7. Gila Indonesia

GILA INDONESIA

OLEH
SUGIARNO

1. Ajarilah Saya Menulis, Guru!

Hampir sejam Danang memelototi huruf demi huruf file anekdot pada monitor purba yang berada di ruang perpustakaan kampusnya. Ia tidak habis mengerti mengapa sedemikian rumitnya kehidupan di masa lalu.
Persoalan yang sebenarnya kecil dan nyaris tidak berguna dibesar-besarkan sementara yang seharusnya sangat penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak dilalaikan oleh yang berkompeten.
“Dasar biadab…. Manusia purba, nggak beradab,” gumannya lirih. Untuk beberapa saat, ia tercenung dengan kata-katanya sendiri. Manusia purba yang sudah mengenal teknologi tingkat tinggi, aneh juga.
Danang berfikir beberapa saat untuk merevisi pengertiannya, “Mereka purba, tapi sudah maju. Maju tapi masih purba, kaum jahiliah, tapi ….. jahiliahnya fersi siapa, ya?”.

”Pada dekade 2010, terjadi perubahan mendasar di negeri Indonesia. Bangsa Indonesia tidak mau lagi berkepanjangan hidup dalam ketidakpastian hukum, berputar-putar mengelilingi simbul merdeka, dan berhenti dari satu titik krisis ke titik krisis yang lain. Mereka ingin segera mengakhiri semua kebohongan dan kepalsuan. Sebuah gerakan nasional untuk SADAR DIRI pun dimulai.
Mereka berkomitmen akan membayar semua hutang sejarah kepada dunia. Mereka akan mengembalikan secara ksatria semua yang bukan miliknya. Kehormatan negara, bangsa, dan tanah air harus diraih. Jiwa Indonesia yang tergadai harus ditebus dengan cara yang bermartabat.
Era darah mengalir telah lama berlalu. Era adu jotos pun lewat. Era penuh tipu-tipu sudah kedaluwarsa. Cukup sudah penistaan dunia terhadap mereka sebagai bangsa kuli, bangsa koruptor, dan bangsa sampah.
Zaman baru dimulai. Fondasi latahisme, komunis-kapitalis, dan kapitalis-komunis pun runtuh berkeping-keping. Mereka sendirilah yang meruntuhkannya. Mereka sadar, Indonesia bukan seperti itu dan tidak berada di antara kesemuanya. Indonesia adalah INDONESIA.
Pagi itu, jagat Indonesia gempar. Dengan lantang Kepala Negara menyatakan Wajib Belajar Bela Negara dimulai. Itu artinya, Bangsa Indonesia akan kembali ke jati diri mereka sendiri yaitu sebagai Manusia Indonesia.
Semua orang terbangun dari buaian mimpi. Efforia akan indahnya kemerdekaan pun terhenti seketika. Banjir kemerdekaan telah membawa sampah-sampah naik ke permukaan. Agar tidak terus-menerus menimbulkan masalah, sampah harus didaur-ulang untuk dijadikan emas.
Mereka mendadak sibuk. Dan, di antara semua yang sibuk, gurulah yang paling sibuk. Tokoh yang biasa dikenal sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pun dicecar pertanyaan, dari satu pertanyaan ke pertanyaan berikutnya.
Sosok guru yang selama ini dipandang sebelah mata karena kecilnya pendapatan mereka menjadi tokoh penting, sentral, dan kunci. Saat ini, guru benar-benar naik daun, dielu-elu, dan menjadi tokoh idola. Guru menjadi salah tingkah. Mereka lupa bahwa guru juga manusia.
Dengan mengenakan baju putih berdasi, celana pendek tiga perempat warna merah hati, ikat pinggang hitam, kaus kaki putih, sepatu kulit hitam, topi merah hati berlogo Tut Wuri Handayani bertengger di atas kepala, dan tak ketinggalan sebuah tas tersandang di bahunya, Kepala Negara kembali ke bangku sekolah dasar untuk belajar.
Sesungguhnya, yang dilakukan oleh Kepala Negara adalah langkah pertama Wajib Belajar Bela Negara. Itu artinya, Revolusi Pendidikan telah dimulai! Kepala Negara memberi contoh mengerjakan kewajiban yang dimaksud terlebih dahulu. Jurus pemanasan tarian Raja Garuda telah diragakan ….
Dengan begitu, Ing Ngarso Sung Tulodho sebagai satu di antara selogan andalan pendidikan tidak hanya sebatas selogan kosong. Tidak hanya pintar menyuruh orang lain, tapi juga sukses menyuruh diri sendiri! Dan, itu sudah dicontohkan secara langsung oleh Kepala Negara!
Media cetak dan elektronik segera meliput dan menyiarkan secara nasional… Indonesia benar-benar gempar. Gonjang-ganjing melanda seluruh negeri. Semua mata di seluruh penjuru mata angin tertuju ke Jantung Hati Dunia, Indonesia.
Adalah hal yang wajar jika rakyat memandang Kepala Negara sebagai panutan dan segalanya. Wajar pula setiap Kepala Negara keluar dari istana selalu diikuti oleh para menteri, para pejabat yang terkait, dan para pengawalnya. Menjadi wajar pula saat Kepala Negara mengenakan pakaian seragam sekolah dasar para pengiringnya pun mengenakan pakaian yang serupa pula. Dan, menjadi sangat wajar jika guru-guru di sekolah dasar terkejut, tertegun, terbelalak, terpaku, dan terpana …..
“Guru, ajari saya bahasa Indonesia,” pinta super body bangsa indonesia setelah berbasa-basi sesaat di dalam kelas. Ia mulai membuka komunikasi atas bawah.
“Bukankah Bapak sudah menggunakan bahasa Indonesia?” Guru Kelas I balik bertanya dengan sopan.
“Guru benar, saya sudah berbahasa Indonesia. Tapi, saya belum bisa menulis. Tolong, ajari saya …..,”
”Maaf, saya tidak mengerti dengan yang Bapak maksud. Bukankah Bapak sudah menamatkan pendidikan di SD, SLTP, SLTA, dan saya dengar juga sudah berpendidikan tinggi. Lantas Bapak mengatakan belum bisa menulis, maksudnya?”
”Guru benar…,” jawab murid dengan celana tiga perempat, ”Tapi, saya tidak bohong. Saya belum bisa menulis, saya benar-benar buta huruf, Guru,” lanjutnya. Guru Kelas I itu pun tercengang, ”Ada-ada saja”.
Seketika, kelas menjadi hening, sekolah menjadi hening, Indonesia pun mendadak hening. Kesunyian yang mencekam melanda negeri.
”Maaf, Bapak jangan bergurau. Bapak adalah Kepala Negara, sedangkan saya hanyalah seorang guru. Saya tidak lebih tahu dari Bapak,” jawab guru terbata.
”Saya tidak bergurau, saya sedang belajar di SD. Oleh karena itu, lupakan jabatan saya di luar sana sebagai Kepala Negara. Di sini, saya hanyalah seorang murid yang tidak tahu apa-apa. Sebagai murid, saya boleh bertanya. Benarkan, Guru?’
Hati Guru Kelas I SD itu pun berdesir. Berdiri di depan murid yang salah kejadian sudah membuatnya gugup, apalagi ketika mendapatkan pertanyaan yang tidak jelas ujung-pangkalnya. Ia bingung dan akhirnya hanya bisa pasrah akan nasib.
Sang Guru mengambil alih persoalan. Ia sangat pintar, pendidikannya sangat tinggi, dan pengalamannya pun sangat luas. Baginya, berbicara dengan orang-orang besar adalah hal biasa.
Guru Kelas I SD segera mundur. Ia menuju tempat duduknya, kursi paling belakang. Sebagai Guru Kelas I, ia sadar diri, ilmunya hanya sejengkal.
”Bagaimana, Guru? Saya boleh bertanya, bukan?” Kepala Negara mengulang pertanyaannya sesaat kemudian.
”O, silakan, silakan”.
”Bagaimana kalau menulis guru, Guru?”
Sambil tersenyum, Sang Guru mengambil sebatang kapur. Ia pun menuliskan kata /guru/ di papan tulis sesuai permintaan sang super body murid. Sebuah permintaan kecil. Hatinya lega karena dapat memenuhi permintaan tersebut, guru-guru yang lain lega, dan semua pengiring Kepala Negara pun lega.
Ternyata, membuat Kepala Negara merasa senang dan puas sangatlah mudah. Namun permainan belum usai.
”Tapi, Guru. Kita ini kan bangsa Indonesia dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara …..”.
Guru mengangguk membenarkan, “Lantas?”.
”Katanya, gunakan Indonesia dengan baik dan benar. Tapi ….. Maaf, mengapa Guru sendiri tidak melakukannya?”
”Maksud, Bapak?”
”Bukankah Guru menuliskan bahasa Indonesia dengan menggunakan aksara Latin? Mengapa tidak menggunakan aksara Indonesia? Ajarilah saya menulis, Guru! Saya masih buta huruf terhadap aksara Indonesia, aksara bangsanya sendiri,” katanya dengan nada meminta.
Padahal, sebagai Kepala Negara, dirinya dipilih secara langsung oleh rakyat secara demokratis dalam penghelatan akbar dengan dana yang sangat besar. Namun, manakala dilihatnya peri kehidupan kian melenceng dari yang seharusnya, ia pun melompat keluar dari belenggu kekuasaan yang berada dalam genggaman tangannya. Dan, ia berhasil. Arogansi kekuasaan lenyap dari bumi Pertiwi.
Sementara itu, media elektronik terus meliput semua yang terjadi di dalam kelas, detik demi detik, menit demi menit, secara nasional. Nyaris, tak ada yang terlewatkan.
Seakan-akan, air berhenti mengalir. Angin berhenti bertiup. Bumi berhenti berputar. Matahari pun terpaku pada tempatnya. Semua berhenti, dan berhenti. Semua diam, dan diam.
”Anda guru, bukan?”
”Ya, saya seorang guru …..”.
”Mengapa yang Guru ajarkan bukan aksara Indonesia?” tanyanya dingin.
”Saya, saya ….. saya benar-benar tidak tahu akan aksara Indonesia”.
”Jangan-jangan, Anda bukan guru!”.
”Bapak salah besar. Saya ini seorang guru, malah gurunya guru. Saya ini seorang widyaiswara. Status saya Pegawai Negeri Sipil dengan Golongan Ruang IVe. Saya mempunyai SK –nya lho ….. ”.
”Yang jelas, guru juga masih buta huruf terhadap aksara bangsanya sendiri,” jawab sang super body murid. Ia menghela nafas panjang.
Tentu saja, Sang Guru menjadi kelimpungan. Sebab, ia sendiri juga tidak tahu seperti apa wujud dari aksara Indonesia.
Dulu, ketika ia masih menuntut ilmu, ia tidak pernah mendengar apalagi mempelajari aksara Indonesia. Rekan sejawatnya pun sama. Di sekolah-sekolah formal, guru mengajarkan aksara Latin, bukan aksara Indonesia. Langit dunia pendidikan mendadak mendung.
”Temuan pertama,” kata sang super body.
Super body murid merasa kecewa menghadapi kenyataan tersebut. Ia ingat, Kepala Negara sudah dua kali mengumandangkan Wajib Belajar. Pertama Wajib Belajar 6 Tahun pada 2 Mei 1984 dan yang kedua Wajib Belajar 9 Tahun pada 2 Mei 1994.
Memang, dalam arti sederhana kewajiban tersebut hanyalah kewajiban dalam hal pendidikan dasar dengan tekanan utama pada baca, tulis, dan hitung. Itupun diperuntukkan bagi anak-anak dengan usia tertentu.
Namun makna tersirat yang terkandung tidaklah sedangkal makna yang tersurat. Kemampuan baca, tulis, dan hitung yang dimaksud tentu bukan dengan menggunakan parameter asing. Kacamata yang digunakan haruslah kacamata Indonesia sehingga menguntungkan Indonesia namun tidak merugikan yang bukan Indonesia.
Sayangnya, pengertian ini muncul setelah krisis multi dimensi melanda negeri. Setelah korban demi korban yang tak bersalah berjatuhan. Setelah Merah Putih lusuh dan beberapa benangnya nyaris putus.
Sejarah tanah air pun telah mencatat. Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan, pada 28 Oktober 1928, mereka mengaku menjunjung bahasa persatuan yang satu, bahasa Indonesia. Namun, sampai delapan puluh tahun dari pengakuan tersebut, bangsa Indonesia belum mengenal aksara Indonesia.

Danang tersenyum. Ia pernah mendengar dari gurunya, beberapa abad yang silam para pemuda Indonesia telah mengikrarkan sebuah sumpah yang menghebohkan, yaitu Sumpah Pemuda.
Konon, zaman dahulu, setiap tanggal 28 Oktober dirayakan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Mereka mengadakan peringatan dengan gegap-gempita, mulai dari upacara di tanah lapang, berbagai lomba, sampai dengan seminar-seminar yang digelar di gedung bertingkat.
Meski kadang diwarnai emosi sesaat, mengikrarkan sumpah adalah hal yang sulit. Namun, kemampuan mengimplementasikan sumpah dalam kenyataan jauh lebih sulit. Sumpah hanya tinggal sumpah manakala tidak dapat diwujudkan dalam kenyataan.
”Maklum, mereka masih sederhana dalam berpikir. Tekanan mereka masih pada perayaan yang sebatas ritual, belum menyentuh esensi dari sumpahnya,” gumannya lirih, ”Zaman sekarang, siapa yang mau berpanas-panas di tanah lapang hanya untuk sebuah seremoni. Terlalu banyak pekerjaan yang harus ditinggalkan, terlalu banyak kerugian yang diderita hanya untuk sebuah upacara”.
Pada zamannya, hanya ada satu macam perayaan yang diselenggarakan secara serentak, yaitu tahun baru INDONESIA. Karena itu, penyelenggaraannya menjadi meriah, melibatkan semua orang, dan bahkan bisa mendatangkan devisa negara.

OOO
2. Sekarang Tahun 2009

Setelah selesai mencatat hal-hal yang dianggap penting, sang super body murid menghela nafas panjang. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Sesekali terdengar decak kemasgulan keluar dari mulutnya.
Tanpa komando, para pengiringpun mengikutinya. Mereka tidak mengetahui sebab-musabab Sang Pemimpin melakukan hal itu. Yang mereka tahu, apa yang dilakukan Sang Pemimpin adalah sesuatu yang harus dan patut ditiru. Urusan benar-salah adalah soal nomor sekian. Tidak ada kamusnya, tidak ada rumusnya, juga tidak ada pasalnya. Yang mereka tahu hanya satu kata, loyal, titik.
Sang Pemimpin memperhatikan semua sudut kelas. Beberapa saat kemudian, pandangannya terhenti pada kalender yang tergantung malas di dekat meja guru. Semua pengiring yang menyertainya pun melakukan hal yang sama. Namun mereka tidak tahu, apa yang ada dalam benak pikiran Sang Pemimpin.
”Guru, sekarang tahun berapa?” tanyanya dengan suara yang jelas.
”Bapak telah lupa? Sekarang kan tahun 2009 …..”.
”Oya, ….. tahun 2009…”.
”Maaf, mengapa pagi ini Bapak menjadi sangat aneh seperti ini?” tanya Sang Guru memberanikan diri.
”Itu tidak penting,” dingin sekali jawabannya, ”Saya mau tanya, 2009 itu tahun fersi siapa, Guru?”
Bak disengat lebah, Sang Guru tersentak, guru-guru di luar ruangan tersentak, para pengiring tersentak, dan semua orang tersentak. Tahun 2009, fersi siapa? Satu dua orang saling berbisik, tiga empat berbisik, lima enam, sembilan ….. dan seisi Indonesia berbisik. 2009, fersi siapa? Sang Guru tidak segera menjawab, wajahnya memerah. Beberapa saat kemudian berubah menjadi kuning, dan hijau …..
Untuk beberapa saat nafasnya terhenti, dan mati rasa. Dahinya sedikit basah. Ia pun menatap lurus ke depan. Sang Guru merasa diadili oleh murid-muridnya.
”2009 adalah tahun Masehi,” jawab Sang Guru mantap beberapa saat kemudian. Semua sejawat sang guru tersenyum lega. Pertanyaan telah terjawab dengan tepat.
”Pertanyaan berikutnya adalah, adakah hubungan antara Masehi dengan Indonesia, Guru?”
“Ah, Bapak menguji saya?,” jawab Sang Guru tersinggung. Ia pun menguraikan sejarah tanah air.
”Mohon, Guru tidak mengalihkan pembicaraan,” datar sekali suara yang bercelana tiga perempat mengomentari jawaban yang didengarnya, ”Di manakah posisi Indonesia pada tahun 1 Masehi, Guru?”
“Indonesia belum ada, belum lahir”.
“Seingat saya, Kutai adalah tonggak dimulainya sejarah tanah air”.
“Bapak, benar. Kerajaan tersebut lahir antara abad empat sampai lima Masehi”.
“Bukankah, kalau kita menghitung harus dimulai dari tonggak pertama, Guru?”
“Ya, harus ….”
“Bagaimana jika melompat?”
“Ya, jelas salah. Itu penggelapan sejarah namanya”.
“Penggelapan sejarah?”
“Ya, bisa juga disebut biang korupsi waktu”.
“Tapi kalau menguntungkan, bagaimana?”
“Maksudnya?”
“Memandang 1 Masehi sebagai start, padahal ketika itu Indonesia belum ada. Tapi menguntungkan sebagian dan merugikan sebagian yang lain, tepatkah?”
Sang Guru tidak segera menjawab. Beberapa saat ia tertegun di tempatnya. Ia merasa tertohok tepat di ulu hatinya. Lidahnya terasa kelu, ” Menguntungkan siapa dan merugikan siapa. Siapa untung apa, dan siapa rugi apa?”. Namun suaranya tak juga kunjung keluar, tercekat di tenggorokan. Sang Guru limbung. Matanya nanar memandang lurus ke depan. Berbagai macam pikiran pun datang berlompatan memenuhi benaknya.
Sang Guru berusaha untuk terlihat tegar. Ia tidak mau kehilangan wibawa. Oleh karena itu, ia segera mengupas dari a sampai z -nya sejarah tanah air.
Beruntung, super body murid tidak melanjutkan pertanyaanya. Ia mencatat dan terus mencatat, sampai tintanya habis, dan kering. Sebuah fulpen baru ia minta kepada pengiringnya.
Bukunya telah nyaris penuh dengan berbagai tulisan yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Namun, catatannya belum juga selesai. Tiba-tiba ia menghentikan kegiatannya.
”Guru, aku mau ke belakang ….. pipis ….”, katanya dengan wajah polos tanpa dosa sambil berdiri. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar dari ruang kelas.
”O, silakan, silakan …..”.
Wajah-wajah menahan senyum membayang kala melihat perilaku polosnya. Murid, tak peduli siapa mereka, dan dari strata mana mereka berasal, mereka lugu. Kepolosan mereka tidaklah selalu identik dengan ketololan.
Seorang pengawal mengiringi Kepala Negara ke kamar kecil yang terletak di salah satu sudut sekolah itu. Mereka pun melewati koridor panjang.
”Kamar kecilnya, bau …..,” celetuk Sang Murid.
”Bagaimana kalau ke kamar kecil yang lain, yang biasa digunakan para guru? Di sana lebih bersih daripada yang ini ….”.
”Tidak perlu. Saat ini, aku sebagai murid. Tidak boleh kurang ajar. Siapapun kita, guru harus tetap dihormati. Ingat, pada suatu masa, kita pernah didik dengan penuh kasih olehnya. Kau harus ingat itu …..”
”Siap, Pak!”
Sambil menutup hidung, Kepala Negara masuk kamar kecil sekolah dasar. Indonesia menundukkan kepala. Air mata penuh haru membayang di pelupuk mata Ibu Pertiwi. Anak sulungnya telah berani pergi belajar.
Ia berangkat seorang diri untuk ke dua kalinya ke sekolah dasar untuk menuntut ilmu dasar. Butuh jiwa besar untuk itu! Bagaimanapun kondisinya, anak sulung adalah tumpuan harapan begi keluarganya, bagi bangsanya.
”Kamar kecilnya sangat memprihatinkan,” kata Sang Murid seraya melangkah keluar, ”Apakah kondisi semua sekolah dasar seperti ini?”
”Oh, tidak-tidak. Paling-paling hanya satu dua buah sekolah saja yang seperti ini. Ini hanya faktor kebetulan saja. Yang lain, pasti lebih baik dan lebih bersih”.
”Yakin?”
”Iya, Pak,” jawabnya dengan penuh percaya diri.
”Memangnya, kalau kamu meninjau sekolah, pernah menyupervisi kamar kecil murid?”.
”Iya, Pak. Saya pasti menyempatkan diri memeriksa kondisi senitasi sekolah”.
”O, ya?”
”Apalagi, sekolah di daerah pinggiran. Muridnya masih jorok. Makanya, kamar kecilnya juga bau …..”.
”Terus, apa yang kamu lakukan?”
”Saya berikan pembinaan kepada kepala sekolah, guru, penjaga, dan murid-muridnya akan arti kebersihan”.
”Wah, berarti, kerjamu habis-hadisan …..”.
”Iya, Pak. Semua itu, kan demi anak bangsa …..” celoteh pengawal panjang lebar..
Sang Murid hanya tersenyum mendengar bualan bawahannya, ”Mental gedibal!” teriaknya dalam hati. Ia merasa prihatin dengan kondisi mental para bawahannya yang tidak jauh dari itu.
Hatinya berteriak lantang. Bibirnya tersenyum getir, ”Mental gedibal”, ke atas menjilat ke bawah menginjak. Namun, ia merasa sebagai manusia biasa. Ia merasa tak mampu untuk mengubah semuanya, ”Kita kembali ke ruang,” katanya beberapa saat kemudian.
”Siap, Pak!
Mereka pun berjalan beriringan. Sang Murid sempat melirik kondisi halaman belakang sekolah yang berantakan. Ia pun sempat melihat sekilas akan mampetnya saluran pembuangan air. Sampah yang menggunung pun terlihat di pojok sana.
Sementara itu, Sang Guru dikerumuni oleh sejawatnya. Mereka memberikan pelayanan ekstra. Ibu Guru Fulanah yang mengambilkan air teh. Ibu Guru Pipit menyiapkan makanan kecil. Bahkan beberapa orang bapak guru yang mengipasinya beramai-ramai dengan kipas cantik dari pulau dewata.
”Bapak sungguh hebat,” celetuk seorang yunior.
”Luar biasa,” sahut yang lain.
”Pokoknya, hari ini adalah hari paling bersejarah bagi dunia pendidikan kita,” celetuk yang duduk di sudut.
”Uraian tentang sejarah tanah air tadi, sangat mengagumkan, detail dan rinci”, yang berkumis tebal menimpali.
”Kalian terlalu berlebihan,” sahut Sang Guru seraya mengangkat gelas teh manis yang ada di depannya.
”Sayang, saya tidak sempat mendengarnya. Saya terlambat,” seorang ibu guru menyahut.
”Saya juga terlambat,” bapak guru yang lain menimpali, ”Kelihatannya seru”.
”Seru sekali,” sahut yang lain.
”Mohon diulang agar lebih jelas ….,” pinta mereka hampir bersamaan. Mereka saling pandang dan tersenyum.
Akhirnya, semua ingin mendengar ulang penuturannya kepada murid bercelana tiga perempat yang menjadi pusat berita pagi itu. Sebenarnya, mereka sudah mendengar langsung dari televisi yang dipasang ruang itu. Namun, namanya juga manusia, ingin mendengar dan ingin tahu lebih banyak lagi.
Bak pahlawan yang pulang dengan membawa kemenangan, Sang Guru pun menceritakan kembali tanya jawabnya dengan murid nomor satunya. Decak kekaguman berkali-kali terdengar. Berbagai pujian pun mengalir. Dan, rupanya, Sang Guru sangat menikmati hal itu.
Memang, pagi itu, Sang Murid Nomor Satu telah berhasil menyedot perhatian Indonesia dan dunia. Apalagi setelah beberapa stasiun televisi juga ikut nimbrung. Gegap-gempita pelantikan orang nomor satu negeri adikuasa pun tenggelam karenanya.
Untuk sementara waktu, pemutaran sinetron yang penuh air mata dihentikan. Untuk sementara waktu, siaran langsung pesta olehraga dihentikan. Untuk sementara waktu berita tentang penangkapan koruptor juga dihentikan, dan sebagainya, dan sebagainya. Praktis, roda kehidupan dunia terhenti.
Bank-bank sepi. Kantor-kantor sepi Pasar-pasar sepi. Super market sepi. Toko sepi. Warung sepi. Lalu-lalang kendaraan di jalan tak terdengar, sepi. Karena sepi, mereka segera pulang. Semua orang ingin segera berada di rumah masing-masing. Semua ingin segera berkumpul bersama anggota keluarga masing-masing.
Mereka duduk manis di hadapan pesawat televisi. Mereka sangat takut kehilangan momen penting pendidikan bangsanya. Mereka ingin menjadi saksi sejarah. Dengan seksama mereka mengikuti alur dialog antara Sang Guru dengan Sang Murid.
Ibu-ibu segera menghentikan kegiatan rutinnya di dapur, yang penting ada nasi. Urusan lauk dan sayur, ambil apa adanya. Meskipun mereka perempuan, ternyata juga memiliki antusias yang tinggi terhadap kelangsungan negara bangsanya. Agaknya, pemberdayaan perempuan telah berhasil menyadarkan mereka.
Anak-anak pun setali tiga uang. Mereka duduk terpekur di dekat orang tuanya. Tak ada canda tawa. Tak terdengar teriak kemarahan. Tak ada keinginan untuk bermain. Sepertinya, anak-anak pun terbawa suasana.
Kebangkitan Nasional kedua dimulai! Kesadaran nasional telah tumbuh bersamaan. Dari sadarnya, bayi yang baru lahir langsung mengesakan Tuhan. Yang akan mati pun mengesakan Tuhan. Bahkan, untuk sementara waktu, Tuhan Yang Maha Esa –nya Pancasila pun berkenan menunda kematian bagi mereka yang divonis mati agar menyaksikan perubahan mendasar yang akan terjadi.

Danang tersenyum, “Hiperbola …..”

Bangsa yang tidur nyenyak selama enam puluh empat tahun itu kini menggeliat untuk bangun. Antara sadar dan tidak, mereka mencari pegangan apa saja yang dapat dipegang, yang ada di dekatnya.
Ketika seberkas cahaya berkelebat, mereka tersentak melihat hasil pendidikan yang diberikan kepada anak-anak mereka, semrawut.
Buah-buah durian dapat berbiji pasilan karena rekayasa genetika. Bebek tidak diajari berenang dan tidak dikembalikan ke air, namun digiring ke padang rumput. Ikan tidak dilepaskan di air, namun dilemparkan di padang pasir. Ayam dan musang dikumpulkan dalam satu kandang oleh para peternak. Burung-burung kecil yang patah sayapnya tercecer di pinggir-pinggir jalan. Mereka hanya mampu bertongkat paruh untuk bertahan hidup.
Mereka makin terhenyak kala menyadari bahwa telah terjadi perampokan besar-besaran di tanah airmya. Kekayaan alam, hutan, isi lautan, uang, rakyat, kehormatan Indonsia telah dicuri, dikuras habis, dan nyaris tandas.

