11. LOMBA PIDATO MANTAN MURID

Sudah beberapa hari ini, mantan-mantan murid guru sedang sibuk-sibuknya mengikuti lomba pidato dari tingkat lokal sampai tingkat nasional. Berbagai trik, gaya, argumen, dan lengkap dengan data serta fakta telah mereka ungkapkan. Semua bagus dan tampil dengan sangat meyakinkan. Dalam hal yang satu ini, para guru boleh berbangga diri. Mantan-mantan muridnya ternyata sudah pintar dan lancar berbicara di depan umum.

Untuk sebuah realitas, mereka bisa berbeda dalam menyajikan, apalagi menyimpulkan. Maklum, mereka memandang dari sisi-sisi yang berbeda. Yang satu bilang, “Gajah itu lebar”. Yang satunya lagi bilang, “Tidak, gajah tidak lebar. gajah itu kecil dan panjang”. Peserta lomba yang lain pun menangkis dengan cepat, “Mereka itu salah semua. Gajah itu tidak lebar, tidak juga kecil dan panjang. Gajah itu buuueeessssuuuaaarrr”. Seperti dugaan Anda, peserta yang keempat segera naik ke podium untuk berorasi, dia bilang, ”Mereka itu sok tahu. Yang namanya gajah itu bentuknya seperti bambu, bulat dan panjang …..”.

Para pendukung pun tidak kalah sibuknya. Mereka sibuk mengelus-elus jago mereka masing-masing. Apalagi, jago mereka bukanlah jago sembarangan Tepuk tangan selalu membahana setiap kali jagonya tampil ke atas panggung. Yel-yel pembangkit semangat pun diteriakkan. Tidak jarang para pendukung membawa sejumlah artis untuk memeriahkan suasana.

Lomba pidato yang seperti itu telah rutin diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Katanya, itu pesta demokrasi atau pesta rakyat. Masih katanya pula, demokrasi itu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Perkara rakyatnya berasal dari massa yang mengambang, yang bak buih di lautan, itu tidak menjadi masalah. Makin mengambang massa, tentu makin baik –makin mudah dipengaruhi. Makin bodoh massa, tentu makin baik –makin mudah dibohongi. Makin miskin massa tentu makin baik –mudah dibeli, dan seterusnya.

Yang jelas, nyaris semua peserta menjanjikan perubahan, entah apanya yang berubah. Oleh karena itu, sabar ….. perubahan butuh waktu.

Yang jelas, satu orang satu suara. Tidak peduli dia seorang guru besar dengan pangkat IVe yang pintar, seorang jenderal bintang empat dengan sederet tanda jasa, seorang pengamen jebolan Kelas II SD, atau yang lain-lain, semuanya sama, satu suara. Oleh karena itu, mereka yang bodoh menjadi sasaran tembak yang tepat.

Yang jelas, biaya yang harus dikeluarkan oleh negara dan para kontestan tidak sedikit. Oleh karena itu, jangan kaget, jika ada dermawan mendadak menghampiri mereka ….

Namanya juga lomba, pasti ada pemenangnya. Siapa yang layak menjadi pemenang ditentukan oleh perolehan suara. terbanyak, dan dielu-elu masuk ke gedung parlemen.

Usai lomba pidato, massa mengambang kembali seperti semula. Yang bodoh kembali bodoh, yang miskin kembali miskin, dan lima tahun yang akan datang akan dimanfaatkan lagi ….. Padahal, usia negeri ini sudah mendekati 64 tahun. Namun, cara berpikir di era kolonial masih terus dipergunakan. Dan, akhirnya, divide et impera pun muncul dengan wajah lain.
Wallahualam

Tentang sugiarno

Sugiarno bukan siapa-siapa. Sugiarno tinggal di JANTUNG INDONESIA
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Pinggir dan tag , , , , . Tandai permalink.