-
Anda Pengunjung ke-
- 18,575 hits
Pengantar
Selamat datang.
Semua tulisan dalam Tarian Raja Garuda akan dapat Anda pahami jika dibaca dengan hati. Untuk itu, lepaskan semua ikatan Anda. Ikatan yang tersisa antara saya dengan Anda hanyalah Allah SWT /Tuhan YME yang menguasai hidup mati kita dan Indonesia sebagai tanah air kita.Tarian Raja Garuda bersifat umum tetapi tidak untuk umum. Tarian ini mempunyai 14 macam gerak, 7 gerak menyentuh aspek materi, dan 7 gerak yang lain menyentuh aspek immateri ... INDONESIA (bukan Indonesia, apalagi indonesia) menanti di seberang jalan.
Dalam kesempatan ini, saya menghaturkan terima kasih kepada Wordpress karena telah memberi tampat kepada saya untuk mengabarkan kepada dunia bahwa Tarian Raja Garuda masih ada.
Terima kasih atas kunjungannya, salam.
Penutup
Hanya sampai di sini membumikan Negeri Khayangan yang dapat saya lakukan. Jika yang saya sampaikan itu benar maka kebenaran itu milik Allah SWT, jika salah maka sebagai manusia biasa saya minta maaf. ”Tak” ada keharusan bagi Garuda untuk melaksanakan Tarian Raja Garuda. Asal tidak malu membangun kebohongan di atas kebohongan, lanjutkan. Asal tidak malu memperkaya diri sendiri di atas kemiskinan orang lain, lanjutkan. Asal tidak malu ..., asal tidak malu ..., lanjutkan. Ingat, yang dinilai actionnya, bukan yang dikatakannya. Salam.Tanda
Agama Artikel asal Bahasa Indonesia bangsa Belajar bela negara bohong cerpen Drama ekonomi Guru Indonesia kanal keadilan kelurahan korupsi Koruptor manusia militer mimpi negara negeri Noto Bela Negara Noto Pendidikan Opini pemerintah pendidikan Politik presiden raja rakyat reformasi Rupiah sekolah dasar serba serbi sistem sok tahu tanya jawab tarian tentara tidak tuan uang umumpemilik tarian raja garuda
Hitam-Putih
Arsip Tag: cerpen
Matahari -pun Tertunduk Malu
Galah panjangnya, masih sangat kurang panjang untuk menggapai buah kelapa. Tak kurang akal, Ibu Pertiwi pun mengangkat tangga yang biasa dipakai suaminya untuk membersihkan sarang laba-laba yang mengotori rumahnya. Lanjut membaca →
Mental Kuli
Ibu Pertiwi tercenung. Eranya sudah beda. Jenis tantangan sudah beda, jika masih juga menggunakan cara yang sama, cara yang lama, tentunya akan tergerus zaman Lanjut membaca →
Pak Kacuk
“Ha? Kamu minta khitan lagi?”
Si anak sulung yang sudah perjaka itu mengangguk malu, “ Mari, Pak Kacuk … ,” katanya sembari melangkah menuju biliknya.
Kali ini, Pak Kacuk tersenyum … Orang-orang di rumah Ibu Pertiwi pun tersenyum Lanjut membaca →
Rohani Demam
“Hmm, … sebuah pengulangan sejarah,” guman Ibu Pertiwi tertahan. Tiba-tiba ia teringat pada Rohadi, ayah si Rohani. Dulu, Rohadi juga kena demam beragama, malah sampai mengamuk, membunuh orang, lantas pingsan sendiri, koma sendiri, dan masuk rumah sakit sendiri. Lanjut membaca →