OOO
3. Nilai Se-Indonesia

Murid dengan celana tiga perempat telah kembali ke bangkunya. Sejak dari kamar kecil, ia sibuk dengan jari-jemarinya. Ia menghitung dari jari kanan ke jari kiri, kemudian dari jari kiri ke jari kanan, berulmg-ulang.
Satu, dua, tiga menit telah berlalu. Para pengiring mulai gelisah. Beberapa kali, para pengiring senior berdehem dengan maksud mengingatkan. Dan, rupanya yang bercelana tiga perempat tanggap akan hal itu.
”Guru, benarkah manusia itu makhuk yang terbatas kemampuannya?”
”Itu sudah kebenaran umum”.
”Dalam segalanya, Guru?”
”Ya, dalam segalanya. Makanya, segala sesuatu harus ada batasnya”.
”Ada batas minimal dan ada batas maksimal”.
Sang Guru mengangguk.
”Ada batas paling kiri dan ada batas paling kanan. Benarkan, Guru?”
Sang Guru mengangguk. Semua orang dewasa yang waras pastilah mengetahui hal yang satu itu. Manusia, betapapun tinggi derajatnya, betapapun kayanya, betapapun berkuasanya, tetaplah sebagai manusia yang terbatas dengan segala keterbatasannya.
”Termasuk dalam hal menghitung?” celetuknya.
Sekali lagi, Sang Guru mengangguk. Para guru yang berada di luar ruangan pun mengangguk. Mereka membenarkan pendapat seniornya.
Ia segera menjelaskan ulang dengan cepat sistem bilangan Hindu Arab. Namun, bukan murid nomor satu jika lantas puas dengan penjelasan tersebut. Sang Guru tahu akan hal itu. Oleh karena itu, segera dipersiapkan berbagai kemungkinan jawaban jika ada pertanyaan susulan.
”Guru, itu tadi kan sistem bilangan Hindu Arab”.
”Ya, itu tadi adalah sistem bilangan Hindu Arab”.
”Berarti, kita hanya berkedudukan sebagai konsumen bilangan tersebut. Guru, mengapa laksa dan keti dimatikan?”
”Bapak harus ingat. Kedudukan laksa telah digantikan oleh sepuluh ribu. Sedangkan keti telah digantikan oleh seratus ribu,” jawab Sang Guru cepat. Rupanya, ia sudah hampir termakan emosinya. Ia tidak suka mendapat pertanyaan tersebut.
”Seingat saya, satu, puluh, ratus, ribu, laksa, keti, dan juta adalah satu kesatuan sistem bilangan warisan nenek moyang,”
”Ya, tapi itu sudah basi, sudah ketinggalan zaman. Kita hanya akan seperti katak dalam tempurung jika terus menerus berkutat dengan warisan tersebut”.
”Guru, adakah yang salah dalam sitem tersebut? Bukankah setiap sistem yang dirancang oleh satu bangsa bertujuan untuk melindungi bangsa tersebut dari intervensi asing dan juga untuk menguasai asing?”
Sang Guru tidak segera menjawab. Ia mengernyitkan dahi, berusaha mencerna arah pembicaraan Sang Murid. Namun, Sang Guru tidak juga mengerti.
Ia bingung, pelajaran yang diterima dari gurunya belum sampai ke situ! Para guru yang berada di luar ruangan saling berbisik, Indonesia pun berbisik, ”Kebenaran hitungan dipertanyakan!”
”Guru, secara matematis, berapa nilai se-Indonesia?”
”Nilai se-Indonesia???” Sang Guru balik bertanya dengan nada kaget, ” Apakah saya tidak salah dengar?”
”Guru tidak salah dengar. Berapakah nilai se-Indonesia?”
“Itu pertanyaan paling konyol yang pernah saya dengar di abad ini!” Sang Guru benar-benar kehilangan kesabarannya. Matanya memerah, wajahnya pun memerah. Ia menghempaskan dirinya di kursi yang ada di dekat meja guru. Suasana menjadi tegang.
”Adakah yang salah dengan pertanyaan saya, Guru?” tanya Sang Murid, lagi-lagi dengan suaranya yang datar. Bukan murid nomor satu jika mudah terbakar emosinya. Bukan murid nomor satu jika tidak memiliki hati seluas samudera biru.
Oleh karena itu, ia biarkan berlalu begitu saja kata-kata sinis Sang Guru. Justru, sesungging senyum menghiasi bibirnya. Semua diam, dan keheningan mendadak menyapu bumi Pertiwi.
Setelah menarik nafas dalam-dalam, Sang Guru berdiri kembali. Semua mata penuh harap tertuju padanya. Ia tidak segera menjawab, “Jangkrik, aku dikerjai Presiden!” umpat Sang Guru dalam hati.
“Tak ternilai harga Indonesia,” jawabnya singkat, “Indonesia tak ternilai. Jawa, Sumatera, Kalimanntan, Sulawesi, dan pulau-pulau yang lain tak ternilai. Daratan, lautan, gunung, lembah, dan ngarai tak ternilai. Hutan, binatang, dan tumbuhan pun tak ternilai ….. dan akhirnya, manusia pun tak ternilai,” lanjutnya.
Sang Murid mengangguk-angguk. Semua saksi mata pun mengangguk dan bernafas lega. Mereka menyangka, Sang Murid puas dengan jawaban klise tersebut dan tidak bertanya-tanya lagi.
“Ya, ya. Semua tak ternilai,” sahut semua pengiring murid nomor satu nyaris bersamaan. Mereka berebut membenarkan, berebut memperdengarkan suaranya, dan berebut mencari perhatian agar diketahui oleh sang pemimpin. Alih-alih siapa tahu, akan dipromosikan jabatannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Murid bercelana tiga perempat dengan topi merahnya mengangguk-angguk, seakan-akan mengerti dengan yang dimaksud Sang Guru. Tanpa mempedulikan sekitar, ia pun memainkan alat tulisnya, berputar-putar.
”Bagaimana dengan hasil tambang, kekayaan alam, sapi, kambing, ayam, pepohonan, buah-buahan, dan sebagainya, apakah juga tak ternilai, Guru?”
“Ya, semuanya tak ternilai …..’.
“Tapi, Guru ….. Bukankah yang saya sebutkan tadi dapat dijual dan dapat menghasilkan uang?”
“Ya, lantas?”
“Berarti, semuanya ternilai, bukan?”
“Ya, lantas?”
“Berarti Indonesia pun ternilai …..”.
“Terus, berapa nilai se -Indonesia? Terus, siapa yang mau membeli Indonesia?” Sang Guru balik bertanya dengan sinis. Ia merasa di atas angin. Senyum kemenangan membayang di wajahnya.
Sang murid tidak segera memberikan komentar atas jawaban tersebut. Wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. Ia pun mulai menulis, dan menulis ….. Berlembar-lembar hasil catatannya. Buku tulisnya sudah semakin tipis. Ia menghitung dengan caranya sendiri. Bukan dengan cara yang diajarkan oleh gurunya.
Para pengiring pun ikut-ikutan menulis. Kadang, mereka juga tidak begitu mengerti dengan apa yang dibicarakan antara pemimpinnya dengan Sang Guru. Namun, mereka tetap saja ikut-ikutan menulis. Mungkin, mereka sudah mengidap semacam penyakit bawaan yang cukup kronis, latah. Atau bisa jadi, mereka termasuk pendudukung setia Latahisme. Sebuah isme yang sangat handal daya gempurnya.
Beberapa di antara mereka sempat mengingatkan akan mubazirnya mendatangi guru, apalagi guru sekolah dasar. Mereka bukan siapa-siapa di negeri ini. Kedalaman ilmu mereka hanya sejengkal, tidak lebih.
Seharusnya, Kepala Negara mendatangi profesor ternama yang banyak bertaburan di perguruan tinggi untuk bertanya. Sang Guru pun berguru kepada mereka.
Kepala Negara tinggal pilih, mau model dari barat, timur tengah, timur jauh, ataupun dari aussi. Semua ada, lengkap dengan gelar mereka yang panjang-panjang.
Mereka tidak pernah tahu bahwa Kepala Negara mempunyai pertimbangan lain. Bukan salah Guru sekolah Dasar jika demikian keberadaannya. Justru keadaanlah yang mengkondisikan seperti itu. Kepala Negara sadar sesadar-sadarnya bahwa dari sekolah dasar -lah semua berawal. Tidak ada Presiden tanpa Guru SD.
Ibarat mata air, sekolah dasar adalah sumbernya. Jika sumbernya saja sudah tercemar, jangan pernah berharap muaranya bebas polutan. Dengan mata air yang jernih saja masih ada kemungkinan keruh ketika sampai di hulu apalagi jika sebaliknya yang terjadi.
Ruang kelas kembali hening setelah mendengar jawaban Sang Guru. Bisik-bisik sejawat guru di luar ruangan menguatkan pendapatnya. Para pengiring Sang Murid pun membenarkan pendapat tersebut. Penonton televisi pun membenarkan hal itu. Semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tak ternilai.
“Maaf, Guru. Tadi, saya sudah mengatakan, bahwa semuanya bisa dijual, dan itu artinya semuanya ternilai. Perkara berapa nilai se-Indonesia, itu bukan kewajiban saya untuk menjawab. Saya hanyalah seorang murid. Jadi, Gurulah yang harus menentukan, berapa nilai se-Indonesia,” kata Sang Murid beberapa saat kemudian.
“Saya? Saya yang harus memberikan nilai se-Indonesia?” Sang Guru balik bertanya sambil menunjuk batang hidungnya.
“Ya iyalah,” jawab Sang Murid menirukan gaya bicara artis-artis layar kaca, “Masak orang lewat …..”
Semua yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut tersenyum. Tanpa sadar, mereka membenarkan pendapatnya.
“Pertanyaan bodoh, maaf”.
“Bukan pertanyaannya yang bodoh. Tapi, jawabannya yang sulit. Betul tidak teman-teman?”
Seisi kelas membenarkan, seisi Indonesia pun membenarkan, “Jawabannya yang sulit”.
”Lucu …..,” celetuk Sang Murid.
”Saya merasa tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh semacam itu, berpikir ke arah itupun tidak pernah”. Sang Murid menghela nafas panjang, ”Jika bukan guru, lantas siapa lagi? Atau, jangan-jangan, Guru juga tidak tahu berapa nilai se-Indonesia” .
”Saya tidak tahu!” jawab Sang Guru gusar.
”Jika demikian, Anda bukan Guru”.
”Eit, jangan salah! Saya ini seorang guru. Status saya Pegawai Negeri Sipil dengan golongan ruang IVe”.
Sang Murid tidak menjawab. Ia hanya mendengus lirih. Ia tidak peduli dengan pengakuan Sang Guru. Ia mulai mencatat, dan terus mencatat. Sampai pada akhirnya terdengar tanda jam istirahat tiba. Mereka semua berdiri dan meninggalkan ruang kelas.
Radio dan televisi pun segera mengisi jeda dari dalam kelas dengan meminta pendapat khalayak. Seribu satu macam komentar dari para pemimpin dunia segera mengalir. Ada yang seiring dan ada pula yang menungging, ”Jangan-jangan pemimpin mereka sudah gila, Gila INDONESIA”.
Para psikiater memberikan penilaian jarak jauh dengan melihat ekspresi wajah, gerak jakun, kedipan mata, dan bahasa tubuh Sang Murid. Mereka segera mengadakan pertemuan. Dan, mereka sepakat bahwa orang nomor satu di negerinya tidak sedang mengalami gangguan jiwa. Itulah pembelaam para psikiater tehadap pemimpin bangsanya.
Paranormal jempolan pun dimintai bantuan. Tak ayal lagi, asap dupa ratus pun membubung tinggi, menembus awan, dan menggapai langit. Namun, bukan kabar dari langit yang didapat. Justru langit terbuka ……
Seluruh penduduk negeri tidak ada yang tahu dengan apa yang terjadi pada diri Kepala Negara mereka. Mereka hanya merasa miris dengan semua itu. Rasa was-was terbersit di hati mereka. Mereka hanya mampu berdoa agar selamat. Anak-anak kecil tanpa dosa semakin erat dalam dekapannya.
Sementara itu, para militer mengadakan patroli di daerah perbatasan dengan ketat. Tak ada ijin untuk masuk maupun meninggalkan NKRI sampai urusan Kepala Negara dengan guru selesai.
Tak ketinggalan pula, polisi pun berjaga-jaga dengan sangat waspada. Perintah Kepala Negara pun sangat jelas, ”Tembak di tempat kaum perusuh!”
Prediksi Kepala Negara tidak meleset. Roda kehidupan terhenti dengan sendirinya saat dirinya untuk kedua kalinya belajar di sekolah dasar. Oleh karena itu, pada tanggal yang telah ditentukan perangkat pertahanan dan keamanan negara harus berada di tempat-tempat yang telah ditentukan untuk mengantisipasi para penyusup.

“Paragraf-paragraf panjang yang membingungkan. Guru dituding bukan guru oleh Kepala Negara, tentulah membuat mereka kebakaran jenggot, tentulah sangat menyakitkan,” lagi-lagi ia mengguman lirih. Danang menghentikan pencariannya. Ia menguap lebar-lebar. Ia segera mengkopi data yang didapat, kemudian mematikan 5D–nya. Sambil menguap lagi, ia melangkah keluar.
Sebuah siulan kecil keluar dari mulutnya. Beberapa detik kemudian telah ada sebuah moter (mobil terbang) di depannya. Tak lama kemudian kendaraan tersebut melesat ke angkasa, melaju dengan cepat, dan menuju ke satu titik, tempat tinggalnya yang berada di balik bukit.

OOO
4. Indonesia adalah Tanah Air Kita

Hari belum begitu siang saat gerimis di awal bulan Safar 2008 turun. Danang tersenyum, “Ada alasan untuk terlambat,” katanya seorang diri. Ia memang takut gerimis, apalagi di pagi hari. Semua anggota keluarganya tahu, teman-teman dekatnya pun tahu. Mungkin sebangsa phobia. Dengan demikian, ia mempunyai cukup waktu untuk membuka kembali file-nya semalam.
”Aha, tanpa hambatan. Beberapa file yang kemarin ditemukan masih dapat dibuka,” seru Danang riang.
Ia ingat, betapa susahnya menemukan file-file tersebut. Menemukan catatan kuno yang masih tersisa dari masa lalu tidak hanya sekedar menguras tenaga dan pikiran semata. Masih ada pengorbanan lain. Ia harus merelakan masa liburnya hilang. Oleh karena itu, ketika ada beberapa paragraf tidak bisa dibuka karena masih terkunci, Danang menjadi penasaran.

“Demokrasi hanyalah sebuah omong kosong dari seberang. Mereka yang gigih memperjuangkan akan berubah menjadi penentangnya sendiri pada saat sudah berhasil menggapai kekuasaan. Keindahan demokrasi bagai kecantikan bunga-bunga plastik.
Memang, Demokrasi Indonesia pernah hidup di bumi Pertiwi – meski hanya sehari, yaitu pada 17 Agustus 1945 atau jika ditarik akan mentok pada 29 Desember 1949. Pada saat itu, siapa pemimpin dan siapa yang dipimpin terjadi secara alami. Mereka masih relatif bersih dalam hal kepentingan.
Namun, keesokan harinya, keinginan untuk mendominasi pihak lain mulai muncul. Kesepakatan suci yang telah diambil sebelumnya diingkari dengan berbagai alasan yang ”dianggap” masuk akal. Sudah barang pasti ada yang tertawa dan ada yang menangis karenanya. Malangnya, sebagian yang dibodohi menerima dengan tangan terbuka karena hanyut dalam skenario global yang telah tersusun rapi sebelumnya. Kata orang bijak, “Jangan menangisi susu yang telah tumpah”.

Tiba-tiba Danang ingat akan minumannya yang belum disentuh sejak diseduh. Adalah kebiasaanya untuk bekerja secara manual, meskipun di tempat tinggalnya telah tersedia semua fasilitas kebutuhan hidup yang hanya tinggal sentuh, dan semuanya beres.
Danang melangkah ke meja minum. Diseruputnya minuman sereal kesukaannya dengan perlahan. Rasa yang lezat dengan aroma khas coklat terasa membasahi bibirnya. Beberapa saat kemudian, ia sudah kembali ke meja kerjanya…..

“Belakangan, setelah beberapa dekade, setelah air mata kering, muncul orang bijak lain. Dia mengajukan pendapat lain. Agar sehat dan kuat, bangsa Indonesia harus berani menyisihkan waktu untuk meramu susu dengan formula lain, yang aman bagi yang lain, dan yang tidak membuat alergi bagi pihak yang lain.
Tentu saja, tidak semua orang setuju dengan pendapatnya. Pro-kontra adalah hal yang wajar dalam setiap peri kehidupan. Mereka yang menolak berargumen, “Untuk apa meramu susu dengan formula baru yang merepotkan, butuh biaya, menyita waktu, menguras energi, dan belum teruji khasiatnya”.
Padahal, inti masalahnya bukan di situ. Mereka sudah terlanjur keenakan dengan segala kenyamanan hidup dan akses yang mereka punya. Mereka menutup mata terhadap kenyataan, di sekitar mereka masih pahit
Sebaliknya, yang setuju berargumen bahwa perubahan itu perlu. Pendapat yang belakangan ini didukung oleh kenyataan sejarah bahwa Revolusi Belum Selesai seperti yang pernah diungkap oleh mantan orang nomor satu di republik itu.
Fondasi peri kehidupan tidak dibongkar namun ditinggikan agar banjir global tidak mampu mengganggu. Bagaimanapun, sini adalah sini dan sana adalah sana. Pada saat tertentu, sana dan sini bertemu barulah bertemu.

“Aneh, kok tidak nyambung dengan yang kubaca kemarin. Atau jangan-jangan, tadi ada yang terlewat,” celetuknya. Danang segera mengarahkan mousnya ke arah vertikal, “Nah, benarkan. Ada yang terlewat…… Wuih, banyak sekali”.

“Ketika semua sedang beristirahat, para guru berunding. Mereka sepakat, untuk kelanjutan kegiatan tatap muka dengan para murid salah kejadian akan dilangsungkan di aula sekolah. Diharapkan, dengan ruang yang lebih luas suasana menjadi lebih kondusif. Apalagi di ruang tersebut telah juga dilengkapi dengan kipas angin dan seperangkat audio visual.
Tanpa dinyana, semua guru dari seluruh penjuru tanah air pun berdatangan memberikan dukungan. Tugas pun dibagi. Mereka yang dipandang lebih mendapat kepercayaan mendampingi Sang Guru. Tugas mereka adalah memberi semacam dukungan moral agar sang senior tidak merasa sendiri. Tentu saja, mereka senang mendapatkan kehormatan tersebut. Sedangkan yang lain mendapatkan tugas lain, atau paling tidak sebagai petugas tepuk tangan …..
Bel tanda masuk telah berbunyi. Para murid salah kejadian pun dipersilakan untuk pindah ke aula. Mereka pun menurut. Benar juga, semua merasa lebih nyaman.
“Bagaimana dengan istirahatnya tadi?” tanya Sang Guru berbasa-basi sebelum memulai kegiatannya. “Menyenangkan!” jawab semua murid serentak.
“Kami bisa bernostalgia …..,” jawab Sang Murid.
“Memperpanjang masa kanak-kanak”.
“Sambil melepaskan keringat …..,” sahut yang lain menimpali, ”Supaya sehat….”.
Sang Guru tersenyum. Kini ia merasa lebih tenang. Di belakangnya telah berjajar, berderet-deret guru-guru senior dari berbagai tingkatan. Semua guru yang besar-besar, yang pintar-pintar, yang tidak diragukan kedalaman ilmunya dari berbagai perguruan tinggi ternama hadir.
Sang Murid berdehem , serentak semua diam dan bersedekap layaknya anak-anak Kelas I yang masih sangat patuh kepada ibu gurunya.
“Dulu, Guru pernah mengajarkan bahwa Indonesia adalah tanah air kita,” kata Sang murid sesaat kemudian.
“Ya, memang begitu. Malah jauh sebelum proklamasi, para pemuda sudah berikrar bertanah air satu, tanah air Indonesia”.
Sementara seisi aula mengangguk, membenarkan jawaban Sang Guru, para awak stasiun radio dan televisi sibuk dengan acara mereka. Berkali-kali Sang Guru dan Sang Murid di clous up dan nampak keseriusan mereka. Sesekali, kamera diarahkan ke bagian lain sebagai pembanding. Ternyata, tidak ada yang tidur. Mereka semua pun nampak serius.
Khalayak ramai dengan leluasa dapat mengamati semua yang terjadi di sekolah. Mereka bebas untuk mengajukan pendapat lewat SMS. Maka tak ayal lagi, berseliweranlah SMS di layar kaca dengan pandangan mereka masing-masing.
“Guru, saya sudah mengadakan perjalanan dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai Talaud. Namun, saya belum pernah menemukan Indonesia! Guru, di manakah Indonesia itu?”
“Ya, itulah Indonesia.Dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai Talaud. Ada yang kurang jelas?”
“Ada,” jawab Sang Murid mantap.
Lagi-lagi Sang Guru terkejut. Guru-guru lain yang berada di balik layar pun terkejut. Mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Sepertinya, mereka prihatin dengan mutu pemimpin bangsanya. Bangsa ini benar-benar telah salah dalam memilih pemimpinnya. Beruntung, mereka sadar bahwa ada hal lain yang perlu mendapatkan kepastian jawaban segera agar pupus semua kegelisahan.
Sang Guru segera menyiapkan OHP-nya. Tak lama kemudian, terpampanglah wajah tanah air di layar. Semua mata memperhatikan dengan seksama.
”Nah, inilah Indonesia,” kata Samg Guru, ”Bapak bisa melihat Indonesia lengkap dengan batas-batasnya”.
”Maaf, bukankah itu adalah NKRI, Guru?”
”Ya, ini adalah NKRI,” jawab Sang Guru.
”Samakah Indonesia dengan NKRI, Guru?
Tak urung Sang Guru mengernyitkan dahinya. Para guru yang berada di balik layar saling berpandangan, ”Samakah Indonesia dengan NKRI?”.
”Bapak jangan bergurau….,” jawab Sang Guru, ”Bapak sudah bermain-main di taman larangan, Taman Raja! Saya tidak berani menjawab! Menjawab pertanyaan itu sudah bukan kewenangan saya.”
”Bukankah saya ini seorang Kepala Negara?”
”Memang, tapi tetap bukan raja”.
”Lantas kewenangan siapa menjawab pertanyaan saya tersebut?” Sang Murid kembali bertanya.
”Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya. Maaf, sekali lagi maaf …..,” jawab Sang Guru diplomatis.
”Wah, repot kalau sudah begini,” tukas Sang Murid sambil menggaruk-garuk kepalamya yang tidak gatal.
”Jangan-jangan yang diajarkan pun Indonesia fersi asing. Bukan Indonesia fersi INDONESIA,” celetuk seorang musafir dari balik pagar yang kebetulan lewat.
Serentak semua mata memandangnya. Serentak pula handycame awak televisi pun mengarah kepadanya. Ia tak peduli, ia terus berlalu, dan lenyap di tikungan jalan.

Danang tersenyum, ”Bahasa yang digunakan terlalu bombastis. tapi, boleh juga,” komentarnya singkat.
5D –nya mengucap salam, memberi isyarat bahwa kakeknya akan datang berkunjung dengan kecepatan menunjukkan level biru. Posisi orang tua tersebut masih berada pada jarak delapan puluh kilometer pada 1010 05’58” BT dan 8008’60” LS. Diprediksikan pula bahwa dalam tempo sepuluh menit, kakeknya akan tiba.
5D –nya juga menginformasikan bahwa kakeknya membawa sebuah bungkusan dengan warna dewangga yang bergerak-gerak tidak beraturan, namun tidak liar. diam-diam Danang menaksir isi bungkusan yang dibawa oleh orang tua yang sangat dihormatinya.
Danang terus menatap arah 5D –nya. Ia ingin mendapatkan informasi lebih banyak sebelum kakeknya benar-benar datang. Namun, rupanya sudah tidak ada lagi info yang diberikan, 5D –nya kembali seperti biasa. Hanya ada satu titik muncul pada salah satu sudutnya. Titik itu bergerak mendekati pusat, tempatnya duduk saat ini
Bergegas Danang keluar dari biliknya. Ia segera turun ke halaman untuk menyambut kedatangan kakeknya. Selang beberapa detik kemudian, sebuah kendaraan turun secara vertikal dari angkasa.
Seorang lelaki dengan rambut yang telah memutih keluar dari moter. Jalannya masih tegak meskipun usianya telah mendekati sembilan puluh tahun. Lelaki itu adalah Eyang Jatmiko, kakek Danang.
”Eyang bawa apa? Saya perhatikan di monitor ada yang bergerak-gerak dalam moter,” kata Danang setelah mereka duduk di teras yang menghadap ke laut.
”O, itu ….. Coba, kamu ambil. Eyang sampai lupa”.
Bergegas ia mengambil kotak kecil berbungkus kain dewangga dalam moter kakeknya. Danang ingin segera mengetahui akan isi bungkusan tersebut.
”Bukalah!” perintah kakeknya.
”Apa ini, Eyang?” tanya Danang.
”Itu adalah arloji pada masa lalu”.
”Antik,” komentarnya.
”Arloji itu diikatkan di pergelangan tangan pemakainya. Coba, kamu pakai …..”.
Danang tertawa setelah mengenakan arloji di tangan kanannya, ”Unik,” celetuknya.
”Ya, unik. Itulah bentuk arloji dari masa lalu”.
Danang tersenyum, ”Keren, Kek?”
Kakeknya hanya tersenyum, ”Keren sih keren, tapi jadi ribet…..”.
Danang membenarkan ucapan kakeknya. Sebab, di zamannya, untuk melihat waktu tinggal menggosok ibu jari tangan kiri tiga kali.
”Ini arloji turun temurun,” kata Eyang Jatmiko beberapa saat kemudian, ”Barang ini adalah satu di antara beberapa peninggalan bersejarah dalam keluarga kita. Kamu tahu, dulu, eyangnya eyang, membelinya di Amerika Serikat.”.
” Apakah di sini tidak ada?”
”Bukannya tidak ada. Tapi, karena bakti seorang anak kepada orangtuanya”.
”Yang, Amerika Serikat itu kan negeri yang musnah karena nuklirnya sendiri dua tiga abad yang lalu, kan?”
Eyang Jatmiko mengangguk,” Imperium kuat dari masa lalu. Pada zamannya, negeri itu pernah dijadikan kiblat demokrasi”. Tanpa diminta, Eyang Jatmiko pun menceritakan perjalanan bersejarah leluhurnya ke negeri adidaya ratusan tahun silam.

OOO
5. Mencari Jawab

Tiba-tiba lelaki tua itu menghentikan ceritanya. Sepertinya, ia berusaha mengingat sesuatu. Tak lama kemudian, ia memijat beberapa tombol pada 5-D –nya. “Ini dia!” serunya kegirangan kala ia berhasil memunculkan gambar-gambar pada layar 5-D –nya. Ia pun kembali memencet-mencet beberapa tombol. Beberapa detik kemudian sebuah hologram muncul.
“Leluhur kita, yang mana, Eyang?” tanya Danang antusias ketika melihat beberapa sosok maya muncul di hadapannya.
“Itu, pemuda yang berada pada baris depan, berdiri nomor dua dari kanan. Itulah leluhur kita”.
”Subhanallah! Teman-temannya dari berbagai bangsa rupanya. Dan, wih, cakep amat beliau, Eyang!”
Eyang Jatmiko hanya tersenyum, ”Nah, coba kamu klik nomor-nomor berikutnya”.
Danang menurut. Beberapa gambar maya muncul berganti-ganti di hadapannya.
”Nah, kalau yang itu. beliau sedang di Texas. Tepatnya di Fort worth, daerah everman parkway”.
Danang menarik nafas panjang. Ada rasa kagum dan bangga, leluhurnya berhasil melanglang buana. Ia pun hanya dapat membayangkan perjalanan yang melelahkan selama kurang lebih dua puluh enam jam dari kota tua Jakarta sampai tujuan. Di zamannya, untuk keliling dunia hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.
”Amerika Serikat itu adalah sebuah imperium kuat di masa lalu,” katanya sesaat kemudian, ”Menariknya, arloji ini dibeli tahun 2008,” lanjut Eyang Jatmiko.
Danang mengernyitkan dahi. Aneh, pikirnya, arloji dibeli tahun 2008, sekarang tahun 2009. Padahal, leluhurnya telah membeli barang tersebut beberapa abad yang silam. Danang menjadi pusing.
Pasti ada yang salah, atau ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Matanya mengamati arloji tua yang kini melingkari pergelangan tangannya. Berbagai pertanyaan bergayut di benak kepalanya.
Tekstur yang klasik dan elegan menambah anggun pemakainya. Fossil, merk jam tangan masa lalu. Arloji tersebut masih bertahan dalam keluarganya setelah melewati beberapa kali perubahan zaman.
”Kamu sudah cukup dewasa, Danang. Jaga baik-baik arloji ini”.
”Maksud, Eyang?’
”Arloji ini Eyang serahkan kepadamu, sekarang menjadi milikmu. Kamu suka?”.
Danang terbeliak, ia tidak menyangka, ”Terima kasih, Eyang,” katanya sambil mencium tangan kakeknya, ”Danang akan menjaganya, jangan khawatir”.
Eyang Jatmiko tersenyum. Hatinya terasa lega, tugasnya menjaga harta warisan leluhur telah ditunaikan. ”Oh ya, arloji ini mempunyai pasangan. Sekarang, pasangannya berada pada keluarga Savitri. Yang perlu kamu tahu, pasangan arloji ini bertatahkan batu rhodonite yang hanya terdapat di Kanada”.
Danang mengangguk. Ia ingin bertanya, namun keinginan itu ditahan. Arloji tua yang masih aktif itu diperhatikan dengan seksama. Diam-diam ia pun memuji kecanggihan cara berpikir orang-orang di masa lalu.
“Kau sibuk, Nang?” tanya kakek tiba-tiba.
“Sedikit,” jawab Danang singkat.
“Kalau begitu, Eyang mau istirahat. Badan ini rasanya pegal-pegak semua …..,” kata kakeknya seraya berdiri dari kursinya.
“Tidak makan dulu, Eyang?”
“Nanti sajalah, Eyang masih kenyang,” jawab kakek singkat, ”Tadi sudah makan pilnyang,” Orang tua itu pun meninggalkan Danang.
Danang tidak bertanya-tanya lagi. Ia pun kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pencarian dengan membuka fail purbanya.
”Sampai di mana tadi?” gumannya. Matanya terus mengawasi huruf demi huruf, kalimat demi kalimat, dan paragraf demi paragraf, “Nah, ini dia …..”.

“Karena tidak mendapatkan kepastian jawaban, Sang Murid diam untuk beberapa lama. Seiring dengan tarikan nafasnya, ia pun mulai menulis dan menulis lagi. Bukunya telah habis. Ia pun meminta buku baru kepada seorang pengiringnya.
”Guru, jangan tersinggung. Saya datang ke sini hanya untuk bertanya,” kata Sang Murid membuka pembicaraan.
”Sebegitu pentingkah pertanyaan tersebut?”
”Bukan hanya penting, namun terlalu amat sangat penting. Ini adalah sejumlah pertanyaan tentang jati diri bangsa kita, bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mohon Guru menjawabnya dengan jujur”.
”Jati diri bangsa Indonesia …..,” terdengar menggantung suara Sang Guru, ”Adakah manfaat mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada? Menurut saya, Bapak hanya membuang-buang waktu dan maaf ….. hanya mengganggu kerja saya”.
Sang murid tersenyum tipis, ”Jika dianggap mengganggu, saya minta maaf,” jawabnya ringan.
”Sadarkah bahwa pagi ini Bapak menjadi pusat perhatian dan bahkan menjadi bahan cemoohan dunia?” tanya Sang Guru memancing.
”Peduli amat dengan omongan mereka. Keramahan mereka tidak setulus yang Guru bayangkan. Kebaikan mereka tidak juga sebaik yang Guru gambarkan. Mereka semua mempunyai kepentingan dengan tanah air kita, dengan bangsa kita, dan dengan semua yang kita miliki”.
Sang Murid diam sesaat. Ia mengusap peluh yang menempel di dahinya. Sorot matanya yang tajam menampakkan keseriusannya dalam berbicara. Ia tidak boleh main-main. Ia sadar, di belakangnya berdiri dua ratus sekian juta rakyat Indonesia yang harus diselamatkan dari permainan global.
”Itulah hidup. Siapa yang kuat akan mendominasi permainan dan begitu sebaliknya,” jawab Sang Guru, ”Makanya, pemerintahan harus bersih dan berwibawa”.
”Guru, adakah manfaat pemerintahan bersih manakala rakyatnya menyukai yang kotor? Bukankah itu bunuh diri namanya?” komentar Sang Murid,”Pembicaran ini telah melebar,” lanjutnya.
”Baiklah, kita kembali ke topik semula,” sahut Sang Guru dengan cepat dan mencari aman, ”Adakah pertanyaan berikutnya?”
”Ada,” jawab Sang Murid cepat. Ia menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah dengan begitu beban di dalam hatinya menjadi berkurang dan bertambah kekuatannya.
”Apakah masih juga berkaitan dengan jati diri bangsa Indonesia? Bapak harus sadar, tidak ada yang namanya jati diri bangsa. Kita adalah bagian dari global. Jadi, percuma saja sibuk-sibuk mencari jati diri. Toh, andaikan nanti dapat diketemukan, kita menjadi asing, terasing, dan mungkin malah diasingkan bukan saja oleh dunia namun juga oleh bangsa sendiri”.
”Benar,” tukas Sang Murid, ”Dulu, Guru pernah bilang bahwa ketika kita memandang dunia dengan cara lain maka dunia pun akan memandang kita lain”.
”Lantas, apa hubungan jati diri bangsa dengan itu semua?” Sang Guru balik bertanya.
”Tahukah Guru bahwa bangsa ini telah terpuruk?”
”Ya, saya tahu itu. Media massa sering mengulas”.
“Kita kalah di semua lini”.
“Itu tidak benar,” tangkis Sang Guru cepat.
”Tidak benar? Bagaimana mungkin?”
”Siswa-siswa kita sering menjuarai lomba-lomba di tingkat dunia. Jangan lupa itu,” kilah Sang Guru.
”Hanya sekelas siswa dibanggakan, kelas kencur,” lirih jawaban Sang Murid, selirih detak jantungnya.
Ia tersenyum tipis penuh keprihatinan. Untuk beberapa lama keheningan pun menyapa Indonesia. Semua mata mengarah kepadanya. Agaknya, Sang Murid sedang mencari kata-kata sederhana agar mudah dimengerti …..
“Setelah itu?” tanya Sang Murid tiba-tiba..
“Maksudnya?”
“Bukankah setelah itu, mereka akan tercabut dari akarnya? Orientasi mereka pun menjadi lain?”
”Kalau sudah seperti itu, bukan tanggung jawab pendidikan, bukan lagi menjadi tanggung jawab guru”.
”Berarti tanggung jawab pemerintah, begitu?”.
”Saya tidak berkata seperti itu. Bapak sendiri yang mengatakan …..,” jawab Sang Guru mengembalikan.
Lagi-lagi Sang Murid tersenyum tipis. Keprihatinan nampak sekali tergurat di wajahnya. Harapannya untuk mendapatkan suport ternyata kandas. Ke mana lagi harus pergi untuk mencari jawab. Sekolah yang menjadi pusat pendidikan formal pun ternyata tidak menyisakan jawab untuk pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar.
Sang Guru tersenyum puas, para guru tersenyum puas, dunia pun tersenyum puas. Mereka merasa lega. Beban berat di pundak telah lepas, ”Lagu tidak perlu diganti, cukup aransemennya saja yang perlu diubah sedikit. Sekedar menyesuaikan diri dengan kehendak pasar,” komitmen mereka.
”Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang hendak saya ajukan. Namun, tak ada lagi jawab yang dapat diharapkan. Pantas saja Kepala Negara memberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa kepada Guru. Ternyata, mata air di hulu pun telah lama kering!”
”Maksudnya?” Sang Guru benar-benar meradang.
”Saya hanya memberi tahu. Jadi, jangan tersinggung. Kail yang Guru berikan tidak berguna. Sebab, jangankan ikan, air kolamnya pun telah tandas dikuras orang. Ketika guru membekali kami dengan kapak untuk mencari kayu pun sia-sia. Sebab, jangankan kayu, hutannya pun telah tiada,” Sang Murid berhenti, ia menarik nafas.
Sang Guru, guru senior, guru yunior, dan guru-guru yang lain terhenyak. Mereka tidak menyangka sedemikian parah kondisi mantan-mantan muridnya di lapangan. ”Lantas, apa yang Bapak mau dari kami?” jawab guru serentak dari seluruh penjuru negeri.
”Ajarilah membuat kolam baru agar kail-kail yang kami bawa bisa berguna untuk menangkap ikan. Ajarilah membuat hutan agar kapak-kapak kami bermanfaat untuk mencari kayu”.
”Berilah kami waktu,” jawab Sang Guru.
”Waktu kami tidak banyak. Kerusakan telah melanda seluruh lini kehidupan. Jadi, semuanya harus sudah selesai dalam tempo 24 jam,” jawab Sang Murid.
”Terlalu singkat! Itu kerja besar, bukan proyek musiman. Beri kami tambahan dana dan waktu”.
”Enam puluh empat tahun, sudah lebih dari cukup. Apa saja yang guru kerjakan selama itu? Hanya mencari popularitas dengan menjuarai even-even kelas dunia?” jawab Sang Murid sengit ,”Masalah dana, jangan Guru risaukan. Undang-undang telah mengisyaratkan 20 % dari APBN untuk anggaran pendidikan”.
Sepertinya, ia sedang bermetamorfosa, kembali ke wujudnya semula sebagai Kepala Negara. Sebagai pribadi yang telah matang dengan asam-garan kehidupan, hal itu sangatlah mudah.
”Bagaimana jika tidak berhasil?” tanya Sang Guru meragukan kemampuannya. Ia merasa gamang.
”Gampang ….. Berhentilah menjadi guru!”
Seribu petir menyambar tidak akan mengagetkan para guru. Namun, sebaris kata dari murid yang sudah salah kejadian membuat mereka mati kata. Jagat pendidikan bungkam seketika.
”Esok, sebelum matahari di titik zanith, saya akan datang kembali untuk mengambil jawab dari Guru. Mohon dipersiapkan jawaban sebaik-baiknya,” kata Sang Murid sebelum meninggalkan halaman sekolah.
Ludah api telah dikeluarkan dan jatuh tepat pada sasaran. Panasnya membakar sanubari, meruyak jiwa, merasuk sukma. Sihir dunia pun menjerit kepanasan dan minta ampun. Ia melolong-lolong tak karuan, dan akhirnya melompat keluar dari raga. INDONESIA jatuh terkulai.
Khalayak terhenyak. Mata mereka pun terbeliak. Mereka mulai mengerti dengan semua yang terjadi. Mereka mulai mengerti duduk persoalan krisis multi dimensi. Mereka mulai bertanya darimana harus memulai untuk mengatasinya. Dan, tanpa sadar, semua mata mengarah pada satu oknum, GURU!
Tak urung kesadaran nasional membuat semua guru di seluruh penjuru negeri terpaku pada tempatnya masing-masing. Semua peri kehidupan menanti jawabnya. Dua puluh empat jam untuk menggantikan enampuluh empat tahun yang terbuang sia-sia. Mendung kian tebal memayungi dunia pendidikan.
Benang kusut hasil pendidikan telah dikembalikan oleh Kepala Negara kepada pemiliknya. Guru harus mampu mengurai dalam waktu dua puluh empat jam, tidak lebih!
Hening! Hening! Hening!!!

