau membeo saja …

4. Ternyata, yang diminta si rakus bukan loyalitas, dedikasi, kesetiaan, pengabdian, apalagi prestasi, atau yang sejenis dengan itu. Yang diminta hanya sederhana, UANG! Dalam pandangannya, yang terlihat hanya seberapa besar Anda memberi dan seberapa sering Anda mengirim. Namanya juga si rakus, bertemu kadal diuntal, ketemu kodok diemplok. Ah, ternyata sebegitu nista hidupnya. Padahal, sudah mengenakan baju safari. Mudah-mudahan si rakus “hanya” ada dalam kehidupan saya, tidak sempat menemui Anda. Jika Anda bertemu dengannya, sampaikan salam saya padanya, “INDONESIA itu kaya, uangnya banyak, satu dengan seratus dua puluh delapan nol di belakangnya”.

5. Terlalu sering pelacur dikejar aparat, padahal mereka “hanya” melacurkan dirinya sendiri. Kalaupun itu dosa maka dosanyapun ditanggung sendiri. Kalaupun sakit, sakitnya pun ditanggung sendiri. Tapi, belum pernah ada ceritanya pejabat yang melacurkan jabatannya dikejar aparat. Memang, melacurkan jabatan tidak perlu berdiri berjam-jam di tepi jalan sampai digigit nyamuk, hanya cukup dengan membuat sebuah peraturan. Namun, dampaknya sangat luas, jatuhnya wibawa penyelenggara negara.

Maaf, saya lagi mengigau. Wallahualam.

Oleh: sugiarno | Januari 10, 2010

92. PAMONG INDUSTRI

92. PAMONG INDUSTRI

Masyarakat industri muncul setelah masyarakat pertanian mengalami kemajuan. Memang, semua ritme pertanian bisa maju, kecuali proses penanaman padi …
Enam puluh empat tahun pasca proklamasi, secara fisik, bidang industri telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Pabrik-pabrik sebagai pusat perindustrian tumbuh bak jamur di musim penghujan. Kalaupun tidak merata, itu wajar, memang begitu seharusnya. Ada daerah yang kemajuannya difokuskan pada bidang pertanian, industri, perdagangan, seni budaya, dan sebagainya. Dengan begitu, semua bisa berkembang dengan dasar pijakan yang kuat.
Rakyat murni yang berkecenderungan hidup dalam bidang industri disebut ber- Natar Industri. Menurut saya, Natar Indistri terdiri dari kelompok industriawan industri logam , industri kimia, aneka industri , industri kecil , industri rumah tangga, dan industri lain-lain. Andaikan pengelompokan ini dirasa kurang tepat, saya harap para pakar industri meluruskannya.
Dalam kondisi normal, seorang industriawan tulen akan tumbuh dari usaha kecil, sedikit demi sedikit merangkak, meroket naik, menjadi besar, menguasai pangsa lokal, merajai pasar nasional, dan siap bersaing dalam tataran internasional. Mereka tumbuh secara alami, mengalami jatuh-bangun sebelum produknya diterima konsumen.
Memang berat untuk bisa sampai ke tahap itu. Sebab, Indonesia yang mereka bawa bukan sekadar pada label produk tetapi ada pada teknologinya. Apalagi, dengan maraknya investor asing yang menyerbu tanah air. Mungkin, butuh satu generasi untuk membuat mereka menjadi besar. Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat industri menghitung kemampuan yang tersisa. Konkritnya, sebagai contoh : pada industri otomotif. Sudah sampai di titik mana kemampuan riil para insinyur (sarjana teknik) yang dimiliki oleh bangsa Indonesia? Tahap mengoperasikan, menganalisa, merakit, memodifikasi, ataukah mencipta?
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, tapi apakah kebesarannya sebanding dengan yang dihasilkannya? Tarik ke kondisi riil, tentang motor. Jangan-jangan, sepeda motor buatan Indonesia yang beberapa saat yang lalu pernah tersiar telah mati suri. Silakan tarik ke bidang-bidang industri yang lain. Saya hanya khawatir, bangsa ini menjadi bangsa aduuuuu adaaaaa, melihat kebesarannya aduuuuu (kagum), melihat yang dihasilkan adaaaaa (remeh) …
Pamong Industri adalah sosok pemimpin para industriawan. Sebagaimana pamong-pamong yang lain, pada level kelurahan, setiap seratus orang kepala keluarga industriawan diwakili oleh seorang pamong pada Perwakilan Kelurahan.
Sedangkan pada level pusat, mereka menguasai 10% kursi dari parlemen –baik rendah maupun tinggi. Keberadaan identitas mereka yang sudah jelas tersebut perlu dan harus dimanfaatkan secara optimal. Dengan begitu, banyak uang, tenaga, waktu, dan pikiran yang bisa dihemat. Itulah perubahan, itulah bagian dari reformasi sungguhan, itulah serpihan realisasi dari menyelesaikan revolusi yang belum selesai.
Dalam jangka pendek (Masa Transisi), tugas Pamong Industri adalah menyambung mata rantai yang terputus antara gerobak dengan kapal terbang. Ingat, enam puluh empat tahun “merdeka” bukanlah sebentar …
Wallahualam.

