9. Golek Kencono

9. GOLEK KENCONO

Terkuak

Terkuak


BABAK I

Kramagung
(Syahdan, Baginda Jayanagara sedang mengadakan pertemuan agung bersama patih, mentri, senopati dan tidak ketinggalan keluarga kerajaan. Semua duduk dengan tertib di tempat masing-masing menunggu titah Baginda. Di kejauhan sana sayup-sayup terdengar suara gamelan mengalun merdu).

Adegan I

Baginda : Kakang patih, hari ini aku ingin mendengar laporan tentang keadaan rakyat iiiKediri
Patih : Mohon ampun baginda. Mereka dalam keadaan aman, tentram, rukun dan damai
Baginda : Syukurlah, tapi…
Patih : Tapi apa baginda ?
Baginda : Tapi kamu tidak ABS kan ?
Patih : ABS ? Apa itu baginda ?
Menteri 1 : ABS itu Asal baginda Senang
Menteri 2 : Bukan, ABS itu Asal Bapak Senang
Patih : Kalian sok tahu…
Menteri 2 : Tahu aja. Dulu kan sekolah…
Baginda : Mereka benar, kamu tidak ABS kan ?
Patih : Ampun beribu ampun Baginda. Mana mungkin hamba berani SMS baginda ?
Menteri 1 : ABS Tih, bukan SMS
Patih : Ya ya ABS
Baginda : Kamu yakin dengan laporanmu kan ?
Patih : Yakin Baginda, hamba tidak biasa ABS
Baginda : Bagus. Kalian para pejabat dan pegawai istana jangan biasa ABS, itu tidak baik
Semua : Baik baginda
Baginda : ABS itu akan menyengsarakan rakyat
Semua : Siap Baginda
Baginda : ABS itu mental penjilat
Semua : Siap Baginda. Kami tidak akan jadi penjilat
Baginda : Katakan segala sesuatu apa adanya
Semua : Siap Baginda

Adegan II

(Permaisuri, Dewi Sekartaji, Dewi Sekararum dan para emban keluar. Mereka menyembah Baginda dan duduk di tempat masing-masing)

Permaisuri : Maaf Baginda, kami terlambat
Baginda : Ada apa gerangan ?
Permaisuri : Tidak ada apa-apa. Hanya ada sedikit masalah
Baginda : Apa ? lho kamu menangis Sekartaji ?
Permaisuri : Itulah masalahnya. Dia…
Sekararum : Dia makan tidak hati-hati, nasinya tumpah
Permaisuri : Akhirnya bajunya kotor
Sekararum : Kami harus menunggu Romo
Emban 1 : Ah bohong. Wong tadi Dewi Sekartaji sudah dandan cantik
Emban 2 : Ya, terus mereka yang menumpahkan nasi
Emban 3 : E,e…kalian jangan memfitnah ya,fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan lho…
Emban 1 : Aku lihat sendiri
Emban 2 : Aku juga melihat dengan mata kepalaku sendiri
Emban 3 : Oo….
Sekararum : Sudah-sudah, kalian jangan ribut di sini. Awas ya nanti…
Baginda : Apa kata mereka anakku?
Sekararum : Kata mereka Kangmbak Sekartaji itu manja dan ngalem
(Para emban berpandang-pandangan)
Baginda : Oo…(Baginda diam sesaat). Sekartaji kamu sudah besar. Jangan manja, itu iiikolokan namanya
Sekartaji : Ya Romo…
Baginda : Kamu harus patuh pada ibumu, jangan memalukan
Sekartaji : Ya Romo…
(Para emban menggeleng-gelengkan kepala dengan iba)

Emban 1 : Padahal yang manja Dewi Sekararum
Emban 2 : Tapi yang dijelek-jelekkan Dewi Sekartaji melulu
Emban 3 : Kasihan anak itu
Emban 1 : Ya, kasihan sekali
Emban 2 : Maklum namanya juga ibu tiri
Emban 3 : Tapi ibu tiri yang baik juga ada. Tetanggaku di desa jadi ibu tiri, tapi sayang iiikepada anak-anak suaminya
Emban 1 : Kamu benar. Ibu tiri juga ada yang baik
Emban 2 : Ya, akhirnya harus sabar, ini namanya cobaan
Emban 1 : Sabar, subur
Emban 3 : Nggak sabar, cepat masuk kubur.

Adegan III

(Panji Asmarabangun keluar, diiringi tiga orang senopatinya. Mereka menghaturkan sembah lalu duduk)

Baginda : Pantas saja, sejak kemarin burung prenjak riang bernyanyi. Rupanya Nakmas iiiPanji yang datang. Apa kabar Nakmas ?
Panji : Alhamdulillah, sehat Paman. Salam sejahtera dari Ayahanda
Baginda : Ya ya, salam ayah Nakmas aku tarima. Paman ikut prihatin setelah mendengar iiiNak Mas disengat nyang-manyang
Panji : Saya jadi seperti ini, Paman
Baginda : Tidak apa-apa, Nakmas jadi tambah imut dan jadi makin cakep ha … ha … ha …
Permaisuri : Nakmas Panji…
Panji : Ya Bibi
Permaisuri : Sekali-sekali ajaklah adikmu Sekararum jalan-jalan
Emban 1 : Lucu, Denmas Panji kan tunangan Dewi Sekartaji
Emban 2 : Memang lucu permaisuri kita Yu…
Emban 3 : He eh. Sepertinya nggak rela Denmas Panji bersanding dengan Dewi Sekartaji
Sekararum : Kakang Panji, kakang Panji, bajuku bagus kan ?
Panji : Ya, bagus sekali
Sekararum : Ini kain dari negeri Cina lho kakang
Panji : Wow, jauh sekali
Sekararum : Penjahitnya orang pilihan
Panji : Cck…cck…Tapi sebaiknya kita mencintai produk dalam negeri Diajeng ooooooooSekararum
Baginda :Benar, Nakmas. Kita harus mencintai produk negeri sendiri. Dengan begitu iiperekonomian rakyat akan berjalan
Panji : Paman, boleh saya bicara dengan Diajeng Sekartaji ?
Baginda : Oo…boleh-boleh. Anakku Sekartaji. Tuh…Nakmas Panji ada perlu denganmu
Sekartaji : Baik Romo
(Sekartaji menghampiri Panji Asmarabangun, mereka menepi)

Adegan IV

Panji : Diajeng, kulihat matamu sembab, ada apa ?
Sekartaji : Nggak apa-apa kakang. Cuma…kemasukan debu
Panji : Oo…kukira ada apa…
Sekartaji : Apa yang dibawa para punggawa itu kakang ?
Panji : Oh ya…kakang hampir lupa. Itu oleh-oleh diajeng
Sekartaji : Oleh-oleh ? kakang baik sekali. Tapi biarlah diajeng Sekararum memilih terlebih iidahulu
Panji : Hatimu begitu mulia diajeng…
Sekartaji : Sebagai saudara tua, saya harus mengalah
Panji : Diajeng benar. Tapi jangan terus-menerus mengalah itu tidak baik juga. Mengerti iimaksudku diajeng ?
Sekartaji :Ya kakang. Nasihatmu akan kuturuti
Panji : Sebentar diajeng
(Panji memetik sekuntum bunga lalu menyuntingkannya di telinga Sekartaji)

