18. BELAJAR MENGHORMATI PAHLAWAN

BELAJAR MENGHORMATI PAHLAWAN

Katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghormati jasa para pahlawannya. Indah di telinga bagi siapapun yang mendengarnya.

Sekedar mengingatkan. Dulu, mereka berjuang tanpa pamrih. Semua miliknya telah dikorbankan untuk Indonesia. Di sana ada harta, air mata, darah, bahkan nyawa. Sungguh, tak terperi pengorbanan mereka. Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan mereka dengan balasan yang setimpal.

Sekarang, tarik ke konteks kekinian. Sudahkah bangsa Indonesia menghormati para pahlawannya?

Perlu diingat, bentuk penghormatan tidak hanya berakhir dengan membangunkan monumen untuknya. Bentuk nyata dari penghormatan diwujudkan dengan memberikan apresiasi terhadap darah yang mengalir pada keturunan mereka. Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, ke depan, hal ini haruslah dilakukan. Tanpa itu, apa bedanya bangsa ini dengan buaya. Saat tertimpa pohon minta tolong untuk dilepaskan, namun setelah dibebaskan malah menggigit penolongnya.

Apresiasi terhadap jasa para pahlawan harus dibuktikan dengan memberikan tampat yang layak bagi darah mereka. Pertanyaannya, tempat yang mana? Tanpa ada maksud menggurui, bagi mereka yang berkelas nasional, tempatnya di Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Sesungguhnya, sudah bukan pada tempatnya jika (maaf) keturunan para pahlawan masih mencari tempat duduk. Apalagi jika masih harus berebut kursi. Sesungguhnya, mereka sudah memiliki kursi.

Klaim bahwa kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia tidaklah sepenuhnya benar. Bukankah ketika itu ada yang apatis, ada yang oportunis, ada yang skeptis, dan bahkan ada juga yang pro lawan? Giliran kemerdekaan sudah di tangan dengan entengnya mengkitakan kami, atau malah sebaliknya. Dengan bersembunyi di balik baju demokrasi, semua merasa mempunyai hak yang sama. Padahal, ketika masa sulit, di mana mereka?

Hampir 64 tahun kemerdekaan telah di tangan bangsa sendiri. Banjir kemerdekaan telah membawa semua limbah peradaban naik ke permukaan. Oleh karena itu, efforia merdeka sudah waktunya dihentikan. Sudah waktunya belajar berpikir dengan cara merdeka, bukan berpikir dengan cara sebagai bangsa terjajah.

Berpikir dengan cara merdeka hanya dapat dilakukan dengan melepaskan semua ego. Ikatan yang tersisa hanya kepada Allah SWT /Tuhan Yang Maha Esa dan Indonesia –maaf, bukan maksud saya menyejajarkan antara keduanya. Ikatan kepada Allah /Tuhan Yang Maha Esa mutlak perlu sebab dari Sanalah semua berasal dan akan kembali. Sedangkan ikatan Indonesia karena adanya kesamaan nasib. Dengan begitu, untuk apa dan untuk siapa berpikir merdeka menjadi jelas.

Jika Anda dapat melakukan hal itu, Anda akan sepakat bahwa ternyata untuk menghormati para pahlawan pun masih harus belajar. Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bangsa dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 18. BELAJAR MENGHORMATI PAHLAWAN

  1. blackenedgreen berkata:

    pertanyaannya, kalau sudah belajar menghormati pahlawan, trus mau jadi apa?

    kalau penjurusan lainnya yang dibuat di semua institusi pendidikan indonesia inikan tujuannya jelas: agar bisa ikut menikmati proses pengeringan sumber daya dunia… walaupun banyak gagalnya.

    sd, smp, sma, dibuat untuk itu, fakultas hukum, tekhnik, dan ekonomi dibuat untuk itu.

    kalau kita belajar menghormati pahlawan… bakalan banyak orang yang bertanya: untuk apa?

Komentar ditutup.