17. MERAH JANGAN LUNTUR AGAR PUTIH TIDAK PUDAR

MERAH JANGAN LUNTUR AGAR PUTIH TIDAK PUDAR

Tidak dapat dipungkiri bahwa kesepakatan suci yang telah diambil oleh para pendahulu tidak untuk dibuat barang mainan oleh generasi berikut. Perjanjian luhur yang diwujudkan dalam bentuk Merah Putih tidaklah sebatas warna. Di situ terdapat makna yang sangat dalam akan arti sebuah konsensus nasional pertama.

Bagi anak-anak sekolah dasar (SD), merah berarti berani, sedangkan putih berarti suci. Sehingga, merah putih berarti berani karena niat yang suci. Itu pemahaman anak SD –yang berarti sudah menjadi masa lalu.

Dalam hidup bersama, berbangsa, dan bernegara, dikenal struktur atas bawah. Masing-masing mempunyai pemain yang berbeda. Domain atas akan mendominasi struktur atas, dan begitu sebaliknya. Sekarang, tarik konsep Merah Putih dalam konteks kekinian.

Merah adalah simbul para pemimpin. Dalam hal ini bisa muncul sebagai sosok kolektif maupun sosok person. Pemerintah –baik rakyat, sipil, maupun militer– adalah sosok kolektif yang paling dekat dengan keseharian semua orang karena adanya ikatan batin (?). Di samping itu masih ada sosok kolektif yang lain, sebut saja misalnya organisasi massa yang membawa simbul-simbul tertentu. Sedangkan sosok person dapat muncul pada diri para tokoh panutan /figur tertentu. Di samping itu, MERAH dalah aturan main bagi Merah, para pemimpin.

Putih adalah simbul bagi para yang dipimpin. Dalam hal ini pun bisa muncul sebagai sosok kolektif maupun sosok person. Sosok kolektif putih adalah organisasi yang bernaung di bawah organisasi lain yang jauh lebih besar karena adanya faktor kenyamanan, keamanan, dan kesamaan visi, misi, atau apapun namanya. Sedangkan sosok personnya adalah person yang dipimpin, orang perorang dari rakyat dari para pemimpin. Di samping itu, PUTIH adalah aturan main bagi Putih, yang dipimpin.

Masalah timbul ketika harapan Putih tidak sesuai dengan kenyataan. Merah yang seharusnya MERAH menjadi jingga karena luntur. Lunturnya MERAH bukan karena siapa-siapa, tetapi karena ulah Merah sendiri. Sebut saja misalnya: kasus KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), Merah mengail di areal Putih, Merah yang pencilakan, makanan kelingking dimakan ibu jari, dan sebagainya. Alhasil, Putih yang seharusnya PUTIH menjadi pudar karena kelunturan Merah. Putih tidak lagi bisa menemukan tokoh yang bisa dijadikan panutan. Kondisi ini semakin parah ketika MERAH hanya tinggal kulit, sementara isinya sudah berwarna-warni.

Kondisi semacam itu jelas tidak bagus, sebab yang terlihat akhirnya adalah one man show, seorang diri mengurus semuanya dan atau /semua orang mengurus hal yang sama. Alhasil, banyak tempat penting yang semestinya menjadi tempat orang menjadi kosong tanpa pengawasan. Banyak tempat yang semestinya menjadi tempat orang untuk mendapatkan penghidupan dan kehormatan ditempati orang lain tanpa ada yang mampu mengingatkan. Padahal, di luar sana dari hari ke hari jumlah penganggur terus bertambah karena proses pemiskinan masih terus berlanjut secara sistemik.

Jika Anda sempat membaca tulisan saya ”Meretas Jalan Menuju Indonesia Raya” secara keseluruhan (Bagian 1 dan 2 ), maka Anda akan dapat menemukan jawaban bahwa ternyata lunturnya Merah dan pudarnya Putih dimulai sejak Kelas I SD. Oleh karena itu, agar Merah kembali MERAH dan Putih kembali PUTIH -pun harus dimulai dari Kelas I SD. Anggap saja, generasi kita adalah generasi yang hilang.

Dengan demikian, siapapun yang menjadi Presiden 2009 tanpa pernah “berani” membenahi pendidikan maka hasil akhirnya akan sama saja. Tanpa membenahi pendidikan sama artinya dengan TIDAK ADA PERUBAHAN.

Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Penguasa dan tag , . Tandai permalink.

4 Balasan ke 17. MERAH JANGAN LUNTUR AGAR PUTIH TIDAK PUDAR

  1. ardiantoarsadi berkata:

    jarang-jarang ada blog nasionalis
    good bro!

  2. nusantaraku berkata:

    Ini tulisan ke-lima yang telah saya baca.
    Benar, membaca “tarian raja garuda” harus dengan hati yang tenang dengan mata yang jeli. Jika tidak, hati akan gundah, pikiran akan menjelimet…
    Nice blog… semoga banyak yang mengunjungi.
    Btw, saya tautkan link Bapak di blog saya.
    Suwun.

Komentar ditutup.