Panji : Kita ke dalam lagi ya…
(Sekartaji mengangguk. Mereka lalu bergabung dengan yang lain, dan selanjutnya duduk di tempat semula)

Adegan V

Baginda : Ehm…ehm…Ada hal penting yang akan disampaikan nakmas ?
Panji : Tidak paman. Saya hanya mengantarkan hadiah untuk dua putri yang cantik ini
Sekararum : Hadiah ?
Permaisuri : Kau harus memilih terlebih dahulu
Sekararum : Ya jelaslah…
Permaisuri : Pilih yang terbaik (Sekararum mengangguk)
Baginda : Baiklah nakmas, kau kuijinkan menyerahkan hadiah itu
Panji : Baik paman
Sekararum : Aku sudah nggak sabar. Apa ya kira-kira isinya ?
Panji : Adikku yang cantik-cantik. Kakang bawakan oleh-oleh untuk kalian. Silakan iiipilih
Sekartaji : Biarlah diajeng Sekararum memilih terlebih dahulu
Sekararum : Harus itu, kakak harus tahu diri
(Sekartaji menghela nafas, Sekararum berdiri)

Emban 1 : Ada putri raja kok seperti itu
Emban 2 : Nggak pantes
Emban 3 : Seperti anak…
Sekararum : Kalian jangan ngrumpi ya
Emban 2 : Tidak tuan putri
Emban 1 : Kami hanya membicarakan pakaian tuan putri yang pas dan cantik
Emban 3 : Benar tuan putri
Sekararum : Ya sudah (Sekararum mendekati Panji Asmarabangun. Ia memilih-milih…)

Adegan VI

Panji : Pilih yang mana diajeng ?
Sekararum : Yang mana ya…
Panji : Terserah diajeng
Sekararum : Aah, aku jadi bingung. Yang ini bungkusnya bagus. Yang ini bungkusnya jelek ii(Sekararum mendekati ibunya). Ibu aku pilih yang mana ya ?
Permaisuri : Lihat saja bungkusnya. Bungkus baik berarti isinya bagus
Sekararum : Berarti yang ini isinya jelek
Permaisuri : Ya jelas, bungkusnya saja tidak meyakinkan apalagi isinya
Sekararum : Isinya pasti juga jelek
Permaisuri : Pasti
Sekararum : Kalau begitu aku pilih yang ini saja (Sekararum mendekati Panji Asmarabangun)
Panji : Bagaimana diajeng ?
Sekararum : Aku pilih yang ini
Panji : Nggak nyesel ?
Sekararum : Tidak, ini dibungkus dengan rapi. Isinya tentu barang mahal
Panji : Bagaimana dengan yang ini ?
Sekararum : Bungkusnya dari daun pisang. Paling-paling isinya de-odeh. Trimakasih ya iiikakang…
(Sekararum kembali ke tempatnya. Sekartaji menghampiri Panji)

Adegan VII

Panji : Diajeng, kamu mendapat hadiah ini dariku. Bagaimana ?
Sekartaji : Tidak apa-apa kangmas
Panji : Kamu tidak dapat memilih
Sekartaji : Tidak apa-apa
Panji : Bagaimana kalau isinya jelek ?
Sekartaji : Tidak apa-apa. Apapun isinya, hadiah dari kangmas sangat berarti bagiku
Panji : Oh ya ?
Sekartaji : Percayalah padaku kangmas
Panji : Ya ya…kangmas percaya padamu. Percaya seratus persen
Sekartaji : Terimakasih ya kangmas
(Panji mengangguk, Sekartaji kembali ke tempat semula)

Adegan VIII

Baginda : Trimkasih nakmas
Panji : Sama-sama paman
Baginda : Paman akan berburu rusa, nakmas mau ikut ?
Panji : Kebetulan saya juga ingin berburu paman
Baginda : Kalau begitu bergabunglah. Kakanng patih siapkan kudaku
Patih : Siap baginda (Patih berdiri mendekati pengawal) K amu, kamu, kamu, siapkan iikuda baginda
Pengawal : Siap Tih (Pengawal masuk)
Baginda : Permaisuri, anakku dan semuanya. Kalian aku tinggal berburu
Permaisuri : Selamat jalan kanda
Sekararum : Selamat jalan romo
Sekartaji : Hati-hati romo
Baginda : Ya ya…baik-baiklah kalian semua
(Baginda, Panji, patih dan pengawal masuk)

Adegan IX

Permaisuri : Tidak kamu lihat anakku ?
Sekararum : Ya iyalah, inikan hadiah istimewa
Permaisuri : Mari ibu bantu…
(Peramaisuri dan sekararum membuka bungkusan oleh-oleh)

Sekararum : Uh… isinya kok begini. Ibu…ibu kangmas Panji nakal…
Permaisuri : O…kangmasmu itu mengajak bergurau. Coba Sekartaji, buka hadiah unttukmu
Sekartaji : Baik bunda…
(Sekartaji membuka bungkusan oleh-oleh)

Sekartaji : Au…golek kencono
Semua : Golek kencono ?
Emban 1 : Den Panji pandai memilih hadiah
Emban 2 : Ah, kapan ya aku punya tunangan seperti dia. Pasti menyenangkan
Emban 3 : Ya meneynangkan to, punya tunangan seorang pangeran, tampan, setia, iiiipengertian. Wah…menyenangkan sekali
Emban 1 : Kamu jangan ngelantur
Sekartaji : Emban, tolong pasangkan gendongannya
(Emban 1 menolong Dewi Sekartaji memasang gendongan)

Sekartaji : Terimakasih
(Sekartaji menggendong golek kencono sambil sembang dan menari
Adegan X

(Sekararum merajuk, ia iri kepada Sekartaji)

Sekararum : Bunda, bunda. Mintakan golek kencono bunda…
Peramisuri : Ha ???
Sakararum : Cepat bunda
(Sekararum terus merajuk, sementara itu Sekartaji terus menari riang)

Adegan XI

Permaisuri : Sekartaji !!!
Sekartaji : Ya bunda…
Permaisuri : Gara-gara golek kenconomu. Sekararum merajuk. Sekarang mana golek iiiikenconomu itu ! Mana!
Sekartaji : Jangan bunda
Permaisuri : Mana !
Sekartaji : Jangan bunda
(Permaisuri terus memaksa, Sekartaji terus menolak. Permaisuri berusaha merebut golek kencono dan gagal)

Permaisuri : Baiklah kalau itu maumu, pengawal !
(Pengawal 1 dan 2 keluar)

Pengawal 1 : Siap permaisuri
Permaisuri : Tangkap Dewi sekartaji, kurung dia ! cepat !
Pengawal 1 : Siap permaisuri
(Dewi Sekartaji dibawa masuk)

Sekararum : Dia harus diberi hukuman bunda
Permaisuri : Tenang sayang, pengawal !
Pengawal 2 : Siap permaisuri
Permaisuri : Pergi ke wisma Kurungan, potong rambutnya sampai gundul !
Semua : Gundul ???
Sekararum : Iya, sampai gundul
Permaisuri : Ya gundul, dul dul ! Kau dengar ?!
Emban 1 : Jangan permaisuri, jangan…Hukumlah saya saja
Emban 2 : Kasihan permaisuri. Jangan, saya saja yang dihukum
Emban 3 : Mohon permaisuri pertimbangkan kembali. Hukuman itu terlalu berat
Permaisuri : Diam kalian ! Jangan ikut campur !
Sekararum : Cepat sana pergi !
Pengawal 2 : Siap tuan putri
Permaisuri : Kalau sudah, bawa dia kemari
(Pengawal menyembah, lalu masuk. Permaisuri dan Sekararum tertawa-tawa. Mereka merasa senang)

