2. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara

Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara adalah sebagai alat untuk menjalankan administrasi negara. Fungsi tersebut dapat dilihat dalam surat menyurat resmi, surat keputusan, peraturan dan perundang-undangan, pidato, dan pertemuan resmi. 

Masalahnya, sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia hanya berkutat dalam lingkup lingua.  Sedangkan dalam tataran bahasa tulis, fungsi tersebut masih mengenaskan, atau malah mungkin lebih tepatnya nista.

Lihat saja, nama yang disandang adalah bahasa Indonesia namun aksara yang digunakan adalah aksara latin hasil modivikasi Vaan Opusyen. Kemudian aksara tersebut diotak-atik oleh Suwandi dan seterusnya sampai pada akhirnya muncul bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) -nya.

Oleh karena itu, negara bangsa ini tidak mendapatkan apa-apa dari bahasa negaranya. Padahal, bahasa negara dapat dijual, layak jual, dan laku jual sebab dari situ akan lahir industri berbasis aksara dan identitas negara bangsa. Dari sisi ini dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara adalah mandul.

Jangankan awam, Guru Bahasa Indonesia, Pakar Bahasa Indonesia, dan bahkan Gurunya Guru Pakar Bahasa Indonesia pun masih buta huruf terhadap Aksara Indonesia –padahal, Sumpah Pemuda telah berumur lebih dari 80 tahun.

Dari sini muncul pertanyaan, apa saja yang dikerjakan oleh kaum widya iswara di atas sana? Bukankah gaji mereka sudah besar? Penghargaan yang mereka terima juga sudah tinggi dari negara?  Sesungguhnya, mereka telah gagal mengantarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Mereka tidak mampu (?) menciptakan Aksara Indonesia untuk mendampingi lingua Indonesia. Alhasil, pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang guru  lakukan selama masa pendidikan peserta didik adalah sia-sia. Ibaratnya, menanam kelapa condong. Pohonnya di sini buahnya di sana. Sekali lagi, Indonesia tidak mendapatkan apa-apa dari bahasa negaranya.

Oleh karena itu, profesionalis dan kompetensi guru –terlebih bagi mereka yang lolos sertifikasi– patut dipertanyakan. Sudah layakkah “guru yang buta aksara” menyandang gelar profesional? Sesungguhnya, bangsa ini telah tertipu oleh pendidikan yang guru berikan, khususnya Pendidikan Bahasa Indonesia.

Kesimpulannya, untuk merealisasikan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara maka lingua  Indonesia harus disandingkan dengan Aksara Indonesia. Dan, menjadi kewajiban guru untuk menciptakan aksara tersebut dengan dasar filosofi yang kuat tentunya.

 Wallahualam

(Dari berbagai sumber)

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bahasa dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 2. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara

  1. sugiarno berkata:

    Hmm, Pakar Bahasa Indonesia, apa jawabmu?

Komentar ditutup.