16. AYO, BELAJAR BELA NEGARA

AYO, BELAJAR BELA NEGARA

Sepertinya, judul tulisan di atas terkesan mengada-ada. Bela Negara masih harus belajar. Lantas, di mana belajarnya, kapan pelaksanaannya, siapa gurunya, di mana tempat belajarnya, dan sederet pertanyaan yang dapat Anda tambahkan.

19 Desember telah telah ditetapkan Presiden SBY sebagai Hari Bela Negara beberapa waktu yang lalu. Pertanyaannya, apakah sudah selesai sampai di situ? Ternyata, tidak. Penetapan tersebut harus diikuti dengan action untuk menjawab tantangan masa kini. Dalam hal ini, semua orang bisa berkilah dengan menyatakan sudah melaksanakan sesuai dengan bidang keahlian atau profesi masing-masing.

Sekarang, mari kita lihat di lapangan. Lihat jalan raya, transportasi teknologi siapa? Lihat pabrik-pabrik, teknologi siapa? Lihat elektronik, pertanian, ataupun yang lain. Jangankan yang canggih, yang sederhana pun, diakui atau tidak, posisi sebagai tuan di negeri sendiri semakin tersisih.

Saya tidak sedang mengatakan kita belum melakukan apa-apa, tidak, sekali-kali tidak. Sebab, jika saya mengatakan hal itu, bisa-bisa saya akan dikeroyok oleh orang senegara ini. Saya tidak ingin seperti itu.

Sekarang, ikutlah saya bersafari sejenak ke institusi pendidikan. Di sana ada tiga buah semboyan ”sakti”, yaitu : ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani. Konon, ing ngarso sung tulodho berarti di depan memberi contoh. Ing madyo mangun karso berarti di tengah-tengah siswa membangkitkan kemauan. Sedangkan tut wuri hanbayani sendiri berarti mengikuti dari belakang sembari membimbing para siswa agar mereka tidak melenceng dari jalan yang seharusnya.

Pertanyaanya sederhana, “Sudahkah guru melakukan hal itu?” Saya percaya seyakin-yakinnya, mereka akan serentak menjawab, “Sudah”, dengan S besar, itu pasti. Pertanyaan saya lanjutkan, “Kapan?”. Mereka akan menjawab, “Ketika mengajar, kami ing ngarso sung tulodho, dan seterusnya, dan seterusnya, sampai pada ketika murid beraktivitas dengan tuganya, guru tut wuri handayani”.

Saya tahu, menjadi seorang guru tidaklah gampang. Jangankan untuk mendapatkan predikat tersebut, menjadi seorang “cantrik” guru pun sulit. Terlalu banyak prosedur melelahkan yang harus dilewati. Oleh karena itu, jangan khawatir, saya tidak akan memojokkan guru.

Semenjak para calon guru menuntut ilmu di lembaga pendidikan keguruan, kepada mereka telah ditanamkan pengertian bahwa guru adalah agen perubahan. Hanya sebatas agen. Gurunya calon guru pun agen perubahan, gurunya guru calon guru juga agen perubahan. Pertanyaannya, lantas, siapa pencipta perubahannya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, silakan buka lembaran sejarah tanah air. Katanya, bangsa yang melupakan sejarahnya tidak memiliki masa depan. Pada akhirnya, Anda akan dapat menemukan cikal bakal sekolah kita dengan tokoh sentralnya, orang bule.

Oleh karena itu, jika berani jujur, Guru Belanda –lah yang sudah ing ngarso sung tulodho, sedangkan Guru Indonesia –dengan segala hormat– belum. Guru Indonesia masih mengikuti liak-liuk tarian mereka. Guru Indonesia belum meragakan Tarian Garuda, apalagi Tarian Raja Garuda. Oleh karena itu, menjadi terlalu pagi bagi Guru Indonesia untuk tut wuri handayani.

Bangsa manusia Indonesia masih terjepit dalam berbagai kesulitan, pengangguran, pemiskinan, krisis yang datang silih berganti, serta berderet-deret masalah bangsa yang harus diselesaikan agar generasi penerus dapat hidup lebih baik dan bermartabat. Insya Allah, itu semua dapat terselesaikan jika Guru Indonesia dapat melepaskan diri dari jebakan etis politik –nya Belanda. Masalahnya, guru tidak sadar bahwa mereka telah terjebak dalam permainan tersebut.

Action dari Bela Negara harus diawali dari institusi pendidikan. Pertanyaannya, “Siapa yang harus menjadi lokomotif perubahan?”. Ada tiga kemungkinan jawaban, yaitu : guru, cantrik, dan super body Guru Indonesia.

Mengharapkan Guru berada di depan, nyaris tidak mungkin. Telah cukup lama Guru menghilang dari peredaran. Sedangkan para Cantrik mempunyai kesibukan yang lebih mengasyikkan, yaitu : mengejar gelar, pangkat dan sertifikasi. Dengan demikian hanya tinggal Super Body Guru yang dapat diharapkan. Dia yang harus di depan sendiri dengan memberi contoh bela negara. Nah, itulah perubahan!

Pertanyaannya, “Siapa Super Body Guru Indonesia?” Saya percaya, Anda telah mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, sebab dia tidak lain dan tidak bukan adalah Presiden republik ini (siapapun dia).

Saya tidak sedang mengkampanyekan seseorang, saya bukan orang sepert itu. Oleh karena itu, berhentilah berdebat tentang siapa Capres 2009.

Namun harus diingat, namanya juga belajar, meskipun untuk bela negara.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Negara dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 16. AYO, BELAJAR BELA NEGARA

  1. anggi berkata:

    moga kedepannya Indonesia lebih baik dan bermartabat

Komentar ditutup.