Sekararum : Pasti lucu bunda
Permaisuri : Ya jelas to…namanya diganti saja, menjadi…menkjadi putri gundul…
(Permaisuri dan Sekararum terbahak-bahan lagi. Pengawal 1 dan pengawal 2 membawa Sekartaji keluar)

Adegan XII

Emban 1, 2, 3 : Putri…putri… (Mereka menangis)
Permaiasuri : Lucu…lucu…putri gundul
Sekararum : Kalian harus memanggilnya putri gundul
Permaisuri : Ayo anakku yang cantik. Kita beristirahat
Sekararum : Baik bunda
(Permaisuri dan Sekararum masuk sambil tertawa-tawa. Sekartaji menangis)
Emban 3 : Bagaimana ini ?
Emban 2 : Ya bagaimana…baginda pasti murka
Emban 1 : Permaisuri pasti mengadu yanng tidak-tidak. Sabar tuan putri…
Emban 3 : Iya sabar tuan putri. Ya ALLAH yolonglah tuang putri ya ALLAH
Emban 2 : Meski bukan anak sendiri mbok ya jangan seperti itu…
Emban 1 : Tidak punya peri kemanusiaan
Emban 2 : Kamu ini bagaimana, yang lengkap gitu lho…tidak punya peri kemanusiaan yang iiadil dan beradab
Emban 1 : He-eh he-eh , kamu bener Yem
Emban 3 : Amit-amit jabang bayi. Ada orang kok seperti itu…

Adegan XIII

Sekartaji : Emban Siyem…
Emban 1 : Iya…iya tuan putri
Sekartaji : Bagaimana ini ? Aki gundul…aku malu…
Emban 1 : Tuan putri harus tabah dalam conaam ini
Sekartaji : Aku tidak kuat…tidak kuat…emban. Kanjeng ibu, mengapa hidupku jadi begini iiiibu ? Aku ikut ibu saja…
Emban 2 : Sudah tuan putri. Tidak baik lho…
Emban 3 : Benar tuan putri. Kita tidak boleh meratapi nasib
Sekartaji : Tapi…tapi…(Sekartaji mengangis lagi). Romo pasti murka melihatku seperti ini
Emban 1 : Lantas bagaimana ?
Sekartaji : Aku akan kabur dari istana
Emban : Kabur ? Ke mana ?
Sekartaji : Ya…kalian mau ikut ?
Emban : Pasti
Emban 1 : Kemanapun tuan putri pergi, kami akan ikut…
Emban 2 : He-eh he-eh aku juga ikut
Emban 3 : Aku juga. Aku yang akan melindungi tuan putri dari bahaya…
Emban 1 : Memangnya kamu bisa silat ?
Emban 3 : bisa. Ada jurus Ciparut, begini…begini…Jurus Cipete, begini…begini…
Emban 2 : Berarti kita aman…
Sekartaji : Emban Minul
Emban 2 : Iya tuan putri
Sekartaji : Siapkan cadar dan caping. Aku akan menyamar jadi laki-laki
Emban 2 : Baik tuan putri
Emban 3 : Kita juga menyamar jadi laki-laki saja ya…
Emban 1 : Setuju-setuju
Sekartaji : Kalau begitu mari kita mempersiapkan diri. Nanti malam kita pergi
(Semua masuk)

BABAK II

(Syahdan, perjalanan dewi Sekartaji dan para emban sampai di suatu desa yang penduduknya sedang merayakan pesta panen. Mereka sedang asyik menyaksikan panggung hiburan. Satu, dua orang penyanyi menghibur mereka)

Adegan I

Emban 1 : Suaranya bagus ya…
Emban 2 : Iya, merdu sekali
Emban 3 : Gaya menyanyinya juga oke. Benarkan putri ?
Sekartaji : Kalian benar, mereka berbakat, hanya kurang latihan. Andaikata mereka rajin iiberlatih, tentu akan lebih baik hasilnya
Emban 1 : Maaf tuan putri. Apakah tuan putri sudah punya tujuan kemana kita akan pergi ?
(Sekartaji menggelng lemah)

Emban 2 : bagaimana kalau pergi ke rumahku saja ? Di sana hawanya sejuk dan tenang iisuasananya
Emban 3 : Lebih baik ke desaku saja. Di sana bisa melihat matahari terbit dari balik gunung
Emban 1 : Ke desaku saja. Rumahku dekat danau, konon nawang wulan dan Joko Tarub iibertemu di sana
Sekartaji : Sebaiknya jangan pergi ke desa kalian
Amban 1 : Mengapa ?
Sekartaji : E…kita…kita…ke…mana ya ???
Emban 2 : Sst…ada yang datang
(Semua menoleh, nenek tua keluar)

Adegan II

Nenek : Heh…heh…heh…kalian anak-anak yang cantik mau ke mana?
Emban 1 : Kami akan pergi ke…ke mana tuan putri?
Sekartaji : Nek, kami ini orang yang tidak punya tempat tinggal. Pergipun tanpa tujuan
Nenek : (tertawa) anak-anak yang cantik, itu berbahaya. E…bagaimana kalau kalian ikut iike gubugku saja, mau?
Sekartaji : Apa tidak merepotkan nek?
Nenek : Ah tidak…nenek akan senang sekali (tertawa) mau kan ?
Sekartaji : Baiklah nek, kami akan ikut ke rumah nenek saja
Nenek : Na gitu…ayo sebentar lagi malam. Rumah nenek ada di balik bukit itu
Emban 2 : Oh, jauh amat
Emban 3 : Sudah jangan bawel
Nenek : (tertawa) akhirnya aku pinya cucu, punya cucu empat, cantik-cantik (tertawa iilagi) ayo kita berangkat
Sekartaji : Mari nek…
(Semua masuk)

Adegan III

(Nenek keluar)

Nenek : Sejak anak-anak itu tinggal di sini, rumahku jadi tambah asri, ramai dan iimenyenangkan. Mereka anak-anak yang baik, patuh, disiplin dan rajin beribadah. iiTapi mengapa orang tuanya menelantarkan mereka? Kasihan sekali… Sepertinya iihari sudah siang, saatnya mereka berlatih. Sekar…ajak teman-temanmu kemari
Sekartaji : Ya nek…Eh…kita dipanggil nenek
Emban 1 : Mari kita ke sana
(Sekataji dan para emban mendekati nenek)

Nenek : Sudah siang cucu-cucuku. Saatnya berlatih. Bersiaplah pasang kuda-kuda… iiKakimu kurang kokoh Siyem, genggamanmu kurang kuat Minul. Ya…kamu iibagus, kamu juga bagus…Siap…satu dua…satu dua…
(Sekartaji dan para emban memeragakan jurus)

Nenek : Bagus…bagus…coba ulangi sekali lagi…satu dua…satu dua…
(Sekartaji dan para emban memeragakan jurus memetik bulan)

