35. 2009 ADALAH TAHUN KETAR KETIR

2009 adalah tahun ketar-ketir

Di indonesia yang ada di seberang Jalan Indonesia, INDONESIA, ”Antara penonton, pemain, pelatih, penjaga garis, wasit, promotor, komentator, dan bahkan orang lewat yang kebetulan singgah pun bernilai sama. Antara anak sendiri, keponakan, anak tetangga, dan bahkan anak entah anak siapa pun sama haknya … Bungkusnya rokok X (maaf, bukan iklan) tetapi isinya rokok Y. Tetap disebut rokok X … Hasan. mengenakan baju Anda. Ketika tanda tangan Anda dibutuhkan, Hasan yang maju …. Karena bisa mengembik, harimau lantas berubah menjadi kambing dan begitu sebaliknya” .

Enam puluh empah tahun pasca Proklamasi 1945 sudah di depan mata. Daftar PR Sejarah bagi bangsa Indonesia -pun makin panjang. Sekedar mengingatkan, Generasi 1928 menyisakan tanya : Di manakah INDONESIA itu? Bagaimanakah Aksara INDONESIA itu? Generasi 1945 menyisakan tanya : Siapa yang harus menyelesaikan Revolusi ’45? Generasi 1966 menyisakan tanya : Kapan harga diturunkan? Generasi 1998 pun menambah panjang daftar pertanyaan, ”Kapan reformasi direalisasikan?”

Ah, saya terlalu banyak mengingatkan. Mudah-mudahan Anda memaafkan saya. Mudah-mudahan Allah SWT. pun mengampuni kelancangan saya. Menurut konsep bilangan dalam Sistem Bilngan Indonesia, 17 Agustus 2009 adalah start berakhirnya Generasi 1945. Start ini berakhir pada 29 Desember 2014.

Oleh karena itu, jika sampai 17 Agustus 2009 tidak ada perubahan mendasar maka Generasi 1945 adalah generasi yang hilang dan hanya tinggal nama. Dengan segala hormat, bangsa yang mereka merdekakan telah gagal mengisi kemerdekaan yang telah direbut dengan harta, benda, air mata, darah, dan nyawa para pendahulu.

Alih-alih memerdekakan bangsa, memerdekakan darah dagingnya sendiri pun tidak bisa. Lihat, untuk kembali ke kursi presiden saja, darah presiden harus bertarung dengan darah lain terlebih dahulu. Untuk menjadi tentara, darah tentara harus seleksi bersama kontestan lain terlebih dahulu. Untuk menjadi guru, darah guru pun harus dites bersama peserta lain terlebih dahulu, dan seterusnya dan seterusnya. Pahit memang, tapi itu adalah kenyataan.

Memang, dalam kamus demokrasi ”mereka” semua memiliki hak yang sama. Pertanyaannya, sudah siapkah untuk menyelesaikan PR Sejarah? Jika sudah yakin seyakin-yakinnya, maka ”Candabhirawa yang hanya tinggal tiga –pasang (?) pada Juli 2009 mendatang, jangan dilawan, kibarkan bendera putih tanda menyerah, dan tundukkan kepala pada TUHAN YME -agama”.

Masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia ”bukan” pada siapa yang menjadi Presiden. Sesunguhnya, Pemilihan Presiden secara langsung pun (maaf) hanya pengalih perhatian. Kedudukannya sama dengan pengejaran terhadap para koruptor. Kedudukannya sama seperti uang pensiun bagi para Pegawai Negara (yang dipelintir menjadi Negeri). Kedudukannya sama seperti gaji 13 bagi para PNS. Kedudukannya sama seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan seterusnya. Sesunguhnya, perhatian kita telah dibelokkan dari masalah yang sebenarnya.

Bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri itu memang benar adanya. Namun, ada hal yang patut untut dicatat dengan tinta tebal. Kalaupun seisi negeri ini mau berubah jika tuhan yme –nya Pancasila tidak mau berubah maka jadinya akan kringgo. Itu tidak baik dan juga tidak benar. Ingat, ada koridor antara TUHAN YME –nya Agama dengan tuhan yme -nya Pancasila.

Pertanyaannya, dari aspek mana perubahan dimulai? Jawabanya sederhana, secara personal dari berhitung. Sedangkan secara kolektif, harus dimulai dari RAJA GARUDA. Sayang, beliau masih ada urusan … Selebihnya, baca Belajar Berhitung Ala Indonesia, Banjir Uang, dan Ketika Rupidin Bangun.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Catatan Pinggir dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 35. 2009 ADALAH TAHUN KETAR KETIR

  1. sugiarno berkata:

    Dua tahun sudah ketar-ketir ini berlalu …

Komentar ditutup.