31. SERTIFIKASI GURU “KEPAGIAN”

Sertifikasi Guru “Kepagian”

Hiruk-pikuk Sertifikasi Guru mewarnai perbincangan dunia “per-cantrik-an” Guru. Hebohnya para “Cantrik” Guru yang sudah merasa menjadi Guru patut untuk dimaklumi. Siapa yang tidak tergiur dengan iming-iming kenaikan pendapatan yang –konon– mencapai seratus persen kali gaji.

Oleh karena itu, agar mereka tidak kecewa, perlu ada boring penilaian yang jelas, tegas, dan baku. Dengan begitu, semua “Cantrik” Guru dapat menghitung, “Berapa grade yang berada dalam saku masing masing” serta berapa grade yang dituntut oleh Si Pungguk agar lolos dalam sertifikasi kepagian tersebut.

Rambu-rambu berikut hanyalah alternatif dalam upaya menepis tudingan adanya main mata sebagian pihak di satu sisi serta memanfaatkan situasi ini untuk mengail ikan di air “jernih”. Kelayakan penilaian meliputi latar belakang pendidikan, masa kerja, pangkat /golongan –bagi yang berstatus PNS, pengalaman kerja, jumlah jam mengajar dalam seminggu, prestasi kerja, dan pada “ Bela Negara” Pendidikan (Membuka Sekolah Baru).

Untuk menghindari “tubrukan”, sepakati aturan main sebagai berikut.

1. Latar Belakang Pendidikan
SD (skor 10); SLTP (skor 20); SLTA (skor 30); Diploma I (skor 40); Diploma II (skor 50); Diploma III (skor 60); Diploma IV (skor 70); Sarjana S1 (skor 80); Sarjana S2 (skor 90); Sarjana S3 (skor 100).
Catatan : Skor maksimal 100 –Pelatihan, penataran, seminar, semiloka, atau apapun namanya dianggap tidak ada. Sebab, yang dibaca /dinilai adalah action mereka di lapangan;

2. Masa Kerja
Rumus : Masa kerja x tahun dengan skor 10x.
Catatan : 1. Masa kerja maksimal 40 tahun; 2. Skor maksimal = 400

3. Pangkat Jabatan
Guru Pratama (skor 50); Guru Pratama Tingkat I (skor 60); Guru Muda (skor 70); Guru Muda Tingkat I (skor 80); Guru Madya (skor 90); Guru Madya Tingkat I (skor 100); Guru Dewasa (skor 110); Guru Dewasa Tingkat I (skor 120); Guru Pembina (skor 130); Guru Pembina Tingkat I (skor 140); Guru Utama Muda(skor 150); Guru Utama Madya (skor 160); dan Guru Utama (skor 170).

4. Jumlah Jam Mengajar (JJM) dalam Seminggu
JJM 24 (skor 10); JJM 25 (skor 20); JJM 26 (skor 30); JJM 27 (skor 40); JJM 28 (skor 50); JJM 29 (skor 60); JJM 30 (skor 70); JJM 31 (skor 80); JJM 32 (skor 90); JJM 33 (skor 100).
Catatan : Tidak ada perbedaan kewajiban dalam tatap muka antara Guru Kelas /Guru Bidang Studi dengan Kepala Sekolah. Ingat, berdasarkan peraturan baru yang dimaksud dengan Kepala Sekolah adalah GURU SUPER (lihat Periodesasi Kepala Sekolah Dasar Negeri sebagai Sebuah Bentuk Pengkhianatan Birokrat Pendidikan terhadap Pancasila).

5. Prestasi Kerja Tingkat:
Kelurahan (skor 10) ; Desa (skor 20); Kecamatan (skor 30); Kawedanan (skor 40); Kota (skor 50); Kabupaten (skor 60); Karesidenan (skor 70); Provinsi (skor 80); Wilayah (skor 90); Bagian (skor 100); Nasional (skor 110); Internasional (skor 120).
Catatan : 1. Prestasi kerja adalah prestasi YANG BERKAITAN DENGAN TUGAS GURU (PEMBELAJARAN); 2. Ada perbedaan yang tegas antara kelurahan dengan desa

6 “Bela Negara” Pendidikan (Membuka Sekolah Baru)
Rumus : Masa bakti ”Bela Negara” Pendidikan x tahun dengan skor 100x
Catatan : 1. Masa bakti ”Bela Negara” Pendidikan maksimal 9 tahun. Ingat, sudah dua kali Wajib Belajar Pendidikan Dasar (6 tahun dan 9 tahun); 2. Skor tertinggi = 1500; 3. Khusus sekolah negeri

Grade yang dibutuhkan untuk mendapatkan predikat guru bersertifikasi ”kepagian” adalah 1292,50 atau 55% dari total grade maksimal (2350)

Sesungguhnya, tidak gampang untuk mendapatkan predikat guru. Sebab, untuk menjadi guru tidak cukup berbekal ijazah. Guru harus pernah mengerjakan butir ke enam, dan itu wajib sifatnya –tanpa itu, mereka hanyalah ”Cantrik” Guru. Lebih tidak gampang lagi menilai guru. Dan, sangat lebih tidak gampang lagi untuk mengeluarkan sertifikat bagi guru. Entah lagi, jika pendekatan penilaian sertifikasi guru yang dipakai adalah 3 D (Dekat, Dulur, Duwit).

Sedangkan borang penilaian untuk Penilai Sertifikasi Guru meliputi :
1. Dapat menyanyikan lagu Indonesia Raya;
2. Hafal teks Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945;
3. Dapat menunjukkan letak INDONESIA dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI);
4. Dapat berbahasa Indonesia serta bisa menuliskan Bahasa Indonesia dalam Aksara Indonesia –BUKAN AKSARA LATIN;
5. Dapat berhitung ala Indonesia, BUKAN ala HINDU ARAB.

Masing-masing item bagi Penilai Sertifikasi Guru bernilai seratus dengan grade 375 atau 75 % dari total grade maksimal penilai (500).

Borang Penilaian Sertifikasi Guru dan borang Penilaian Penilai Sertifikasi Guru sudah jelas. Sekarang, saatnya menghitung. Jangan-jangan, yang menilai Guru pun masih belum kredibel karena tidak mampu mencapai target 375? Atau malah jangan-jangan, Pembuat Kebijaksanaan Sertifikasi Guru hanya mampu menembus angka 200? Jika demikian halnya, maka berarti ”Bambang Priambodo” telah mampu menelanjangi ”Mustokoweni” … dan … “selendang Merah Putih yang akan membungkusnya”.

Pertanyaannya, bagaimana jika sudah telanjur menerima? Jawabannya sederhana. Kelak, ketika Rupidin membanjiri Jalan Indonesia dengan Rupiah maka penerima dana Sertifikasi Guru ”Kepagian” harus mengembalikan. Selebihnya baca Noto Pendidikan di Revolusi Bilangan Start Sebuah Keadilan.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Pendidikan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.