Nenek : Bagus, sekarang kita berlatih pedang. Siap…satu dua…satu dua…

Adegan IV

Nenek : Apa rencana kalian selanjutnya? Ilmu kalian sudah cukup untuk melindungi diri. iiSekar…kamu harus sering melatih mereka…
Sekartaji : Ya nek…
Nenek : Sudah lima bulan kalian tinggal di sini, sudah sepantasnya kalau aku ingin tau. iiSebenarnya siapa kalian ini ?
Sekartaji : Ampun nek…saya bukan siapa-siapa…sungguh saya bukan siapa-siapa…
Nenek : Baiklah jika kamu masih keberatan, nenek tidak akan memaksa. Mungkin itu iilebih baik bagimu
(Semua diam, nenek menampakkan wajah kecewa)

Sekartaji : Nek, jangan marah ya…
(Nenek tersenyum kecut)

Sekartaji : Pentingkah nama asli saya bagi nenek?
Nenek : Ya penting to…sekedar untuk koleksi
Sekartaji : Baiklah nek. Jika nenek benar-benar ingin tahu… nama saya Dewi Sekartaji, putri iiRama prabu Jayanegara dari kediri
Nenek : Jadi?! Oh, ampun putri. Hamba yang sudah tua ini tidak mengenali tuan putrinya iisendiri (nenek jatuh terduduk)
Sekartaji : Nenek tidak salah…justru nenek telah menolongku. Kalau tidak ada nenek entah iiapa jadinya…(Sekartaji membimbing nenek berdiri)
Nenek : Kemana rencana kalian malam ini Sekartaji ?

Adegan V

(Mantri pasar sedang mondar-mandir di teras rumahnya. Berita tentang seringnya terjadinya perampokan membuatnya gelisah. Ia sudah menyewa dua orang tukang pukul untuk menjaga rumahnya)

M.Pasar : Aneh…sepertinya masih sore, sapi seperti di makam umum saja. Hm…serem…
(Istri masntri pasar keluar)

I.Pasar : Bagaimana, pakaianku pantas nggak ?
M.Pasar : Wah…cocok sekali. Oh ya…mana selang kalung yang tadi kubelikan?
I.Pasar : Ini…ini…tambah cantik kan ?
M.Pasar : Ya…ya…kamu tambah cantik. Besuk aku belikan gelang kaki
I.Pasar : Sungguh?E…mas korupsi lagi?
M.Pasar : Ssttt…jangan keras-keras. Nanti didengar orang
I.Pasar : Tengan mas, ini RHS
M.Pasar : Makanya jangan keras-keras
I.Pasar : Sudah dengar kabar belum?Tadi amlakm rumah lurah Jamplang dirampok
M.Pasar : Lurah Jamplang? Lalu?
I.Pasar : Semua hartanya dirampok mas, hi…aku takut mas
M.Pasar : Tenang dik, aku sudah menambah seorang tukang pukul lagi
I.Pasar : Berarti kita aman mas
M.Pasar : Ya aman…ada dua orang tukang pukul mejaga keamanan rumah kita
I.Pasar : Dengar-dengar mereka itu kelompok perampok dermawan
M.Pasar : maksudmy?
I.Pasar : Mereka membagi-bagi hasil rampokannya kepada para fakir miskin
M.Pasar : Wih…dermawan betul
I.Pasar : Makanya orang miskin menganggap mereka pahlawan
(Terdengar ribut-ribut di luar. Dua orang tukang pukul dan empat orang permapok keluar, mereka berkelahi habis-habisan. Mantri pasar dan istrinya bingung dan terkaget-kaget)

M.Pasar : Rampok…rampok…
I.Pasar : Rampok…rampok…
(Mantri pasar dan istrinya panik. Mantri pasar bersembunyi di belakanng istrinya yang gemuk. Sekali-sekali ia mengintip)

M.Pasar : Aduh dik, bagaimana ini?
I.Pasar : Bagaimana, bagaiamana? Cepat cari akal!
M.Pasar : Akal bagaimana? Celanaku basah…
I.Pasar : Aduh, aduh…bagaimana suamiku ini…?!
(Tukang pukul terjantuh dan menyerah. Mereka diikat. Perampok mendekati Mantri pasar dan istrinya)
Perampok 1 : Serahkan semua hartamu koruptor !!!
M.Pasar : Saya…saya…
Perampok 2 : Tidak usah saya-saya!mana hartamu serahkan!
I.Pasar : Ini…ini…
(Istri mantri pasar menyerahkan gelang dan kalung yang dipakainya)

Perampok 1 : Geledah isi rumahnya! Angkut semua barang miliknya!
Perampok 3 : Siap bos…
(Perampok mengangkut barang-barang yang ada di rumah mantri pasar)

M.Pasar : Kursiku…kursiku…
I.Pasar : Oh…panciku…sobluganku…jangan…jangan…Kita jatuh miskin mas…
Perampk 1 : Sudah jangan berisik!Percuma saja kalian berteriak-teriak!
(Perampok masih mengangkut barang-barang yang ada di rumah mantri pasar)

Perampok 4 : Sudah habis bos
Perampok 1 : Bagus, ikat tangannya, tutup mulutnya
(Perampok 2 mengingat mantri pasar, dan permapok 3 mengikat istrinya)

Perampok 1 : Bagus
Perampok 3 : Bos ininya lupa…
Perampok 1 : Oh ya…pasangkan di leher mereka!
(Perapok 3 memasangkan tulisan KORUPTOR di leher mantri pasar)

Perampok 1 : Suit…suit…kita cabut!
(Perampok kabur. Mantri pasar, istrinya dan tukang pukul menjadi tontonan orang desa)

Adegan VI

Ordes 1 : E…e…e…tolong…tolong!
Ordes 2 : Ada apa Yu?Wo…astaghfirullah…sini…sini (teriak)
Ordes 3 : Amit-amit ternyata orang kaya ini seorang koruptor
Ordes 4 : Lha iya, siapa sangka…orang baiknya seperti itu…
Ordes 2 : Eh…eh…eh…zaman edan
Ordes 1 : Jan edan tenan
Ordes 4 : Bukan zamannya yang edan cak…manusianya yang edan…yang ndak karu-karuan…
Ordes 3 : Kusangka tuan Paijo ini orang baik-baik. Eh…ndak tahunya…
Ordes 4 : Makanya jangan terkecoh penampilan
Ordes 1 : Benar kata si Campluk tadi, siapa sangka…
(Nenek keluar)
Adegan VII

Nenek : Kalian ini bagaimana?Ada orang diikat kok tidak ditolong? Apa tidak kasihan?
Ordes 1 : Orang ini koruptor nek…
Ordes 2 : Malingnya negara
Ordes 4 : Pantas saja negeri ini ndak makmur-makmur, ndak maju-maju lha wong banyak iikoruptornya…
Ordes 1 : Ya…di sini ada…di sana ada… di mana-mana juga ada…
Nenek : Sudah…sudah…jangan ngomong sendiri…Ayo kita tolong mereka
Ordes 4 : Rasanya gak rela menolong mereka, nggak rela…nggak rela…
Ordes 1 : Ya, aku juga nggak rela…
Ordes 3 : Kalo aku, nggak mau…
Nenek : Mauo…mauo…
Semua : ta usyah la yau…
Nenek : Hm…dasar…E koruptor itu apa?
Ordes 1 : Koruptor itu ya…ya…
Ordes 5 : Kamu tahu cak?
Ordes 1 : Enggak, kamu?
Ordes 5 : Nggak…
Ordes 3 : Aku juga enggak
Ordes 2 : Pokoknya koruptor itu tidak baik, malingnya negara
Nenek : Nggak tau semua?
(Semua ordes menggeleng)

