21. KORUPSI HANYALAH PENGALIH PERHATIAN

Adalah sebuah keniscayaan jika terjadi korupsi sebab secara material, Hak Gaji Rakyat Birokrasi dan Pejabat Negara hanya berkisar antara 1 s.d. 10 % dari yang seharusnya. Justru, koruptor adalah ”Pahlawan pada Zamannya, bagi Kaumnya”.

Bisa jadi, mereka yang “bersih”, tidak melakukan korupsi uang. Namun melakukan korupsi dalam bentuk lain (misalnya : korupsi kapasitas, korupsi waktu, korupsi bilangan, dsb.) yang kesemuanya –jika berani jujur—ada harganya. Bahkan, bukan hanya korupsi, Kolusi, Nepotisme, dan bahkan Terkikisnya Rasa Nasionalisme pun adalah sebuah keniscayaan.

Krisis multi dimensi akan terobati dengan REVOUSI PENDIDIKAN. Pembaca tidak perlu was-was mendengar kata tersebut. Revolusi Pendidikan adalah perombakan pola pikir dan tidak berdarah-darah. Langkah ini akan didahului oleh REFORMASI BILANGAN. Dengan pendekatan bilangan, Hak Gaji Rakyat Birokrasi dan Pejabat Negara yang Dikorup oleh Sistem Akan Kembali.

Pertanyaannya, ”Sudah siapkah guru untuk dinilai?”. Sebab, secara hakiki hasil pembelajaran mereka bernilai NOL BESAR di mata INDONESIA.

Untuk itu, guru harus berani melakukan otokritik terhadap RUH ilmu dasar yang disajikan kepada siswanya, ”Sudahkah menggunakan RUH INDONESIA?” Untuk itu, agar tidak bias, sebagai pijakan awal, perlu ada telaah ulang tentang SISTEM BILANGAN HINDU ARAB. Sebab, dari sanalah semua carut-marut peri kehidupan berawal. Nah, ”Bagaimana, GURU?”. Siapkah menciptakan karya monumental untuk NKRI? Pertanyaan tersebut jelas bukan untuk Guru SD. Mereka ”hanya” pelaksana pendidikan.

Pertanyaan tersebut lebih tepat diarahkan kepada kaum Widya Iswara. Konon, mereka adalah GURU YANG BERADA PADA LAPIS PERTAMA. Apa yang mereka kerjakan hampir 64 tahun setelah merdeka? Jika mereka benar-benar Indonesiais, tunjukkan satu saja SISTEM INDONESIA! Masalahnya, sekalipun guru mengetahui bagaimana mengisi kemerdekaan, tangan guru terlalu lemah. Guru butuh mantan murid –sejawatnya– yang pandai, jujur, kaya, dan NOMOR SATU. Sebab, dialah yang memiliki tangan kuat. Dengan pandai, mantan murid akan mengerti dengan apa yang dimaksud guru. Dengan jujur, mantan murid berani mengakui bahwa telah terjadi penggelapan bilangan. Dengan “sudah” kaya, mantan murid merasa cukup dengan materi yang telah dimiliki. Dengan menjdi nomor satu, mantan murid dapat berbuat lebih banyak untuk umat manusia, terlebih untuk INDONESIA.

Kesimpulannya, korupsi hanyalah pengalih perhatian. Korupsi –apa pun bentuknya– adalah sebuah keniscayaan. Kedudukan koruptor (uang) tidak lebih dari KATALISATOR. Mereka ”hanya” mempercepat pendistribusian uang dari ”lumbung” NEGARA ke ”lumbung” RAKYAT. Dengan demikian, pendekatan konvensional (hukum, menaikkan gaji, atau apapun namanya) TIDAK MERUBAH KEADAAN. Sebab, akar masalah bukan pada mental birokrat dan pejabat melainkan pada MATEMATIKA (bilangan) YANG SALAH. Selebihnya, baca Revolusi Bilangan Start Sebuah Keadilan.

Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Uang dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 21. KORUPSI HANYALAH PENGALIH PERHATIAN

  1. blackenedgreen berkata:

    revolusi pendidikan membutuhkan pengorbanan besar di tingkat “pribadi”, itulah yang menakutkan. Tidak ada yang mau keluar dari pola pikir yang sudah dimapankan…

    lihat dan bicara dengan mantan-mantan mahasiswa yang mendaftar jadi CPNS, itu semua adalah tindakan penyelamatan diri, dengan iming-iming kesempatan korupsi.

    Otokritik? semua orang mapan disekeliling saya mengatakan bahwa itu adalah buang-buang waktu.

Komentar ditutup.