ooo

6. Bangun! Bangun!! Bangun!!!

Fajar telah lama menyingsing. Bintang ke tujuh telah naik ke permukaan. Cahayanya yang berkilau keemasam mulai redup bersama jatuhnya embun membasahi bumi. Tugasnya menuntun matahari keluar dari peraduan telah usai.
Di biliknya yang sempit dan sederhana, guru tersentak, ”Oh, ayam jantan telah berkokok,” gumannya lirih, ”Apakah aku masih dalam safari edukasi?”. Untuk beberapa saat, Guru termangu dalam biliknya. Ia berusaha mengingat-ingat semua yang telah dilihatnya selama bersafari…..,”Indah, indah sekali,” gumannya lagi.
Memang, tidak dapat dipungkiri, ketika pecah Revolusi 1945, guru juga ikut ambil bagian dalam kancah perjuangan merebut kemerdekaan. Bersama para murid dan seluruh rakyat Indonesia, mereka bahu-membahu mengusir penjajah dari bumi Pertiwi. Perjuangan fisik usai dengan hasil gemilang. Penjajah adalah bangsa sampah.
Rupanya, setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh dwi tunggal Soekarno – Hatta, guru mengadakan safari edukasi untuk menyegarkan diri.
Belakangan diketahui, bukan hanya guru yang bersafari. Militer, Rupidin, Imam, Ilman pun bersafari. Mereka bersafari bersama. Sedangkan Petani, Pedagang, Nelayan, Seniman, dan yang lain-lain tidur dengan pulas. Mereka tidak tahu bahwa lahan mereka diserobot orang.
Sementara itu Pelacur, Pencuri, dan bahkan Koruptor masih melanjutkan perjuangan di medan laga. Mereka masih sibuk mempertahankan hidup. Mata mereka lebih jeli melihat dalam gelap. Kabar bahwa kemerdekaan telah berhasil diraih belum juga sampai kepada mereka.
Sayang, safari guru terlalu panjang dan tidak datang-datang. Enam puluh empat tahun guru bersafari, bukanlah sebentar. Murid-muridnya menyangka, ia tidur. Perang mereka bukan lagi perang fisik. Perang mereka berbeda dengan perang generasi sebelumnya. Mereka kewalahan dalam medan juang berikutnya. Tidak jelas mana kawan dan mana lawan, semua samar-samar.
Murid-muridnya telah beranjak dewasa. Mereka sudah mulai berani bertanya. Enam puluh empat tahun mereka hidup bersama para pegawai guru. INDONESIA telah berubah dan bergeser sembilan puluh derajat!
Setelah bersuci, Guru memanjatkan doa kepada Yang Maha Esa. Ia bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melanjutkan darma bakti kepada negara bangsanya setelah perjuangan panjang mengusir sampah manusia. Ia terpana saat istrinya mengabarkan banyak hal.
”Penjajah asing yang bersenjatakan senapan telah lama pergi”, kata istrinya.
”Lantas?” tanyanya singkat.
”Mereka datang lagi dengan senjata uang lengkap dengan teori-teori mereka”.
”Terus, anak-anak bagaimana?”
”Ya, kedodoran”.
”Kok, bisa?”
”Coba bayangkan, pada 27 November 2008, sebuah artikel singkat di Yahoo mengungkap bahwa 1 rupiah senilai dengan 0,000081139 $. Apa tidak memalukan? Kalau bukan kedodoran apa namanya?”
”Lho, penguasa Rupiah -nya ke mana?”
”Tuh, masih tidur di biliknya,” jawab istrinya sambil menunjuk bilik penguasa Rupiah, Rupidin.
”Jika seperti itu, ya ….. betul katamu, kedodoran namanya. Kasihan anak-anak,” keluhnya singkat.
”Yang lebih memprihatinkan lagi, pada 1 Januari 2009 sekitar pukul 17.30, RRI Jakarta mengabarkan bahwa 30 % balita terindikasi gizi buruk”
”Hm, kasihan sekali. Emangnya, ke mana hasil bumi para petani? Apakah mereka juga masih tidur? Atau, jangan-jangan mereka bersafari pula …..”.
Si istri mengangguk, ”Semua masih tidur!”.
”Mereka harus segera dibangunkan, tanah air membutuhkan mereka,” jawab guru, ”Mereka harus mengisi kemerdekaan dengan amal bakti mereka”.
”Tapi, mereka masih tidur, Kanda”.
”Tolong, bangunkan mereka. Hari sudah siang”.
”Aku takut, tidak sopan”.
” Biar aku yang membangunkan mereka,” kata Guru seraya menuju beberapa bilik yang masih terkunci, ”Bangun! Bangun!! Bangun!!!” teriak Guru.
”He eh …. apakah sudah siang, Kawan?”
”Sudah, ayo bangun!!”
”Aku masih sangat lelah, Kawan!” jawab Rupidin, penguasa rupiah, sambil menguap dari dalam biliknya.
”Tapi, kamu harus bangun. Tuh, lihat rakyatmu. Rupiah nyungsep …..”.
”Oya?”
”Makanya, cepat bangun dan lihat sendiri!”
Terdengar pintu-pintu berderit. Satu persatu mereka keluar dari dalam bilik masing-masing. Wajah mereka kusut, pakaian pun ala kadarnya. Mereka bergegas mandi. ”Kalian jangan berlama-lama di pancuran”.
“Tenang, Kawan. Kau berangkat dulu, nanti kami menyusul,” sahut Militer sambil berlalu.
Sambil menyematkan pin Merah Putih di dada suaminya, ”Kanda pernah mengatakan bahwa kasihan saja tidak cukup,” kata si istri mengingatkan, ”Kanda harus bantu mereka sampai semua urusan selesai”.
”Maksudmu?”.
”Medan juang saat ini lebih rumit, Kanda. Teman dan lawan nyaris sama. Tidak jarang, pertemanan pun hanya dilandasi oleh kepentingan sesaat’.
”Jangan khawatir. Aku akan segera membantu mereka, kami bisa mengenali mereka” tukasnya cepat,
”Jangan lama-lama, Kanda”.
”Dinda, Kau tadi bilang apa? Penjajah datang lagi dengan membawa teori-teori? Sudahkah kau temukan intisari dari teori-teori yang mereka bawa?”
”Sudah! Sebuah lagu lama, lagu pengingkaran. Mereka menuhankan manusia. Manusia yang kebetulan saja menjadi nomor satu”.
”Oya?” tanya Guru terkejut, “Ya, ya. Aku mengerti. Pantas saja, katamu tadi, penjara penuh dengan kaum pelanggar….,” sambungnya beberapa saat kemudian.
”Firaun lama dilenyapkan Tuhan, firaun baru dilahirkan manusia ….”.
”Pengulangan sejarah masih saja terus terjadi,” terdengar getir nada suara Guru.
. Guru mematut diri di depan cermin. Baju putih dan celana putih telah dikenakan. Pakaian itu masih terasa pas di badannya. Warnamya pun tidak berubah, putih. Padahal, telah enam puluh empat tahun pakaian itu tergantung dalam almarinya. Istrinya pandai merawat.
Songkok hitam bertengger di kepala, sebuah pin Merah Putih terpampang gagah di dada kiri, dan sepasang sepatu warna hitam ia kenakan. Guru tersenyum, “Tugasku belum selesai”.
“Bukan belum selesai, tapi belum dimulai”.
“Ohya, aku lupa”.
Setelah makan pagi ala kadarnya, guru yang baru bangun tidur itupun berangkat ke sekolah, berjalan kaki. Istrinya mengantarnya sampai di pintu pagar.
“Dinda, aku pergi”.
“Pergilah, Kanda,”jawab istrimya, “Bantulah anak-anak di medan laga,” lanjutnya, ”Doaku selalu menyertai setiap langkahmu,” tegar dan penuh semangat. Pesan yang selalu diucapkan setiap suaminya berangkat.
Wajah Guru terlihat sumringah mendengarnya. Hatinya pun berbunga-bunga. Dengan langkah pasti, ia menuju sekolah. Kerinduan pada murid-muridnya tak tertahankan. Enam puluh empat tahun tidak bersua. Enam puluh empat tahun tidak mendengar celoteh mereka, “Pasti mereka telah tumbuh dewasa”.
Pintu-pintu rumah penduduk tertutup rapat, sepi. Lorong-lorong dan jalan-jalan sepi. Pertokoan dan pasar yang dilewatinya pun sepi. Stasiun yang berada di tikungan jalan sepi. Semua nampak sepi, sepi, sepi ,dan sepi. Ia terus melangkah menuju sekolahnya.
”Aneh,” gumannya seorang diri, ”Ke mana gerangan perginya semua penduduk kota ini? Apakah mereka masih tidur? Atau, jangan-jangan seluruh penduduk negeri ini telah lenyap ditelan bumi?”
Ia terus melangkah menyusuri trotoar. Jalan-jalan beraspal tidak menarik perhatiannya. Pusat-pusat perbelanjaan yang sarat dengan barang impor tidak diliriknya. Gedung-gedung yang berebut tinggi mencakar langit pun dianggapnya tidak ada. Hatinya benar-benar galau, ”Ke mana mereka semua?”
Makin jauh ia melangkah, makin dekat juga gedung sekolahnya. Setelah melewati beberapa perempatan, terlihat gedung sekolahnya masih berdiri dengan kokoh seperti dulu. Langkah-langkah kakinya kian ringan dan makin dipercepat. Ia ingin lekas sampai. Ia ingin segera menumpahkan kerinduannya pada sekolahnya, pada kelasnya, dan pada semua murid-muridnya.
Langkah kaki lelaki dengan pin Merah Putih di dada tiba-tiba terhenti, “Mengapa ada tentara dan polisi bersenjata lengkap di sekitar sekolah?” Matanya nanar memandang sekeliling, ”Apa yang telah terjadi?”.
Sebelum ia menemukan jawaban, seorang tentara berusia muda telah menggelandangnya ke pos penjagaan. Ia pun segera diinterogasi di ruang komandan.
“Bapak ini siapa, dari mana, hendak ke mana dan ada tujuan apa berkeliaran di jalan?” tanya Sang Komandan dengan penuh selidik.
”Saya, Guru. Saya dari rumah dan hendak ke sekolah. Tujuan saya mendidik dan mengajar murid-murid saya,” jawabnya singkat, lengkap, dan jelas.
“Guru?” Sang Komandan bertanya lagi. Ia tak percaya, ”Mana ada guru dengan dandanan seperti ini? Seragam guru bukan putih-putih seperti ini, Pak!”
”Kalau bukan putih-putih sebagai lambang kesucian pendidikan yang guru pakai, lantas apa?”
Sang Komandan tersenyum di balik kumisnya yang tipis, ”Saya tidak mau berdebat. Saya hanya menjalankan perintah dari atasan. Oleh karena itu, Bapak jangan mempersulit saya. Jangan bohong. Perintah Kepala Negara sangat jelas, tembak di tempat bagi para pengacau!” Ia menatap pesakitannya dari ujung kaki sampai ujung rambut tanpa kedip.
”O, begitu,” terdengar datar suara yang keluar dari mulut guru, “Bagaimana jika ternyata para pengacaunya sudah berada di dalam sana?” ia menirukan Abu Nawas.
”Bapak jangan mengigau. Pengacaunya, ya, Bapak sendiri. Jangan menuduh sembarangan”.
”Saya pengacau? Saya ini guru!”
”Sudah, diam!” bentaknya Sang Komandan, ”Sejak kemarin, semua guru telah berkumpul di dalam sana. Tak seorangpun tercecer di jalan. Jadi, jangan mengada-ada”.
Sang Komandan memanggil bawahannya. Tak lama kemudian, tampaklah tangan guru diborgol dan digiring ke salah satu gudang di pojok sekolah.
“Kalian telah salah menangkap orang! Aku bukan pengacau. Aku ini guru!” teriaknya parau. Ia terus berteriak-teriak di sepanjang koridor, ” Merdeka!!!” teriak Guru sebelum akhirnya didorong masuk ke dalam gudang. Ia hampir saja jatuh terjengkang.
Impian Guru untuk merajut rindu bersama para muridnya pun buyar. Rasa marah dan kecewa pun membaur menjadi satu. Pupus sudah harapannya. Sirna sudah asanya. Ia jatuh terduduk di lantai yang dingin.
Bukan saatnya untuk berteriak. Bukan pula saatnya untuk mengutuk. Percuma saja berteriak dan mengutuk, keduanya tidak akan merubah keadaan. Saatnya diam sebagai senjata. Guru memusatkan seluruh nata, cipta, rasa, karsa, dan nyata menjadi satu. Dan, semua menjadi lapang.
Tentara pun mengunci gudang dari luar dan sambil bersiul riang ia berlalu. Langkah-langkah sepatu larasnya terdengar teratur kian menjauh.
Beberapa saat yang lalu, iring-iringan Kepala Negara telah memasuki halaman sekolah. Mereka masih mengenakan pakaian seragam seperti sehari sebelumnya. Tak ada upacara serimonial untuk mereka.
Sebuah bentuk penyambutan Kepala Negara yang paling dingin di sepanjang sejarah republik ini. Semua sama. Saat itu, hanya ada dua pemain utama, yaitu Sang Guru dan Sang Murid. Mereka bertemu dengan membawa kebesaran masing-masing.
Satu persatu rombongan memasuki aula pertemuan dengan tertib. Seorang di antara mereka sempat melihat ada seorang tentara dengan senjata laras panjang menggiring seorang lelaki berpakaian putih-putih melintasi koridor.
Sebagai seorang Paspampres yang terlatih, ia tahu apa yang harus diperbuatnya. Diam-diam, ia menyelinap keluar dari rombongan. Tak ada waktu untuk menunggu perintah dari atasan. Tak ada waktu untuk bertanya pada pimpinan. Keputusan ada di tangan.
Para kuli tinta mempersiapkan diri. Mereka mencari tempat yang strategis agar leluasa mendapatkan gambar dan memperoleh bocoran informasi yang paling akurat.

OOO
7. Pertemuan Rahasia

Detik, menit, dan jam telah datang silih berganti. Guru yang dikurung dalam gudang lebih memilih untuk diam daripada berteriak tidak karuan. Energinya tidak boleh terbuang percuma. Ia sadar, tugasnya belum selesai.
Sebagai mantan pejuang, ia dapat membaca situasi dalam gudang dengan cepat. Diperkirakan luas lantai tidak lebih dari lima puluh meter persegi. Tinggi langit-langit sekitar tiga meter. Dua buah jendela besar lengkap dengan teralis besi duabelas dim. Delapan buah fentilasi pada tiap dinding, sebuah pintu kayu yang tidak begitu kokoh, beberapa almari rusak, dan sebuah tangga.
Sebenarnya, jika mau maka terlalu mudah baginya untuk melarikan diri. Terlalu banyak celah untuk kabur. Gudang tempatnya dikurung terlalu rapuh untuk mantan guru pejuang kemerdekaan.
”Dasar anak-anak,” gumannya lirih sambil berganti posisi duduk, ”Apa untungnya mengurungku di tempat seperti ini? Mereka menangkap orang yang salah”.
Diam-diam, ia merenda apa yang dilihat selama dalam perjalanan hingga sampai saat penangkapannya. Akhirnya, ia pun berkesimpulan, ”Sesuatu telah terjadi”.
Sebuah ketukan lirih di daun jendela membuyarkan lamunannya. Belum sempat ia berpikir jauh, sebuah wajah dengan potongan rambut cepak muncul dari balik daun jendela yang dibuka paksa. Ia segera melompat masuk.
”Stt …..,” isyaratnya dengan telunjuk di bibirnya.
”Kamu siapa?” tanya Guru lirih.
”Saya, xx49. Bapak sendiri, siapa?”
Seorang lelaki dengan tinggi badan sekitar 180 cm, berat kurang lebih 70 kg, wajah sedikit kotak dengan rahang kokoh mengaku sebagai xx49. Tentu saja membuat guru terkejut, gugup, dan senang. Prajurit paling terkenal dari garis depan telah berdiri di depannya.
“Saya, xxx1”, jawab Guru singkat.
Sekarang ganti xx49 yang sangat terkejut. Ia nyaris terlompat dari tempatnya berdiri. Tidak dinyana, tidak diduga bisa bertemu dan berhadapan langsung dengan xxx1. Manusia paling langka dari garis paling belakang di dunia! Ia memandang xxx1 dari telapak kaki sampai ujung rambutnya. Rupanya, ia harus meyakinkan diri.
“Mengapa kita bertemu di tempat seperti ini?”
“Takdir, kawan,” jawab guru, “Apa yang terjadi di luar sana? Mengapa banyak tentara dan polisi berseliweran di sekitar sekolah? Siapa yang kamu kawal tadi? Bagaimana kabar dari kawan-kawan seperjuangan?”.
“Ceritanya sangat panjang dan melelahkan’.
“Uraikan secara garis besar saja”
Tanpa diminta dua kali, xx49 menguraikan dengan singkat tentang kondisi riil bangsa Indonesia usai Proklamasi, 17 Agustus 1945 sampai hari ini. Tentang krisis, dari puncak krisis politik 1965, krisis moneter 1998, sampai dengan krisis multi dimensi. Tentang ekonomi, kemiskinan, pengangguran, sampai dengan perdagangan manusia. Tentang pembangunan dan pemekaran. Tentang supremasi hukum yang tidak juga tegak. Tentang wajah perpolitikan nasional, dan sebagainya, dan sebagainya.
Guru hanya mengangguk dan terus mengangguk. Ternyata, semua yang dikatakan oleh istrinya benar adanya. Ia perhatikan xx49 dengan seksama. Sesekali mata mereka bertatapan, ”Wajah yang sangat kukenal,” katanya.
”Sebentar, mengapa kau buka nomor identitasmu? Apakah yang membuatmu percaya kepadaku?” tanya guru.
xx49 tersenyum lebar. Ia mengambil posisi duduk di hadapan guru, ”Itu!” katanya seraya menunjuk pin Merah Putih di dada guru, ”Lancana itu yang membuatku percaya bahwa Bapak tidak bohong”.
”Kau terlalu mudah percaya,” tukas Guru,”Benda ini telah membuat kewaspadaanmu menjadi hilang”.
xx49 tersentak, ”Boleh saya lihat grafir di belakang lencana Bapak?’ tanyanya dengan sangat sopan.
”Sekarang kamu baru berhati-hati,” jawab Guru sambil memperlihatkan grafir di belakang lencananya.
”Cocok dengan tanda yang pernah diperlihatkan oleh xxx9 atasan saya. Lantas, bagaimana Bapak bisa percaya dengan nomor saya tadi?”
”Aku mengenal atasanmu” jawab Guru singkat, ”Ketika aku berangkat ke sekolah, ia dan yang lain-lain masih mempersiapkan diri. Mereka pasti menyusulku ke sini. Mungkin, mereka akan tiba sebentar lagi”.
”Syukurlah, akhirnya beliau datang juga”.
”Sekarang, siapa yang bertugas menjaga Kepala Negara di sana?” tanya Guru.
”Semua kawan di sana dapat dipercaya,” jawab xx49 meyakinkan,” Bapak tenang saja. Jangan khawatir”.
”Kasihan beliau harus berperan seperti itu,”
”Tanpa begitu, bangsa ini akan terus-menerus dilanda krisis, dilindas global, dipermainkan dunia, dan digerus zaman,” jawab xx49 puitis.
”Pengorbanan beliau sangat besar untuk bangsa ini. Sejarah akan mencatatnya dengan tinta emas,” sahut Guru.
”Saya percaya itu,” jawab xx49.
Percakapan mereka terhenti. Terdengar langkah-langkah kaki tak beraturan mendekati gudang. xx49 segera menghilang di balik almari. Sementara itu, guru duduk bersila, seakan-akan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.
”Masuk!!” perintah seorang kopral garang, ”Awas, kalau sampai bikin onar, nyawa kalian melayang!’ gertaknya meyakinkan.
Tanpa harus didorong-dorong, masuklah empat orang ke dalam gudang tempat guru disekap. Mereka menahan senyum, dan senyum itu meledak bersamaan dengan tertutupnya pintu dari luar.
”Dasar anak-anak, mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa,” kata Ilman sabar.
”Ya, mereka anak-anak yang tidak tahu diri. Petantang-petenteng bawa senjata menakut-nakuti orang. Seperti pernah mengalami perang kemerdekaan saja,” sela Imam tajam menukik.
”Nanti kalau ada perang sungguhan, lari terbirit-birit,” celetuk Militer, ”Terkencing-kencing, dan sembunyi di bawah ketiak ibunya…..,” lanjutnya.
Mereka tertawa terbahak-bahak. Dikurung dalam gudang bukan masalah bagi mereka, kecil. Kejadian yang jauh lebih berat, pernah mereka alami. Di sana, di medan laga yang sesungguhnya, memuja Tuhan YME di antara dentuman meriam atau tidur di antara desing peluru adalah hal biasa. Mereka tak gentar.
”Kalian sudah datang, Kawan?” sapa Guru riang.
”Eh, kau sudah di sini?” tanya Imam terkejut.
“Sejak pagi tadi, aku sudah mereka kurung”.
“Keterlaluan!” teriak Rupidin.
“Sabar, Kawan. Sabar!” Ilman mengingatkan.
“Siapa yang bersembunyi di balik almari itu?” tanya Militer kepada Guru perlahan.
“Anak buahmu,” jawab Guru.
“Siapa?”
“Lihat saja sendiri”.
“He, keluarlah. Kau aman!” teriak Militer.
xx49 muncul dari balik almari. Ia segera memberi hormat kepada atasannya. Ia pun memberikan laporan terkini dari garis depan.
”Sudah kuduga. Itu pasti kau. Ternyata perkiraanku tidak meleset. Instingku masih dapat diandalkan”.
Semua tersenyum. Mereka membiarkan keduanya terlibat dalam pembicaraan kecil. Pembicaraan antara langit dan bumi, antara timur dan barat, antara siang dan malam, antara kanan dan kiri, dua generasi dari dua dimensi.
”Kau sudah menemukan jawab dari semua itu?” tanya Imam kepada Guru.
”Sudah. Entah kawan-kawan yang lain ….,” jawab Guru meyakinkan.
”Sudah!” jawab mereka hampir bersamaan.
”Kalau begitu, tunggu apa lagi. Aku sudah tidak sabar untuk melihat perubahan. Dari dulu, rakyat kok tidak sejahtera-sejahtera, tidak makmur-makmur, tidak adil-adil, tidak rukun-rukun. Ribut melulu, berantem melulu, krisis melulu. Apa sebenarnya yang mereka cari?” seru Militer penuh emosi, ”Tanganku sudah gatal”.
”Sabar, sabar! Eranya beda, Kawan! Dulu, di zaman Revolusi 1945, kamu sudah di depan sendiri. Nah, sekarang bukan lagi perang fisik. Jadi, kamu ada di belakang. Kita, berada pada sekuel lain, perang pola pikir. Dan, itu menjadi kewajibanku,” kata Guru yang kemudian diamini oleh yang lain, ”Tapi, aku tetap membutuhkan dukungan kalian. Bagaimana, setuju?”.
”Jangan khawatir, kami tetap mendukungmu”.
”Ya, pada saatnya nanti, satu di antara kita pasti ada di depan,” celetuk Imam sembari memutar tasbihnya.
”Dulu, katanya kalau merdeka murah sandang, murah pangan, murah papan. Hidup rukun, adil, makmur, aman, tenteram, damai, sejahtera, dan sentosa. Mana buktinya, mana?!” serang Militer kepada Guru. Rupanya, emosinya masih belum juga reda, ”Pinternya hanya berebut kekuasaan. Membentur-benturkan orang banyak. Ketika zaman susah, di mana mereka? Orang kok tidak punya malu,” ia menelan ludah, ”Itu kan hasil pendidikanmu, hasil pembelajaranmu, Guru?”
”Eit, jangan salah! Aku belum pernah mengajar mereka. Aku kan dersafari selama enam puluh empat tahun bersama kalian semua,” jawab Guru membela diri.
”Sudah lupa, ya?” celetuk Imam menegur militer.
”Ohya, aku lupa. Maaf, maaf,” jawab Militer.
”Kalau masih juga lupa. Tuh, yang tidurnya sering mengigau itu siapa? Itu kan Guru…..,” celetuk Imam kalem, ”Kalau yang suka ngompol, itu …..,” mata alam melirik ke samping kanannya.
Yang dilirik tertawa terbahak-bahak. Semua ikut tertawa. Suasana pun kembali cair. Safari panjang, ternyata banyak menyisakan kenangan bagi mereka. Percakapan pun mengalir …..
xx49 tidak berani ikut ambil bagian dalam keriuh-rendahan tawa mereka. Ia hanya tersenyum, itu pun hanya sebatas senyum simpul. Ia sadar, bukan kapasitasnya berada dalam satu meja dengan mereka. Ia tahu isi pembicaraan mereka hanya bisa dimengerti oleh mereka sendiri. Nalarnya yang masih dangkal belum mampu menjangkau dunia mereka.
Tanpa terasa, sang matahari sudah sepenggalah tingginya. Hangat panasnya mulai terasa menyentuh kalbu. Jiwa INDONESIA yang lama tergadai di alam sana pun menggelora. Ia ingin segera kembali pulang ke raganya. Enam puluh empat tahun jiwa dan raga telah terpisah. Rindu dendamnya tak tertahankan lagi.
Jiwa INDONESIA sudah tidak bisa lagi bersabar menunggu waktu yang telah dijanjikan. Ia terus saja menggeliat, terus saja meronta, terus saja memukul-mukul, dan terus saja menendang-nendang. Penjara waktu pun dibuat kalang-kabut untuk menjinakkannya.
Waktu pun berdenyut-denyut. Perlahan tapi pasti, lorong waktu terbuka. Jiwa INDONESIA pun mengalir mengikuti lika-likunya. Ia merangkak dan terus merangkak mendekati raga INDONESIA. Ia mendekat dan semakin dekat dengan raga INDONESIA.
Saat penebusan hampir tiba! Saat penebusan hampir tiba!! Saat penebusan hampir tiba!!! Semua mata terpejam. Bibir-bibir mereka bertasbih. Bibir-bibir mereka bertahmid. Bibir-bibir mereka bartakbir.
”Waktunya hampir tiba,” kata xx49 saat melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Ia tidak berani mengganggu para pilihan zaman. Ia mundur perlahan-lahan. Kakinya berjingkat menuju jendela, membuka perlahan, dan melompat keluar.
Koridor panjang di sekolah nampak lengang dan mencekam tak dilewatinya. xx49 melintasi halaman samping dengan cepat untuk sampai di aula tempat dilangsungkannya tatap muka antara Sang Guru dengan Sang Murid. Beberapa kali ia harus menyelinap di antara rimbun dedaunan kala didengar langkah kaki yang tergesa. Kepergiannya yang cukup lama memang tidak diketahui oleh orang lain. Awak televisipun tak mampu menjangkaunya. Namun, ia lupa bahwa Kepala Negara sangat memperhatikan semua gerak-geriknya.
Saat Kepala Negara melihatnya telah berada di antara barisan para pengiring, ia tersenyum lega. Mereka berpandangan cukup lama. Bagi Kepala Negara, tidak terlalu sulit untuk membaca jalan pikiran xx49, begitu pula sebaliknya.

Danang tercenung saat membaca paragraf terakhir. Ia hanya bisa membayangkan betapa tinggi tingkat pemaknaan hidup di antara keduanya hingga bisa saling membaca jalan pikiran masing-masing. Ia percaya, tidak semua orang memiliki kemampuan seperti itu.
Gerimis belum juga reda. Cucuran air hujan malah kian menjadi-jadi. Kilat dan guntur pun datang silih berganti. Danang semakin tenggelam dalam pencariannya.

