30. KETIKA GURU DATANG KE SEKOLAH

30. Ketika Guru Datang ke Sekolah

Guru yang dimaksud dalam tulisan ini BUKAN mereka yang berdiri di depan papan tulis sembari memegang kapur, di hadapan murid-muridnya. Bukan, sekali lagi, bukan mereka. Ia adalah sosok guru yang lain.

Ketika ia datang, guru tersebut terkaget-kaget. Sebab, tempatnya telah diisi oleh guru lain. Guru ”sini dengan ilmu sana” yang berdiri pada tempatnya.

Pantas saja, mental sebagai bangsa inferior, bangsa inlander, atau bangsa terjajah tertanam kuat di benak sanubari mantan-mantan muridnya. Pantas saja, kelatahan akan dinamika global menyeruak di segenap lini kehidupan …

Guru ”sini dengan ilmu sana” telah hampir 64 tahun membawa muridnya pergi untuk mengitari simbul merdeka, berputar-putar dari satu titik krisis ke titik krisis yang lain, kehabisan bekal di jalan, berantem berebut makanan, dan tidak tahu jalan pulang.

”Guru sini dengan ilmu sana” harus dikejar, ditangkap dan dikembalikan pada tempat yang semestinya. ”Guru sini dengan ilmu sana” hanyalah CANTRIK! Mereka bukan guru, Guru, apalagi GURU. GURU mereka bukan di sini, tetapi di sana.

Guru sini dengan ilmu sini belum menanami lahan pendidikan… Mereka baru dapat menyelesaikan pembukaan lahan tersebut (membuka sekolah baru). Mereka belum menanam, sekali lagi, belum menanam ILMU INDONESIA. Selebihnya, baca Noto Pendidikan pada Revolusi Bilangan Start Sebuah Keadilan.

Guru sini dengan ilmu sini, kedudukannya seperti petani. Predikat guru tidak serta merta disandangkan kepada yang mengajar murid di depan kelas. Guru sini dengan ilmu sini harus bisa membuktikan sekolah mana yang telah dibukanya. Sesungguhnya, tidak gampang untuk meraih predikat guru, Guru, apalagi GURU.

Selamat datang, guru!
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Pendidikan dan tag , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke 30. KETIKA GURU DATANG KE SEKOLAH

  1. sugiarno berkata:

    Hmm, sudah setahun guru sini dengan ilmu sini menanti murid-muridnya kembali ke sekolah. Ternyata, yang dinanti malah bermain lumpur bersama guru sini dengan ilmu sana … di bawah tiang tambatan “MERDEKA” …

  2. sugiarno berkata:

    Tanpa ada maksud mempersulit, kalau sempat membaca Gila Indonesia –paling tidak bagian akhir– Mas Nus akan tahu sendiri … Selamat mencari … salam.

  3. nusantaraku berkata:

    Benar yah interpretasinya?
    O,ya sampai saat ini saya masih tidak tahu apakah Pak Sugiarno adalah seorang guru atau budayawan sastra? Karena bahasa yang digunankan bukan bahasa konvensional, butuh interpretasi dasar ilmu yang mantap untuk memahami setiap tulisan Pak Sugiarno.
    Salam.

  4. nusantaraku berkata:

    Diusahain mengerti saja “Komuter”.
    Dalam pengertian saya, guru disini adalah institusi pendidikan yang lebih tinggi dari sekolah.
    Lebih tepatnya Jajaran Dinas pendidikan dan konstitusi serta kurikulum yang “sini tapi ilmu sana”.
    Terjadi inkonsistensi pendidikan dan upaya-upaya memberi pendidikan kebangsaan, kontekstual, kemandirian. Sebagian guru yang berdiri di papan tulis sudah banyak yang kehilangan ruh sebagai pendidik, yang mana sekarang telah berubah menjadi pengajar.
    Namun disisi lain, kita tidak bisa mengandalkan “guru sini, ilmu sana”, butuh peran orang tua dan tokoh masyarakat untuk “mengembleng” putra-putrinya. Hal ini sudah terasa kurang dikala orang tua memberi kepercayaan yang tinggi menitipkan anak-anaknya untuk mendapat ilmu di sini di sekolah di sini…
    Mungkin saja saya salah dalam interpretasi artikel ini…

  5. komuter berkata:

    tidak bermaksud merendah, namun saya tidak mengerti.

Komentar ditutup.