Nenek : gitu gayanya sok tahu. Coba ngomong dari tadi…Eh kamu tadi ngomongn apa?
Ordes 2 : Malingnya negara
Nenek : Na…itu baru betul. Ayo sudah lepaskan…! (Nenek masuk)

Adegan VIII

Ordes 1 : Siapa nenek tadi?
Ordes 2 : Nggak tau ya…
Ordes 3 : Siapa dia? Kamu kenal?
Ordes 5 : Nggak, sepertinya bukan orang sini
Ordes 4 : Tau-tau datang…tau-tau pergi…
Ordes 3 : Orang aneh…
Ordes 1 : Eh…aku pulang dulu ya…mau ke pasar
Ordes 4 : Aku juga mau ke pasar, kita barenng ya…
Ordes 1 : Ya
Ordes 2 : Lho, koruptor itu gimana?
Ordes1 : Lepaskan saja, dipikir-pikir kasihan juga
Ordes 5 : Ayo kita lepaskan
Ordes 3 : Semoga setelah ini dia dasar…
(Ordes 5 dan 3 melepaskan ikatan mantri pasar, istri dan tukang pukulnya. Mantri pasar mengucapkan trimakasih. Semua masuk, ordes 6 keluar )

Adegan IX

Ordes 6 : Dirasa-rasa hidup tambah lama tambah susah…
Ordes 7 : Sabar pakne…Kita ini orang kecil, jangan mengeluh terus
Ordes 6 : Ya ndak gitu…aku gak ngeluh
Ordes 7 : Lha itu tadi…
Ordes 6 : Aku cuman heran, heran sekali…Masak tiap hari harga-harga maik, naik iilagi…naik lagi…
Ordes 7 : Ndak usah heran pakne, dari dulu juga gitu…
Ordes 6 : Ya…dari dulu memang sudah begitu…
Ordes 7 : Hari ini kita puasa lagi pakne…
Ordes 6 : tidak ada makanan sama sekali? Hm…berarti sudah tiga hari…
(Seseorang menyelinap dengan cepat meletakkan bungkusan di hadapan mereka)
Ordes 7 : Pakne…ada orang…dia…dia…bertopeng
Ordes 6 : Perampok dermawan?]
Ordes 7 : Ya…ya…perampok dermawan
Ordes 6 : Terimakasih…cepat kau masuk…
Ordes 7 : Tapi, ini hasil rampokan, bagaimana?Apa nggak dosa?
Ordes 6 : Ah…sudahlah…Urusan dosa nanti. Kita sendiri dalam keadaan kelaparan yang iisangat. Jangan lupa tuhan itu Maha Tahu Segalanya…
Ordes 7 : Tapi aku gak mau makan hasil curian, apalagi hasil rampokan
Ordes 6 : Sudahlah bune…
Ordes 7 : Pokoknya tidak mau, lebih baik aku mati kelaparan…
Ordes 6 : Subhanallah bune…hatimu seputih salju
Ordes 7 : Ndak gitu pakne…Aku hanya takut akan siksanya yang pedih. Katamu tadi iiTuhan Maha Tahu Segalanya…
Ordes 6 : Baiklah kalo itu sudah tekadmu. Aku akan melakukan hal yang sama. Berarti iihari ini kita hanya minum…
Ordes 7 : Ya…kita hanya minum…
Ordes 6 : Sabar ya bune..Beras ini aku antar saja ke rumah De Odeh. Dia lebih iimembutuhkan
Ordes 7 : Ya pakne…kita antarkan…
(Semua masuk)

Adegan X

Ordes 8 : Sudah dengar kabar Yu?
Ordes 9 : Kabar apa ya?
Ordes 8 : Perampokan di rumah mantri pasar
Ordes 9 : Belum, kapan?
Ordes 8 : Kemaren, masih sore lho…
Ordes 9 : Padahal kan sudah ada tukang pukul di rumahnya?
Ordes 8 : Ya KO lah…Lha wong perampoknya bukan orang sembarangan…
Ordes 9 : Maksudmu? Perampoknya dermawan?
Ordes 8 : Ya itu…mereka sakti-sakti tapi baik hati…
Ordes 9 : Tidak sombong dan suka menolong…
(Pedagang X keluar sambil membawa barang daganngannya)

Pedagang X : Asyik banget ngerumpinya, lagi ngobrolin apa?
Ordes 8 : Ini lho…perampokan di rumah mantri pasar
Pedangan X : Kalo beri itu mah sudah basi…
Ordes 9 : Ada gosip baru tho?
Pedagang X : Tadi pagi, rumah Mang Katrijo mendapat giliran
Ordes 8 : Dirampok juga?
Pedagang X : Ya…
Ordes 9 : Apa dia kaya?
Pedagang X : Kaya sekali. Dia rentenir kelas kakap. Banyak orang jatuh miskin karena ulahnya…
Ordes 8 : Ya begitula rentenir…nulung tapi menthung…
(Ordes 7 keluar ordes 8 menyapa)

Ordes 8 : Tumben pagi-pagi sudah keluar, kemana?
Ordes 7 : Ini, mau ke rumah nenek De Odeh
Ordes 8 : O…
Ordes 9 : Penting sekali kelihatannya
Ordes 7 : Ya dada sedikit keperluan mengantarkan ini
Pedagang X : Sepertinya itu beras
Ordes 7 : Kok tau?
Pedagang X : Tau aja, kan pedagang…
Ordes 8 : Pedagang itu jeli penglihatannya
Ordes 9 : Lha iya, kok pintar…
Pedagang X : Gedheng tak buntera, reng degeng tak pentera. Tak iye?
Ordes 8 : Kamu ini ada-ada aj cak…Sudah ya, aku duluan…
Semua : Ya…ya silakan
Pedagang X : Ndak belanja dulu Yu?
Ordes 8 : Kapan-kapan saja…maaf
(Ordes 8 masuk)

Pedagang X : Kalo sudah tidak ada yang beli. Aku mau ke desa sebelah…
(Pedagang dan semua masuk)

BABAK III

(Baginda Jayanegara sedang mengadakan pertemuan agung di Setinggil Keraton Kediri. Permaisuri, Dewi Sekararum, ptih dan segenap punggawa kerajaan menghadap)

Adegan I

Baginda : Sudah ada kabar tentang putriku yang hilang Patih?
Patih : Ampun Baginda, belum ada…
Baginda : Anak itu hilang bagai ditelan bumi
Permaisuri : Anak itu memang bikin susah Baginda
(Baginda mendesah)

Permaisuri : Seharusnya sebagai putri Raja, Dewi Sekartaji dapat memberi contoh kepada para pemuda
Sekararum : Maksud ibunda menjadi contoh yang baik?
Permaisuri : Ya iya…
Sekararum : Seperti aku kan bunda?
Permaisuri : Ya seperti kamu
Baginda : Kakamu Dewi Sekartaji juga baik
Permaisuri : Baik?! Kalo baik manamungkin dia kabur…
Baginda : Pasti ada sebabnya istriku, pasti ada sebabnya, mungkin…
Permaisuri : Mungkin apa Baginda?
Baginda : Bisa jadi dia tidak bahagia dalam istana
Permaisuri : Apa aku ini kurang baik sebagai ibu tirinya? Aku tidak pilih kasih, benar kan Sekararum?
Sekararum : Benar, benar baginda…Bunda sangat menyayangi kakak Sekartaji, sayang sekali…
(Permaisuri dan Sekararum saling mengerdupkan mata. Demang keluar)