OOO

8. Cantrik

Sudah sejak pagi rombongan murid dengan celana tiga perempat warna merah hati berada dalam lingkungan sekolah. Mereka pintar, besar dan sangat kuat. Oleh karena itu, mereka dapat menguasai sekolah tanpa harus melakukan kudeta.
Kehadiran murid-murid yang salah kejadian tersebut meminggirkan murid-murid yang normal. Mereka yang normal menepi dengan sendirinya. Untuk sementara waktu, murid-murid yang normal diliburkan.
Kendaraan mereka berjajar rapi di halaman. Tentu saja, bukan kendaraan biasa. Para sopir mempersilakan tuan mereka yang dalam dua hari ini aneh dengan aneh pula. Tuan mereka pun menanggapi dengan aneh.
“Aden, nanti jangan nakal, ya,” kata sopir Marcedes B xx 34 A kepada tuannya yang kemarin-kemarin adalah pejabat nomor satu sebuah departemen..
”Oke, Mang!” jawab sang tuan.
”Dengarkan baik-baik pelajaran dari guru”.
Si Aden Cuma menyeringai dan berlalu.
“Air minumnya nggak dibawa, Mas?” sopir BMW B xx 76 A mengingatkan tuannya.
“Itu, untuk Pak Pir saja,” jawab sang tuan.
“Jangan berantem dengan teman, lho”.
Si Emas Cuma tersenyum dan berlalu. Ia segera bergabung dengan kawan-kawannya yang telah datang terlebih dahulu. Mereka bersalaman, saling tersenyum, bicara basa-basi, bertukar informasi, dan seterusnya sebagaimana layaknya pergaulan para pembesar.
Pukul delapan kurang sepuluh menit, sebuah mobil limosin dengan nomor polisi B xx1 A memasuki halaman sekolah. Di belakangnya menyusul B xx2 A. Kedatangan mereka disambut gembira oleh semua murid. Mereka segera berjajar dan memberikan penghormatan.
Tepat pukul delapan, bel berbunyi. Serentak semua murid dengan celana tiga perempat memasuki aula sebagai tempat tatap muka. Sang Murid memimpin mereka membaca doa. Setelah itu, mereka duduk manis menanti Sang Guru.
Detik, menit, jam terus berlalu. Kelas masih kosong pelajaran. Sampai saat istirahat tiba, Sang Guru belum juga muncul, dan itu artinya tidak ada pelajaran. Satu persatu, para murid salah kejadian keluar dari ruang setelah dipersilakan oleh seorang ibu guru yang masih belia.
Kali ini mereka tidak bermain bola seperti kemarin. Mereka memilih duduk bergerombol. Tak ada gelak, tak ada tawa. tak ada canda. Pembicaraan mereka terdengar lirih, sebatas bisik-bisik yang tidak jelas ujung pangkalnya, namun penuh tekanan.Wajah-wajah tegang tergurat di sana.
Bel tanda berakhirnya saat istirahat terdengar. Para murid kembali memasuki ruang belajar mereka dengan tertib. Suasana lengang yang mencekam kembali terasa.
Merasa tidak mendapatkan apa-apa, stasiun televisi menyiarkan pendapat-pendapat dari para tokoh dunia. Hampir 99% responden menyatakan, INDONESIA berada di persimpangan jalan. Sedangkan yang satu persen tidak mau memberi komentar, atau dengan kata lain, INDONESIA adalah urusan indonesia.

Danang menarik nafas dalam-dalam. Ia hanya bisa membayangkan betapa tegangnya saat itu. Roda kehidupan yang terhenti tiba-tiba sangatlah berbahaya bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Para penyusup bisa saja memanfaatkan situasi untuk kepentingan mereka.

Adalah suatu keberuntungan bagi bangsa Indonesia. Mereka memiliki seorang pemimpin yang dapat ditaati karena ketaatan rakyat tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau golongannya.
. Mereka mau mengerti dan tidak hanya mau dimengerti oleh orang lain apalagi oleh Sang Pemimpin. Mereka percaya bahwa apa yang dilakukan oleh Sang Pemimpin pastilah untuk kepentingan mereka juga. Mereka tidak hendak bertanya. Mereka ingin membuktikan kepada dunia bahwa mereka adalah rakyat yang baik, rakyat yang bermartabat, rakyat yang tidak rewel, dan rakyat yang taat kepada pemerintahnya. Mereka ingin menghapus semua stempel buruk tentang mereka, tentang negara bangsanya.
Lingkungan sekolah yang biasanya ramai dengan celoteh riang anak, suara guru yang menerangkan materi pelajaran, alunan lagu dari mereka yang berlatih musik, atau kadang teriakan anak-anak yang bermain kejar-kejaran praktis tak terdengar lagi. Murid-murid kecil libur dengan sendirinya. Orangtua mereka yang meliburkan, bukan guru. Untuk sementara waktu, kehadiran mereka telah diganti dengan kedatangan murid-murid besar..
Bel berbunyi, waktu untuk istirahat kedua pun tiba. Mereka belum mendapatkan apa-apa. Wajah-wajah penuh ketegangan semakin kentara. Satu dua orang terlihat menuju mobilnya untuk sekedar minum atau membuka bekal makanannya.
Saat itu, tak ada keinginan untuk berkata seakan semua kata telah sirna. Tak ada keinginan untuk berkata seakan semua kata kehilangan makna. Tak ada keinginan untuk berkata seakan kata tak lagi mewakili rasa.
Semua murid masih duduk bergerombol dalam bisu kala lonceng tanda berakhirnya istirahat ke dua berbunyi. Dengan sigap mereka pun kembali ke bangku masing-nasing. Langkah kaki mereka terlihat sangat tergesa-gesa untuk sampai ke tempat duduk masing-masing.
Sang Pemimpin telah berdiri di depan kelas. Matanya tajam menatap setiap wajah yang berada di dalam ruang itu. Ia harus memastikan bahwa semua anggota kelasnya telah berada dalam ruangan.
Penguasa waktu tak juga mau berkompromi. Detik, menit, jam terus merangkak mendekati saat yang telah ditentukan, tengah hari saat matahari berada di titik zenit. Berkali-kali Sang Pemimpin melirik arlojinya, seakan tidak percaya akan penglihatannya. Berkali-kali pula para pengiring melakukan hal yang sama. Mereka berharap-harap cemas menanti apa yang akan terjadi.
Sayup-satup terdengar langkah-langkah kaki orang banyak menuju aula. Para murid salah kejadian pun saling berpandangan. Mereka mempertajam pendengarannya. Langkah-langkah kaki penuh wibawa semakin mendekat.
Beberapa menit kemudian pintu terkuak. Masuklah rombongan Sang Guru bersama seluruh pakaian kebesarannya, bersama seluruh kemulyaannya, dan bersama seluruh kekuatannya. Sebuah hymne terdengar syahdu dan gemerincing tongkat genta mengiringinya.
Mereka mengambil tempat duduk yang telah tersedia sesuai dengan jenjang kepangkatan mereka. Setelah memberi salam dan berbasa-basi, Sang Guru meminta Sang Murid mengulang permintaannya.
”Terima kasih, Guru,” jawab Sang Murid, ”Ajarilah membuat kolam agar kail-kail yang kami bawa bisa berguna untuk menangkap ikan. Ajarilah membuat hutan agar kapak-kapak kami bermanfaat untuk mencari kayu,” katanya mengulang permintaannya kemarin.
Sang Guru menghela nafas panjang, guru-guru yang lain pun melakukan hal yang sama. Mereka merasa berat untuk menjawab pertanyaan tersebut.
”Tugas kami hanya menyiapkan kail dan golok. Urusan di kolam ada ikannya atau tidak, di hutan ada kayunya atau tidak, itu sudah bukan tanggung jawab kami”
”Maksud Guru, itu menjadi tanggung jawab pemerintah, begitu? Bukankah pemerintah ini juga merupakan hasil pendidikan yang Guru berikan?”
Sang Guru diam.
”Telah kami praktikkan semua teori. Dari yang komunis sampai yang kapitalis. Dari yang individualis sampai yang sosialis. Dari yang monarki sampai republik. Dari gaya diktator sampai demokrasi, dan sebagainya. Ternyata, semuanya menghasilkan krisis dan korbannya adalah rakyat yang juga hasil pendidikan, Guru”.
Sang Guru masih juga diam.
”Apakah itu berarti , Guru tidak sanggup?”
Tatap mata Sang Guru menjadi lain. Hanya ada satu kata yang tepat untuk itu, malu dengan M besar. Ia telah ditelanjangi habis-hibisan oleh mantan murid-muridnya.
”Bukankah Guru adalah pencipta perubahan?”
”Itu kan Guru. Kami ini kan PNS dengan profesi guru ….. ,” jawab Sang Guru masih berkilah untuk menyelamatkan mukanya.
Sebagai sosok yang dikenal cerdas, Sang Murid mengerti dengan cepat, tersentak kaget. Ia jatuh terduduk. Para guru pun tidak kalah terkejutnya. Mereka semua telah tertipu. Kelas semakin hening. Seisi kelas menanti dengan hati ketar-ketir yang akan terjadi.
Mereka mulai mengerti duduk persoalannya bahwa ternyata, Guru berbeda seratus delapan puluh derajat dengan PNS dengan profesi sebagai guru, pun juga berbeda dengan pegawai swasta dengan profesi guru. Guru adalah guru. PNS adalah PNS. Urusan profesi PNS tergantung pada keahliannya. Urusan pegawai swasta pun tergantung pada profesinya.
”Temuan lain,” kata Sang murid.
Angin siang bertiup lembut menggerakkan pucuk-pucuk dedaunan. Satu dua helai daun kering terjatuh. Tiba-tiba Sang Murid berdiri dan tertawa, ”Sekarang aku tahu. Kalian hanyalah cantrik!”. Para pengiring pun tertawa.
”Sekarang, bagaimana?”
”Kami tidak sanggup,” jawab Sang Guru.
”Uuuh …..,” nada mengejek serentak.
”Saya hanya memberi tahu. Pasca proklamasi, guru sebagai pencipta perubahan belum pernah datang ke sekolah di republik ini. Ia masih bersafari. Sekarang, posisi guru hanyalah sebagai agen perubahan. Istilah Sang Murid adalah cantrik, tidak lebih dari itu. Sebagai agen, kami hanya bekerja sesuai dengan skenario yang telah dibuat oleh pihak lain,” sela seorang Guru Sepuh.
Serentak semua mata mengarah kepadanya.
Sebagai Guru Sepuh, ia merasa memiliki kewajiban moral untuk ikut urun rembuk, meskipun pendapatnya tidak pernah didengar oleh siapapun dan meskipun pendapatnya tidak pernah diminta oleh siapa pun. Ia akan berbicara setiap ada penyimpangan lewat di depan matanya.
Sang Murid tidak menjawab, ”Pihak lain? Siapa yang berada di balik pihak lain?” tanyanya dalam hati. Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan kelas. Semua mata mengikutinya, ”Maaf, kalau saya boleh tahu, siapa yang guru maksud berdiri di belakang pihak lain itu?”
”Penjajah!” jawab Guru Sepuh mantap.
Dari terkejutnya, hampir saja seisi kelas terlompat dari kursinya. Kelas pun menjadi hangat, dari bisik-bisik menjadi gaduh. Sebagian mentertawakan, ”Sok tahu!”
”Mengapa kau katakan itu, Guru Sepuh?” tanya Sang Guru dengan dengan nada tinggi, ”Siapa yang minta pendapatmu? Siapa? Ingat, tempatmu di belakang sendiri!” matanya terbeliak, ”Jangan menabur fitnah!”
Guru Sepuh tidak peduli. Ia malah berdiri di tempatnya agar suaranya yang lemah dapat didengar. ”Aku sudah jengkel, muak, dan enek dengan semua kebohonganmu, Sang Guru,” katanya menantang, ”Enam puluh empat tahun aku diam, melihat penyimpangan demi penyimpanganmu, dan menyaksikan mantan-mantan muridku saling berbenturan. Padahal, dahulu mereka anak-anak yang baik …..” .
Kelas diam menanti.
”Kini, mereka telah tumbuh dewasa. Mereka harus tahu duduk permasalahan pendidikan anak-anak bangsanya. Jadi, sangat benar kata sang Murid tadi. Kita hanyalah cantrik, kita bukan guru, Sang Guru. Sadarlah itu!”
Mereka kembali terhenyak kala Guru Sepuh yang biasa mereka anggap tidak tahu apa-apa, gaptek, bahan lelucon, dan tidak mereka pedulikan kehadirannya berani angkat bicara di hadapan Sang Guru dan Sang Murid nan agung.
Guru Sepuh yang sehari-hari, sejak zaman proklamasi, mengajar di kelas satu sekolah dasar menelan ludahnya yang telah kering. Ia terbatuk-batuk.
Baru kali ini dalam Sejarah Nasional Pendidikan Indonesia ada Guru Kelas I SD, sudah tua, dari desa, terpencil lagi berani berbicara lantang dan lancang bukan soal pangkat, bukan soal kenaikan gaji, bukan soal kesejahteraan, dan bukan soal sertifikasi, tetapi soal negara.
”Hentikan ocehanmu, Guru Sepuh. Tahu apa kau tentang pendidikan, tentang bangsa, apalagi tentang negara,” tegur Sang Guru sengit, ” Jangan mengail di Lautan Pasifik, bekal ilmumu hanya sejengkal”.
”Mungkin, sudah tiba saatnya, kita berani jujur menilai pendidikan yang kita berikan kepada anak-anak bangsa ini,” kata Guru Sepuh melanjutkan, ”Kita harus berani membongkar lumbung yang penuh rayap dan menjadi sarang tikus”.
”Jangan membakar lumbung,” usul Sang Murid .
”Saya setuju tentang hal itu”.
”Lalu, caranya?”
Guru Sepuh mengangkat bahu, ”Aku hanya Guru Kelas I Sekolah Dasar. Bukan kewajibanku memikirkan hal itu,” Guru Sepuh tahu diri.
Seisi kelas menarik nafas panjang.

OOO
9. Aku Bukan Siapa-siapa

Seketika Guru Sepuh menjadi pusat perhatian. Berkali-kali televisi menayangkan gambarnya. Murid-murid kecil yang di rumah pun berteriak senang kala melihat gambarnya, ”Guruku, guruku!” Mereka bersorak.
Ibu Pertiwi tersenyum.
”Lantas? tanya Sang Murid.
”Bagaimana ayam bisa bertelur jika kita takut mengusir serigala peliharaan gembala dari kandangnya”.
”Tapi, bukankah serigala adalah selingkuhan yang mengasyikkan di padang gembalaan, guru?”.
Guru Sepuh tersenyum, ”Itulah hasil pendidikan yang diterima anak-anak bangsa ini. Oleh karena itu, bagaimana mungkin Raja Garuda dapat terbang tinggi Meretas Jalan Menuju Indonesia Raya jika pelajaran yang guru berikan hanya melompat setinggi pagar. Camkan itu!”
Sang Murid terlompat ke belakang mendengar kata-kata terakhir yang terlontar. Ia tidak menyangka akan kenekatan Guru Sepuh. Para pengawal segera berdiri hendak mengamankannya.
”Biarkan beliau menumpahkan kekesalan hatinya. Dulu aku menjadi muridnya, begitupun sekarang”.
.
Danang merasa bingung dengan pembicaraan antara Guru Sepuh dengan Sang Murid yang tidak ketemu juntrungnya. Ia harus mengulang tiga empat kali untuk memahami makna yang tersirat dari pembicaraan itu”

”Tangkap saja aku. Hukumlah aku, pancung kalau perlu! Toh, Aku bukan siapa-siapa. Dunia pendidikan tak akan kehilangan kalaupun aku pergi,” lanjutnya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ia memandang sekeliling, ”Sayang, tanganku terlalu lemah untuk memulai sebuah perjuangan,” suaranya bergetar dari sangat gusarnya.
”Berhentilah mengoceh, Guru Sepuh!” teriak Sang Guru dari kursi kebesarannya di baris paling depan.
Kelas menjadi berisik.
”Bukantah tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru, Guru Sepuh?” empati Sang Murid ”Memang”.
Sang Murid tercenung. Seisi kelas tercenung, INDONESIA tercenung. Hati ibu Pertiwi berdebar-debar. Ia terkaget-kaget melihat semua yang terjadi. Air matanya pun berlinang.
”Aku hanya mampu menunggu kehadirannya,” kata Guru Sepuh tiba-tiba, ”Mudah-mudahan umurku panjang dan sempat bertemu dengannya”.
”Siapa?” tanya seisi kelas serentak.
”Jangan dengarkan ocehan seorang pemimpi,” lagi- lagi Sang Guru berteriak.
”Siapa yang Guru Sepuh tunggu?”
”Dia hanya seorang pemimpi!” tukas Sang Guru.
”Siapa yang Guru Sepuh maksud?”
Guru sepuh menggeleng.
”Siapa, Guru Sepuh?”
Ia tetap tidak mau menjawab meskipun telah dipaksa berulang-ulang oleh orang nomor satu di republik itu. Sang Murid bertatapan mata dengan xx49. Sesaat kemudian xx49 menyelinap pergi.
”Bawa dia keluar! Keluarkan dia dari forum terhormat ini ….. Dia seorang pengacau!” teriak Sang Guru kehilangan kesabaran. Pamor dengan gelarnya yang panjang-panjang dari luar negeri dalam bahaya.
Serentak semua guru di seluruh tanah air berdiri. Mereka memandang tajam dan penuh permusuhan kepada Guru Sepuh. Kelas menjadi tegang. Semua guru yang pro Sang Guru berada di satu sisi, sementara Guru Sepuh berdiri seorang diri di sisi yang lain.
”Kalian akan menyingkirkan aku? Lakukan saja!”
Televisi tidak menyia-nyiakan ketegangan yang terjadi di dalam kelas sebagai icon beritanya.
”Guruku! Guruku!” teriak murid-murid kecil di depan layar kaca yang seharian dipelototinya. Mereka senang. Namun, dengan alam pikirnya yang masih sangat sederhana mereka dapat membaca, gurunya dalam bahaya.
”Ayah, Guruku dikeroyok! Guruku dikeroyok!”
”Bantu guruku, Ayah!”
”Jangan keroyok guruku!”
”Jangan!”
”Ibu, kasihan guruku!”
”Kalian jahat!”
”Jahat!!!”
Murid-murid kecil mulai menangis. Air mata anak-anak kecil tanpa dosa berlinang, mangalir, membanjir membasahi bumi Pertiwi yang telah lama gersang nan tandus. Pertiwi menjerit pilu.
Para orangtua berusaha menenangkan buah hati masing-masing, ”Sudah, sudah. Gurumu tidak apa-apa,” katanya menghibur, ”Tenang, ia baik-baik saja”.
Semua mata masih tertuju di layar kaca dengan hati yang berdebar-debar. Mereka mendadak kehilangan akal, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
”Hebat, hebat!” puji Sang Murid menyindir sembari memberi tepuk tangan. Para pengiring pun bertepuk tangan. Mereka memberikan aplaus yang sangat meriah terhadap sekuel perang kembang, menarik.
”Tanpa aku, kalian semua tidak ada gunanya. Kalian hanya melanjutkan apa yang sudah aku kerjakan. Saat goresan penaku tegak, kalian akan tegak. Saat goresan penaku miring, kalian pun akan miring. Kalian hanyalah orang kedua, bukan orang pertama”.
”Sadar, Guru Sepuh! Tempatmu di belakang sendiri! Kau bukan siapa-siapa! Lihat, tak seorang guru pun membelamu! Kau pecundang!” teriak Sang Guru lantang.
Guru Sepuh tertawa.
”Aku pecundang?” tanyanya bergetar, ”Apa nggak salah?! Bukankah kalau aku jebol, justru kalian akan tumbang semua? ….. Jadi, siapa yang pucundang?”
Merah padam wajah semua guru mendengar kata-kata itu. Mereka marah alang bukan kepalang. Mereka ingin segera membungkam mulut nyinyir Guru Sepuh yang sudah telanjur marah. Mereka mulai bergerak.
”Kalian, sudah mengaku sebagai guru. Tapi, masih belum bisa berpikir selayaknya guru,” kata Guru Sepuh dengan nada kecewa, ”Pendidikan bukan medan adu otot, Kawan. Di sini adalah medan adu otak, adu olah pikir. Kalau mau adu otot, sana jadi tentara …..”.
Kembali para murid yang salah kejadian memberikan tepuk tangan yang meriah.
Sang Murid tersenyum haru, ”Nasihat guru SD,” kenangnya, ”Sudah cukup!”
Tanpa harus dua kali, sekuel perang kembang selesai. Dengan masih bersungut-sungut, mereka yang telanjur merengsek Guru Sepuh duduk kembali.
Murid-murid kecil menarik nafas panjang dan tersenyum lega. Orangtua mereka lega. Mereka berpelukan. Ibu Pertiwi tersenyum.
Untuk beberapa saat, kelas menjadi tenang. Hening. Tak ada lagi yang bersuara. Mereka hanyut dalam pusaran pikiran masing-masing. Sang Murid menarik nafas panjang.
”Maaf, Guru Sepuh. Apakah ada yang salah dari pendidikan yang telah diberikan guru kepada anak-anak bangsa ini?”
”Sebuah pertanyaan cerdas”.
Yang mendapat pujian tersenyum tipis.
”Bagaimana , Guru Sepuh. Adakah yang salah?”
”Silakan lihat sendiri”.
”Caranya?”
”Lepaskan kacamata yang kalian pakai”.
”Sedemikian sederhananya?”
”Aku bisa melihat jelas karena tidak mengenakan kacamata pemberian Sang Guru,” katanya sambil melirik.
Mendengar hal itu, wajah Sang Guru bagai kepiting rebus, ”Kau telah melanggar perintahku, Guru Sepuh!”
”Perintahmu salah!”
”Kau …..!”
”Maaf, saatnya diam, Guru!” tegur Sang Murid seraya membuka kacamata yang ia kenakan semenjak duduk di kelas satu sekolah dasar. Ia menjerit kaget.
”Itulah wajah INDONESIA yang sesungguhnya!”
”Bagaimana mungkin seperti ini?”
”Mungkin saja”.
Sang Murid menyandarkan duduknya. Ia arahkan pandangan ke sekelilingnya, benang ruwet, semrawut.
”Sekarang pakai lagi kacamatanya”.
Sang Murid mengenakan kembali kacamatanya. Dan, semua nampak baik-baik saja. Ia menarik nafas dalam –dalam, ”Aneh,” gumannya.
”Makanya, para elit negeri ini sering bergesekan, bertubrukan. Karena … ya, itu, jalan yang dipersiapkan oleh pendidikan untuk kalian lewati, semrawut”.
Sang Murid kembali melepas kacamatanya. Kembali kesrawutan yang dilihatnya. Ia memasang, melepas, dan seterusnya. Seberapa kali ia memasang kacamata, sebanyak itu pula semua nampak baik-baik saja. Seberapa kali ia melepas kacamata, sebanyak itu pula ia melihat kesemrawutan.
”Bolehkah kami membuka juga, Sang Pemimpin?”.
”Ya, ya. Bukalah!”
Serentak mereka melepaskan kacamata. Ada yang menjerit, ada yang tidak bernafas, dan ada pula yang langsung pingsan. Namun, ada juga yang gagal.
Kelas menjadi tegang.
Jagat Indonesia tegang.
Semua guru berpandangan. Mereka juga ingin melihat tanpa harus mengenakan kacamata pemberian Sang Guru. Mereka sangat penasaran. Mereka pun minta ijin.
”Awas, kalian jangan macam-macam. Dengan kacamata, kalian akan semakin gagah dan terhormat di mata dunia,” ancam Sang Guru dari tempatnya.
Antara takut dan rasa ingin tahu berkecamuk dalam dada. Mereka gamang. Satu dua orang memberanikan diri melanggar perintah Sang Guru. Tak ayal lagi, mereka pun menjerit histeris bak orang kesurupan demi melihat hasil pekerjaannya. Malah ada yang pingsan karena malu.
”Buka!”
”Buka!”
”Buka!”
Teriakan-teriakan dari para murid salah kejadian pun menyemangati mereka. Teriakan kian membahana. Para guru kebingungan.
Awak radio dan televisi ikut-ikutan membuka kacamata yang mereka kenakan, hasilnya sama.
Anak-anak dan para orangtua yang di rumah juga mulai melakukan hal yang sama, membuka kacamata pemberian Sang Guru. Kesadaran Nasional semakin pulih. Ibu Pertiwi tersenyum, manis sekali.
”Buka! … Buka!! … Buka!!!” teriakan demi teriakan terus menggema dari dalam kelas.
”Coba, diam sebentar …..,” kata Sang Murid.
Kelas pun diam. Mereka menanti kelanjutan kata-kata Sang Pemimpin dengan sabar.
”Jangan paksa guru apalagi Sang Guru untuk melepaskan kacamatanya. Yang penting, kita sudah tahu hasil akhir dari pendidikan yang mereka berikan,” kata Sang Murid dengan suara bergetar menahan kecewa.
Sementara itu, Sang Guru masih bersikukuh dengan kacamatanya. Ia tak hendak mau melepaskannya. Maklum, kacamata mahal, harus beli ke luar negeri, harus naik kapal.
”Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru.
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku.
S’bagai prasasti t’rima kasihku tuk pengabdianmu.
Engkau s’bagai pelita dalam kegelapan.
Eangkau laksana embun penyejuk dalam kehausan.
Engkau patriot pahlawan bangsa,
Tanpa tanda jasa”.

Sang Murid memimpin menyanyikan lagu Hymne Guru dengan mata berkaca-kaca. Para pengiring pun sama. Murid-murid kecil yang di rumah pun ikut-ikutan menyanyi dalam tangisnya. Indonesia berurai air mata.
Guru Sepuh mengusap matanya yang basah. Air mata dari mata tua. Mata yang telah menjadi saksi tiga zaman. Nilai dari pekerjaannya telah diterima dari INDONESIA, Nol Besar. Tidak lebih dan tidak kurang. Ia harus lapang dada menerima kenyataan pahit tersebut.

Danang menghela nafas panjang. Matanya belum juga mau beranjak dari deretan huruf-huruf di monitor. Perasaannya kian hanyut terbawa riak-riak masa lalu yang getir dan kelam.
Sayup-sayup terdengar batuk-batuk kecil dari dalam bilik. Danang menghentikan pencarian, telinganya pun dipertajam. Kala yakin dengan pendengarnya, ia segera menuju bilik kakeknya.
Sesosok tubuh tua tergolek nyenyak dengan damai di sana, ”Sepertinya beliau kedinginan,” katanya dalam hati. Tangannya menekan tombol pemanas ruang. Bilik dengan warna putih salju itu pun menjadi hangat. Sesaat kemudian, ia berlalu…..

OOO

10. Jangan Membakar Lumbung

Hujan kian deras bak tercurah dari langit. Danang menutup beberapa jendela setelah membatalkan janji untuk bertemu dengan kawan-kawannya. Beruntung, mereka juga enggan untuk keluar rumah, hujan.
Sekantong popcorn dan sebotol air mineral ia bawa ke meja kerjanya. Ia ingin segera dapat menyelesaikan pencariannya. Titik terang sudah mulai terlihat.

