15. MAJIKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN PROFESI GURU

15. MAJIKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN PROFESI GURU

Di tengah sulitnya menembus pasar lapangan kerja, menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih menjadi dambaan sebagian anak muda. Memang, tidak ada yang salah dalam mengejar cita-cita tersebut. Berbakti kepada nusa, bangsa, dan tanah air adalah cita-cita mulia. Tidak semua anak muda bersedia untuk itu.

Meskipun ada yang mengatakan gaji PNS kecil, namun adanya kepastian jaminan hidup yang bakal mereka terima menjadikan setiap ada penerimaan CPNS kebanjiran peminat. Kepastian adalah kata kunci.

Penulis tidak sedang membahas masalah yang timbul ketika –misalnya– muncul issu tak sedap sekitar penerimaan CPNS yang –katanya– masih harus mengeluarkan ”biaya” di luar biaya. Biarlah issu tersebut tinggal issu, toh nanti juga akan dilupakan orang.

Hanya saja, sayang seribu sayang. Setelah menjadi CPNS atau malah sudah menjadi PNS sungguhan selama puluhan tahun, atau bahkan mungkin sampai dengan masa purna tugas tiba masih belum juga tahu, siapa yang menjadi majikan mereka.

Jika pembaca sempat melihat Negeri Khayangan maka akan tahu, siapa sesungguhnya majikan PNS. Majikan PNS adalah SIPIL, bukan rakyat, bukan pula masyarakat.

Hanya saja, umum memandang bahwa mereka tidak ada. Umum menihilkan keberadaan SIPIL. Tentu saja, dengan itu, mereka bisa leluasa melakukan ”apa saja”, dan sebagainya, dan seterusnya di lahan orang.

Andaikan bangsa ini mau belajar kepada petani, mereka akan tahu bahwa pada lahan pertanian ada yang disebut petani dan ada yang disebut buruh tani. Petani adalah pemilik lahan. Sedangkan buruh tani adalah bukan petani tetapi mengerjakan perkerjaan tani di lahan petani. Belajar kepada petani bukan berarti akan merampas lahan mereka. Ambil ilmunya dan aktualisasikan sehingga membawa kebaikan dan manfaat bagi yang lain.

Dengan demikian, akhirnya dapat diketahui bahwa majikan PNS adalah SIPIL, PNS adalah Pegawai ”di” Negeri SIPIL. Sedangkan kedudukan masyarakat adalah sebagai pengguna manfaat (jasa) dari lahan SIPIL itu sendiri.

Sekarang, tarik masalah ini ke institusi pendidikan. SIPIL yang ada di lahan pendidikan adalah GURU. Dengan demikian, PNS dengan profesi sebagai guru pada hakekatnya adalah Pegawai Negeri Guru (Cantrik). Begitu pula dengan para PNS di lingkungan pendidikan, mereka pun Pegawai Negeri Guru dengan profesi administratif. Silakan tarik ke institusi-institusi sipil yang lain, atau ke yang lain lagi.

Dengan menggunakan parameter tertentu, mereka dapat dibuktikan sebagai guru ataukah sebagai cantrik. Sesungguhnya, predikat guru tidak serta-merta disandangkan kepada siapa saja yang memegang kapur di depan papan tulis. Tidak gampang untuk menjadi guru. Seperti halnya petani, tidak semua yang memegang cangkul di sawah di sebut petani. Petani harus babat alas terlebih dahulu, begitu pula halnya dengan guru. Guru pun harus babat alas pendidikan terlebih dahulu.

Oleh sebab itu, seharusnya, gaji antara PNS dengan profesi guru dengan Guru Kontrak, Guru Bantu, ataupun dengan Guru Wiyata Bhakti adalah sama sepanjang tempat mengabdi sama (setara), latar belakang pendidikan sama, masa kerja sama, dan jam mengajar sama.

Hasil menafikan SIPIL sudah di depan mata, sudah dirasakan oleh semua. Sebut saja misalnya, ribetnya seleksi CPNS untuk profesi guru. Oleh karena itu, agar lebih lengkap, silakan baca NOTO LAHAN KEHIDUPAN pada REVOLUSI BILANGAN START SEBUAH KEADILAN.

Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Lahan Kehidupan dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke 15. MAJIKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN PROFESI GURU

  1. 2matz berkata:

    guru emang profesi hebat.salam kenal mas

  2. nice posting .. salamkenal

Komentar ditutup.