Adegan II

Demang : Ampun beribu-ribu ampun baginda, hamba menghadap tampa dipanggil
Baginda : Ada kabar apa Demang, sepertinya ada kabar penting
Demang : Benar baginda, hamba hendak melapor
Baginda : Katakan Demang
Demang : Sudah cukup lama di daerah hamba perampokan merajalela
Patih : Perampokan???
Demang : Benar Tih…perampokan, mereka perampok bertopeng…
Semua : Berampok bertopeng???
Baginda : Bagaimana ini Kakang Patih? Dalam setiap laporan, katamu negara aman, rakyat tentram, murah sandang pangan
Demang : Mohon ampun Baginda, keadaannya tidaki seperti itu…
Baginda : Maksudmu?
Demang : Negara tidak aman, perampokan dan pencurian di mana-mana. Semua barang kebutuhan mahal. Rakyat resah dan gelisah. Banyak rakyat yang jatuh miskin
Baginda : Kau tidak sedang menyebar fitnah kan?
Demang : Ampun Baginda, manamungkin hamba berani bohong
Patih : Kau jangan mengada-ada Demang, bisa-bisa kepalamu dipancung…
Demang : Justru Patih yang memberikan laporan palsu Baginda
Baginda : Jadi?
Demang : Ampun Baginda, bukannya hamba mengadu
Baginda : Lanjutkan laporanmu Demang
Demang : Hidup rakyat kecil makin susah, semua mahal. Sementara itu mencari pekerjaan sulitnya minta ampun
Baginda : Sedemikian sengsarakah rakyatku?
Demang : Benar Baginda. Di luar istana saya membawa lima ribu rakyat sebagai saksi
Semua : Lima ribu orang saksi?
Patih : Bilang saja mau demo…Ayo mengaku saja
Demang : Sungguh Tih, mereka hanya mau menjadi saksi
Baginda : Apa ucapanmu bisa dipegang?
Demang : Benar baginda, untunglah, dalam kondisi seperti ini masih ada yang dermawan. Tepatnya perampok dermawan
Baginda : Perampok dermawan
Demang : Benar baginda. Kawanan perampok itu kini menjadi pahlawan
(Panji dan pengawalnya keluar)

Adegan III

Baginda : kebetulan sekali Nakmas Panji
Panji : Ada apa Baginda?
Baginda : Negeri Kediri sedang dirudung masalah berat
Permaisuri : Ceritakan Baginda, Nakmas Panji pasti bisa menyelesaikan, dia kan jagoan
Sekararum : Betul Bunda, semua urusan akan beres di tanngan Kangmas Panji
Panji : Dimas Sekararum terlalu memuji, Kanda jadi malu
Sekararum : Kangmas panji memang jempolan
Baginda : Begini Nakmas, sudah sepuluh bulan adikmu Sekartaji menghilang dan belum juga ketemu
Panji : Oh ya???Lalu bagaimana Baginda?
Baginda : Muncul masalah baru…
Panji : Apa itu?
Baginda : Perampok dermawan
Panji : Perampok dermawan? Maksudnya?
Baginda : Mereka merampok, lalu hasilnya dibagi-bagikan ke fakir miskin
Panji : Itu kan baik. Apalagi jika yang dirampok para koruptor. Wah saya setuju sekali…
Baginda : Nakmas tidak boleh begitu, koruptor ya koruptor, perampok ya perampok, jangan dicampuradukkan
Panji : Tapi…hasilnya kan untuk fakir miskin
Baginda : Ya benar…tapi tidak boleh begitu…Kan ada hukum?
Panji : Ada hukum, tapi tumpul
Baginda : Nakmas benar, hukum kita tidak mampu mengadili biang koruptor
Panji : Berarti harus ada cara lain untuk kasus mereka
Baginda : Ya harus ada cara lain
Panji : Tapi apa?
Baginda : Itu PR bagi Nakmas
Panji : Siap Paman Prabu. Lantas apa tugas saya sekarang?
Baginda : Carilah adikmu Sekartaji, bawa dia pulang
Panji : Siap Paman
Baginda : Jangan datang lagi kalo tidak membawanya
Panji : Siap Paman, saya mohon diri
(Panji dan pengawalnya masuk)

Baginda : Aku akan beristirahat
(Baginda masuk)

Adegan IV

Sekararum : Bunda, PR untuk Kangmas Panji berat ya…?
Permaisuri : Namanya juga PR untuk seorang pangeran
Patih : Wajar Tuan Putri, pR nya harus berat, harus disesuaikan
Sekararum : Kasihan…
Permaisuri : Ini gawat kakang Patih
Patih : Benar Permaisuri
Sekararum : Harus digagalkan
Patih : Caranya?
Permaisuri : Makanya kamu harus mencari akal
Sekararum : Sekartaji jangan sampai ketemu
Permaisuri : Benar, Sekartaji harus lenyap dari istana
Patih : Kalo dia pulang bahaya…
Permaisuri : Bahaya sekali
Sekararum : Dia akan mengadu
Permaisuri : Dan kita akan…ih…ngeri… Ayo kita ke dalam untuk menyusun rencana
(Permaisuri masuk, diikuti Sekararum dan Patih. Pedagang keluar)

Adegan V

Pedagang : sejak BBM naik, jualan jadi makin sepi. Hidup jadi tanbah sulit. Tapi…ya mau gimana lagi. Namanya juga orang kecil. Bisanya hanya pasrah…mudah-mudahan jualanku hari ini laku semua, amin…
(Penjual merapikan dagangannya. Nenek keluar)

Nenek : Pagi-pagi sudah ngomong sebdiri seperti orang gila…
Pedagang : Lha…anu nek…hidup kok jadi tambah sulit, tambah susah
Nenek : Meskipun demikian, tidak baik kalo kita suka mengeluh
Pedagang : Mengapa?
Nenek : Itu namanya meratapi nasib. Tidak baik…pamali, tabu… Coba lihat, berapa sayur ini?
Pedagang : Itu seribu
Nenek : Segini seribu?Wo…mahal betul
Pedgang : Ya begitulah, sekarang semuanya mahal…
Nenek : Ck…ck…ck…tambah gak karu-karuan
Pedagang : Orang-orang juga bilang begitu. Tapi ada juga yang hidupnya tambah senang, hartanya makin bertumpuk
Nenek : Asal diperoleh dari cara yang baik gak masalah…
Pedagang : Yang penting halal…
Nenek : Benar katamu, mau dikit ato banyak yang penting baik dan halal
Pedagang : Supaya selamat dunia akhirat
(Panji dan dua pengawalnya keluar, Panji tersenyum simpul, sementara para pengawalnya tertawa terbahak)