Oleh: sugiarno | Januari 9, 2010

91. HANYA

91. HANYA
Setiap kebenaran akan bernilai benar jika didukung oleh kebenaran sebelumnya. Oleh karena itu, kebenaran tidak memperhitungkan jumlah suara pendukungnya. Taruhlah hanya ada seorang atau bahkan sama sekali tidak ada seorangpun yang mendukung kebenaran maka kebenaran itu akan tetap melaju dan mencari jalannya sendiri untuk memberikan penerangan bagi kehidupan yang kian gulita. Sandaran utama kebenaran adalah kebenaran Tuhan Yang Maha Esa. Dia adalah tunggal (1). Masalah setiap agama menyebut Tuhan mereka dengan sebutan yang berbeda itu masalah lain. Urusan ada perbedaan tentang konsep ketuhanan yang mereka anut pun itu masalah lain.
1 hanyalah lambang bilangan, hanya sebuah lambang, tidak lebih dari itu. Lambang bilangan ada dalam sistem bilangan. Dengan menggunakan pendekatan bilangan, tidak ada simpul yang tidak terurai, hanya masalah waktu yang akan membuktikan. Tarian Raja Garuda menggunakan pendekatan bilangan sebagai dasar pijakan.
Mereka yang pernah mengenyam bangku sekolah tentu masih hangat dalam pikirannya bahwa ketika guru memberikan sebuah soal ulangan, tidak semua anak mendapatkan nilai seratus. Mungkin, hanya beberapa anak saja yang dapat menyelesaikan soal tersebut, atau bahkan bisa jadi seisi kelas tidak mampu mengerjakan dengan benar.
Dalam kasus seperti itu, ada dua kemungkinan. Pertama, siswa dalam kelas yang kurang memperhatikan penjelasan dari guru sehingga mereka gagal. Kemungkinan kedua, soal yang diberikan guru salah. Dengan kata lain, kemungkinan pertama adalah kasus muara. Sedangkan kemungkinan kedua adalah kasus hulu.
Sekarang, mari kita tarik ke konteks kekinian. Kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), pemiskinan serta penganggur terdidik adalah kasus muara. Kasus Century Gate adalah kasus muara. Kasus carut marut DPT dalam Pemilu adalah kasus muara. Mundur sedikit, krisis moneter adalah kasus muara. Kasus pembubaran Partai Masyumi adalah kasus muara. Tarik mundur lagi, kasus politik 1965 adalah kasus muara. Tarik lagi, pembubaran konstituante 1959 adalah kasus muara. Yang jelas, semua kasus pasca proklamasi adalah kasus muara.
Padahal, penyebab semua kasus dan korban kasus belajar pada guru yang sama, yaitu guru sini dengan ilmu sana. Ilmu yang mereka pelajari pun sama. Menuding faktor mental yang bejat pun kurang tepat sebab, sekalipun mental bejat jika tidak ada peluang untuk bejat maka kebejatannya hanya akan berhenti di situ, hanya pada dirinya, tidak akan merambat ke mana-mana. Dengan demikian, kemungkinan pertama pun gugur.
Kemungkinan kedua, dengan menggunakan pendekatan bilangan dapat diketahui bahwa ternyata soal (baca: teori) yang guru berikan salah. Guru sini dengan ilmu sana memberikan teori Sistem Bilangan Hindu Arab pada anak bangsa Indonesia. Artinya, mengajar merayap pada Garuda! Artinya, memberi kail untuk mengail ikan di padang pasir! Artinya, memberikan kapak untuk mencari kayu di lautan! Artinya, membekali peserta didik dengan modal dasar hidup di bumi yang bernama Indonesia dengan ilmu yang aindonesiais. Hasil sudah telanjang di depan mata. Hasil pendidikan HANYA dipersembahkan pada kepuasan global. Sementara yang tersisa hanyalah limbahnya.
Silakan lihat tayangan televisi, dari rusaknya ekosistem sampai perilaku mantan murid yang besar-besar, yang seharusnya menjadi panutan khalayak malah menjadi bahan hujatan, tontonan, dan bahan tertawaan. Ah, benar-benar nista. Hanya nista yang tersisa.
Secara pribadi, saya hanya bisa prihatin. Harap maklum, saya bukan siapa-siapa, juga bukan apa-apa. Saya hanyalah pemilik Tarian Raja Garuda. Wallahualam.

Oleh: sugiarno | Januari 7, 2010

90. BELAJAR BERHITUNG LAGI

90. belajar berhitung lagi pdf

Tulisan Sebelumnya »

Kategori