xx49 bergerak cepat. Ia segera bergegas menuju gudang tempat menyekap xxx1 dan kawan-kawannya. Langkah kakinya ringan, seringan kapas ditiup angin. Diam-diam ia tersenyum getir.
Langkah kakinya terhenti. Seorang kopral terlihat menjaga pintu gudang. xx49 memutar otak untuk dapat melewatinya. Namun sayang, sebelum ia bertindak, kopral itu melihatnya,”Siapa di situ?”
”Aku, kawan,” jawab xx49 sambil mendekat.
”Seharusnya, kamu ada di dalam”.
”Aku harus membawanya ke kelas”.
”Maksudmu, mereka?”
xx49 mengangguk.
”Sayang, aku hanya tunduk pada atasanku,” Kopral menolak halus kehendak xx49.
”Ini perintah Presiden, tahu?”
Tentara dengan pangkat kopral tidak menjawab, ia malah tertawa terbahak-bahak, ”Presiden siapa? Yang dalam dua hari ini kau kawal pakai celana merah hati tiga perempat itu maksudmu?”
”Jangan bergurau, Kawan. Ini masalah penting”.
”Bukan hanya kau yang punya masalah penting”.
”Ayolah, bantu aku”.
”Aku tidak berani menyalahi prosedur. Aku hanya bawahan. Aku hanya tunduk pada atasanku, maaf”
xx49 mundur. Ia tidak lagi memaksa. Ia sudah tahu, begitulah sifat tentara, taat azas. Mau tidak mau, ia harus menemui Sang Komandan.
Jawaban yang diterima dari dari komandan setali tiga uang. Satu komando, satu perintah, hanya tunduk pada pimpinan. dan, ujung-ujungnya ….. tunduk pada Presiden sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Darat, Laut, dan Udara.
Mulek, seperti kentut di dalam sarung. Padahal, saat itu Presiden menjadi murid, dan pada saat itu pula, ia berada di lokasi yang sama. Namun, pimpinan tertinggi tentara tidak mau diperintah oleh Sang Murid dengan celana tiga perempat, meskipun ia Presiden, meskipun ia Kepala Negaranya.
”Aduuuuh, aku capek muter-muter seharian, Komandan. Aku bisa mati berdiri,” keluh xx49 seakan minta dikasihani, ”Bantulah, aku harus bagaimana lagi?”
”Pikir saja sendiri, kamu kan ajudan. Ini prosedur, kau tahu kan?” komandan tertinggi berlalu sambil menahan senyum. Kasihan boleh, tapi prosedur tidak boleh dilanggar. Toh, belum berhubungan dengan hidup mati.
xx49 terduduk. Nafasnya tersengah-engah. Ia kelelahan harus mondar-mandir dari satu komandan ke komandan berikutnya. Hasilnya, nihil. Mana perutnya belum diisi sejak pagi. Lengkap sudah penderitaannya.
Setelah berpikir sejenak, xx49 mengambil tindakan. Ia segera mengarahkan mobil dinasnya ke rumah Kepala Negara. Beruntung, jalan-jalan di Jakarta lengang. Tidak ada kemacetan seperti hari-hari biasa.
Dengan demikian, tanpa ada hambatan yang berarti, pakaian lengkap Kepala Negara dalam genggamannya. Kini, xx49 kembali ke sekolah dengan lega.
”Bapak harus ganti pakaian. Ini pakaian seragam dinas Kepala Negaranya, gawat!” kata xx49 saat tatap matanya bertemu dengan tatap mata Sang Murid.
Sontak Sang Murid berdiri, ”Kalian semua harus tetap berada di dalam kelas. Tidak seorangpun diijinkan meninggalkan ruangan ini, ” perintahnya.
Penghuni kelas tidak sempat bertanya. Mereka hanya melihat Sang Murid berjalan tergesa-gesa ke arah belakang, ”Ada apalagi, ya?” guman mereka bersamaan.
Sang Murid berlalu, ”Antarkan aku ke kamar kecil”.
”Siap, Pak!”
Langkah-langkah lebar terlihat membayang di koridor sekolah. Kedua pasang kaki itu berjalan beriringan menuju kamar kecil yang bau.
”Bapak harus menahan nafas di dalam”.
Sang Murid tersenyum, ”Kau ini ada-ada saja”.
Semilir angin siang yang panas membawa harum kemuning dapat sedikit melegakan mereka yang berpacu dengan waktu. Sang waktu tak kenal kompromi.
“Kita ke markas komando”.
“Siap, Pak!”
Apabila Tuhan sudah menghendaki, semua urusan menjadi sangat mudah dan lancar. Begitu pula halnya dengan masalah mengeluarkan para sekapan dari dalam gudang, mudah dan gampang.
Pintu gudang terbuka lebar. Udara segar pun masuk, menyapu gudang yang pengap. Sepuluh orang masih duduk bersila di salah satu sudutnya, mata mereka terpejam. Mereka masih melantunkan doa, entah doa apa.
“Guru, saya datang menghadap,” kata Sang Murid. Ia melangkah masuk ke dalam. Sementara ajudan dan si kopral berjaga-jaga di luar pintu
Tak ada jawaban, tak ada reaksi. Sang Murid pun mengambil posisi duduk di hadapan mereka. Ia ikut berdoa.
“Kau sudah datang, Nakmas Garuda?”
“Nakmas Garuda?” teriaknya dalam hati. Nama itu, nama itu adalah nama masa kecilnya. Sang murid terkejut bukan kepalang, “Dia memang guruku,”.
Lelaki dengan pin Merah putih di dada masih mengenalinya. Tangan guru telah mengembang lebar untuk menerimanya kembali. Mereka berjabat tangan erat.
“Ya, Guru,” jawab Sang Murid dengan suara yang nyaris tak terdengar, bibirnya bergetar. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan gurunya. Guru yang telah lama pergi. Guru yang ia rindukan.
“Kau sudah sangat dewasa”
Sang Murid tersenyum,”Anak saya sudah dua orang, Guru,” katanya mengabarkan.
“Dua orang? Syukurlah …..”
“Waktu begitu cepat berlalu”
“Ya, begitulah. Enam puluh empat tahun aku pergi, bagaimana kabar dari sana?”
“Kami kalah di medan juang kedua …..” jawab Sang Murid sambil tersenyum, senyum satiya.
Lelaki yang dipanggil guru menghela nafas panjang, “Kalian belum kalah. Ini masih perang kembang”.
“Tapi, kami sudah kewalahan. Kemiskinan, pengangguran, KKN, dan berbagai penyimpangan lewat berseliweran setiap hari di depan mata. Tapi, kami tidak mampu menghalaunya”.
“Ternyata, yang dahulu aku prediksikan benar-benar telah terjadi,” jawab guru.
“Tenang, Garuda. Gurumu sudah datang,” celetuk seseorang di belakang guru.
“Kau tidak perlu khawatir,” sahut yang lain.
“Kami akan membantunya”.
“Tapi, dengan pakaian seperti itu, mana mungkin aku bisa mengajarimu, Garuda?” tanya guru.
Sang Murid mengamati pakaian seragam Kepala Negaranya, “Guru, benar,” jawabnya malu-malu, “Ini tadi ….. Ah, ceritanya panjang”.
Semua tersenyum, maklum.
“Sekarang, ganti bajumu. Kita bertemu di kelas”.
Sang Murid beranjak pergi. Ia harus ganti baju lagi. Ke kamar kecil lagi. Harus mencium bau tak sedap lagi. Hanya orang berjiwa besar yang dapat melakukan.
Kelas masih tenang. Dengan sabar, para murid salah kejadian menanti pemimpinnya. Mereka tidak tahu dan kemungkinan tidak akan pernah tahu dengan apa yang telah dilakukan oleh Sang Murid, pemimpinnya di luar sana.
Oleh karena itu ketika Sang Murid datang, mereka memberondong dengan berbagai pertanyaan.
”Tenang, tidak ada apa-apa. Semua terkendali,” jawabnya menenangkan, ”Sebentar lagi, guru kita datang,”
lanjutnya sambil memandang guru sepuh.
Mendadak kelas gaduh. Mereka saling bertanya, ”Guru kita, siapa?” Mereka telah benar-benar lupa akan siapa guru mereka, kacang telah lupa pada kulitnya. Cuci otak mesin uang memang luar biasa ampuh.
”Apakah ….. Apakah dia sudah kembali?” tanya Guru Sepuh seakan tidak percaya dengan pendengarannya.
Sang Murid tersenyum sambil mengangguk, ”Saya telah bertemu …..”
”Syukurlah, penantianku tidak sia-sia,” ia pun bersujud pada Yang Maha Esa, ”Terima kasih, Tuhan”.
Bandul jarum telah bergeser. Sang Guru dan guru-guru yang takut melepas kacamatanya makin bersungut-sungut. Mereka tidak terima, kacamata yang telah dibeli mahal akan tidak berguna. Gelar mereka yang panjang-panjang dipertaruhkan. Mereka mengelompok, menyusun kekuatan, dan siap ”tempur”.
Rombongan lelaki berpakaian putih dengan pin Merah Putih di dada telah memasuki ruang kelas. Setelah memberi salam, mereka duduk di tempat yang telah disiapkan. Pandang mata mereka menyapu kelas.
Untuk beberapa saat, murid-murid dengan celana tiga perempat tertegun. Mata mereka terbeliak. Antara percaya dengan tidak, antara sadar dengan tidak.
“Guru?!” teriak mereka nyaris bersamaan. Tak ayal lagi, mereka berhamburan, berlompatan, berdesakan berebut menyalami. Ada air mata haru dan bahagia di sana.
“Dasar, seonggok daging berwarna cokelat,” cela Sang Guru dari kusinya. Ia membuang muka.
“Siapa mereka, Sang Guru?” tanya Bu Fulanah dari balik kacamatanya yang tebal, Oxford.
”Ya, siapa mereka?” sela Pak Franc, Sarbone.
”Aneh, siapa ya? Saya belum pernah melihat wajah mereka di lembaga pendidikan ini,” Pak Sodron, Laiden.
”Wajah-wajah primitif itu muncul lagi,” celetuk Bu Juwita, Cambridge.
”Anda benar, Bu Juwita. Mereka adalah guru-guru primitif onggokan daging-daging berwarna cokelat yang kini mengerumuninya,” jawab Sang Guru.
”Mereka akan membawa bangsa Indonesia kembali ke zaman purba, Sang Guru,” sahut Bu Fulanah.
”Bangsa yang sudah maju dengan demokrasi, pertumbuhan ekonomi yang signifikan, derajat kesehatan yang makin membaik, kemajuan infra struktur yang luar biasa akan mundur lagi, sayang” Pak Bram, Ohio, memberikan pendapatnya.
”Apa yang harus kita lakukan, Sang Guru?”
”Padahal, 20 % APBN untuk pendididkan sudah diputuskan. Bisa-bisa kita tidak kebagian”.
Sang Guru tersenyum kecut. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ”Kita lihat saja. Apa yang bisa diperbuat oleh guru primitif mereka”.
”Diajak maju kok sulit”.
”Dasar primitif”.
”Kita harus bisa mematahkan sebelum mereka tumbuh,” Sang Guru memberikan komando.
Semua anggota kelompoknya mengangguk. Mereka sepakat. Mereka segera menyusun strategi untuk mengganjal bola salju yang telah mulai menggelinding.
Setelah dirasa cukup melepaskan kangen rindunya, para murid kembali ke bangku masing-masing. Memori masa kecil mereka yang pahit terputar kembali.
Guru –dengan pin– Merah Putih memanggil Guru Sepuh maju, ”Adik Guru, aku ingin mendengar laporanmu. Apa yang sudah kamu kerjakan selama aku bersafari?”
Guru Sepuh yang dipanggil adik tersenyum.
”Dari kau pergi sampai kau pulang, aku tetap berada di tempat semula, di Kelas I Sekolah Dasar. Aku tidak pernah ke mana-mana”.
”Kau sangat setia menantiku di perbatasan”.
Guru Sepuh tersenyum, ada dua butir mutiara di sudut matanya yang mulai senja.
”Bagaimana dengan bibit kelapa kita dulu?”
”Itulah yang aku risaukan,”.
”Maksudmu?”
”Bibit yang kita tanam bersama telah menjadi pohon. Ia sudah tinggi, besar, dan berbuah lebat. Tapi, sayang …..,” Guru Sepuh tidak melanjutkan kata-katanya. Ia mengedarkan pandang matanya ke seluruh kelas.
”Tapi, sayang ….. Tapi apa, Adik Guru?”
“Perkiraan kita tidak meleset sama sekali. Ternyata, yang kita tanam dahulu itu bibit kelapa condong”.
”Pantas saja anak-anak kedodoran di luar sana”.
”Ya, habis hanya pohonnya saja yang ada di sini, sementara buahnya menggelinding di lahan orang”.
”Kau hanya mendapatkan capek, Adik Guru”
Guru Sepuh tersenyum, ”Begitulah”.
”Garuda telah dewasa. Dia harus bisa terbang”.
“Akupun mengatakan begitu, Raja Garuda harus mampu terbang tinggi Meretas Jalan Menuju Indonesia Raya. Jangan hanya melompat-lompat dari satu pagar ke pagar lain,” kata Guru Sepuh, ”Kasihan burung-burung kecil. Mereka menjadi santapan empuk ular-ular ganas yang kian banyak berkeliaran”.
”Apa jawabnya?”
”Ia terperangah. Mungkin, kaget karena kusebut dengan Raja Garuda”.
Guru Merah Putih tersenyum.
”Apakah INDONESIA sudah kau temukan?”
”Sudah”.
”Rutenya?”
”Sudah, tapi masih kusimpan di sini,” jawab Guru Merah Putih seraya menunjuk kepalanya.
”Syukurlah,” jawaba Guru Sepuh lega.
”Siapa mereka?” sambil melirik Sang Guru.
”Ooo, mereka adalah Sang Guru Van Deventer”.
“Mereka masih bercokol di sini?”
“Aku tidak mampu menghalaunya. Mereka makin besar dan kuat. Gaji mereka naik dan terus naik”.
“Mereka harus dibendung, dieliminir bila perlu”
“Tapi, kata Garuda, jangan membakar lumbung”.
“Tenang,” jawab guru Merah Putih, “Tarian Raja Garuda sangat cantik dan anggun. Tidak ada yang dikorbankan,termasuk mereka. Semua akan baik-baik saja”.
“Oh, ya?!”
“Percayalah. Nanti, kamu bisa melihatnya”.
Guru Sepuh tersenyum, “ Sepertinya, tidak sia-sia penantianku”.
Setelah mempersilakan Guru Sepuh kembali ke tempatnya, Guru Merah Putih menyapa Sang Guru bersama kelompoknya. Ia berusaha seramah mungkin.
Sang Guru menyambut uluran tangan Guru Merah Putih dengan dingin, begitu pula dengan kelompokmya. Malah ada yang menerima uluran tangan sambil membuang muka. Mereka sudah memasang barikade ketat di sekelilingnya.

OOO
11. Karna Tanding

Setelah Sang Murid memimpin doa, Guru Merah Putih berdiri di depan kelas. Ia menuju white board. Tangan kanan memegang spidol hitam, sementara tangan kirinya sudah siap dengan penghapus. Ia siap mengajar.
“Kalian semua adalah murid Sekolah Dasar Negara Indonesia. Karena itu, mata pelajaran yang kalian terima tidak jauh berbeda dengan ketika masih kecil dulu. Ada yang keberatan? ”.
“Benarkan, mundur, mundur,” celetuk Sang Guru.
“Hanya itu, Sang Guru?”
Sang Guru terkejut, sebab celetuknya didengar oleh Guru Merah Putih. Ia tidak menyangka sama sekali.
“Hanya itu, Sang Guru?”
“Oh, tidak,” jawab sang Guru cepat, “ Aku akan menanyakan ulang pertanyaan yang telah diberikan oleh Kepala Negara dengan lagu lain,” katanya dalam hati.
“Silakan, jangan sungkan-sungkan!”
“Tolong, tuliskan /baca/ dalam aksara Indonesia,” katanya, seolah-olah pertanyaan itu adalah orisinil darinya.
Sebatang anak panah Sang Guru mulai terbang menyerang. “Permintaan Anda sangat tepat,” jawab Guru Merah Putih tenang.
“Ohya? Mengapa?” jawab Sang Guru “Anda bisa?”
“Masalahnya bukan bisa atau tidak bisa, tapi …..”
“Maksud Anda?”.
Guru Merah Putih tersenyum, “Untuk saat ini, jangankan awam, guru bahasa Indonesia, pakar bahasa Indonesia, dan bahkan gurunya pakar bahasa Indonesia pun belum bisa. Mereka masih buta aksara Indonesia”.
“Kata-kata Anda terlalu tajam”.
”Itu adalah kenyataan,” Guru Merah Putih mempertegas jawabannya, ”Memang pahit …..”.
Jawaban tersebut membuat para guru marah bukan buatan. Beruntung, mereka masih ingat sindiran guru sepuh, ”Kalau mau adu otot, sana jadi tentara …..”.
”Oleh karena itu, –jika dibandingkan dengan bahasa Latin, bahasa Arab, bahasa Cina, bahasa Jepang, dan bahkan dengan bahasa Jawa– bahasa Indonesia tidak ada apa-apanya,” Guru Merah Putih berhenti sejenak. ia memandang ke arah kelompok Sang guru.
”Padahal, aksara warisan nenek moyang tidak kalah hebat. Bangsa kita memiliki banyak aksara. Hanya saja, mereka gagap terhadap semua milik leluhur sendiri. Justru, akrab dengan milik asing”.
” Ada pertanyaan sederhana, mengapa?” tanya Sang Guru yang disambut tepuk tangan para pendukungnya.
”Jawabannya sederhana pula. Mereka menjadi besar atas didikan barat. Guru mereka adalah barat. Atau bisa jadi, guru sini tapi dengan ilmu sana! Mereka mengidap penyakit latah dan ….. kelatahan tersebut ditularkan….” Terdengar gemeretak gigi para pendukung Sang Guru. Mereka tidak terima dituduh latah.
”Jika tidak percaya, Lihat saja ”isi gerobak” pendidikan. Di sana, tidak satu pun ilmu dasar (yang bersifat materi) yang memiliki ruh INDONESIA. Daerah kekuasaan Pendidikan Indonesia hanya seluas bahasa, itu pun sebatas lingua,” panah Guru Merah Putih melayang.
”Bagaimana dengan permintaan saya tadi, bisa?” tangkis Sang Guru sigap.
”O, itu,’’ jawab guru Merah Putih sambil menuju papan tulis dengan tenang, ”Begini,” katanya seraya menulis di papan tulis / /”. Lambang yang di depan berbunyi /ba/, sedangkan yang di belakang berbunyi /ca/. Satu fonem, satu lambang”
Semua mata di dalam kelas, seluruh Indonesia, dan mungkin di seluruh penjuru dunia memperhatikan papan tulis dengan seksama. INDONESIA bergetar.
Danang tersentak, ”Itu kan aksara Indonesia”. Ia perlu berhenti sejenak untuk menghilangkan kekagetannya. Diseruput beberapa teguk air. Kemudian diambilnya beberapa butir popcorn.

Kelas mulai hangat. Bisik-bisik mulai berseliweran. Tak lama kemudian tepuk tangan pun pecah, ”Aksara Indonesia telah lahir!”. INDONESIA bernafas lega.
”Bagaimana dengan kata-kata yang lain?”
”Silakan”.
Tak ayal lagi Guru Merah Putih dihujani dengan ”panah” pertanyaan, bagaimana menulis kata tertentu dalam aksara Indonesia. Semua permintaan dapat dipenuhi. Semua ”panah” dapat dipatahkan.
Kembali tepuk tangan melangit. Dengan cepat superbody murid menulis dalam buku catatan yang telah disiapkan oleh para ajudannya. Otaknya yang encer begitu mudah menerima penjelasan Guru Merah Putih.
”Bagaimana aksara Indonesia bisa berdampingan dengan Iptek yang sudah maju?” tanya Sang Guru.
Kembali Guru Merah Putih tersenyum, ”Aksara Indonesia tidak diperuntukkan bagi generasi yang telanjur latah sepeti kaian. Aksara ini akan digunakan oleh generasi berikut, generasi yang benar-benar MERDEKA, dimulai dari kelas satu dan terus berkelanjutan”.
”Ipteknya?”
”Komponen Iptek pendukung industri berbasis aksara akan tumbuh dengan sendirinya seiring kebutuhan”.
”Intinya?”
”Jangan terlalu pagi memberikan Iptek tinggi kepada anak-anak agar mereka mereka selamat”.
”Jika gagal menyiapkan sarana pendukung?”
Guru Merah Putih tersenyum, ”Gampang, buang saja jauh-jauh kacamata Anda…..”
Sang Guru terhenyak, ”Tidak segampang itu, tidak segampang itu. Kacamata ini dari Maha Guru, carinya sulit” mulutnya komat-lamit, tidak jelas yang diucapkan. Ia pun mengajak berunding kelompoknya.
”Kedudukan aksara latin?” tanya Bu Fulanah.
”Sebagai aksara transit dari aksara daerah ke aksara Indonesia, bukan sebagai tujuan. Pada akhirnya, paling banter, aksara latin sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah formal. Tidak lebih dari itu”
Kelompok Sang Guru tidak bertanya-tanya lagi. Mungkin mereka ingat, ”Malu bertanya sesat di jalan. Banyak bertanya, memalukan”. Mereka diam.
Kelas menjadi hening.
Sang Murid mengacungkan tangan, ”Sekedar ingin tahu, ada berapa buah aksara Indonesia itu nantinya?”
”Ada 30 buah”.
”Wow, ada 30 …..,” seru mereka yang bercelana tiga perempat bersamaan.
”Apakah kami juga harus mempelajari?”
”Tidak…. Untuk apa?” jawab Guru Merah Putih, ”Aksara Indonesia untuk generasi berikut, bukan untuk generasi sekarang. Kewajiban generasi sekarang adalah menyiapkan perangkat pendukungmya, sehingga ketika mereka membutuhkan, semua sudah siap”.
”Tadi, Anda mengatakan aksara Indonesia ada 30 buah,” kata Pak Franc, ”Mengapa harus 30?”
Kelompok Sang Guru memberi tepuk tangan meriah kepada alumni Sarbone. Pak Franc berdiri, ”Terima kasih, terima kasih”.
Guru Merah Putih tidak segera menjawab. Ia memutar-mutar spidol yang ada dalam tangannya. Semua mata kembali tertuju kepadanya.
”Mengapa harus ada 30 buah aksara Indonesia?
Sebuah pertanyaan yang bagus,” komentar Guru Merah Putih, “Ayo, beri tepuk tangan!”.
Tepuk tangan pun menggema di seluruh tanah air. Merah padam wajah Pak Franc dibuatnya, “Orang ini benar-benar jurang ajar! Fuck you!!”.
“Apakah Anda juga pernah bertanya, mengapa aksara latin ada 26 buah?” tanya balik Guru Merah Putih.
“Itu bukan urusan Anda!” jawaban sengit terdengar.
“Ya, Anda benar, bukan urusan saya,” tukas Guru Merah Putih cepat. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Seakan dengan begitu kekuatannya bertambah.
”30 berkaitan dengan tarikh Indonesia!”
”Tarikh Indonesia?” INDONESIA melonjak kaget. Kekayaannya akan bertambah lagi.
”Adakah tarikh Indonesia?” tanya Sang Murid.
”Ada,” jawab Guru Merah Putih cepat.
”Anda benar-benar paranoid,” celetuk Pak Franc.
Guru Merah Putih tersenyum mendengar komentar miring tentang dirinya, ”Indonesia menggunakan bulan sebagai dasar perhitungan waktunya, bukan matahari”.
“Mengapa?”
“Agama yang dianut oleh sebagian besar rakyatnya menggunakan bulan sebagai dasar perhitungan waktu, bukan matahari”.
“Itu sekterian”
“Katanya demokrasi ….. Tudingan Anda, kita buktikan nanti. Siapa yang sekterian, saya atau Anda”.
Para murid menahan nafas, “Apakah matahari akan terbit dari barat?” pikirnya. Mereka harap-harap cemas.
“Lanjutkan,” sela Sang Guru. Ia penasaran, ingin tahu kemampuan guru primitif yang menjadi pesaingnya.
“Tahun 1 Indonesia adalah saat berdirinya Kutai di bumi Kalimantan, tonggak sejarah tanah air yang telah disepakati sebelumnya. Tahun merupakan pengaruh agama pagan, Hindu Buda,” kata Guru Merah Putih.
Para penganut agama Hindu Buda mengangguk.
“Bagaimana dengan bulan?” tanya Franc lagi.
”Bulan menggunakan Hijri, pengaruh Islam,” jawab Guru Merah Putih sesaat kemudian, ”Hanya saja, bulan pertama jatuh pada bulan Lebaran”
”Mengapa bukan pada bulan Muharam?”
”Pertanyaan bagus, Nakmas Garuda,” puji Guru Merah Putih kepada Sang Murid. Yang mendapat pujian tersipu malu, ”Beri tepuk tangan!”
Seisi kelas bertepuk tangan riuh-rendah.
”Jawaban singkatnya, Muharam sudah ada yang punya. Muharan milik Islam,” jawab Guru Merah Putih meyakinkan,” Perlu kamu tahu, jika dibulatkan, selisih antara tarikh Indonesia dengan tarikh hijriah adalah 228 tahun,” jawabnya setelah tepuk tangan reda.
”Dari mana Anda tahu?” panah Sang Guru melesat.
”Ketika masakan ikan telah terhidang di meja, jangan tanya di mana ikan ditangkap,” tangkisan cepat, ”Kapan-kapan, ikut saya menyelam ke dasar laut”.
”Boleh?”
”Dengan senang hati. Nanti, kita tangkap ikan besar beramai-ramai,” jawabnya sambil tersenyum, ”Sedangkan hari, menggunakan pengaruh Nasrani,”.
”Berarti, semua agama ikut andil ….”.
”Ya, tepat sekali. INDONESIA merekatkan semua. Hanya saja, mengingat Proklamasi dikumandangkan pada hari Jumat maka hari pertama adalah hari Jumat”.
”Matahari benar-benar telah terbit dari barat,” celetuk salah seorang pengiring Sang Murid.
”Belum, itu masih lamaaaaaaaaaaaaaaamaaaaa”.
INDONESIA tersenyum riang. Kiamat masih jauh.
”Terus, bagaimana dengan hari lahir Indonesia?” kembali Pak Frank melepaskan panahnya.
Dengan sigap panah ditangkap, ”Bangsa Indonesia lahir pada 27 Rajab 1 I dan dimanusiakan sebagai manusia pada 17 Ramadhan 1 I”
”Terus, kedudukan Proklamasi?”
”Sekedar pintu kelahiran dari ”indonesia” menjadi indonesia, belum Indonesia, apalagi INDONESIA,” jawab Guru Merah Putih seraya menulis di white board –nya, ”….. dan INDONESIA RAYA masih sangat jauh”.
”Terus, bagaimana dengan masa penjajahan?”
”Tanpa ada maksud melupakan sejarah, lupakan sebutan itu. Buang jauh-jauh penanaman mental sebagai bangsa inferior kepada peserta didik,” Guru Merah Putih berhenti sejenak, ia membasahi tenggorokannya, ”Bukankah yang kalian sebut sebagai masa penjajahan itu sesungguhnya adalah kelanjutan dari perang di timur tengah yang terjadi sebelumnya? Bukankah motif dagang mereka hanyalah faktor pembenar saja?” ia bertanya balik.
Sang Guru menggeleng, ”Aduh, bisa-bisa pelajaran sejarah jadi jungkir-balik. Orang ini benar-benar sudah gila, Gila Indonesia,” gumannya lirih.
Umpan Sang Guru di tangkap Pak Franc. Ia segera menyiapkan panahnya lagi, ”Kapan Anda keluar dari Lawang? Itu lho, rumah sakit jiwa di Malang …..”
”Lho, Anda ini bagaimana ….. Kita kan keluar pada hari yang sama,” tangkis Guru Merah Putih sigap, ”Bukankah Anda yang membawakan kopor saya? Malah teman-teman Anda menyambut kita sambil bernyanyi di halaman depan. Masak sudah lupa ….. Tenyata, ingatan Anda payah juga, ya …..”
Panah Pak Franc pun patah berkeping-keping. Ia garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia celingukan mencari umpan, namun tak didapat. Pak Franc jatuh klepek-klepek ….. Kelompoknya pun menolong berdiri.
Sang Murid memimpin tepuk tangan.Karna Tanding seru dan menegangkan. Panah-panah sakti berseliweran di hadapan mata, di atas kepala, kadang lewat ulu hati mereka.
Sang Guru kembali mengajak kelompoknya berunding. Ia dikenal jagoan dalam menyusun strategi, tak terbilang bangsa-bangsa yang ditaklukkan dengan penanya.
”Gila INDONESIA, sebuah jenis penyakit baru yang belum ada obatnya,” hasil diagnose sementara mereka, ”Panderita lagi mengamuk di dalam kelas,” fakta.
”Lanjutkan, Guru,” pinta Sang Murid.
”Sekarang, kita masih di sini, di indonesia. Nanti, berhenti di Indonesia cukup sembilan tahun. Setelah keluar dari Indonesia, kita tiba di INDONESIA”.
“Mengapa begitu lama berhenti di Indonesia?”
Sang Guru tersenyum, “Bukankah Presiden sudah mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun, Nakmas Garuda?”
Sang Murid tersenyum, ia mengerti. Sembilan tahun adalah saat transisi, saat ”ulat menjadi kepompong”.
Kelompok Sang Guru segera menyiapkan panah sakti kiriman Maha Gurunya, ”Anda mengatakan bahwa bulan pertama adalah Lebaran. Mengapa bukan Syawal?”
Lagi-lagi Guru Merah Putih tersenyum, ”Syawal milik Islam, Lebaran milik INDONESIA, serupa tapi tak sama. Ketika Islam ber-satu Syawal, INDONESIA ber-Lebaran, KOSONG – KOSONG. Artinya, 1 Syawal = 0 Lebaran, 2 Syawal = 1 Lebaran dan begitu seterusnya. Pada 1 Lebaran atau 2 Syawal itulah Tahun Baru INDONESIA. Bulan berikutnya, antara Islam dan INDONESIA sama. Dengan begitu, kedudukan Islam dengan INDONESIA seperti lambang bilangan sebelas, 11. Artinya, tanpa Islam, INDONESIA tidak ada apa-apanya. Fakta menunjukkan, Lebaran adalah hari yang paling menghebohkan, tidak peduli agama mereka”.
Semua mulut terkunci. Semua hati berdebar-debar. Dua orang guru sedang bertempur menentukan nasib INDONESIA, medan perang telah bergeser.
Guru Merah Putih melihat penanggalan, ”Menurut kalender INDONESIA sekarang ini tanggal 10 Muharam 1658, menurut kalender Hijri tanggal 10 Muharam 1430, dan menurut kalender Masehi tanggal 7 Januari 2009”.
OOO
12. Pelajaran Belum Usai

Danang makin larut. Ia perhatikan dengan seksama teks kuna yang berada di depannya,”O, ternyata kalender Masehi pernah dipakai di Indonesia. Berarti, ini kejadian 351 tahun yang lalu”. Zaman pemerintahan bintang ke tujuh, bintang terakhir. Setelah itu, terbit matahai.
”Berarti, eyang leluhur dulu membeli arloji ini tahun 2008 Masehi, bukan tahun 2008 Indonesia. Benar-benar sebuah arloji tua,” gumannya.

Kelas masih hening menanti kelanjutan uraian Guru Merah Putih. Semua serius dan fokus memandang lurus. ”Kalian tidak tidur, bukan?”
”Tidak!!!” jawab mereka yang bercelana tiga perempat serentak.
”Berapa nilai se-Indonesia?” tanya Pak Jaim dari belakang Sang Guru dengan suaranya yang berat.
”Hu ……!” seisi kelas menyorakinya.
Pak Jaim cuek.
”Menurut Anda, berapa? pertanyaan dikembalikan.
”Menjawab teka-teki sendiri, itu saru”.
”Saru atau tidak tahu?”
Pak Jaim pun salah tingkah, dan semakin blingsatan kala para murid teman Sang Murid menyorakinya.
”Nilai se-Indonesia = 10128”.
Semua mata terpaku tanpa kedip.
”Dari mana angka itu?” tanya Sang Guru sigap.
Guru Merah Putih tidak segera menjawab. Ia harus memilih kata yang sederhana agar mudah dimengerti, ”Dari Sistem Bilangan Indonesia”.
”Sistem Bilangan Indonesia?!”
”Kita menggunakan sistem bilangan Hindu Arab”.
”Bukan kita, tapi Anda….. Dengan sistem Anda, nilai se-Indonesia tidak dapat ditemukan”.
Pak Jaim terperangah.
”Orang ini benar-benar telah gila INDONESIA,” bisik Bu Fulanah kepada rekan sejawatnya.
”Konon, berlian adalah bongkahan batubara yang menjadi bagus di bawah tekanan”.
”Berarti, dia termasuk fossil …..”
Keduanya berusaha menahan ketawanya.
Sang Murid makin memusatkan perhatiannya. Kelapa yang condong harus ditegakkan agar buahnya tidak jatuh ke lahan tetangga, ”Berarti, kedudukan kita sebagai produsen bilangan, Guru?”.
”Ya, ….. semacam itulah. Hanya saja, untuk berubah, butuh waktu. Tidak bisa serta merta”.
Sang Guru menatap tanpa kedip, ”Kemarin, Sang Murid ada menyebut konsumen bilangan. Sekarang, ia menyebut produsen bilangan. Ada apa sebenarnya di balik bilangan?” tanyanya dalam hati.
Dengan singkat, Guru Merah Putih menerangkan Sistem Bilangan Indonesia yang berbasis seratus yang terdiri dari satu (100), puluh (101), ratus (102), ribu (104), laksa (108), keti (1016), juta (1032), miliar (1048), nata (1062), triliun (1096), dan Indonesia (10128).
Ia juga menerangkan tentang sistem bilangan peralihan, yang dengan itu, hak gaji rakyat yang hidup di jalur birokrasi yang telah dikorup oleh sistem selama 64 tahun akan dapat kembali, obat untuk lapar uang.

Danang membayangkan, ”Betapa susahnya kehidupan rakyat yang lapar uang karena hilangnya puluh ratus, puluh ratus ribu, laksa, dan semuanya. Rupiah pasti kedodoran, besar bilangannya, kecil nilainya
Pertumbuhan penduduk seperti deret ukur, sementara Sistem Bilangan Hindu Arab menggunakan basis seribu (103) dengan deret hitung pada pangkatnya. Akhirnya, kualitas uang tidak sebanding dengan materinya.
Pantas saja di zaman dahulu pernah terjadi krisis moneter. Lucu, 1000 sudah dibaca seribu. Seharusnya, ya sepuluh ratus. Seribu mempunyai empat buah nol”.