Adegan VI

Pengawal 3 : Lihat…nenek itu gaul, hahaha…
Pengawal 4 : Ya benar, pake kacamata hitam lagi, hahaha…
Pengawal 3 : Tua tua keladi, maik tua makin menjadi, hahaha…
Pengawal 4 : Buaya makan pepaya, makin tua makin bergaya, hahaha…
Pengawal 3 : Ayam hitam, terjepit pintu…(diam)
Pengawal 4 : Terus…?
Pengawal 3 : Ayam hitam terjepit pintu, keok…keok…
Pengawal 4 : Hahaha…
Nenek : Kalian ini sinting ato gila?
Pengawal 3 : Ke singkep tinggalkan rumah, nenek cakep jangan marah…hahaha…
Pengawal 4 : Hahaha…
Panji : Sudah-sudah, kalian keterlaluan…
Nenek : Dasar mulut ember (nenek menampar pengawal)
Panji : Maafkan mereka Nek…
Nenek : Maaf, maaf. Maaf itu mudah tapi hatiku…hatiku sakit tau…?
Panji : Makanya maafkan mereka
Nenek : Jangan mentang-mentang kaya dan punya pangkat lantas semau gue…
Panji : Yaya…temanku memang salahDan, aku sudah meminta maaf. Lalu apa lagi?Sekarang aku akan lewat, menepilah Nek…
Nenek : Kau mengusirku?Kalau mau lewat, lewat saja sana atau sana. Kan banyak jalan?
Panji : Tapi aku mau lewat sini
Nenek : Ini tempatku. Kalau aku tidak mau menyingkir kau mau apa?
Panji : Terpaksa…
Nenek : Kau mau mengusir orang dari tempat duduknya?
Panji : Maaf, terpaksa…pengawal usir dia…!!!
(Pengawal mendekati nenek, mereka akan menyeret nenek. Keduanya tiba-tiba terpental. Pedagang melongo)

Adegan VII

Panji : O…rupanya mau pamer kekuatan?
Nenek : Wajhmu memang imut-imut tapi sombong
Panji : Sudahlah jangan banyak cakap…ciat…
(Panji menyerang nenek. Nenek menangkis dan balik menyerang. Pedagang dan pengawal mingir. Mula-mula Panji dan Nenek bertarung dengan tangan kosong. Lama-lama menggunkan senjata masing-masing. Pedang Panji mengenai nenek, dan selendang nenek mengenai Panji. Keduanya menjerit)
Panji : A…
Pengawal : Denmas…Denmas…
(Panji dan pengawal masuk. Nenek roboh)
Pedagang : Tolong!tolong….!
(Sekartaji dan para emban keluar)

Sekartaji : Nenek…nek…
Emban 1 : Jangan mati nek…
Emban 2 : Jangan tinggalkan kami nek…
Sekartaji : Nenek…Siapa pelakunya?
Pedagang : Tuh dia terlempar di sana…
Emban 3 : Awas ya…nanti kucincang…Nenek…
(Sekartaji dan para emban menangis, tiba-tiba nenek bangun dengan mengenakan sayap. Semuanya tertegun)

Bidadari : Sudah, jangan menangis lagi. Sekartaji ketahuilah aku adalah bidadari. Namaku Dewi Saraswati. Aku mendapatkan tugas untuk menjagamu. Dan kini tugas itu telah selesai…Selamat tinggal Sekartaji…hati-hati…(Bidadari masuk)
Sekartaji : Nenek…kita harus menuntut balas…
(Semua masuk, Panji masuk, Panji 1 diganti Panji 2 dalam posisi jatuh yang sama)

Adegan VIII

Pengawal 3 : Denmas…
Pengawal 4 : Denmas…
Pengawal 3 : Bangun Denmas…
Pengawal 4 : Eh…Dul…lihat Denmas Panji sudah kembali seperti semula
Pengawal 3 : Ya…betul…syukurlah…
Pengawal 4 : Dia kembali gagah seperti dulu
Pengawal 3 : Dia kembali gagah…
(Panji 2 bangun)

Panji : Di mana kita?
Pengawal 3 : Syukurlah Denmas sudah sadar
Pengawal 4 : Denmas sudah kembali seperti semula, tidak imut lagi…
Panji : Oh ya…? (Panji melihat badannya) Syukurlah aku sudah kembali seperti dulu lagi
(Sekartaji dan para emban keluar)
Emban 1 : Ini, ini orangnya…
Emban 2 : Kita harus menuntut balas
Emban 3 : O..o..Putri, sepertinya…sepertinya…
Sekartaji : Sssttt… pura-pura tidak kenal. Tapi ingat jangan sampai melukai mereka. Serang!!!
Emban : Siap!!!
(Sekartaji dan para emban menyerang Panji beserta pengawalnya. Emban 1 dan 2 mengeroyok pengawal 3, emban 3 menyerang pengawal 4, Sekartaji melawan Panji)

Pengawal 3 : Gak kena…gak kena…
Pengawal 4 : Kacian deh loe…
Panji : Sebentar-sebentar…kalian ini siapa? Tau-tau menyerang…
Sekartaji : Ciat…
Panji : Kita bicara baik-baik. Apa salah kami?
Sekartaji : Ciat…
(Sekartaji menyerang Panji, tangan kirinya mencubit Panji)

Panji : Atho…
(Panji tercubit berkali-kali)

Panji : Rupanya pendekar cewek. Baiklah aku ingin tausiapa dirimu yang sebenarnya. Ciat…
(Panji menyerang sekartaji dan berhasil membuka cadar Sekartaji. Panji memandang Sekartaji, Sekartaji melengos…)

Adegan IX

Panji : Diajeng Sekartaji?!!Kau Diajeng Sekartaji?
Sekartaji : Ya Kangmasm aku Sekartaji
Panji : Oh…Diajeng mengapa jadi begini?
Sekartaji : Ceritanya panjang
Panji : Ayo kita pulang
(Emban dan pengawal menghentikan pertarungannya)

Panji : Ayo
Sekartaji : Tidak
Panji : Mengapa?
Emban 1 : Permaisuri jahat Pangeran, Tuan Putri digundul
Panji : Oya…?
Emban 2 : Benar Pangeran
Emban 3 : Makanya beliau kabur
Panji : Sebabnya?
Emban 1 : Gara-gara golek kencono itu
Panji : O…
Emban 2 : Dewi Sekararum iri. Permaisuri marah lalu menghukum tuan putri
Panji : O…
Sekartaji : Makanya aku tidak mau pulang…
Panji : Kalo diajeng tidak cerita, mana Paman Prabu tau?
Emban 1 : Baginda harus tau
Panji : Ayo pulang Diajeng
Sekartaji : Baiklah…Tapi…kita harus ganti baju dulu…Jangan pulang seperti ini nanti Romo malu…
Panji : Mari kita bersiap
(Semua masuk)

Adegan X

(Istana Kediri dalam keadaan berduka. Dewi Sekartaji belum juga ditemukan, Baginda tampak gelisah)

Baginda : Kakang Patih. Apa sudah ada kabar tentang anakku?
Patih : Belum ada Baginda
Menteri : Bahkan, Den Panji juga belum ada kabar beritanya
Baginda : Kemana anak itu?
Permaisuri : Sudahlah Kanda, tidak ada Sekartaji kan masih ada Sekararum
Sekararum : Rama akan menjadi lebih tenang, tukang bikin keributan di istana telah pergi
Baginda : Kalian ini bagaimana, meski bagaimanapun sekartaji itu juga anakmu Permaisuriku
Sekararum : Tapi…
Baginda : Tidak ada tapi-tapian…Ia itu kakakmu, Sekararum. Hormatilah dan sayangilah dia…
Sekararum : Menghormati dan menyayangi: Enak bener…
(Baginda menggelng lemah. Pengawal melapor)

