3. Nilai Presiden

1. Ir Soekarno benar bahwa Revolusi Belum Selesai. Pertanyaannya, siapa yang harus menyelesaikan? Membebankan kewajiban tersebut kepada generasi berikut jelas tidak fair. Guru mengajarkan: berani berbuat, berani bertanggung jawab. Oleh sebab itu, Generasi ’45 -lah yang yang seharusnya menyelesaikan revolusi mereka.

Padahal, karena faktor usia, masa bakti mereka tinggal beberapa saat. 17 Agustus 2009 adalah start akhir masa bakti mereka (64 tahun pasca proklamasi), start akhir ini berakhir pada 29 Desember 2013 (64 tahun pasca KMB).

Jika mereka tidak dapat menyelesaikan revolusi mereka sendiri, maka menjadi kewajiban moral bagi darah hijau untuk menyelesaikannya. Dengan catatan, bukan revolusi fisik, namun revolusi olah pikir. Mereka harus mampu mengaktualisasikan budaya bangsa yang sarat dengan nilai-nilai luhur  agar dapat mengantarkan bangsa Indonesia keluar dari jebakan krisis, baik yang nasional maupun yang global.

Solusinya, cara berpikir sebagai bangsa inferior harus ditinggalkan.  Caranya,  kerangka berpikir harus diubah, bukan globalsentris melainkan Indonesiasentris. Konkritnya, “bedah” ilmu dasar yang diajarkan guru di sekolah. Apakah Indonesiais?

Masalahnya, yang boleh melakukan hal ini hanya satu orang, yaitu Presiden sebagai Kepala Negara.

2. Mr. Asa’ad benar dengan tidak melakukan apa-apa.

NKRI lahir karena pendidikan yang  guru berikan kepada anak-anak bangsa.  Sebelum guru melakukan apa-apa, sebelum guru berubah, dan sebelum guru mengganti muatan pendidikan maka hasil akhir setiap orang nomor satu dari setiap orde adalah sama yaitu krisis. Sejarah telah mencatat, hasil akhir Orde Lama adalah krisis politik 1965. Orde Baru melahirkan krisis moneter 1998, dan Orde Reformasi menelurkan krisis multi dimensi. Oleh sebab itu, jika Kepala Negara saja tidak bisa melakukan apa-apa, apalagi yang lain.

3. H. M. Soeharto benar bahwa guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Itu artinya, pendidikan yang guru berikan bernilai Nol Besar di mata Indonesia. Indonesia tidak mendapatkan apa-apa dari pendidikan yang guru berikan. Output pendidikan tidak mampu merealisasikan cita-cita para pahlawan, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, aman, tenteram, damai, dan sejahtera. Justru rusaknya peri kehidupan yang mereka timbulkan, rusaknya alam baik karena pembangunan maupun karena ketamakan segelintir orang dalam mengeksploitasikannya.

Realitanya, ilmu dasar yang diajarkan guru bersifat permisif. Padahal, bangsa Indonesia termasuk bangsa yang mengenal batas, karena mereka beragama.

Solusinya, Revolusi Pendidikan. Artinya, guru harus mengajarkan ilmu dasar yang berbasis Indonesia. Ingat, setiap sistem yang diciptakan oleh suatu bangsa berguna untuk mengatus bangsa itu sendiri. Ketika bangsa lain ikut-ikutan menggunakan sistem itu maka akan menjadi satelit bangsa tersebut. Menyitir pendapat seorang pujanggga, ketika burung gagak melihat cara burung punai berjalan, ia tertarik dan berusaha meniru. Setelah belajar cukup lama, ia tidak berhasil, kembali ke cara berjalan sendiri sudah lupa. Alhasil, burung gagak berjalan miring …

Masalahnya, guru bukan siapa-siapa di negeri ini, apalagi Guru SD. Guru berada di barisan paling belakang, guru hanya tut wuru handayani belum ing ngarsa sung tuladha. Dan, yang bisa membalik posisi ini hanya satu orang di republik ini, yaitu Presiden sebagai Kepala Negara.

4. BJ Habibi benar karena telah memberikan opsi kepada rakyat Timor Leste, dan akhirnya provinsi itu lepas dari pelukan Ibu Pertiwi.

