42. Malin Kundang Tidak Durhaka Lagi

(Kramagung)

Dahulu kala, di sebuah desa di tanah Minang Sumatera Barat, tinggallah seorang janda miskin bersama seorang anak lelakinya yang telah beranjak dewasa. Penghidupan janda tersebut sangatlah susah. Pekerjaannya sebagai penjual sayur dan dedaunan di pasar hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari, kadang malah kurang. Penghidupannya yang susah itu, ia jalani dengan tabah dan penuh kesabaran.

Anak lelakinya yang hanya semata wayang itu bernama Malin Kundang. Ia tumbuh sebagai pemuda desa yang sehat. Badannya tegap dan kuat. Hidup yang penuh kesulitan membuat dirinya menjadi pemuda yang tahan banting, tidak cengeng, dan tidak mudah menyerah pada nasib.

Hari telah menjelang pagi. Kokok ayam terdengar bersahut-sahutan di kejauhan sana. Rona kehidupan mulai membayang di gubuk tua sang janda di pinggiran desa …

BABAK I

Adegan 1
(Bunda keluar membawa barang-barang dagangan)

Bunda : Malin, ayo berangkat. Hari sudah siang!
Malin : Ya, Bunda, sebentar.
(Malin keluar sambil memikul kayu bakar)

Bunda : Berat, Lin?
Malin : Lumayan, masih agak berat … kurang kering.
Bunda : Bawaan Bunda juga lumayan berat. Tapi, kita harus kuat …
Malin : Ya, Bunda.
Bunda : Sabar ya, Lin … Hidup kita susah.
Malin : Sabarnya sampai kapan, Bunda?
Bunda : Apa? Apa katamu tadi?
Malin : Sabarnya sampai kapan, Bunda?
(Bunda tidak menjawab, ia menghela nafas. Malin pun tidak bertanya lagi. Ia segera mengambil obor dan menyalakan sumbunya)

Bunda : Kita berangkat.
Malin : Bismillah …
(Bunda dan Malin masuk)

Adegan 2
(Pak Ilham dan istrinya keluar)

Pak Ilham : Sudah lengkap barang bawaan kita?
Bu Ilham : Beres… Mana ibunya Malin, kok tidak datang-datang …
Pak Ilham : Mungkin masih dalam perjalanan.
Bu Ilham : Hari sudah siang.
Pak Ilham : Belum … matahari belum juga terbit. Sabar sedikitlah …
Bu Ilham : Iya, matahari belum terbit. Tapi, subuhnya sudah tadi …
Pak Ilham : Sabar istriku … Kalau sabar, kamu kelihatan maniiiis sekali …
Bu Ilham : Malu … malu pada penonton tuh … Mereka bersorak …
Pak Ilham : Mungkin, mereka kesiangan.
Bu Ilham : Paling-paling si Malin sulit dibangunkan.
Pak Ilham : Bisa jadi begitu, namanya juga anak-anak …
Bu Ilham : Tapi, biasanya si Malin itu rajin.
Pak Ilham : Mungkin, ia kelelahan.
Bu Ilham : Kasihan anak itu. Sejak kecil sudah yatim …
Pak Ilham : Ya. Untung saja, bundanya sangat menyayangi …

Adegan 3
(Bunda Malin dan Malin keluar)

Bunda : Maaf, kesiangan …
Bu Ilham : Nggak apa-apa. Kita segera berangkat …
(Pak Ilham menyalakan obor)

Pak Ilham : Ayo, Lin …
Malin : Ya, Paman …
(Mereka berjalan beriringan. Malin di depan sendiri)

Pak Ilham : Hati-hati, Lin. Semalam hujan …
Bunda : Tadi, si Malin bertanya …
Bu Ilham : Tanya apa dia?
Bunda : Sabar hidup susahnya sampai kapan?
Bu Ilham : Ha?! Dia tanya seperti itu?
Bunda : Aku jadi susah, Uni.
Bu Ilham : Kamu yang sabar menghadapi dia.
Pak Ilham : Namanya, juga anak muda. Dia ingi hidup yang lebih baik.
Bu Ilham : Kita hanya bisa mendoakan.
Pak Ilham : Ya, benar. Kita hanya bisa mendoakan.
Bunda : Mudah-mudahan, kelak hidupnya berbahagia …
(Semua masuk)

Adegan 4
(Pedagang 1, 2, 3, dan 4 keluar. Mereka menggelar darang dagangannya)

Pedagang 1: Hari ini, aku hanya bisa jualan pisang …
Pedagang 2: Nggak mendapat barang?
Pedagang 1: Bukan gitu, modalnya habis …
Pedagang 3: Kok bisa?
Pedagang 4: Ya, bisa saja to … namanya juga pedagang kecil
Pedagang1: Modalnya habis untuk beli beras …
Pedagang 2: Kamu harus cepat cari pinjaman modal.
Pedagang 3: Hari gini, mau cari pinjaman? Ke mana?
Pedagang 2: Eee, ya ke koperasi
Pedagang 3: Kamu belum menjadi anggota koperasi?
Pedagang 1: Belum
Pedagang 2: Waduh-waduh, ketinggalan kabar kawan …
Pedagang 4: Memangnya, bisa pinjam modal di koperasi?
Pedagang 3: Bisa, lha aku ini contohnya …
Pedagang 1: Kalau begitu, temani aku ke sana, ya.
Pedagang 3: Beres, jangan khawatir …
Pedagang 4: Aku juga ikut lho …
Pedagang 3: Heeh-heeh …