”Berarti, nanti akan ada banjir uang?” tanya Pak Jaim tak bisa menahan rasa ingin tahunya.
”It’s impossible,” celetuk Sang Guru.
“Whay not?” tukas Guru Merah Putih, “Di mataku, sistem Anda sangat buruk, kacau! Mengambil sebagian dan menolak sebagian yang lain. Sistem Anda telah membuat garuda terbang di belakang kawanan sapi dan onta. Hanya berhasil makan remah sisa makanan mereka, It’s very bad Seharusnya, garuda makan ikan besar”.
“Jangan percaya omongannya”.
“Kepercayaan Anda tidak membuat aku besar. Penolakan Anda pun tidak membuat aku kecil’.
“Aku jadi ingin membuka kacamata ini,” kata Pak Jaim, “Aku jadi penasaran”.
“Buka saja,” kata Bu Pipit menyemangati dari belakangnya, “Kacamataku telah terbuka sejak tadi, malah sudah kubuang jau-jauh,” Ia celingukan, “Tuh, di sana,” katanya sambil menunjuk tempat sampah, ”Aku sudah bisa melihat kebenaran, melihat jalan lurus”.
Dengan sekali sentak, lepaslah kacamata Pak Jaim. Untuk beberapa saat, ia termangu. Ia bisa melihat carut-marutnya gambar pendidikan hasil kerjanya.
Pak Jaim termasuk guru senior, perilakunya sering dijadikan acuan. Maka tak ayal lagi, sebagian guru pun mengikuti jejaknya. Barisan Sang Guru makin pendek.
“Berarti, ada masa transisi yang lamanya sembilan tahun,’’ kata Sang Murid. Ia memandang ke arah pengiringnya, “Kalian boleh mengajukan pertanyaan. Jangan diam saja”.
“Jangan khawatir, saya sudah akan bertanya,” sahut seseorang,”Soal kepemimpinan nasional, bagaimana?”.
Guru Merah Puitih tersenyum, “Selama masa transisi, hentikan semua hajat nasional. Artinya, tidak ada pilkades, pilkada, pemilu, dan pilpres. Semua berhenti di pos masing-masing. Regenerasi kepemimpinan nasional secara senioritas. Regenerasi PNS /Militer pun secara senioritas. Pensiun pada usia 64 tahun!”.
“Wih, seru!”
“Kita akan mengadakan perjalanan panjang. Jadi, jangan kuras energi rakyat hanya untuk memenuhi keinginan beberapa gelintir orang yang haus kekuasaan”
”Sepertinya, menarik”.
”Ini adalah alternatif lain”.
”Ingat, ketika gajah muda menyingkirkan gajah tua sebagau pemimpin, maka gajah-gajah muda yang lain akan melakukan hal yang sama. Akhirnya, ribut terus”.
”Tapi, itu kan demokrasi”
”Demokrasi cap mobil. Saat mogok, semua orang dimintai tolong. Setelah mobil jalan, say good bay …..”
”Masih mending kalau ingat dengan ucapan terima kasih. Biasanya, mereka menoleh pun tidak”.
”Belajar menghormati mereka yang lebih senior”.
”Semua harus tahu diri”.
”Nanti, kita bangun demokrasi berkelanjutan’
Forum bebas. Semua boleh berkomentar.
“Terus pengangkatan PNS, gimana dong?” tanya Bu Pipit malu-malu, ia masih di kelompok Sang Guru.
”Rekrutmen bagi mereka tetap jalan. Justru akan semakin besar-besaran…. Hanya beda format. Padat karya juga besar-besaran,” jawab Guru Merah Putih.
”Dananya?” tanya Sang Guru.
”Kami tidak undang investor. Rupidin membawa uang yang banyak dari INDONESIA untuk bekal selama sembilan tahun dalam perjalanan indonesia di Indonesia,” jawab Guru Merah Putih sambil membuat ceretan-coretan di white board untuk memperjelas, ”Kalian mengerti?”.
Semua penghuni kelas tercenung. Seisi Indonesia tercenung. Seisi dunia pun tercenung, ”Sebuah kata yang sama dengan simbul beda, beda pula artinya”.
Tadinya, Sang Murid hanya hendak minta diajari cara membuat kolam agar kail yang dibawa bisa untuk menangkap ikan atau minta diajari cara membuat hutan agar kapak yang dipunya bisa untuk mencari kayu.
Namun, bukan itu yang didapat. Justru, yang ditemukan adalah sebuah lautan yang maha luas, sebuah hutan belantara yang masih perawan, belum terjamah.
”He, kalian mengerti?”
”Kami bingung, Guru!” jawab mereka serempak.
Sang Murid pun merasa bingung, gamang, gamang sekali, ”Guru, apa yang harus saya perbuat?”
.”Pelajaran belum usai. Sementara ini, belum ada”.
”Samakah INDONESIA dengan NKRI?” tanya Sang Murid mengulang pertanyaannya sendiri. Ia masih mencari jawab, ”Kata Sang Guru, pertanyaan tersebut sudah berada di dalam taman larangan”.
”Ya beda to, Nakmas,” jawab Guru Merah Putih, ”Saat ini, INDONESIA masih ada di sini,” katanya sambil menunjuk dada, ”Tapi, setelah sembilan tahun, INDONESIA adalah ibukota NKRI”
”Ibukota negara bakal pindah?” seru mereka.
”Ya, Jakarta hanya menjadi sumber masalah. Hanya membuat susah rakyat dan pemimpinnya”.

”Ya. ya. Menurut Pelajaran Sejarah yang diterimanya, pada zaman dahulu ibukota NKRI adalah Jakarta” seru Danang membenarkan, ”Untung segera dipindahkan”. Kota Pangeran dikembalikan sebagai kota Pangeran, bukan kota Ibu Kota.

”Kita dicuci habis-habisan”.
”Ampun, Guru! Ampun!”
Lagi-lagi Sang Murid tercenung, ”Jakarta dituding sumber masalah oleh Guru Merah Putih, menyakitkan. Tapi, memang begitulah kenyataannya”. Para pengiringnya sudah bertobat, minta ampun karena tidak tahan dicuci.
”Guru, kita sudah masuk taman larangan!” katanya mengingatkan.
”Benar, semakin kita masuk ke dalam semakin berantakan yang terlihat,” jawab Guru Merah Putih, ”Kewajiban kita sekarang adalah memperbaiki. Setelah tertata dengan baik dan rapi, kita tutup lagi. Taman larangan bersifat umum, namun tidak untuk umum”.
Sang murid mengangguk.
Sang Guru hanya melongo mendengarnya. Ia ingin mengatakan sesuatu. Namun rasa kejujuran intelektual mulai membelai kalbunya, ”Semua nasihat yang diberikan Maha Guru telah dikerjakan dan ternyata tidak membuat mantan-mantan muridnya selamat. Justru, mereka kian sekarat. Hidup mereka kian berat dan melarat!” hatinya mulai berontak.
Ia kecewa. Sang Guru berada dipersimpangan jalan buntu, belok kanan atau belok kiri akan tetap membawanya kembali ke tempat semula. Padahal, di depan berdiri dinding yang kokoh, dan dinding itu adalah Maha Guru!
Sang Guru pusing. Tidak mungkin ia melawan Maha Guru –nya. Ia harus menentukan pilihan! Ia semakin pusing kala melihat ke belakang, semua kursi telah kosong. Ia benar-benar pusing, pusing tujuh keliling.
”Darimana perbaikan taman larangan dimulai?”
”Dari sistem bilangan”.
”Setelah itu?”
”Bilangan uang”
”Mengapa?”
”Rakyat lapar uang, bukan lapar nasi”.
”Pemimpinnya?”
”Nakmas Garuda sendiri,”
”Saya?!!!” tanya Sang Murid terkejut.
”Ya. Jika bukan Nakmas Garuda, lantas siapa?”.
Sang Murid terpekur pada kursinya.
”Atau, ada yang keberatan?”
Semua menggeleng.
”Bulan, Bintang, dan Matahari, tugasmu hampir usai. Ingat, sesungguhnya tempat kalian di langit. Aku ucapkan terima kasih, kalian sudah menjadi penerang anak-anak di dalam gelap,” kata Guru Merah Putih tiba-tiba.
Mereka tersenyum. Sebelum sistem tersusun rapi, mereka akan tetap berada di bumi. Itu komitmen mereka.
Sang Guru kian melongo, ”Begitu mudahnya Bulan, Bintang, dan Matahari diperintah oleh makhluk primitif ini. Padahal, untuk mendatangkan mereka, aku harus berkonsultasi dengan tokoh-tokoh orientalis sekelas Snouk Hourgonje”.
”Matahari mulai terbit. Pungguk, kamupun harus beristirahat,” kata Guru Merah Putih, ”Tugasmu menjaga bangsa Indonesia di malam yang panjang telah hampir usai. Aku sangat berterima kasih padamu”.
Hati Pungguk berbunga-bunga. Ia lemparkan begitu saja kursi di pundaknya. Ia ingin segera pulang ke sarangnya. Memanggul kursi Sang Guru selama enam puluh empat tahun sangat melelahkan.
Kursi Sang Guru berguncang hebat, oleng, dan runtuh. Sebelum ia benar-benar jatuh mencium bumi, sepasang tangan dengan kokoh merengkuhnya, tangan Guru Merah Putih.
Saat itulah, seorang guru yang masih muda, tanpa ba-bi-bu, menarik paksa kacamata Sang Guru.
Semua tersenyum, ”Bagus!”

Danang ikut tersenyum, ”Aku jadi hanyut,”

OOO
13. Mengintip INDONESIA

Setelah kelas kembali tenang, Guru merah Putih kembali melanjutkan penjelasannya. Ia menyebutkan beberapa titik persinggahan selama dalam perjalanan. Ia juga mengingatkan bahwa Pancasila dijadikan pedoman sampai ke tempat tujuan.
”Sebagai barisan perintis, misi ini membutuhkan 1110 orang yang kuat lahir batin dari kalian, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang” kata guru Merah Putih.”
”Aku hanya memilihmu,” kata Guru Merah Putih sambil menunjuk Sang Murid, Sang Pemimpin,”Garuda, genapi hingga menjadi sepuluh orang. Masing-masing harus memiliki natar yang jelas”.
Sang Murid mengangguk mengerti. Ia tahu, ada sepuluh macam natar induk bagi bangsa Indonesia. Setiap natar mempunyai sepuluh buah lahan kehidupan yang khas.
”Setelah itu, masing masing orang memilih sepuluh orang, dan yang berikutnya memilih lagi sepuluh orang. Begitu seterusnya, sampai semua rakyat Indonesia berpegangan satu sama lain.
Kalian harus tahu siapa atasan dan siapa bawahan kalian dengan jelas. Harus dijaga keutuhan mata rantai, jangan sampai terputus.
Berbarislah dengan rapi. Jangan berebut di depan. Jangan saling mendahului dalam perjalanan. Satukan hati, satukan langkah, rapatkan barisan, dan jangan lupa mohon perlindungan pada Tuhan Yang Maha Esa”.
Seisi kelas memperhatikan dengan seksama. Seisi Indonesia memperhatikan dengan seksama. Mereka mulai bergerak. Hanya dalam hitungan menit, telah terkumpul 1110 orang. Mereka adalah Gelombang 1. Di belakang mereka berdiri 1.1110 orang, Gelombang 2. Di belakangnya lagi berdiri 11.1110 orang, Gelombang 3. Begitu seterusnya dan begitu seterusnya.
Sebelum mereka mengadakan perjalanan yang panjang, ke sembilan orang teman Guru Merah Putih mendapat tugas mengawal dari belakang perjalanan bangsa Indonesia dari belakang. Mereka menyanggupi.
Setelah semua siap, Guru Sepuh membuka selendang Merah Putih yang selalu melingkar di lehernya. Ia menyodorkan satu ujungnya kepada Guru Merah Putih, ”Kita mulai”.
Dua orang guru itu segera membentangkan selendang tersebut di bawah dinding kokoh Maha Guru, gurunya Sang Guru. Guru Sepuh memegang ujung kiri, sedangkan Guru Merah Putih di ujung kanan.
Semua mata memperhatikan dengan seksama. ”Naiklah satu persatu, ingat nomor urut kalian”.
”Di atas bentangan selendang ini?”
”Apa muat?”
”Muat, muat. Naiklah!”
”Guru, ini kan Merah Putih?” tanya Sang Murid.
”Hanya ini yang bisa mengantarkan kalian melompati dinding itu. Merah Putih adalah koridor,” jawab Guru Merah Putih.
”Bagaimana, sudah siap semua?” tanya guru sepuh.
”Siap!”
”Pegangan erat satu sama lain”.
”Jangan sampai lepas!”
”Jangan lupa, baca doa!”
Dengan sekali hentakan tangan dua orang guru secara bersamaan, ke 1110 murid dengan celana tiga perempat itu terlempar ke atas dinding, ”Wwwuuuussssss”.
”Ya, Allah …………………………………!”
”Puji Tuhan……………………………!
”Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
”Tetap berpegangan!” teriak Guru Merah Putih memberi aba-aba dari bawah.
”Kita susul mereka,” kata Guru Sepuh.
Selendang Merah Putih berkibar cantik kala dua guru yang memeganginya melompati Maha Guru. Tanpa ada kesulitan, keduanya melintas cepat dan bertengger di atas dinding kokoh, tepat di atas kepala Maha Guru.
Maha Guru tercengang melihat murid-murid Sekolah Dasar Negara Indonesia melompatinya, ”Mana mungkin, mana bisa. Mereka kan hanya seonggok daging berwarna cokelat, yang kebetulan saja bisa bercakap-cakap. Mereka kan masih biadab belum beradab. Wah, wah, ini gawat, ini gawat ….. Guru mereka sudah bangun! Murid mereka sudah bangun! Bangsa Indonesia telah bangun!”.
Ia makin tercengang kala Guru Sepuh dengan mudah melintasi kepalanya, bahkan sempat menjitak.
”Ternyata, itu bukan selendang sembarangan,” kata Bu Pipit di antara detak jantungnya yang berkejaran.
”Padahal, selendang kumal itu sering menjadi bahan gurauan,” sela Bu Fulanah.
Pak Franc menghela nafas panjang, ”Terlalu lama kita menyesatkan bangsa ini”.
”Kita juga korban,” Pak Jaim menghibur.
Mereka menyesal. Mereka telah bertobat.
Di atas dinding, ke -1110 murid dengan celana tiga perempat memandang ke negeri lain yang ada di depannya, ”Indah!” seru mereka hampir bersamaan.
Kedua guru yang menyertai mereka tersenyum.
”Lihat, di sana ada cahaya putih!”
“Itulah INDONESIA,” jawab Guru Merah Putih.
“INDONESIA ibukota NKRI, Guru?” tanya Sang Murid tanpa kedip. Ia lebih memusatkan pandangan matanya,”Ada sepuluh gedung Lembaga Tinggi Negara”.
Para Pengiring pun segera melakukan hal yang sama, ”Itu, itu … itu Istana Kepresidenan”.
”Di istana itu duduk 100 orang presiden”.
“Seratus presiden?! Presiden apa saja?”
“Banyak”.
“Misalnya : Presiden Bayi RI, Presiden Wanita RI, Presiden Dokter RI, dan sebagainya. Mereka dipimpin oleh seorang Presiden RI” sahut Guru Merah Putih, “Lihat yang ada di sebelahnya …..”
” ….. itu kan gedung Mahkamah Agung”.
”Di situ duduk 100 orang Hakim Agung. Mereka dipimpin oleh seorang HAKIM AGUNG.
”Itu, yang ada air mancurnya ….. Itu gedung DPR.”
”Gedung itu ada dua tingkat, lantai dasar untuk Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR I). Ada 1000 buah kursi di sana, satu peri kehidupan rakyat diwakili oleh satu suara. Lantai atas untuk Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Di situ duduk 100 orang super body rakyat Republik Indonesia,” jawab Guru Merah Putih.
“Berarti, peta politik akan berubah drastis …..”
”Ya. Di sana bukan pola pragmatis lagi yang dipakai, tapi pola emansipatoris. Sebuah persaingan murni,” jawab Guru Merah Putih, ”Siapa yang terbaik di antara mereka yang akan naik”.
”Bagaimana dengan DPR kita sekarang?”
”Mereka tetap dipertahankan sampai sembilan tahun. Ingat, regenerasi berdasarkan senioritas. Setelah itu, barulah diadakan perubahan”.
”Sepertinya, yang menghadap ke utara itu gedung Badan Pertahanan dan Keamanan Nasional (BPKN)”.
”Benar. BPKN adalah lembaga tinggi negara khusus bagi militer. Anggotanya 100 orang. Lembaga tersebut dipimpin oleh seorang Panglima Tertinggi Militer dengan pangkat Jenderal Besar Bintang Lima”
Sang Murid mengangguk-angguk, ”Seru. Berarti ada tempat bagi tentara menyuarakan kepentingannya”.
”Lha, yang penuh dengan bunga-bungan itu adalah gedung Badan Pendidikan Nasional (BPN)”.
”Apa itu, Guru?”
”BPN adalah lembaga tinggi khusus bagi guru. Di situ duduk dari Guru Kelas I RI sampai dengan Guru Fakultas x RI. Anggotanya juga 100 orang. Mereka dipimpin oleh Guru Pendidikan Nasional Indonesia”.
”lho, LIPI menjadi Lembaga Tinggi Negara?”
“Ya, kelak lembaga ini yang akan memberikan perlindungan terhadap kekayaan intelektual hak cipta”.
”Sepertinya masih ada empat buah gedung yang membelakangi kita,” celetuk yang berjanggut lebat.
”O, itu ….. Coba perhatikan, dari kiri ke kanan. Paling kiri adalah gedung Dewan Agama Indonesia, kemudian gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, terus gedung Badan Pemeriksa Keuangan, terus ….. ” Guru Merah Putih memfokuskan pandangannya, ” …..itu gedung Badan Keuangan Nasional, di sampingnya adalah gedung Dewan Pertimbangan Agung”.
’Semuanya berbentuk presidium?”
Guru Merah Putih mengangguk.
”Makin banyak orang yang bisa masuk ke dalam sistem akan membuat kian kokoh sistem tersebut”.
”Bukan makin banyak, tapi semuanya akan masuk”.
”Guru, yang masih tertutup tabir putih itu apa?”
”Itu adalah lembaga tertinggi negara. Kalian dulu menyebutnya dengan MPR. Pada lembaga tersebut ada 1000 orang anggota dan dipimpin oleh seorang kepala negara, Noto Indonesia.
Noto berarti raja. Ia simbul pemersatu. Ia dipilih langsung oleh rakyat. Pemilihan itu hanya terjadi satu kali. Itulah Demokrasi Indonesia. Setelah terpilih, jangan diganggu lagi sampai ia berusia 64 tahun atau mangkat. Penggantinya adalah keturunannya. Biarkan ia pilih sendiri, siapa penggantinya. Itu demokrasi berkelanjutan”.

Danang melongo, ”O, begitu ceritanya”. Sekarang sudah Noto Indonesia ke lima.
Sang Murid dan sebagian besar murid dengan celana tiga perempat menghela nafas.
”Bagaimana dengan yang lain-lain, Guru?”
”Sama, kursi yang mereka buat sendiri tidak diperuntukkan bagi orang lain. Jika orang lain ingin duduk, ia harus membawa kursi sendiri, atau berani membuat kursi sendiri. Jangan merebut kursi orang. Jangan mengusir orang dari tempat duduknya. Itu baru manusia beradab”.
”Bukankah sesuatu jika bukan pada ahlinya akan rusak dan hanya tinggal menunggu saat kehancurannya?”
”Itu benar. Tapi, ingat, ahli ada dua macam. Ada ahli yang bermakna ahli, namun ada ahli yang bermakna waris. Kursi adalah lambang periuk nasi. Dari situ orang bisa mendapatkan belanja hidup. Ke-ahli-annya memang tidak diwariskan, namun kursi atau periuk nasinya yang diwariskan. Silakan lihat di lapangan”.
Setelah diam beberapa saat,” Berarti, lahan hidup di jalur birokrasi juga diwariskan?”
”Ya. Memandang jalur birokrasi sebagai lahan tak bertuan itu salah. Di sana juga ada rakyatnya. Ibaratnya, semangka telah dipotong menjadi dua. Satu di tangan kanan, satu di tangan kiri. Masing-masing tangan sudah memegang sendiri-sendiri. Adilkah jika tangan kanan merebut semangka dari tangan kiri atau sebaliknya?”
”Saya masih harus banyak belajar,” jawab Sang Murid, ”Ternyata, untuk merdeka pun harus belajar”.
Guru Merah Putih tersenyum, ”Merdeka itu tidak gampang, Nakmas. Bukankah, Revolusi Belum Selesai?”.
Semua diam termangu dan memandang lurus ke depan. Angin bertiup lembut membelai mereka.
”Makin banyak kursi tersedia, makin banyak memberi muka, makin banyak peluang, makin lebar interval toleransi yang diberikan …..” kata Guru Sepuh sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka mengangguk membenarkan.
Sang Murid menghela nafas panjang, ”Saya, saya sangat gamang. Tapi, juga tertantang …..”.
”Sekarang perhatikan penataan teritorialnya,” kata Guru Merah Putih, ”Ada 10 bagian. 1 bagian = 10 wilayah. 1 wilayah = 10 provinsi. 1 provinsi = 10 karesidenan. 1 karesidenan = 10 kabupaten. 1 kabupaten = 10 kota. 1 kota = 10 kawedanan. 1 kawedanan = 10 kecamatan. 1 kecamatan = 10 desa, dan 1 desa = 10 kelurahan. Satu di antara sepuluh tersebut adalah INDONESIA. Tapi ingat, sepuluh bukan angka mati, tergantung kondisi riil lapangan. Dengan begitu INDONESIA dapat ditemukan”
”Wih, tersusun rapi. Memudahkan kontrol …..”.
”Tapi memperpanjang birokrasi”.
”Tambah rumit”.
”Komentar kaum pragmatis,” sahut Sang Murid.
”Bagian Laut juga ada”.
”Birokrasi tidak gendut, tapi ramping”.
”Ya, bagi-bagi tanggung jawab,” Guru Merah Putih menimpali, ”Pada satu kelurahan, ada satu SD. Satu kecamatan, satu SMP, dan seterusnya sampai pada tiap bagian hanya ada satu Pendidikan Tinggi Strata 3”.
”Tiap lembaga tinggi negara mempunyai akar sampai di tingkat kelurahan?”
”Tergantung pertumbuhan masing-masing” jawab Guru Merah Putih, ”Eee, ….. rapat seperti stalagtit dan stalakmit. Jadi, ada yang ya, ada yang tidak”.
”Pintu gerbang kemerdekaan telah dibangun oleh para pendahulu. Teorinya, generasi penerus tinggal melewatinya. Tapi sayang, pintu gerbang tersebut masih tertutup rapat. Pertanyaannya, beranikah mereka masuk ke negeri yang benar-benar merdeka lewat jalan lain?” tanya Guru Sepuh.
Semua diam membisu.

OOO
14. Termangu di Depan Pintu Gerbang Kemerdekaan

Danang tersenyum puas. Pencariannya berhasil dengan gemilang. Ia sudah dapat menemukan sebagian jawaban dari tugas yang diberikan kepadanya.
”Jalan lain,”gumannya sendiri.
Jalan lain adalah jalan yang tidak biasa dilalui, jalan yang tidak umum, tidak lazim, tidak konvensional.

Para pengintai INDONESIA telah turun dari dinding tinggi yang dijaga Maha guru. Mereka telah kembali ke kelas dengan membawa segudang harapan, “Masih ada jalan lain untuk keluar dari kirsis multi dimensi dan sekaligus terlepas dari gelombang globalisasi”.
Para reporter media cetak dan elektronik segera menyerbu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Mereka ingin segera mengabarkan kepada khalayak, kepada dunia.
“Bagaimana dengan peluang untuk masuk ke sana?”
tanya seorang awak stasiun televisi swasta.
”Peluang terbuka lebar, tapi ada syaratnya …..,” jawab Sang Murid.
”Apa itu?”
”Maafkan kesalahan di masa lalu. Jangan pelihara dendam kesumat turun temurun. Tanpa itu, kita tidak dapat memusatkan perhatian ke hal-hal penting yang ada di depan mata. Ibarat orang menjalankan kendaraan, mata jangan fokus ke kaca spion. Ingat, tantangan di masa depan jauh lebih berat. Generasi muda harus diselamatkan”.
”Caranya?”
”Generasi tua wajib menyingkirkan ranjau-ranjau yang mereka pasang sendiri”.
Sementara itu, Sang Guru sudah sadar. Untuk beberapa saat ia diam memulihkan ingatannya. Berkali-kali ia mengusap matanya melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat, “Apakah aku terjebak dalam lorong waktu?”
Matanya nanar memandang sekeliling dengan seksama. Kacamatanya terlihat tergeletak malas di atas meja, di bawah jendela. Ia berdiri, memungutnya, memakainya, melepas lagi, memakai lagi, berkali-kali.
Tiba-tiba, ia berteriak histeris lepas kendali demi melihat hasil kerjanya yang centang perentang tidak karuan, mirip pappa’an tekkae’. Ia terus berteriak, dan malah lengkap dengan sumpah serapahnya. Panjang-pendek ia menyumpahi Maha Gurunya.
Kesadaran ke-Indonesia-an Sang Guru pun pulih! Penderita gila INDONESIA telah lengkap! Dari murid kecil, murid besar, mantan murid, sampai Sang Guru.
Gila INDONESIA bukan penyakit sembarangan, tak seorang pun dokter di dunia yang mampu memberikan resep obat penawarnya, tak seorang paranormalpun yang mampu mengobati dengan jampi-jampinya. Malah, mereka akan terjangkit pula jika berdekatan dengan penderita, bisa-bisa akan lebih parah penderitaan mereka.
Sang Guru segera keluar dari ruang UKS. Mulutnya mengomel tidak karuan. Dengan langkah kaki yang lebar ia mendatangi Maha Gurunya yang masih berdiri kokoh menjaga dinding tinggi. Tangannya berkacak pinggang, rasa hormatnya telah sirna.
Tentu saja kemunculan Sang Guru di muka umum dengan kondisi seperti itu menarik perhatian kuli tinta. Mereka segera saja menjadikan ikon beritanya, menjadikan maskot. Jagat Indonesia kembali gempar. Dunia kembali heboh karenanya.
“Mengapa Maha Guru berbohong?”
Maha Guru tersenyum sinis, “Bohong? Kamu saja yang goblok! Berpikir itu pakai ini,” katanya sambil menunjuk batok kepalanya, “….. jangan pakai ini …..,” lanjutnya sambil menunjuk lututnya.
Sang Guru terkejut, “Maha Guru benar-benar terlalu Katanya beradab, tapi kenyataannya biadab …..”.
”Eit, you orang jangan omong sembarangan. Kamu dan teman-temanmu minta gelar bangsawan modern telah aku beri. Kehormatan telah di tanganmu, lalu apa lagi?”
”Apa guna semua itu jika ternyata hanya membuat murid-muridku sengsara di luar sana?”
”Apa peduliku?”
”Itukah bentuk tanggung jawabmu, Maha Guru?”
Lagi-lagi Maha Guru tersenyum sinis. Ia membuang muka dan meludah, ”Puiiih!!! Kau minta pertanggung- jawaban dariku? Jangan mimpi! Kami kaum superior!!! Sedangkan kalian, apa? Hanya lalat yang menjijikkan!”
Sang Guru terperangah, ia undur ke belakang. Ia keluarkan semua isi sakunya. Kacamata dan berlembar-lembar ijazahnya yang menggunung terkumpul.
Dengan sekali hentak semuanya terlempar ke arah Maha Guru, ”Kukembalikan semua yang telah kau beri. Aku tidak butuh pengakuanmu, Pembohong!”.
Jagat Indonesia tersentak. Dunia pun terhentak. Tabir telah benar-benar terbuka. Pintu langit pun tebuka lebar. Dari atas sana, dewa-dewi menaburkan seribu bunga aneka warna. Wanginya menembus batas cakrawala.
Maha Guru termangu, malu. Tanpa membuang waktu, ia pun berlalu …..
Kembali jagat Indonesia tersentak. Semua mata tertuju pada satu titik. Tepat di tempat Maha Guru berdiri, di situlah Pintu Gerbang Kemerdekaan yang telah dibangun oleh Generasi ’45. Dan, kini pintu itu terbuka.
Sang Guru berlari …..

”Kok jadi seperti cerita fiksi”, guman Danang lirih, ”Atau, jangan-jangan ini hanya sebuah fiksi, ya?”.
Ia berusaha menghadirkan gambar Pintu Gerbang Kemerdekaan Indonesia ke dalam relung hatinya. Namun tidak berhasil. Mungkin, tempaan pengalaman hidupnya belum masak atau imajinasinya yang kurang bagus.
Sang Guru berlari menuju Pintu Gerbang Kemerdekaan. Entah sudah berapa kali, ia jatuh bangun tergelincir. Entah berapa butir peluh menetes membasahi sekujur tubuhnya, bajunya kotor tidak karuan, lencana kebanggannya berguguran. Sepatunya terlepas entah di mana. Kakinya luka entah kenapa. Ia tak peduli, ia terus berlari, dan terus berlari.
Ia kehabisan nafas dalam usaha mencapai gerbang keramat peninggalan para pendahulu. Ia ingin memeluk sepenuh hati. Ia ingin merengkuh sepenuh cinta. Ia ingin mencium sepenuh rasa. Ia biarkan air matanya tumpah membasahi bumi Pertiwi …..
Sang Guru bersimpuh, ”Oh, ternyata selama ini, dia berdiri di situ, di muka Pintu Gerbang Kemerdekaan. Dia sengaja menghalangi langkah maju bangsa Indonesia dengan cara lain,” katanya menyesali diri, ”Pantas saja aku tidak bisa melihat. Aku telah dibutakan dengan gelar-gelar bangsawan modern pemberiannya”.
Kepalanya tengadah. INDONESIA yang damai menyejukkan hati terhampar di sana. Semua tersusun rapi. Segalanya tertata apik. Seluruhnya terlihat cantik. Ia benar-benar melihat wajah lain dari tanah airnya. Ia hanya mampu berdiri termangu di depan pintu Gerbang Kemerdekaan, Mulutnya berdecak, kagum dengan kemolekan INDONESIA. Matanya terbeliak, silau dengan keagungan INDONESIA. Jantungnya berdebar dengan kebesaran INDONESIA. INDONESIA yang mempesona.
Setelah tenaganya pulih, Sang guru kembali. Ia berjalan gontai, tertatih-tatih. Kakinya diseret, perih. Layaknya pasukan kalah perang, ia melangkah.
Di depan pintu ke kelas, Sang Guru berdiri termangu, ”Masih pantaskah aku menjadi seorang guru? Masih pantaskah guru yang seharusnya digugu dan ditiru justru berlaku wagu dan saru dengan melakukan manipulasi edukasi berdiri di depan kelas?”.
Pertanyaan itu terus bergaung di relung hatinya, ”Aku malu, malu sekali”. Tangannya urung mengetuk pintu, ”Biarkah mereka berbahagia bersama guru mereka, besar bersama ilmu mereka. Aku tidak boleh merusak harapan-harapan mereka, tidak boleh merusak mimpi-mimpi indah mereka”. Ia menarik nafas panjang, balik kanan, dan melangkah pergi….
”Guru, jangan tinggalkan kami!”
Sang Guru menghentikan langkah kakinya.
”Guru, jangan tinggalkan kami!”
”Guru, jangan pergi!”
Sang Guru membalikkan badan. Terlihat olehnya semua rekan kerjanya, Guru Merah Putih, Guru Sepuh, dan Sang Murid bersama semua teman-temannya berlari menyongsong, ”Jangan pergi, Guru!”
Sang Guru tertegun, ”Aku ….. aku malu,” katanya terbata-bata, ” ….. malu sekali”.
”Bukan salahmu sepenuhnya, Guru,” kata rekan kerjanya ,”Kami juga terlibat”.
”Aku pun salah,” tukas Guru Merah Putih, ”Kita semua, bukan hanya guru. Tapi semua, semuanya ikut bersalah dan ikut terlibat dalam kesalahan massal ini’.
”Tidak ada yang bersih dari salah di negeri ini. Dari rakyat yang paling belakang sampai pemimpin yang paling depan, sama saja,” Guru Sepuh memfonis tanpa ampun, tanpa tedeng aling-aling, “Ketahuilah, aku yang paling bersalah! Sebab, akulah yang memberi warna dasar pada mereka! Yang lain-lain hanya meneruskan hasil kerjaku!”
Hening.
“Saatnya kita membuka lembaran baru, Guru,” kata Sang Murid menghibur Guru Sepuh.
”Nakmas Garuda benar,” sahut Guru Merah Putih, ”Kita buka lembaran baru yang putih, yang bersih, yang suci. Kita sudahi kisah pendidikan bohong-bohongan. Kita akhiri dusta mencerdaskan bangsa. Kita tutup semuanya”.
”Apakah kita mampu?” tanya Sang Guru ragu.
”Asal kita mau bersatu, melepaskan kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan untuk sesaat saja, sehari ini saja, kita mampu,” jawab Guru Sepuh,”…. Kewajiban kita sebagai manusia biasa hanyalah sebatas berikhtiar”.
Mereka berjabat tangan erat, seia-sekata dalam melaksanakan dharma, berbagi tugas, berbagi tanggung jawab dengan satu komintmen, ”Mencerdaskan peri kehidupan bangsa, bangsa yang bermartabat!”.
”Aku telah sempat berdiri di muka Pintu Gerbang Kemerdekaan,” kata Sang Guru.
”Maksud Anda?”
”Pintu Gerbang Kemerdekaan telah terbuka?”
Sang Guru mengangguk,”Selama ini, dia berdiri di sana. Dia menutup jalan masuk dengan caranya”.
Guru Merah Putih menghela nafas, ”Begitulah penjajahan modern. Kendaraan yang digunakan berbeda”.
”Sebuah permainan yang sangat halus, nyaris tidak kentara. Tapi, dampaknya sangat luar biasa”.
”Maaf, Guru,” sela Sang Murid, ”Apakah krisis demi krisis dan bermuara pada krisis multi dimensi yang melanda bangsa ini juga merupakan hasil pendidikan?”
”Ya,” jawab Guru Merah Putih, ” ….. langsung atau tidak langsung, suka atau tidak suka. Nakmas tentunya ingat bahwa dari pendidikan semua perubahan berawal”. Pendidikan masih bersifat abstrak. Bentuk konkrit dari pendidikan ada pada lembaga pendidikan. Tentu saja yang dimaksud dengan lembaga pendidikan tersebut adalah lembaga pendidikan formal, supaya tidak ribet, sebut saja sekolah. Mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi.
Sekolah tidak dapat dipisahkan dengan guru. Ketika guru mengatakan merah maka akan merah semuanya. Ketika guru mengatakan putih maka akan putih semuanya, begitu seterusnya.
”Namun, menimpakan semua kesalahan ini kepada guru juga kesalahan besar. Sebab, ketika para pendahulu memproklamirkan kemerdekaan, bangsa ini tidak serta merta Proklamator bisa melarang guru untuk bersafari karena kelelahan,” Guru Sepuh melanjutkan.
Sang Murid tercenung, ”Sudah ada titik terang. ”Lantas, apa yang dapat kita lakukan sekarang?”
”Kita mulai lagi dari awal,” sahut Guru Merah Putih, ”Namun, tidak menafikan hasil pendidikan yang telah ditorehkan oleh Sang Guru”.
”Maksudnya?” tanya Sang Guru.
”Pendidikan tetap jalan terus seperti format yang telah dibuat oleh Sang Guru,” jawab Guru Merah Putih, ”Hanya saja, format tersebut diperuntukkan bagi murid Kelas II SD, Kelas III SD, dan seterusnya. Sedangkan murid Kelas I SD menggunakan format baru”.
”Perubahan dilakukan setahap demi setahap?” ”Tepat sekali. Perubahan itu membutuhkan waktu 9 tahun. Sesuai dengan Wajib Belajar 9 Tahun yang telah dicanangkan oleh Presiden Suharto,” jawab Guru Merah Putih, ”Dengan begitu, institusi pendidikan tidak hanya merubah aransemen lagu tapi betul-betul merubah lagu. Lakon Petruk Jadi Ratu memang ramai, seru dan menghanyutkan. Tapi lihat, para niyogo sudah berantem. Sindennya ribut berebut mikrifon. Petruknya makin liar. Kadang si Petruk mengejar, menakut-nakuti, mengobrak-abrik, dan malah tidak jarang ia menginjak-injak penonton sampai pingsan bahkan ada yang sampai mati. Celakanya, Sang Dalang pun ikut-ikutan si Petruk pencilakan. Penonton mulai mual, enek, dan satu persatu pergi menjauh meninggalkan pertunjukan. Mereka masih mempunyai urusan lain yang jauh lebih penting”.
Semua diam membisu.

