5. BANJIR UANG

Banjir uang yang satu ini bukan sekedar permainan kata, bukan rekayasa yang penuh tipu-daya. Tapi, banjir uang dalam arti yang sesungguhnya. Banjir uang dari hulu sampai ke hilir …

Rumus :
1. Ubah cara pandang terhadap bilangan. Jika selama ini institusi pendidikan menggunakan Sistem Bilangan Hindu Arab yang berbasis seribu atau sepuluh pangkat tiga, maka mundurkan selangkah, gunakan basis seratus.

Dengan menggunakan basis seratus atau sepuluh pangkat dua, maka yang dimaksud dengan ribu adalah sepuluh pangkat empat, yang dimaksud dengan juta adalah sepuluh pangkat delapan, yang dimaksud dengan miliar adalah sepuluh pangkat dua belas, dan yang dimaksud dengan triliun adalah sepuluh pangkat enam belas. Sebut saja, bilangan-bilangan tersebut adalah (bagian dari) Sistem Bilangan Peralihan.

Sistem Bilangan Peralihan ini hanya berlaku selama sembilan tahun. Agar tidak bingung, masa sembilan tahun tersebut disebut Masa Transisi.

2. Tarik Sistem Bilangan Peralihan ke dalam uang (baca : rupiah). Caranya, revisi bilangan yang ada pada mata uang. Rp 1000 menjadi Sepuluh Ratus Rupiah; Rp 5000 menjadi Lima Puluh Ratus Rupiah; Rp 10000 menjadi Seribu Rupiah; Rp 20000 menjadi Dua Ribu Rupiah; Rp 50000 menjadi Lima Ribu Rupiah,; dan Rp 100000 menjadi Sepuluh Ribu Rupiah.

3. Hak dan kewajiban negara ada pada bilangannya, hak dan kewajuban rakyat ada pada lambang bilangannya.

4. Selama Masa Transisi, regenerasi kepemimpinan dilakukan secara senioritas. Oleh karena itu, tidak ada hajat nasional, apapun namanya. Itu, artinya Wajib Belajar Bela Negara. Dan, hal yang satu ini hanya bisa dimulai dari baris paling depan.

5. Selama Masa Transisi, tidak ada kenaikan gaji bagi PNS /TNI /POLRI dan bagi para pejabat negara. Sebab, Masa Transisi adalah masa untuk mengembalikan “nol-nol uang mereka yang tertinggal dalam lumbung uang negara”. Dengan menggunakan parameter tertentu, hak “nol-nol uang” mereka akan dikembalikan secara utuh karena menggunakan jasa bank.

6. Rekrutmen PNS /TNI /POLRI dilakukan sesuai kebutuhan dan atas usulan lembaga yang bersangkutan. Misal, guru diusulkan oleh sekolah; Dokter diusulkan oleh rumah sakit,

7. Senering yang mengakhiri banjir uang menggunakan koefisien 1 : 10000.
Artinya, RP 10000 uang Masa Transisi menjadi Rp 1,- uang baru; Rp 100 uang Masa Transisi menjadi 100 ketip uang baru; Rp 1,- uang Masa Transisi menjadi 1 sen uang baru. Dengan kata lain, Rp 1,- = 100 ketip = 10000 sen.

8. Dengan berakhirnya banjir uang yang ditandai dengan senering, lahirlah SISTEM BILANGAN INDONESIA, yaitu :
satu = sepuluh pangkat nol
puluh = sepuluh pangkat satu
ratus = sepuluh pangkat dua
ribu = sepuluh pangkat empat
laksa = sepuluh pangkat delapan
keti = sepuluh pangkat enam belas
juta = sepuluh pangkat tiga puluh dua
miliar = sepuluh pangkat empat puluh delapan
NOTO = sepuluh pangkat enam puluh empat
triliun = sepuluh pangkat sembilan puluh enam
INDONESIA = sepuluh pangkat seratus dua puluh delapan.

9. Dengan lahirnya SISTEM BILANGAN INDONESIA maka negara Bangsa Manusia Indonesia ini tidak lagi menjadi konsumen bilangan, tetapi menjadi produsen bilangan. Oleh karena itu, negara sebagai ‘makhluk abstrak” menguasai yang abstrak yaitu bilangan uang. Sedangkan rakyat sebagai “makhluk konkrit” menguasai yang konkrit yaitu lambang bilangan uang.

Pertanyaanya, sudah siap lahir batinkah bangsa ini untuk menghadapi perubahan? Jika benar-benar siap, maka persiapkan energi untuk menghitung uang yang akan datang membanjiri rumah para pembaca. Jangan sampai semlengeren melihatnya.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Uang dan tag , , , , , . Tandai permalink.