Pengawal : Radenmas Panji Asmarabangun tiba…
(Panji dan para pengawal masuk, Sekartaji langsung bersimpuh di hadapan Baginda)

Adegan XI

Sekartaji : Ampun, Romo. Ampun
Baginda : Sudah anakku, sudah. Romo hanya ingin tau mengapa kau kabur dari istana?
Sekartaji : Ampun Romo…Jangan paksa hamba bicara…
Sekararum : Bagaimana Bunda? Kita dalam bahaya…
Permaisuri : Kau benar anakku. Kita harus segera mencari akal
Baginda : Katakan sejujurnya, Putriku. Kalau kau tetap bungkam maka kamu sendiri yang akan mendapat hukuman
Emban 1 : Katakan saja Tuan Putri
Emban 2 : Ya benar Tuan Putri
Emban 3 : Supaya semua menjadi jelas
Panji : Adikku Sekartaji, katakanlah agar kamu tidak menjadi bahan omongan
Sekartaji : Tapi…Adakah gunanya? Apakah Romo percaya?
Panji : Katakan saja, Adikku. Paman Prabu percya atau tidak itu urusan lain
Baginda : Katakan, anakku. Apa sebenarnya yang terjadi…
(Sekararum terjatuh)

Sekararum : Aduh…aduh, Bunda…perutku sakit sekali…
Permaisuri : Aduh…aduh…bagaimana ini Kanda?
Baginda : Bawa dia masuk…pengawal!
(Pengawal membawa Sekararum masuk, Permaisuri ikut masuk)

Adegan XII

Baginda : Romo ulangi lagi. Katakanm sekartaji!!!
Panji : Ayo, adikku…
Sekartaji : Romo janji tidak akan murka?
Baginda : Ya, aku berjanji…
Sekartaji : Sungguh?
Baginda : Anakku…anakku…kapan ayahmu ini pernah berbohong?
Sekartaji : Ayah ingat waktu kangmas Panji datang membawa hadiah?
Baginda : E…iya…iya…Rama ingat…
Sekartaji : Nah, waktu hadiah dibuka, milik Diajeng Sekararum adalah golek kayu. Sedangkan yang untukku kencono
Baginda : Lalu?
Sekartaji : Diajeng Sekararum merengek minta tukar
Baginda : Kamu mau?
Sekartaji : Tidak
Baginda : Bagus, bagus…lalu?
Sekartaji : Mohon maaf, keran itu Bunda marah, saya dihukum
Baginda : Maksudmu?
Sekartaji : Saya dikurung…lalu digunduli, Romo…(Sekartaji menangis)
Baginda : Ha?! Digunduli?
Emban 1 : Benar Baginda saya bersedia menjadi saksi
Emban 2 : Saya juga saksinya. Malah waktu itupengawalnya si Dadap
Emban 3 : Saya juga Baginda
Baginda : Permaisuri! Permaisuri!! Permaisuri!!! (Baginda berdiri berkacak pinggang) Pengawal, segela bawa permaisuri menghadap!!
Sekartaji : Ingat Romo, ingat…Romo sudah berjanji tidak akan murka
Baginda : O…o…o…kalo ini lain anakku, lain…Pengawal!kau sudah tuli?!Bawa segera Permaisuri menghadap
Pengawal : Siap Baginda
(Pengawal masuk, sesaat kemudian membawa permaisuri dan Dewi Sekararum keluar dengan wajah ketakutan)

Adegan XIII

Baginda : Duduk! Kau ingat Permaisuri?Kau dulu siapa?
Permaisuri : Iya Baginda…
Baginda : Ingat!Kau dulu hanya seorang pelayan. Ingat!hanya seorang pelayan. Karena kebaikan hati ibunda si Sekartaji, kau kuangkat sebagai istri
Permaisuri : Ya Baginda…
Baginda : Lalu, setelah ibunda si Sekartaji mangkat, kau kuangkat sebagai permaisuri
Permasiuri : Ya Baginda
Baginda : Lalu? Apa balasanmu? Apa? Kau sudah menyia-nyiakan anakku. Kau jahat Permaisuri! Jahat!
Permaisuri : Ampun Baginda
Baginda : Simpan permintaan ampunmu itu!! Nakmas Panji
Panji : Ya Baginda
Baginda : Hukum harus ditegakkan
Panji : Benar Baginda
Baginda : Hutang beras bayar veras, hutang emas bayar emas…
Panji : Benar Baginda
Baginda : Hutang kepala gundul?
Panji : Bayar kepala gundul!
Baginda : Pengawal! Bawa permaisuri keluar, gunduli kepalanya!
(Pengawal membawa Permaisuri masuk, Permaisuri merengek minta ampun)

Adegan XIV

Sekartaji : Ampuni Bunda, Romo…
Sekararum : Ampunilah Bunda, romo…
Baginda : Diam kau Sekararum…Ibumu jahat! Kau juga!
Sekararum : Ampun, Romo…Ampun…saya…saya…
Baginda : Kau juga harus digunduli. Kau dan Ibumu, sama saja…
Sekartaji : Sudah, romo…sudah…
Sekararum : Ampun, Romo…Ampun…
Baginda : Cukup, Sekararum! Jangan merengek-rengek. Aku sudah eneg melihat tingkahmu. Pengawal!!!
Pengawal 2 : Siap!
Baginda : Bawa sampah ini keluar. Gunduli dia. Kemudian usir dia dan ibunya sejauyh mungkin dari istana
(Pengawal membawa Sekararum masuk)

Adegan XV

Emban 2 : Bagaimana dengan si Dadap, Baginda?
Emban 3 : Dia juga terlibat
Baginda : Dadap!!!
Dadap : Ya…ya…Baginda
Baginda : Kau juga harus dihukum
Dadap : S..saya hanya menjalankan perintah, Baginda…
Emban 3 : Sama, memangnya kamu sapi?bebek?
Emban 2 : Disuruh ke utara, ke utara. Disuruh ke selatan, ke selatan
Emban 3 : Untung tidak disuruh gantung diri?
Emban 2 : Dasar!!!
Baginda : Patih!!!
Patih : Ya Baginda…
Baginda : Pecat dia, lepaskan baju seragamnya dan usir dia. Aku tidak butuh pengawal bermental kerbau…!
(Patih membuka baju pengawal dan mengusirnya)
Sekartaji : Sudah, Romo
Baginda : Aku harus berusaha mejadi Raja yang adil. Anakku, kini kau aman. Bulan depan, kalian akan kunikahkan. Aku akan undang raja-raja negeri tetangga. Bagaimana penonton, setuju???!!! Ayo sekarang kita istirahat…

TAMAT

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Drama dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 9. Golek Kencono

  1. sugiarno berkata:

    Hmm, sampai detik ini “Sekartaji” masih bertarung melawan “Panji Asmarabangun”. Sudah berkali-kali si “Panji” mendapatkan cubitan. Namun, ia masih belum juga mengenali cubitan itu milik siapa …🙂

Komentar ditutup.