OOO
15. Banjir Uang

Halaman aula yang dijadikan kelas menjadi tempat diskusi dadakan menjadi riuh-rendah. Mereka bergerombol membicarakan INDONESIA yang lain, INDONESIA yang dinamis, INDONESIA yang sportif, INDONESIA yang tahu diri, INDONESIA yang tidak ribet dan ribut dengan segala macam pilihan, INDONESIA yang mempesona.
Kesadaran kolektif sangat diperlukan untuk sebuah perubahan besar yang mendasar. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Namun tetap dibutuhkan adanya tangan lain yang lebih kuat, bahkan paling kuat, tangan Tuhan.
Memperkuat fondasi Indonesia adalah INDONESIA harus dimulai dari dasar. Rehabilitasi fondasi dimulai dari murid Kelas I SD. Hal yang satu ini menjadi kewajiban Guru Sepuh untuk melaksanakan.
Sementara mempertegas warna Indonesia adalah INDONESIA harus dimulai dari puncak. Padahal, puncak adalah dari super body mantan murid. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh diri pribadi yang bersangkutan.
Ketika dua domain dominan bertemu pada satu titik singgung, meng-INDONESIA-kan Indonesia, maka tidak ada hal yang mustahil untuk terjadi.
“Saya menjadi tidak sabar, ingin masuk ke sana,” kata seseorang yang berjanggut, “Di sana ada tempat tersendiri bagai para agamawan, DAI. Berarti, di sana semua tokoh-tokoh agama mendapatkan tempat”.
”Parlemennya agamawan,” jawab lawan bicaranya.
”Mereka bersaing dengan sesama mereka sendiri,” sela yang lain lagi, ”A, maksud saya bersaing dalam hal pemahaman dan pengamalannya”.
“DAI wadah bagi darah putih”.
”DAI merupakan filter”
“Maksudmu?”
“Fatwanya bersifat mengikat”.
Danang tersenyum lebar ,”Harapan mereka sudah menjadi kenyataan,” gumannya.
Pada zamannya, Dewan Agama Indonesia (DAI) sudah sangat eksis. Malah sudah berdiri beberapa Departemen Agama (Depag) yang bernaung di bawahnya. Ada Depag Islam, Depag Kristen, Depak Katolik, Depag Hindu, Depag Buda, Depag Khong Hu Chu, dan sebagainya. Yang jelas, setiap agama mempunyai departemen agama sendiri.

Guru Merah Putih mengajak semua masuk kembali ke dalam kelas, ”Kita lanjutkan di dalam”.
Mereka bersegera untuk melaksanakan perintah. Bersegera untuk memenuhi panggilan. Bersegera menjadi gaya hidup. Bersegera menjadi tuntutan zaman.
Lelet sudah kedalu warsa! Lelet sudah basi! Lelet berarti masuk tong sampah! Harus dijauhi! Harus dimusnahkan dari muka bumi Indonesia!
“Pintu kamar mandi tertutup rapat. Ibu Pertiwi sedang mandi bersih dengan kembang tujuh rupa. Kotoran-kotoran yang menempel bekas suami kontrak harus digosok berulang kali. Dakinya hanyut bersama siraman air suci kesadaran. Ia tak mau melihat, juga tak mau dilihat.
Sejak semula, Ibu Pertwi menolak suami kontrak yang dicarikan oleh anak-anaknya. Suami kontrak hanya membuatnya menderita. Ia lelah harus berganti suami setiap lima tahun. Selera mereka rendah, menghalalkan segala cara seperti ajaran orang asing.
Suami kontrak hanya menyayangi anak-anaknya sendiri. Anak-anak dari suaminya yang terdahulu disia-siakan, disingkirkan, dan kadang malah dimusnahkan. Ia melayani suami kontrak dengan sangat terpaksa.
Kini, anak-anaknya yang telah beranjak dewasa. Mereka telah sadar. Suami kontrak hanya menyusahkan, hanya mau kekayaan Ibu, tidak mau anak-anaknya …..
Kesusahan Ibu Pertiwi pun sudah cukup. Linangan air mata Ibu Pertiwi pun sudah cukup. Emas, intan, hutan, gunung, sawah, lautan, dan semua yang dikeruk suami kontrak juga sudah cukup. Semua kekayaan Ibu Pertiwi harus dikembalikan untuk kemakmuran anak-anaknya.
Ibu Pertiwi melanjutkan bersuci dengan air suci kesadaran. Semua kotoran sudah hanyut. Sisa-sisa perkosaan suami kontrak telah hilang. Ibu Pertiwi telah kembali suci, kembali perawan.
Pakaian Ibu Pertiwi yang telah compang-camping dalam perjuangan menghidupi anak-anaknya telah disisihkan. Kini, anak-anaknya sedang mempersiapkan pakaian yang baru, dari bahan yang sama, dengan warna yang sama, dengan pola yang modis, pola yang ketemu juntrungnya.
Ibu Pertiwi harus terlihat cantik dan anggun sebelum bertemu suaminya, Noto Indonesia. Tapi, Ibu harus sabar menunggu sembilan tahun lagi. Kami anak-anakmu akan mempertemukan Ibu dengannya”.
Semua berdiri, memberikan penghormatan, tepuk tangan pun menggema di seluruh penjuru indonesia.
Sang Murid membungkukkan badan. Ia kembali ke tempat duduknya. Rupanya, saat berada di halaman, ia hanyut dalam imajinasinya.
”Tadi, saya ada mendengar tentang banjir uang,” tanya Sang Murid, ”Uang siapa gerangan yang akan dicairkan sampai banjir?”
”Benar, Guru,” yang lain menimpali bersahutan.
”O, itu,” jawab Guru Merah Putih,”Tadi, sudah aku katakan bahwa Sistem Bilangan Indonesia tidak menggunakan basis seribu (103) tetapi menggunakan basis seratus (102). Itu artinya, mundur selangkah.
Dengan adanya perubahan cara pendang tersebut dapat dilihat adanya satuan bilangan yang tercecer dan harus diambil serta dikembalikan pada tempatnya.
Dalam hal ini, sandaran kita adalah setiap kebenaran harus didukung oleh kebenaran sebelumnya. Bukan didukung oleh kebetulan sebelumnya.
”Bukankah tidak sesuatu yang terjadi secara kebetulan, Guru?” tanya Sang Murid.
”Jika tidak ada, hapus saja kosakata itu dari ranah bahasa Indonesia. Gampang, bukan?” jawab Guru Merah Putih sambil tersenyum.
Sang Murid mengangguk-angguk mengerti.
”Memang, ketika bilangan masih murni sebagai bilangan, hilangnya satuan bilangan tertentu tidak berpengaruh pada kehidupan. Tapi, ketika bilangan sudah masuk ke dalam pusaran uang maka dampaknya sangat luar biasa. Kualitas Rupiah tidak sepadan dengan kuantitasnya.
Artinya, ketika Negara menyebut ribu maka Negara akan merugi 10 % sebab, yang dimaksud dengan seribu adalah seratusnya seratus atau (104) bukan (103). Sedangkan ketika Negara menyebut juta maka Negara merugi 100 %, sebab yang dimaksud dengan sejuta adalah seribunya seribu atau (108).
Belum lagi ketika Negara menyebut miliar dan triliun. Terus masih dihilangkannya laksa dan keti, maka lengkap sudah penyebab kedodorannya rupiah”.
”Bukankah bilangan itu hanya sebuah sebutan dalam hitung menghitung. Apalah arti sebuah nama?” tanya Sang Murid
”Memang, bagi sebagian orang sana, nama tidak begitu berarti. Tapi orang sana pun ambigu. Coba misalnya, si Williem Shakespiere itu sendiri namanya diganti White Dog, apa mau? Dia akan mencak-mencak menolak.
Sedangkan bagi orang sini, nama menyimpan makna. Padanya tersimpan kekuatan, harapan, atau malah mungkin doa baginya. Bagaimana, Nakmas?”
Sang Murid mengangguk-angguk.
”Kembali ke masalah bilangan. Sebagai ”makhluk abstrak”, negara menguasai yang abstrak yaitu bilangan. Sebagai ”makhluk konkrit”, rakyat menguasai yang konkrit yaitu lambang bilangan atau deretan angkanya. Dengan begitu ada dominasi atas dan ada dominasi bawah, keduanya dapat sejalan”.
”Terus banjir uangnya?” celetuk yang gemuk.
”Uuuu …. Sabar sedikit, Kawan!”
Si gemuk menyeringai malu, ”Maaf”.
”Selanjutnya, Negara mengeluarkan rupiah melalui pintu-pintu yang telah disiapkan, salah satu di antaranya adalah gaji para pegawai dan para penyelanggara negara.
Ketika gaji mereka berbilang ribu, maka secara material, uang yang mereka terima setiap bulan hanya 10 % dari yang seharusnya. Sedangkan ketika gaji mereka berbilang juta maka secara material, uang yang mereka terima setiap bulan hanya 1 % dari yang seharusnya.
Jadi, jika kemudian ada di antara mereka yang kalian sebut dengan melakukan tindak pidana korupsi, sebenarnya, siapa yang salah?
Korupsi memang salah dan tercela. Tapi, itu nanti. Setelah sistem bilangannya diluruskan. Setelah uang mereka dikembalikan. Setelah hukumnya juga ditegakkan. Kesalahan mereka adalah tidak bisa bermain cantik, mengambil buah kelapa yang jatuh di lahan tetangga. Padahal bibit kelapanya memang condong, ketika jadi pohon juga condong, dan menurut faham tetangga buah yang jatuh di lahannya menjadi miliknya. Siapa yang salah? Mereka atau guru mereka? Padahal, yang menjadi gurunya guru mereka adalah tetangga itu sendiri.
Sesungguhnya, yang, saat ini, kalian sebut sebagai koruptor adalah pahlawan bagi kaumnya. Oleh karena itu kelak, sepanjang uang tidak dilarikan ke luar negeri mereka harus mendapatkan ampunan, apapun namanya”.
Kelas menjadi hening
”Gaji mereka yang mengendap selama sekian puluh tahun itu harus dikembalikan kepada yang berhak. Masalah ini harus tuntas dalam tempo sembilan tahun”.
”Berarti, sembilan tahun adalah masa transisi”.
”Tepat sekali. Selama masa transisi itu, bilangan uang dibetulkan. 1000 bukan seribu melainkan sepuluh ratus. 5000 bukan lima ribu melainkan lima puluh ratus. 10000 bukan sepuluh ribu melainkan seribu. 20000 bukan dua puluh ribu melainkan dua ribu. 50000 bukan lima puluh ribu melainkan lima ribu. Dan, 100000 bukan seratus ribu melainkan sepuluh ribu.
Kelas benar-benar hening.
”Wuiiih …. jadi banjir uang beneran …..”.

Danang merangkai apa yang dibaca dengan cerita turun temurun yang pernah didengarnya. Dahulu pernah terjadi banjir uang. Uang melimpah ruah, semua orang punya uang, bergepok-gepok, berpeti-peti, bahkan ada yang menyimpan dalam beberapa almari sampai penuh.
Dari banyaknya uang, mereka sampai mblenger yang menghitung dan sep-sepen yang melihatnya. Tidak jarang, uang gaji yang mereka terima tidak dihitung lagi, langsung dilemparkan ke dalam peti. Tidak ada cerita kantong kempes lagi. Kelaparan uang telah ditebus.
Orang Kaya Baru bertebaran di mana-mana. Jalan-jalan penuh dengan kendaran-kendaraan model terbaru. Rumah-rumah yang tadinya ala kadarnya berubah total, ada yang ikut model minimalis, ada pula yang ikut model maximalis. Tergantung selera mereka.
Mereka kuat membeli apa yang mereka mau. Pusat-pusat belanjaan menjadi tempat yang selalu ramai, menjadi tempat tujuan memenuhi kehausan akan nikmatnya dunia. Barang-barang warung, toko, swalayan, super market, sampai hyper market yang sebelumnya hanya menjadi barang impian telah berpindah ke rumah mereka.
Proyek-proyek padat karya semisal penghijauan, pebuatan gorong-gorong, pelebaran jalan, pembangunan jembatan, pengaspalam jalan, pembangunan rumah rakyat, dan semua fasilitas umum dirombak, diperbaiki, dilengkapi, bahkan dibangun baru jika dipandang perlu.
Masa banjir uang adalah masa keemasan Revolusi Pembangunan. Semua proto tipe hasil penelitian para mahasiswa dikeluarkan dari gudang perpustakaan, diadakan penelitian lanjutan. Yang layak, ditindaklanjuti. Sedangkan yang tidak layak, disisihkan.
Perpustakaan Perguruan Tinggi menjadi tempat terlarang bagi orang asing. Haram hukumnya bagi mereka untuk masuk tempat semaian ilmu. Mereka tidak lagi bisa seenaknya membawa kabur hasil penelitian generasi muda bangsa.
Saat itu, tidak ada pemutusan tenaga kerja, tidak ada kabar tidak ada pekerjaan. Angka pengangguran 0 %. Angka pertumbuhan, jangan tanya besarnya.
Harga barang dan jasa tidak naik, sebab sejak semula sudah ditetapkan bahwa negara menguasai bilangannya sedangkan rakyat menguasai lambang bilangannya.

Sembilan tahun setelah banjir uang, Rupidin sebagai penguasa rupiah mengadakan senering uang dengan koofesien 1 : 10000.
Selanjutnya dikenal kembali ketip dan sen. Rp 1= 100 ketip = 1 0000 sen. Senering diadakan secara periodik sampai akhirnya semua mata uang asing takluk-kluk pada rupiah. Rupiah tidak lagi berupa lembaran kertas melainkan emas. Rp 1 ,- seberat 5 gram 23 karat.
”Masa lalu penuh dengan romantika…..,” komentar Danang singkat.

OOO
16. Guru adalah Guru

Hiruk-pikuk kelas karena akan ada banjir uang telah usai. Mereka telah dapat duduk dengan tenang kembali. Wajah mereka ceria, senyum mengembang, hati berbunga-bunga, harapan mampu keluar dari krisis multi dimensi dengan selamat terpancar di mana-mana.
Berita gembira tersebut dengan cepat menyebar ke seentero jagat Indonesia. Suami istri saling berciuman, senang. Orangtua dan anak saling berpelukan, senang. Saudara dengan kerabat saling jabat tangan, senang. Kawan dan teman saling berangkulan, senang.
Hidup untuk masa depan, bukan untuk masa lalu. Yang lewat, biarlah sudah. Yang telah terjadi, biarlah sudah, Tempat masa lalu ada dalam kaca spion. Masa lalu biarlah menjadi kenangan, pelajaran, dan kantong inspirasi. Tiba saatnya bagi bangsa Indonesia untuk menatap ke depan, lurus dan fokus, Indonesia adalah INDONESIA.
Krisis multi dimensi ternyata menyimpan makna. Krisis multi demensi adalah masalah bersama. Bahkan, harus dipandang sebagai musuh bersama.
Karena krisis, mereka dapat bersatu. Karena krisis, mereka melupakan perbedaan. Karena krisis, mereka bisa berpikir jernih. Karena krisis, mereka bisa membaca peluang. Berbagai kesulitan tersebut tiada lain sebagai marka jalan untuk pulang ke haribaan Ibu pertiwi.
Guru Merah Putih menatap satu persatu wajah-wajah yang dirindukan. Wajah-wajah yang diharapkan akan mampu memimpin perubahan. Wajah-wajah penuh spirit semangat juang. Ia tersenyum, ingat masa lalunya.
Mereka adalah generasi pilihan zaman. Generasi yang tepat, berada di tempat yang tepat, dan pada saat yang tepat. Adalah bukan kebetulan semata jika kemudian mereka mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah kelangsungan hidup bangsanya.

”Guru, apa yang harus kami lakukan sekarang?” tanya Sang Murid membuka percakapan.
Guru Merah Putih tidak segera menjawab. Ia malah tersenyum lebar, ”Sudah siapkah kalian untuk melakukan perubahan?” tanyanya sesaat kemudian, ”Awas, negara yang ada di balik Pintu Gerbang Kemerdekaan bukanlah negara seperti yang pernah kalian pelajari. Bukan negara seperti yang pernah kalian lihat. Bukan pula negara seperti yang pernah kalian dengar.
INDONESIA yang berada di balik Pintu Gerbang Kemerdekaan berbeda dengan semuanya. Nyaris berbeda segalanya. Jujur saja, aku meragukan niat kalian’.
”Maaf, bukan maksud saya memotong pembicaraan Guru,” Sang Murid tiba-tiba menyela, ”Mengapa Guru meragukan kami?” ia sedikit merajuk.
”Masih adakah sisa keberanian untuk melawan kemapanan seperti dulu, ketika tahun 1945?”
”Guru jangan khawatir, semangat kami masih menyala, masih utuh, belum padam!” Sang Murid berusaha meyakinkan, ”Jika tidak ada perlawanan, tidak ada kemajuan,” lanjutnya menyitir pendapat Frederick Douglas.
Kembali Guru Merah Putih tersenyum,”Melawan dan menaklukkan orang lain, kaum lain, dan bangsa lain itu perkara mudah, gampang, dan kecil. Apalagi, jika mereka lemah. Asal mempunyai kekuatan, semua beres”.
Ia berhenti sejenak untuk memandang ekspresi Sang Murid, ”Yang hendak kalian lawan adalah diri pribadi kalian sendiri. Terutama bagi mereka yang saat ini menyandang nomor urut satu. Sanggupkah kalian mengembalikan pujaan kalian jika ternyata itu milik sah orang lain? Sanggupkah berbagi untuk itu?”
Kelas mendadak hening. Sang Murid menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ”Ini seperti Rahwana yang harus mengembalikan Sinta ….,” katanya.
”Bukan, ini seperti kisah Sangkuriang yang ingin menikahi ibunya,” jawab Guru Merah Putih cepat.
”Mengapa?”
”Sangkuriang adalah kata simbul untuk anak, Dayang Sumbi adalah kata simbul untuk ibu. Sangkuriang melambangkan rakyat, Dayang Sumbi melambangkan Ibu Pertiwi, tanah air, INDONESIA.
Betapapun hebatnya rakyat, mereka tetaplah rakyat, Ibu Pertiwi tetap menolak dipinang. Betapapun pandainya rakyat, mereka tetaplah rakyat, Ibu Pertiwi tetap menolak dipersunting. Betapapun kayanya rakyat, mereka tetaplah rakyat, Ibu Pertiwi tetap menolak dikawin. Sebab, mereka adalah anaknya, bukan suaminya”.
”Intinya?”
”Puncak-puncak krisis adalah saat terbaliknya perahu Sangkuriang”.
”Saya mulai bisa mengerti,” celetuk seorang pengiring Sang Murid yang juga berseragam murid.
”Saya juga,” sahut Bu Fulanah.
”Tadinya, aku buinguuung, pol,” sela yang dari tadi duduk di kursi paling pojok, ”Dulu, aku nggak pernah tertarik pada cerita-cerita masa lalu. Kupikir, itu cuma sekedar dongeng pengantar tidur”.
”Ternyata ada nilai politisnya …..”.
”Pesan moral dari nenek moyang kepada anak cucu disampaikan secara halus, penuh kiasan”.
Sang Murid tersenyum lebar. Ia sudah mengerti, ”Sangkuriang telah berganti berkali-kali, artinya Orde telah datang silih-berganti. Ibunya pun telah tenggelam berulang-kali, artinya Indonesia dilanda krisis tak henti-henti. Sangkuriang tidak juga sadar, ia masih terus merayu ibunya untuk mau dipinang, dipersunting, malah dikawin setiap lima tahun. Benar-benar anak yang tidak tahu diri. Yang ini tidak usah saya terjemahkan, hanya menyakitkan. Begitu kan kelajutannya, Guru?”

”Tepat sekali,” jawab Guru Merah Putih menimpali. ”Nakmas Garuda sudah bukan anak-anak seperti enam puluh empat tahun yang lalu. Nakmas, sudah dapat menarik makna tersirat dari cerita tersebut?”
”Sudah,” jawabnya singkat.
”Ohya, mungkin Nakmas bertanya, mengapa pengandaian Rama dan Sinta saya tolak”
”Benar, mengapa? Bukankah juga cocok dengan situasi kita saat ini?
”Ya jelas tidak. Memangnya, Nakmas Garuda mau disamakan dengan Rama atau Rahwana?”
Sang murid menggeleng, ”Sulit untuk memilih”.
”Lagi pula, kisah tersebut tergantung pada siapa penuturnya, ras Arya atau ras Dravida”.
”Mirip dengan kisah pisahnya Timor Timur?”.
”Ya, seperti itu”.
Wajah-wajah melongo terlihat mewarnai kelas. Satu dua orang menelan ludah. Dua tiga orang menggaruk-garuk kepala. Mereka harus berpikir keras untuk bisa mencerna arah tuturan antara Guru Merah Putih dengan Sang Murid.
”Saat kepompong pecah menjadi kupu-kupu semakin dekat. Saat lebah mempertemukan serbuk sari dengan kepala putik kian dekat. Musim kawin bagi ras manusia INDONESIA tinggal menunggu hari.
Kali ini, tidak boleh lagi terjadi perkawinan sesuka hati. Raja Burung tidak boleh kawin seenaknya dengan Ratu Sapi, meskipun ia gemuk dan montok. Raja Burung tidak boleh kawin dengan Ratu Ular, meskipun ia kaya dan semok. Raja Burung tidak boleh kawin dengan matahari, meskipun matahari sumber energi.
Mereka tidak akan salah pilih lagi. Perintah Kepala Negara disela-sela pembelajaran sangat jelas, ”Buang jauh-jauh kacamata tebal dari Sang Guru. Sebab, beliau juga sudah membuangnya dalam tong sampah.
Saat kebangkitan bangsa Indonesia yang tidur kelelahan setelah perjuangan panjang hampir tiba. Bangsa ini harus bangun dan melanjutkan perjuangannya. Tiap generasi harus menyelesaikan pekerjaan yang mereka buat sendiri. PR sejarah yang makin banyak harus dituntaskan. Jangan membebani masalah kepada generasi berikut. Generasi berikut sudah mempunyai masalah sendiri”.
”Berat, Guru,” celetuk Sang Murid tanpa sadar.
”Memang, berat untuk bisa menyelesaikan masalah yang dibuat sendiri secara kolektif. Oleh karena itu, jika tidak bisa menyelesaikan, berarti mereka bagian dari masalah itu sendiri. Jika demikian halnya, maka harus ada tangan lain yang akan menyelesaikan masalah mereka.
Generasi ’45 misalnya, harus menyelesaikan revolusi mereka yang belum selesai. Generasi ’66 harus mampu menurunkan harga seperti tuntutan mereka. Generasi ’98 pun harus mampu menyelesaikan reformasi tuntutan mereka. Tiga Orde telah datang silih berganti. Mereka memimpin negeri dengan gaya masing-masing.
Waktu telah memberi waktu kepada mereka untuk menunjukkan kekuatan. Waktu telah memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkuasa. Waktu telah memberikan peluang kepada mereka untuk membuktikan kemampuan. Waktu telah memberikan tempat kepada mereka untuk mewujudkan tuntutan menjadi kenyataan.
Sampai di titik ini, apakah semua generasi sudah mampu menyelesaikan tugas sejarah yang diembannya?”
”Belum!!!” jawab mereka serentak .
”Sudah,” sela satu suara dari baris tengah.
”Apanya yang sudah …..,” sanggah yang lain cepat.
”Kita tidak perlu berdebat,” tukas Sang Murid menengahi, ”Semua hasil kerja telah di depan mata. Kamu yang mengatakan sudah karena kamu pakai lagi kacamata itu. Hayo, lepaskan!”
”Ohya …..,” jawabnya. Ia cengar-cengir malu.
”Guru yang terlena dengan sihir global harus sadar. Bukan masanya bagi guru untuk grudak-gruduk, disuruh ke utara ke utara, disuruh ke selatan ke selatan. Mereka adalah kaum intelek, kaum terdidik, dan kaum pendidik bangsa”.
”Aduh, giliran kita dicuci,” celetuk Pak Franc.
Pak Jaim tersenyum, ”Begitulah seharusnya”.
”Loyal bukan berarti taat yang membabi buta. Kepada mereka bangsa ini berharap. Oleh karena itu, tidak boleh ada sekat di antara mereka,” kata Guru Merah Putih.
”Tidak ada perbedaan antara Guru PNS, Guru Guru Kontrak,Wiyata Bhakti, ataupun guru Swasta. Perkerjaan yang mereka emban sama, kewajiban mereka juga ”sama”, mencerdaskan peri kehidupan bangsa.
Sekat yang menjerat mereka harus dirobek. Dinding pemisah mereka yang tebal harus dijebol. Jurang pemisah mereka yang dalam harus ditutup rapat-rapat. Devide et impera terhadap guru harus dihapus.
Guru tak ubahnya dengan dokter, dengan petani, dengan nelayan, dengan peternak, dan sebagainya. Mereka adalah pegawai negara. Proteksi dari negara juga harus diberikan kepada mereka.
Guru yang terkotak-kotak dalam banyak bayangan dan dalam banyak status harus dilebur. Ketika pikiran, hati, dan tangan guru dapat disatukan maka menjadi tidak sulit bagi bangsa ini untuk menyelesaikan PR sejarahnya.
”Apakah mungkin menyatukan mereka, Guru?”
”Mengapa tidak?” jawab Guru Merah Putih sigap, ”Organisasi guru adalah tempat mereka mengabdikan diri. Pimpinan mereka sudah jelas, anggotanya sudah jelas, bidang garapannya pun sudah jelas. Lantas apa lagi yang mereka cari dengan mendirikan organisasi-organisasi tandingan di luar itu? Popularitas? Takut tidak mempunyai kawan? Atau menjerat mereka dari berbagai sisi?”
”Bukankah beras putih bukan karena ditumbuk melainkan karena bergesekan dengan sesamanya?”
”Itu memang benar adanya…… Masalahnya, mereka sudah memegang tugas dari negara yaitu mencerdaskan bangsa, mendidik murid-muridnya, dan menjaga mereka dengan memberikan pelajaran dari pukul sekian sampai pukul sekian karena pada saat itu, orangtua murid sedang sibuk-sibuknya mencari nafkah”.
Lantas, apa jadinya, ketika guru bersibuk-ria dengan organisasi di luar sekolahnya pada saat mereka seharusnya berdiri di muka kelas?” tanya Guru Merah Putih. Ia membasahi keronggongannya. Ia membiarkan pertanyaan- nya menggantung di awang-awang.
”Murid dipulangkan. Sementara, orangtua siswa tidak ada di rumah,” jawab Sang Murid tanggap.
”Itulah masalah klasik pendidikan kita”.
”Lantas, kapan mereka bisa bergesekan?”
”Ada waktu tersendiri, tapi di luar itu”.
“Maksud Guru?”
“Saatnya bekerja, bekerjalah. Saatnya istirahat, istirahatlah.Saat menyegarkan ingatan, refreshinglah”.
Sang Murid menghela nafas panjang, ”Berarti, organisasi-organisasi guru di luar sekolahnya tak ubahnya dengan sarang laba-laba di kolong tempat tidur”.
“Sebuah pembanding yang tepat!”
“Mereka hanya sibuk membangun sarang laba-laba untuk menangkap nyamuk atau paling tinggi kecoa sementara ada hal lain yang jauh lebih besar diabaikan, dan hal besar tersebut ada di depan mata”.
Guru Merah Putih tersenyum mendengar komentar Sang Murid tanpa tedeng aling-aling.

Danang ikut-ikutan tersenyum,”Mereka tidak maju ke depan, tapi malah sibuk mengurus bayang-bayangnya. Untung saja Kepala Negara segera meluruskan …..”.

