34. MENCABUT TAHI LALAT YANG TUMBUH DI MATA

34. “Mencabut Tahi Lalat yang Tumbug di Mata”

Setiap sistem yang diciptakan oleh suatu bangsa diperuntukkan bagi kelangsungan hidup bangsa itu sendiri. Setiap sistem akan melindungi diri dari intervensi asing. Oleh karena itu, ketika bangsa lain meniru sistem tersebut, cepat atau lambat akan terjebak di dalamnya. Jangankan bangsa peniru, bangsa pencipta sistem itu sendiri pun akan tumbang manakala sistem tidak mampu memberikan jawab atas tantangan perubahan.

INDONESIA yang ada di seberang Jalan Indonesia, indonesia menganut sistem Noto Politika. Maklum, INDONESIA bukan negara anak-anak yang masih labil dan suka meniru. Juga bukan negara bagi yang masih suka memperpanjang masa kanak-kanak untuk bermain-main meskipun sudah bukan anak-anak lagi.

Noto Politika merupakan pengejawantahan sepuluh macam Super Body Bangsa Manusia Indonesia pada level negara. Artinya, di dalam negara terdapat sepuluh macam negeri dengan satu negeri dominan. Artinya, di dalam kesatuan terdapat sepuluh macam satu dengan satu dominan. Artinya, di dalam republik terdapat sepuluh macam publik dengan satu publik dominan. Artinya, di dalam INDONESIA terdapat sepuluh macam Indonesia dengan satu Indonesia dominan.

Pertanyaannya, satu yang mana gerangan yang dominan? Jawabannya sederhana. Jika semua kartu yang dipegang oleh Super Body Bangsa Indonesia sudah berupa kartu mati, maka jangan khawatir, masih ada satu kartu yang belum dimainkan, yaitu kartu NOTO. Sepuluh adalah basis dasar dalam menghitung setelah satu. Perhatikan: 1 –> 10 –> 100 –> 1000 –> 10000 dan seterusnya. Dengan menggunakan pola tersebut, akan dapat tersusun pola yang indah, rapat, kokoh, dan kuat.

Di samping memberi ruang toleransi yang lebih luas, akan makin banyak pula tenaga yang terserap di dalamnya, dan pada gilirannya akan terpangkas dengan sendirinya gen radikal negatif. Sepuluh memang bukan angka mati, namun kisaran tersebut memberikan rambu-rambu akan batas maksimal keberadaan sesuatu.

Pada Noto Politika, sepuluh ranah kehidupan tersentuh secara merata. Lima ranah yang telah disusun oleh para pendahulu meliputi lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, advis, dan control tetap dipertahankan. Dari kelima ranah tersebut, secara keseluruhan eksekutiflah yang paling dominan … sebab eksekutif juga merangkap sebagai eksekutor. Padahal, seharusnya eksekutor ada di tangan kepala negara.

Dengan kata lain, sistem presidensil membuat presiden berdiri di antara dua perahu. Satu kaki presiden berada di perahu pemerintahan dan satu kaki yang lain berada di perahu kepala negara.

Lima ranah yang belum tersentuh di INDONESIA yang ada di seberang Jalan Indonesia, indonesia adalah pendidikan, ilmu, agama, uang, dan militer, Kelima ranah tersebut mendapatkan porsi yang proporsional, sesuai dengan pe-Noto-an Nusa. Oleh karena itu, “Kumbakarna-Kumbakarna” yang masih tidur harus dibangunkan. ”Makanan” setinggi gunung telah disiapkan oleh Rupidin di Jalan Indonesia.

INDONESIA yang ada di seberang Jalan Indonesia, indonesia, tidak menganut pola presidensil, juga bukan pola perlementer. Di sana, trias popolitika juga tidak dipakai. Sekali lagi, trias politika terlalu kecil dan sempit.

Teorinya, tahi lalat yang tumbuh di mata akan membuat pemiliknya kesulitan untuk melihat. Teorinya, mencabut tahi lalat yang tumbuh di mata, sakit. Jika tidak dicabut akan membuat pemiliknya makin sakit. Mudah-mudahan, Anda mengerti dengan yang dimaksud tahi lalat yang tumbuh di mata Ibu Pertiwi. Jika Anda belum juga paham, berarti terbang Anda terlalu tinggi, Anda harus merendah …

Pertanyaannya, sanggupkah Bangsa Indonesia mencabut tahi lalat yang tumbuh di mata Ibu Pertiwi? Pembaca tidak perlu serta-merta menjawab pertanyaan ini. Kesanggupan itu akan dibuktikan pada Pemilihan Presiden, 8 Juli 2009 mendatang. Selebihnya, lihat Meretas Jalan Menuju Indonesia Raya (Bagian 1 dan 2). Jika sanggup, Negeri Khayangan sebagai buahnya …

Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Penguasa dan tag , , , , . Tandai permalink.