20. SEBUAH REFLEKSI

SEBUAH REFLEKSI

Gegap-gempita Pemilihan Umum (Pemilu) belum usai. Namun, sebelum “semua” habis, bangsa Indonesia harus cepat melakukan refleksi diri. Itu, jika mereka mau.

”Semua dahan telah sarat dengan benalu. Semua durian telah berbiji pasilan. Semua buah telah penuh dengan ulat. Semua kayu telah dimakan rayap. Semua kolam telah nyaris tanpa ikan. Semua lumbung telah penuh dengan tikus. Semua harimau tak lagi bisa mengaum. Semua ayam menjadi mandul”.

Konon, Pemilu Legislatif 9 April 2009 kemarin menghabiskan dana 13 triliun dan 40% di antara para pemilih memilih “Partai” Golongan Putih (golput). Dana sebesar itu, masih konon, dikeluarkan oleh negara.

Sekarang, mari kita hitung. Taruhlah bangsa Indonesia sepakat tidak melaksanakan Pemilu 2009, maka dana sebesar itu kurang lebih cukup untuk menggaji 361.111 orang selama lima tahun dengan besar pendapatan Rp 600.000,00 tiap bulan.

Kemudian, misalnya, mereka digerakkan untuk melaksanakan penghijauan di daerah-daerah kritis yang rawan banjir tentu dalam tempo lima tahun akan terlihat hasilnya. Bisa juga mereka digerakkan untuk proyek-proyek padat karya semisal memperbaiki jalan-jalan, membuat bendungan, atau yang lain.

Itu baru pemanfaatan dana untuk Pemilu Legislatif, belum Pemilihan Presiden, Pemilihan Gubernur, Pemilihan Bupati, dan Pemilihan Kepala Desa tentu akan lebih banyak lagi yang bisa dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya.

Pertanyaannya, bagaimana dengan demokrasi? Yang jelas, demokrasi akan jalan terus tetapi dengan pola lain. Massa mengambang ditiadakan. Sempatkan melihat Negeri Khayangan, di sana semua orang telah membawa natar masing-masing. Mereka bukan massa mengambang. Identitas mereka telah melekat dengan jelas, tinggal tarik ke atas atau ke bawah.

Dengan menggunakan pola natar maka terjadilah demokrasi berkelanjutan. Intisari dari demokrasi ini adalah satu meja empat kusi. Masing-masing berdemokrasi pada kuadran yang berbeda, tidak campur-aduk. Dengan begitu, semua kepentingan peri kehidupan terakomodir. Selebihnya, baca Noto Negara, Noto Penguasa, dan Noto Bangsa pada Revolusi Bilangan Start Sebuah Keadilan.

Masih akankah melanjutkan demokrasi cap mobil mogok versi mereka? Sesungguhnya, demokrasi cap mobil mogok bukan Demokrasi Pancasila. Silakan tangkap makna yang tersirat pada gambar yang ada dalam perisai lambang negara.

Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Catatan Pinggir dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 20. SEBUAH REFLEKSI

  1. blackenedgreen berkata:

    ini tulisan-tulisan lama ya mas?

    saya pernah berpikir bahwa indonesia itu seperti gado-gado, terlalu banyak bahan dari sana-sini yang diambil, sampai-sampai rasanya jadi “eksotik”.

    bagi para ahli kuliner, mereka bisa mengerti “rasa eksotis” ini. Sayangnya rakyat indonesia bukan ahli kuliner, yang penting makan aja, tidak mempunyai kapasitas untuk berjalan di jalan “hebat dan agung” yang telah dibangun pendiri bangsa.

    Sesat sendiri… begitu juga dengan ekonomi dan kebijakan perdagangan kita.

    Lambang perisai negara? lambang yang mana? kami kaum muda hanya mengenal lambang facebook…

Komentar ditutup.