Padahal, sebagai provinsi bungsu –ketika itu, semua telah dilebihkan. Pertanyaannya, mengapa tindakannya benar? Sebab, berjalan di belakang tuhan yme -nya Pancasila tidak akan menghasilkan apa-apa.  Tuhan yme -nya Pancasila tidak dapat melindungi diri sendiri, apalagi “umatnya”. Padahal, seharusnya, sebagai tuhan, tuhan yme -nya Pancasila mampu melakukan segalanya. Itu menunjukkan lemahnya tuhan yme -nya Pancasila.

5. KH. Abdul Rahman Wahid benar karena memandang DPR seperti anak TK.

Padahal, DPR adalah simbul superbody rakyat. Jika mereka saja seperti itu, apalagi rakyatnya….. Pertanyaannya, bagaimana dengan “yang lain”? Ternyata, seperti anak SD yang masih suka menyanyi, melucu, dsb. Bahkan sangat senang kala gambarnya dipasang di mana-mana, di tepi jalan, di tiang listrik. Mereka tidak peduli kala gambarnya kehujanan, terlepas, berjatuhan, ditiup angin, sobek dibuat mainan anak-anak. Padahal, mereka Presiden. Lantas, siapa yang akan menghormati mereka jika mereka tidak menaruh hoemat pada diri sendiri?

6. Megawati Soekarno Putri benar dahwa dalam satu kesempatan di Bali mengatakan memimpin bangsa sampah.

Diakui atau tidak, suka atau tidak, begitulah kenyataannya. Memang menyakitkan. Permata dunia yang bernama Indonesia telah rusak pada semua lini kehidupannya, alamnya, dan semua yang seharusnya dijunjung tinggi.  Semua itu tidak lepas dari hasil pendidikan yang guru berikan.

Mereka guru “sini” tapi dengan ilmu “sana”. Alhasil, nasionalisme yang kian pudar bukan menjadi omong kosong. Untuk apa dan untuk siapa pendidikan diberikan menjadi samar, benarkah untuk Indonesia? Jika benar untuk Indonesia, mengapa bangsa sampah yang dihasilkan?

Mengembalikan nasionalisme pada rel yang sebenarnya menjadi kewajiban bersama. Namun, tetap Presiden yang harus berada di depan sendiri.

7. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono benar karena telah menabrak “dinding” Pancasila dengan mengadukan seseorang ke Polda Metro Jaya karena sebuah kasus.

Itu artinya, Pancasila telah runtuh. Presiden adalah tuhan yme -nya Pancasila … “Kerucut terbalik telah bolong …..” dan yang meruntuhkan bukan siapa-siapa, tetapi Presiden sendiri. Pertanyaannya, apa hukuman bagi yang melanggar Pancasila? siapa yang akan menghukum pelanggarnya? Pengadilan saja tidak benar jika menjatuhkan hukuman pada Presiden — ia tuhan yme dari segala sumber hukum di negeri ini– apalagi yang lain.

NOL BESAR

NOL BESAR


Nilai akhir, siapapun yang menjadi Presiden 2009 tidak akan menghasilkan apa-apa jika masih melanjutkan pola pendidikan warisan Belanda.

Presiden 2009 harus berani memimpin perubahan yang mendasar, dan hanya ada satu rumus untuk itu, Wajib (Belajar) Bela Negara. Dengan bahasa sederhana dapat dinyatakan, Presiden harus bisa menunjukan “Sistem Indonesia”  dengan menjadi GURU –dalam arti yang sebenarnya, meskipun hanya sekali, meskipun hanya sehari! Tanpa itu, nilai presiden adalah NOL BESAR.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Penguasa dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke 3. Nilai Presiden

  1. Gie berkata:

    Ada yang Luput dari perhatian saya om… Bukankah ada Syafruddin Prawiranegara?

    • sugiarno berkata:

      Dengan segala hormat, beliau tidak termasuk kategori presiden. Sederhananya, sekedar memegangkan kendali kuda karena kusir delman masih “berantem” dengan sopir taksi …

  2. rudisony berkata:

    siapapun presidennya, kalau rakyatnya belum siap akan perubahan…pastinya akan timpang jalannya negara tsb.

  3. Ping balik: Nilai Presiden

  4. Ping balik: Nilai Presiden

Komentar ditutup.