OOO
17. Si Hitam

Seperti sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Sekolah Dasar Negara Indonesia hanya lahir satu kali dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Hanya satu kali, tidak lebih, tidak kurang. Umur sekolah tersebut juga hanya satu hari, tidak lebih, dan tidak kurang.
Gurunya tunggal, muridnya tunggal. Materi pelajarannya pun tunggal, memperbaiki taman larangan, taman raja. Dampak rusaknya taman larangan atau taman raja adalah carut marutnya sendi-sendi kehidupan.
Penyebab rusaknya taman tersebut sudah jelas, Guru Sepuh menanam kelapa condong. Menebang pohon yang telanjur lebat dengan buah yang ranum sama artinya dengan bunuh diri. Membiarkan tetap condong sama artinya dengan menggali lubang untuk diri sendiri.
Bagai tahi lalat tumbuh di mata, dicabut sakit, tidak dicabut juga sakit. Hanya saja, sakitnya dicabut hanya bersifat temporal, sedangkan sakitnya tidak dicabut akan permanen. Tahi lalat yang dicabut tidak boleh dibuang, tetapi harus ditempatkan pada tempat yang akan membuat makin manis si pemilik wajah.
Alumni Sekolah Dasar Negara Indonesia tidak menerima rapor, tidak menerima sertifikat, tidak mengantongi ijazah, atau apa pun yang semacam dengan itu. Selama menempuh pendidikan juga tidak ditarik biaya sepeserpun, bebas-bas, gratis-tis. Mereka tidak diharuskan membeli apa pun. Ilmu tidak untuk dijual.
Tempat Sekolah Dasar Negara Indonesia di Jantung Indonesia, yang masih berdenyut satu-satu.

Danang tercekat. Jantung dunia, ia sudah tahu sejak bersekolah di SD, ”Tapi, Jantung Indonesia? Di mana?” tanyanya dalam hati. Angannya melayang ke masa kanak-kanaknya, membongkar ruang memori ingatannya.
Ia merasa tidak pernah tahu letak Jantung Indonesia. Ia juga merasa tidak pernah mendengar jika Indonesia memiliki jantung. Dicarinya di atlas, tidak ada. Guru-gurunya pun tidak pernah menyinggung hal itu. Jadi, lengkap sudah ketidak-tahuannya.
Letak Jantung Indonesia terlalu amat sangat rahasia. Di sana, semua kutub peradaban bersinggungan. Medan magnet yang ditimbulkan berpendar-pendar, berkilau indah di siang hari, bersinar terang di malam hari. Berkas cahayanya yang lembut melayang, menukik, dan menghujam tajam dinding keangkuhan mayapada beserta penguasanya yang keluar dari rel yang seharusnya. Danang tidak pernah tahu bahwa kala itu, hanya ada beberapa orang saja yang mengetahui letak persis Jantung Indonesia. Mereka yang mengetahui pun akan menutup mulut rapat-rapat. Pengetahuan tentang Jantung Indonesia memang tidak untuk umum.

Nun jauh di luar tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran bersejarah bagi bangsa Indonesia, khalayak mulai berkumpul di padang yang maha luas.
Pada hari yang telah ditentukan, yang merah berkumpul dengan Merah, yang putih berkumpul dengan Putih, yang hijau berkumpul dengan Hijau, yang kuning berkumpul dengan Kuning, dan seterusnya. Dari jauh sangat sedap dipandang mata, bagai pelangi sembilan warna.
Mereka membentuk barisan yang panjang, panjang, dan panjang sekali. Mereka menyusun barisan dengan rapat, rapat, rapat sekali Para pemimpin sibuk mengatur dan merapikan mereka.
Mereka ingin segera keluar dari belenggu krisis multi dimensi yang menimpa bangsanya. Mereka juga tidak ingin menjadi santapan empuk globalisasi. Mereka tidak ingin tertinggal dan tidak mau ditinggalkan.
Patroli, siskamling, jaga gardu, dan ronda malam dihidupkan dan digiatkan kembali. Bangsa Indonesia harus benar-benar siap untuk menghadapi perubahan dan segala kemungkinan. Mereka telah benar-benar yakin seyakin-yakinnya bahwa ingin berubah ke arah yang lebih baik.
Memang, tidak banyak yang dapat mereka perbuat. Namun, sikap tanggap mereka terhadap kelangsungan hidup bengsanya patut mendapatkan acungan jempol. Komitmen mereka hanya satu, semua selamat dalam meniti jembatan yang terbentang di atas dua macam gelombang yang saling berbenturan, krisis multi dimensi di satu sisi dan krisis global di sisi lain.
Dua macam gelombang limbah peradaban manusia tersebut tidak perlu dilawan, hanya membuang waktu dan menguras energi. Sedangkan hasilnya, masih perlu diperdebatkan. Sementara perdebatan itu sendiri juga telah banyak menelan korban. Bukan hanya mereka yang berdebat tapi juga mereka yang tidak tahu menahu apa yang mereka perdebatkan.
Para militer yang berada jauh di perbatasan pun tidak kalah sibuknya. Mereka mengadakan pengawasan siang dan malam. Infiltrasi bisa saja merusak semuanya.
Polisi mengawasi lalu lalang orang-orang yang menuju barisannya. Kadang, mereka memberikan bantuan seperlunya. Mata mereka terbuka lebar terhadap keisengan sementara orang yang jahil.
Dunia mulai mau mengerti penyelesaian krisis ala Indonesia. Dunia mulai melirik Indonesia. Dunia tidak lagi memandang aneh terhadap kejadian di Indonesia. Dunia mengambil sikap positif. Belakangan, dunia ikut berharap.
Sudah berkali-kali xx49 melirik Sang Murid. Namun, yang dilirik tidak merasa. Berulang-kali ia melirik, berulang-kali pula ia harus kecewa. Terpaksa ia berdiri dan melangkahkan kakinya. Ia membisikkan sesuatu.
”Ohya?” Sang Murid terkesiap, kaget.
xx49 mengangguk pasti, ”Sebaiknya, Bapak keluar sebentar untuk melihat kesiapan mereka”.
Sang Murid segera minta ijin keluar. Dengan langkah lebar, ia menuju tempat orang-orang berkumpul.
”Apa yang mereka lakukan di sana?”
”Mungkin semacam show of obedience”.
Sang Murid tersenyum tipis, “Ada-ada saja”.
Sorak-sorai menggema, mereka telah melihat Sang Pemimpin yang mereka cintai muncul di kejauhan sana. Pemimpin yang mereka harapkan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Mereka telah lelah makan duri, mereka ingin makan roti.
Yel-yel diteriakkan oleh para ketua mereka dari ujung yang satu ke ujung yang lain, bersahutan, beriringan, membahana, menembus mega-mega, membelah angkasa …
“Hidup INDONESIA!”
“Hiduuuuuuuuuuup!”
“Hidup Pancasila!”
“Hiduuuuuuuuuuuuuuup!”
“Hidup NKRI!”
“Hiduuuuuuuuuuup!”
“Hidup UUD ‘45!”
“Hiduuuuuuuuuuuuuuup!’
“Hidup Merah Putih!”
“Hiduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuup!”
“Hidup Presiden!”
“Hiduuuuuuuuuuuuuuuuuuup!”
“Hidup INDONESIA!”
“Hiduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuup”.
Sang Murid menghentikan langkah kakinya. Rasa haru-biru menyeruak di relung hatinya yang paling dalam. Begitu dalam rasa cinta mereka pada tanah airnya, pada negaranya, pada bangsanya, pada para pemimpinnya.
Seumur hidup, baru kali ini mata Sang Murid berkaca. Ia menelan ludah berkali-kali, menenangkan hati.
Ia tak tak habis pikir, kekuatan apa yang telah menggerakkan hati mereka. Ia pun tak habis pikir, siapa yang menggerakkan kaki mereka. Ia juga tak habis pikir, siapa yang menyuruh mereka untuk berkumpul, berdesak-desak, dan berpanas-panas di tanah lapang.
Sungguh tidak patut ketika kecintaan yang tulus dari anak-anak bangsa berbuah penistaan, apa lagi pengkhianatan dari para pemimpinnya.
Setelah hatinya tenang, Sang Murid segera mendatangi kerumunan massa. Ia menenangkan mereka dengan bahasa yang mereka mengerti. Ia juga minta mereka untuk bersabar.
”Sabaaar, jangan tergesa-gesa. Nanti, kalau urusan saya dengan guru telah tuntas, kita selesaikan semuanya. Kita rampungkan Revolusi ’45. Kita wujudkan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera! Kita wujudkan mimpi-mimpi para pendahulu kita! Hidup INDONESIA!” katanya.
Sang Pemimpin telah meninggalkan kerumunan massa. Ia berjalan menuju kelas kembali. Hatinya penuh dengan sejuta rasa. Ingatan-nya melayang ke masa-masa perjuangan, saat tentara dan rakyat bahu-membahu mengusir sampah manusia dari persada Ibu Pertiwi.
”Ada sesuatu di luar sana?”
“Sedikit. Mereka telah tidak sabar, Guru”.
Guru Merah Putih tersenyum bijak, ”Begitulah sifat umum manusia. Maunya, semua urusan cepat selesai”.
”Mereka tidak tahu ada kendala teknis …..”.
”Ohya, aku sampai lupa. Semua sudah lengkap?”
”Tinggal si Hitam yang belum nampak”.
”Ke mana ia gerangan?”
Sang Murid tidak menjawab. Ia menunduk dalam-dalam. Ia berpikir keras. Dalam situasi seperti ini, seribu kurang satu masih belum lengkap.
”Ada yang tahu, ke mana si Hitam?”
”Tidak!” seisi kelas menjawab serentak.
”Tidak ada yang tahu?”
Semua mata berpandangan, mereka saling bertanya satu sama lain. Mereka saling menggeleng, tidak tahu. Mereka celingukan mencari. Si Hitam tidak ada di antara mereka, juga tidak ada di antara kerumunan massa.
”Sudah enam puluh empat tahun, ia menghilang,” kata Sang Murid tiba-tiba,”Ia tidak pernah kelihatan”.
”Terakhir, ia bilang akan ke suatu tempat”.
”Jangan-jangan, ia ditangkap Belanda …..”.
”Atau, jangan-jangan…. Ah, mudah-mudahan ia selamat …..”.
Kelas menjadi gaduh.
Guru Merah Putih berdiri dari tempatnya, ”Aku, tahu. Si Hitam masih melanjutkan perjuangan. Beberapa di antaranya ada dalam sel penjara kalian”.
Kelas terkejut, kaget.
”Melanjutkan perjuangan?” celetuk xx49.
”Melawan siapa?”
xx49 mengangkat bahu, ”Mungkin, malawan kita”.
”Itu, mustahil. Ada-ada saja”.
”Kami tidak mungkin memenjarakan kawan sendiri, Guru,” sanggah Sang Murid.
Seisi kelas membenarkan jawaban pemimpinnya.
Guru Merah Putih tersenyum, ”Kalian lupa dengan gaya berjuang si Hitam?”
Lagi-lagi seisi kelas diam. Para guru yang berada dalam ruang itu pun diam. Mereka tertunduk. Mereka harus berani membuka luka lama yang tidak kunjung sembuh, karena hanya dibungkus, tidak pernah dibuka untuk diobati.
“Ya, kami ingat,” jawab mereka satu persatu.
”Gaya berjuang si Hitam memang tidak wajar. Ia sering mencuri di gudang senjata. Ia pun merampok tuan-tuan kaya, kadang sampai membunuh. Tidak jarang ia melacur, menjual diri, menjual harga diri. Hasil perjuangan si Hitam tidaklah dimakan sendiri.
Si Hitam tahu perbuatannya tercela dan nista. Tapi, ia pun tahu hanya itu sumbang-sih yang bisa diperbuat”. “Maaf, Guru. Bukankah kita sudah merdeka?”
“Benar, kita sudah merdeka,” jawab Guru Merah Putih, ”Kita sudah merdeka. Tapi, mereka belum…..
Dari seriusnya berjuang, si Hitam tidak mendengar kabar bahwa tanah airnya sudah merdeka. Kalaupun kabar itu sampai kepadanya, ia hanya tertawa sinis,”Merdeka, kapan? Merdeka dari apa? Merdeka dari siapa?” Di mata si Hitam, yang berganti hanya oknumnya. Tapi, caranya tetap.
Ia masih sering melihat antrian panjang orang membeli beras, minyak, atau yang lain. Ia pun melihat para penguasa yang hidup makmur berlimpahan harta, yang entah dari mana asalnya. Sementara di pinggir rel-rel kereta api, di kolong-kolong jembatan, atau di bantaran-bantaran sungai rakyat jelata meregang nyawa. Bahkan, tidak sedikit yang terusir dari kampung halaman dan tercecer di jalan.
Padahal, mereka semua adalah anak bangsa yang dulu ikut bertaruh nyawa,” Guru Merah Putih menarik nafas, ” Jadi, sekecil apapun, bakti mereka harus dihargai”.
”Jangan kau tanya, apa yang diberikan negara kepadamu. Tapi bertanyalah, apa yang telah kamu berikan kepada negaramu,” Sang Murid mengingatkan dengan mengutip pendapat John F. Kannady.
Guru Merah Putih tersenyum, ”Itu kata orang besar agar orang kecil mau berbuat dan berkorban lebih banyak dan lebih banyak lagi untuk diri orang besar. Mereka sering mengatasnamakan negara untuk menutupi kepentingannya. Apalagi, dia dikelilingi kaum oportunis. Sehingga, dalam waktu singkat sudah mendapatkan faktor pembenar”.

”Aduh, tumpah,” seru Danang seraya bangkit dari duduknya. Popcorn yang ada pangkuannya bertebaran.

OOO
18. Amnesti Massal

”Berarti, pendapat itu salah?”
Guru Merah Putih tidak segera menjawab. Matanya menerawang jauh. Gambaran wajah si Hitam yang kedinginan, basah-kuyup kehujanan, tersaruk-saruk di malam hari, mengendap-endap masuk ke tangsi Belanda pada saat pecah Perang Kemerdekaan untuk mencuri senjata, peluru, atau makanan melintas dalam benaknya …..
”Bagaimana, Guru? Apakah pendapat itu salah?” ”Sekali-kali tidak salah. Hanya saja, agar tidak berat sebelah, harus ada pertanyaan penyeimbang”.
”Apa itu?”
”Begini ….. Negara, jangan kau tanya lagi apa yang diberikan rakyat kepadamu. Tapi bertanyalah, apa yang telah kau berikan kepada rakyatmu. Rakyat telah memberikan harta, tenaga, air mata, darah, dan bahkan nyawanya. Sekarang, apa balasanmu? Apakah sudah murah sandang pangan, adil, makmur, aman, tenteram, sejahtera? ataukah sebaliknya?”
Sang Murid bergidik, ”Seharusnya pertanyaan itu ditujukan kepada Kepala Negara,” katanya dalam hati.
”Si Hitam melihat yang sebaliknya. Lebih-lebih, ia terbiasa bekerja di kegelapan malam. Mata mereka jeli. Mereka bisa membaca celah”.
”Jadi harus bagaimana, Guru?”
Guru Merah Putih tidak segera menjawab. Ia batuk-batuk kecil. Matanya sempat beradu pandang dengan Guru Sepuh. Mereka tersenyum tipis.
Kelas hening menanti jawab.
”Bagaimana jika Si Hitam dibebaskan saja dari penjara?” Sang Murid mengutarakan pendapatnya.
”Setuju…..!” jawab sebagian tanpa pikir panjang.
”Mereka melakukan berbagai kejahatan. Ada yang mencuri, merampok, kadang membunuh” sela yang lain.
”Ada yang korupsi …..”.
”Itu karena mereka mempunyai kesempatan”.
”Yang meributkan korupsi kan mereka yang tidak mempunyai kesempatan. Coba kalau diberi kesempatan, tambah parah …..,” sahut yang lain.
”Mereka tambeng,” seru yang berbadan tegap dengan logat Jawanya yang kental, ”Suka unjukrasa. Kalau pemimpinnya ditangkap, tidak terima, unjuk rasa lagi …..”.
”Mereka suka melawan petugas ketertiban”.
”Sering melanggar hukum,” sambung yang lain.
”Mereka suka bikin ulah, bikin onar, menjarah ….. Pokoknya yang ribut-ribut, yang rusuh-rusuh …..”.
Guru Merah Putih membiarkan beberapa saat kepada mereka untuk mengutarakan pendapatnya masing-masing. Setelah lelah berbicara, mereka semua diam.
”Di muka sudah aku katakan. Yang mengatakan merdeka adalah kita, bukan mereka, bukan si Hitam. Ia masih merasa terjajah. Kemerdekaan belum menjamahnya. Jadi, jika mereka tetap melakukan perlawanan dengan pola seperti pada waktu revolusi fisik. Apakah itu salah?”
Kelas diam menanti.
”Berarti, mereka harus dimerdekakan,” kata Sang Murid memecah keheningan.
”Sekalipun mereka dimerdekakan sehari seribu kali, jika aturan main yang dipakai tetap maka hasilnya juga tetap. Aparat penegak hukum akan tetap disibukkan dengan perilaku si Hitam,” Sang Guru memberikan pendapatnya. Ia yang sedari tadi hanya memposisikan diri sebagai pendengar sudah bisa beradaptasi. Semua memberikan apresiasi terhadap pendapatnya.
”Merubah aturan main, berarti merubah hukum. Merubah hukum berarti merubah dasar hukum. Merubah dasar hukum berarti merubah sumber hukum. Dan, merubah sumber hukum berarti merubah dasar negara,” xx49 memberanikan diri berbicara soal hukum.
”Eit, kamu jangan ngawur. Pancasila sebagai dasar negara sudah final, tahu?” tukas Sang Murid cepat.
”Maaf sebelumnya,” jawab xx49, ” Sudah di tingkat elit, mungkin. Tapi, apakah hasil kerja mereka sudah pernah dibuktikan lapangan? Kalau setahu saya ….. belum”.
”Memang belum,” Sang Murid menjawab sengit.
”Makanya, perlu pembuktian”.
”Itu sama artinya dengan membenturkan Pancasila dengan Piagam Jakarta,” tukas Sang Murid lebih sengit, ”Bangsa ini akan pecah kembali, tahu?”
Seisi kelas diam termangu.
Kilasan-kilasan kelam tentang sejarah tanah air Pasca Proklamasi datang berlompatan memenuhi ruang ingatannya, dari yang disebut DI/TII, PRRI/Permesta, RMS, Mundurnya Hatta dari kursi Wakil Presiden, bubarnya Masyumi, Dekrit Presiden 5 Juli 1959, tentang G 30 S /PKI, runtuhnya yang disebut Orde Lama, tumbangnya yang disebut Orde Baru, sampai naiknya yang disebut Orde Reformasi, dan yang lain-lain. Sedikit banyak, semua makan korban. Belum lagi yang sebelumnya. Telah terlalu banyak korban berjatuhan.
Guru Merah Putih tersenyum, ”Kalian masih tetap seperti sekian puluh tahun yang lalu ….. Tidak berubah,
Dua ekor kelinci berebut sepotong roti
Datanglah seekor kera
Roti dipotong menjadi dua
Ditimang-timang berat yang mana
Berat yang kanan digigit
Berat yang kiri digigit
Lama-lama rotinya habis
Dua ekor kelinci tinggal menangis …..,” Guru Merah Putih membacakan puisi masa kecil mereka, ”Sementara kalian meributkan hal itu, kekayaan tanah air diangkut berkapal-kapal oleh kera ke negaranya. Kalian baru sadar setelah semuanya habis,” lanjutnya.
Serentak wajah seisi kelas tertunduk, malu.
”Isinya angkuh setengah mati. Wadahnya genit, sok jual mahal. Yang satu ke barat, yang satu ke timur. Alhasil, isinya tumpah ke mana-mana sementara wadahnya tetap kosong. Kalian hanya berebut tulang tanpa isi,” Guru Merah Putih menyadarkan, ”Dua hal yang bermakna jika dipersatukan, namun menjadi sia-sia manakala yang satu menafikan yang lain,” lanjutnya.
”Maksud, Guru?”.
”Ingat, setiap kebenaran harus didukung oleh kebenaran sebelumnya. Itu sudah rumus,” jawab Guru Merah Putih, ”Yang satu berhasil sebagai Manusia Indonesia tapi gagal sebagai Bangsa Indonesia. Sedangkan yang satunya, berhasil sebagai Bangsa Indonesia namun gagal menjadi Manusia Indonesia”
Sebagai seorang yang dikenal sangat cerdas serta menjunjung tinggi kejujuran intelektual, Sang Murid cepat dapat menangkap arah pembicaraan. Sungguh, beruntung sekali bangsa Indonesia mempunyai pemimpin seperti dia.
”Berarti, Piagam Jakarta dan Pancasila tidak perlu dibenturkan di lapangan. Keduanya harus digiring ke pelaminan untuk kemudian dikawinkan dalam satu upacara. Tanpa itu, cita-cita para pendahulu hanya tinggal cita-cita yang melangit, tidak membumi. Akhirnya, INDONESIA RAYA hanya ada dalam kata,” kata Sang Murid penuh semangat, ”Jangankan INDONESIA RAYA, INDONESIA –pun tidak,” lanjutnya terbata.
Guru Merah Putih mengacungkan dua ibu jari tangannya dan memberinya tepuk tangan.
Seisi kelas saling berpandangan. Mereka harus memeras otak untuk mengejar cara berpikir pemimpinnya.
”Pintu Gerbang Kemerdekaan tidak ada gunanya manakala ada rakyat yang tercecer. Sia-sia jerih-payah para pendahulu jika ternyata tidak semua rakyat Indonesia bisa melewatinya. Kau siap untuk mengawinkan keduanya?”
”Siap, Guru” jawab Sang Murid penuh semangat. Kedua belah tangannya mengepal erat, Pancasila di tangan kiri, Piagam Jakarta di tangan kanan”.
Guru Merah Putih tersenyum, “Jangan tergesa-gesa, Nakmas Garuda. Dengan pakaian seperti itu, dirimu bukan siapa-siapa ….. Kau tidak bisa mengawinkan keduanya”.
“Ohya, saya lupa …..”.
Kelas sudah mengerti, begitu pula khalayak ramai. Mereka sudah paham akan akar masalah bangsanya dan penyelesaian masalah tersebut. Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan, tak ada lagi yang perlu diperdebatkan.
Sang Murid kembali ke kamar kecil untuk berganti pakaian. xx49 masih setia mengiringinya. Bolak-balik ke kamar kecil di sekolah dasar yang bau, ternyata makin membuat mereka dewasa, tidak kolokan …..
“Perkawinan antara Pancasila dengan Piagam Jakarta akan aku lakukan. Jika ada yang keberatan, katakan sekarang ….. Atau kalian diam untuk selamanya,” kata Kepala Negara dengan suara jelas, tegas, dan berwibawa.
Semua diam membisu, ”Percuma kita berhasil besar sebagai Bangsa Indonesia jika ternyata gagal sebagai Manusia Indonesia. Percuma juga kita berhasil sebagai Manusia Indonesia jika ternyata gagal sebagai Bangsa Indonesia….. Diam berarti setuju, kalian tahu itu”.
Hening.
“Baiklah, upacara perkawinan antara keduanya akan segera aku laksanakan. Kalian sebagai saksi, Ibu Pertiwi beserta semua anak-anaknya menjadi saksi, dunia menjadi saksi, dan TUHAN menjadi saksi,” kata Kepala Negara.
Tanpa ada komando, seisi negeri mengheningkan cipta, mengembalikan semua persoalan negara bangsanya kepada Sang Maha Pencipta. Mereka pasrah dengan sepasrah-pasrahnya. Mereka tunduk dengan setunduk-tunduknya. Mereka telah menyatakan tobat dengan setobat-tobatnya, ”TUHAN, ampunilah kami”.
Mendadak awan hitam datang membayang. Langit pun gelap-gulita tertutup mendung pekat. Petir datang menyambar-nyambar, guntur bersahut-sahutan. Hujan pun turun dengan lebat membasahi Ibu Pertiwi.
Bumi tak mau ketinggalan menyaksikan pulihnya kesadaran nasional. Ia gerakkan lempengan-lempengan yang menyelimutinya di seluruh penjuru negeri. Kaca-kaca rumah bergetar, tanah bergoyang, bumi berguncang hebat.
Angin yang tadinya lembut, berubah menjadi ganas, meliuk tajam, manerbangkankan, menghempaskan sampah-sampah peradaban entah ke mana.
Bersamaan dengan selesainya itu semua …..

INDONESIA

1. Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Danang tercekat dalam pencariannya,”O, begitu jalan cerita lahirnya dasar negara INDONESIA…. Ternyata, Bapaknya Piagam Jakarta, Ibunya Pancasila.

Amnesti massal telah dimaklumatkan. Penjara pun dikosongkan. Seluruh isinya dikeluarkan, tanpa kecuali. Pintu maaf benar-benar telah terbuka.
Penebusan si Hitam selesai sudah. Ia dimandikan dengan kembang tujuh rupa. Tubuhnya yang kian legam selama dalam penjara mulai bersinar. Ia terlihat manis.
“Berarti, sejak saat itu penjara tidak digunakan lagi,” gumannya. Pada zamannya, lembaga peradilan ada mulai dari tingkat kelurahan sampai tingkat nasional. Jenis hukuman pun bermacam-macam ada denda, cambuk, potong tangan, diusir, atau hukuman mati. Proses hukum menjadi cepat, tidak bertele-tele, salah seleh.
Penjara menjadi tempat alternatif saat rekreasi.

Pada hari yang telah ditentukan, Bangsa Manusia Indonesia berbaris rapi, rapat, dan berlapis-lapis menuju Pintu Gerbang Kemerdekaan. Hati mereka telah bersatu.
Merah Putih dinaikkan. Panji-panji pun dikibarkan. Lagu-lagu perjuangan serentak dikumandangkan. Pintu Gerbang Kemerdekaan telah ada di depan mata. Mereka bersorak riuh-rendah. Mereka tak sabar. Langkah-langkah kaki dipercepat, dipercepat, dan makin dipercepat…..
“Lho, Pintu Gerbang Kemerdekaannya kok pindah ke sana. Tadi, terlihat ada di sini…..,” kata Kepala Negara.
Barisan Bangsa Manusia Indonesia pun berhenti.
“Iya, kemarin juga ada di sini,” tukas Sang Guru.
Mereka berpandang-pandangan, “Kita ke sana!”
Mereka harus melangkah lagi untuk menggapainya. Namun yang hendak digapai, ternyata menjauh ….. melangkah lagi, menjauh lagi, melangkah lagi, menjauh lagi, melangkah lagi, dan menjauh lagi …..
“Berhenti! Berhenti!! Kalian hanya membangun mitos di atas mitos. Sadarlah!!!” tegur Guru Merah Putih.
Barisan panjang pun serentak berhenti.
Guru Sepuh tanggap. Ia segera melepas selendang Merah Putihnya, kemudian menyerahkan salah satu ujungnya kepada Kepala Negara.
“Raja Garuda, berpeganganlah pada selendang Merah Putih, jangan sampai lepas. Bawalah Bangsa Manusia Indonesia seluruhnya Jangan ragu,” lanjutnya.

”Dengan selendang ini, Bangsa Manusia Indonesia akan melompat bersama-sama memasuki Pintu Gerbang Kemerdekaan??!” tanya Kepala Negara seakan tidak percaya.
Guru Merah Putih mengangguk , ”Ya,” jawabnya, “Guru Sepuh, jangan lupa, tempatmu …..!”.
”Jangan khawatir, aku tetap di belakang sendiri,” jawab Guru Sepuh penuh semangat.
“Mari, kita bentuk barisan yang rapat. Ingat, kalian harus berpegangan satu sama lain. Jangan sampai lepas, jangan sampai putus!” perintah Kepala Negara.
Perintah Kepala Negara adalah sabda pandita ratu, cukup diucapkan satu kali, dan tidak boleh dilanggar oleh siapapun. Adalah sebuah pantangan besar melanggar perintahnya menurut faham Bangsa Manusia Indonesia.
”Aku tunggu kalian di sana!” kata Guru Merah Putih seraya melompat jauh, menembus mega-mega, melintasi cakrawala, dan masuk ke dalam Pintu Gerbang Kemerdekaan nun jauh di sana. Ia sudah tidak sabar.
Kepala Negara menarik nafas dalam-dalam, barisan Bangsa Manusia Indonesia menarik nafas dalam-dalam, Guru Sepuh pun menarik nafas dalam-dalam. Mereka memusatkan perhatian, mohon pertolongan TUHAN YME.
”Aduuuuuuuuuuuh. Maaf, aku mau pipis!”
INDONESIA pun menanti.

Danang menghela nafas panjang. Ia hanya bisa membayangkan barisan panjang Bangsa Manusia Indonesia yang melompat bersama, meliak-liuk di angkasa, mengikuti irama Tarian Raja Garuda, melintasi dua samudera yang maha luas, Samudera Krisis Multi Dimensi dan Samudera Krisis Global dan …………………………………… ”Wuusssshhhhhsssssss” ………………………………………………..

TAMAT
Tentang Penulis

Sugiarno, bukan siapa-siapa.
Menurutnya, guru bukan sekedar agen perubahan.
Guru adalah GURU.
GURU adalah pencipta perubahan.
Jika hanya sekedar agen perubahan maka
bukan GURU namanya,
tetapi CANTRIK
(Pegawai Guru dengan profesi guru)

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke 7. Gila Indonesia

  1. sugiarno berkata:

    Sudah hampir setahun, sambungannya belum juga disambung🙂

  2. nusantaraku berkata:

    Oh..gitu.
    Saya sendiri tidak begitu senang memuji jika memang tidak ada yang patut dipuji.
    Saya sudah menghabiskan 7 bagian, dan isinya cukup bagus, selingan fiksi (atau harapan) dengan nilai-nilai kultur mendasar.
    Dengan penyuntingan beberapa bagian, saya kira tulisan layak dibaca oleh kaum sastrawan.
    Bagaimana jika tulisan ini, bapak kemas lebih baik lalu coba masukin ke beberapa penerbit yang “bergairah” seperti Bentang.
    Mungkin butuh waktu.
    Sebenarnya saya mau mengulas tulisan bapak di blog saya dan merujuk di artikel ini. Tapi, saya khawatir dengan merujuk melihat tulisan bapak ini ada pihak tertentu memplagiatkan tulisan ini untuk dikomersilkan.
    -sambung-

  3. sugiarno berkata:

    Mas Nus terlalu memuji, saya jadi ge er … Sebenarnya, novel Gila Indonesia hanya wajah lain dari Revolusi Bilangan Start Sebuah Keadilan agar sedikit lebih ringan dan membumi. Oleh karena ide dasar sudah ada maka proses penulisannya tidak sampai berbilang bulan. Ohya, siapa pula yang mau menerbitkan novel tsb.? Dan, siapa pula yang mau membacanya? Mas Nus ada-ada saja … Salam.

  4. nusantaraku berkata:

    Ada 18 bagian. Saya baru baca 5 bagian. Pada bagian 1 saya harus baca berkali-kali siapa itu Murid “berbintang”.
    Setelah mulai masuk bagian ke-3 dan ke-4, saya coba cari di google, apakah ada novel “Gila Indonesia” telah ada.. dan rupanya tidak ada.
    Rupanya tulisan ini belum diterbitkan…
    Padahal, dari 5 bagian yang sudah baca, sastra bapak ini sangat bagus. Saya pikir tulisan bapak jika diedit dengan kondisi-kondisi yang sedikit “diharmonisasi”, maka sangatlah layak menjadi sebuah novel pendidikan yang bermutu di Indonesia. Dan tulisan ini cukup layak jika disandingkan dengan tetralogi Laskar Pelangi. Dan saya akan berharap menjadi pembeli pertama.
    Jika boleh murid bertanya, “berapa lamakah guru menulis ini?”
    “Berencanakah guru untuk menerbiktan tulisan ini dalam bentuk novel pendidikan untuk masa depan?”
    Salam laksaan terima kasih.
    -bersambung- pra 20 Mei 2009

  5. nusantaraku berkata:

    Dari tadi saya baca berulang-ulang. Masih terlalu dini menyimpulkankan ceritera seorang guru.
    Salam.
    -bersambung-

    • sugiarno berkata:

      Mas Nus, tidak usah tergesa-gesa. Moga sebelum 20 Mei 2009 sudah bisa menyimpulkan isi Gila indonesia. Ohya, jika takut terjangkit “virus” Gila Indonesia mending pencariannya dihentikan. Salam.

Komentar ditutup.