37. Guru Wajib VS Wajib Guru dan Rentetannya

Guru Wajib VS Wajib Guru dan Rentetannya

Guru (a) yang dimaksud dengan tulisan ini bukan guru konvensional yang memegang kapur di depan papan tulis. Mereka adalah guru yang benar-benar guru. Mereka mendapat predikat guru karena negara (baca : pemerintah) MENUGASI mereka membuka sekolah baru untuk kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, tanpa mengurangi hormat kepada para guru sekolah swasta, guru berada di sekolah negeri. Guru (a) adalah PEGAWAI NEGARA “PENDIDIKAN”. Pegawai Negara tidak menerima pensiun sebab darah daging Pegawai Negara adalah Pegawai Negara juga.

GURU WAJIB (b) adalah keturunan guru yang harus menjadi guru karena melanjutkan perjuangan orangtuanya atau karena ada sekolah negeri –yang lain– yang kekurangan guru. Secara otomatis, b bisa menjadi guru setelah bersekolah guru. Ada empat macam sekolah guru, yaitu : Sekolah Pendidikan Guru Juru, Sekolah Pendidikan Guru Pratama, Sekolah Pendidikan Guru Madia, dan Sekolah Pendidikan Guru Pembina. Jenis sekolah ini akan lahir pada masa transisi. Sekolah ini semacam sekolah kedinasan. Pada sekolah tersebutlah kaum widya iswara mengajari bebek berenang.

Wajib Guru (c) adalah unsur di luar guru (a) yang menjadi guru. Wajib Guru terjadi ketika sekolah kekurangan guru. Oleh karena itu, (c) bisa berada pada sekolah negeri dan bisa juga berada di sekolah swasta. Sesungguhnya, kedudukan antara (c) yang berada di sekolah negeri dan (c) yang berada di sekolah swasta adalah sama. Keduanya sama-sama Pegawai Negeri Pendidikan (=Pegawai Negeri Guru dengan profesi guru) –selebihnya, lihat Noto Pendidikan pada Revolusi Bilangan Start Sebuah Keadilan.

Masa transisi yang pada tulisan lain saya sebut Jalan Indonesia, yang lamanya sembilan tahun, adalah masa negenisasi guru swasta dan negerinisasi sekolah swasta. Dengan masa kerja yang sama, latar belakang pendidikan yang sama /setara, jenjang tempat mengabdi yang sama /setara, beban kewajiban yang sama /setara maka pendapatan yang mereka terima pun sama.

Jika konsep ini ditarik ke dunia rakyat akan ada Petani Wajib dan ada Wajib Petani. Jika ditarik ke ranah militer, maka akan ada Militer Wajib dan ada Wajib Militer. Jika ditarik ke ranah sipil yang lain akan muncul Sipil Wajib dan Wajib Sipil … Padahal, satu di antara sepuluh super body rakyat (lihat Negeri Khayangan) adalah Presiden.

Jika Presiden Wajib banyak tersedia, mungkin beratus-ratus atau malah mungkin beribu-ribu jumlahnya. Mengapa harus melaksanakan Wajib Presiden? Sesungguhnya, pemilihan presiden secara langsung adalah implementasi dari Wajib Presiden.

Wajib Presiden dapat terjadi ketika sudah tidak ada lagi darah daging presiden di negara ini yang mau menjadi presiden. Sistem penerimaannya pun menggunakan tes semacam seleksi penerimaan CPNS –bukan banyak-banyakan pendukungnya. Mudah-mudahan, pembaca mengerti dengan yang saya maksud. Tapi maaf, saya tidak sedang mempromosikan seseorang.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Pendidikan dan tag , , , , , . Tandai permalink.