Adegan 5
(Malin, Bunda, Bu Ulham, dan Pak Ilham keluar)

Malin : Pasar sudah ramai, Bunda.
Bunda : Tempat kita saja yang masih kosong.
Malin : Bunda benar, semua sudah menggelar dagangannya.
Bunda : Ayo, Lin …
Bu Ilham : Ayo, Pak, cepat …
Pak Ilham : Ya, ya …
Pedagang 1: Tumben siang, Uda …
Pak Ilham : Iya, jalannya licin
Pedagang 2: Yang penting, nyampe … Mari, kubantu …
Pedagang 3: Ini, namanya gotong-royong …
(Pedagang 2 dan 3 membantu Bunda)

Bu Ilham : Seperti Bu Guru saja kamu ini …
Pedagang 3: Maklum, cita-citaku memang menjadi Bu Guru.
Pedagang 2: Hanya tidak tercapai
Pedagang 1: Lha kok malah jadi pedagang …
Bunda : Yang penting, bisa untuk mencari nafkah, Ya, kan?

Adegan 6
(Pembeli 1,2,3,4,5,dan 6 keluar)

Pembeli 1  Pedagang 1  Bunda  Pedagang 3  Pedagang 4
Pembeli 2  Pedagang 2  Pedagang 4  Bu Ilham  Pedagang 3
Pembeli 3  Pedagang 3  Pedagang 1  Bunda  Malin
Pembeli 4  Pedagang 4  Pedagang 2  Pedagang 1  Pak Ilham
Pembeli 5  Bunda  Pedagang 2  Pedagang 4  Bu Ilham
Pembeli 6  Bu Ilham  Pedagang 3  Pedagang 1  Pedagang 2

Adegan 7
(Ucok dan Harahap keluar sambil bersiul)

Ucok : Nyaris, tidak ada perkembangan …
Harahap : Masih seperti dulu.
Ucok : Seharusnya, sudah tidak seperti ini. Kumuh dan jorok …
Harahap : Pasar tradisional harus bersih
Ucok : Sekolah harus bersih
Harahap : Rumah juga harus bersih
Ucok : Semua harus bersih, kawan.
Harahap : Bersih lahir, bersih batin
Ucok : Mudah diucapkan, sulit dipraktikkan
Harahap : Harus belajar … semua melalui proses …
Ucok : Hay! Itu, kan si Malin Kundang … Malin!!!
Harahap : Malin? … Mana?
Ucok : Itu …di sana itu … Malin!
Harahap : Oya, … Malin! … Malin!!
(Pembeli 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan Pedagang 1, 2, 3, dan 4 masuk Ucok dan Harahap ke arah Malin Kundang)

Adegan 8
(Malin terbeliak kaget)

Ucok : Apa kabar, Lin?
Malin : Ya … ya … ya … beginilah …
Ucok : Sudah lupa pada kami?
Malin : Enggak, enggak. Hanya kaget. Sudah cukup lama, kalian menghilang.
Harahap : Kami merantau ke negeri seberang
Ucok : Cari pengalaman.
Harahap : Sekalian cari uang … buat modal usaha …
Malin : Sepertinya, kalian sukses di sana …
Ucok : Yaa, bisa dibilang begitu …
Harahap : Kau sendiri?
Malin : Aku? … (Malin menghela nafas panjang) … Ya, masih tetap seperti Malin yang dulu …
Ucok : Sayang …
Harahap : Ya, sayang sekali
Malin : Maksudmu?
Ucok : Emm, maaf, ya, Lin … Kami sudah berubah seperti ini. Apa kamu
akan tetap seperti itu?
Malin : Aku pasrah …
Harahap : Kamu terlalu pasrah pada nasib …
Ucok : Ingat, Lin. Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang sendiri tidak mau mengubahnya …
Malin : Apa yang harus aku lakukan?

Adegan 9
(Bunda mendekati Malin Kundang. Pak Ilham dan istrinya mengemasi barang-barangnya)

Bunda : Malin, siapa mereka?
Malin : Ini teman-teman Malin, Bunda …
Ucok : Saya Ucok, Bunda
Harahap : Saya Harahap
Bunda : Kalian Ucok dan Harahap yang tinggal di kampung hulu?
Ucok : Bunda masih ingat?
Bunda : Ya ingat lah … Kalian sudah jadi orang sukses rupanya …
Harahap : Ah, Bunda bisa saja …
Malin : Bunda pulang dulu. Nanti, Malin menyusul …
Bunda : Baik … Jangan lupa, beli beras …
Malin : Ya, Bunda
Bunda : Main-main ke rumah Malin, ya …
Ucok/Harahap : InsyaAllah …
Bunda : Ajak mereka mampir ke rumah …
Malin : Ya, Bunda
(Bunda, Bu Ilham, dan Pak Ilham masuk)

Adegan 10

Ucok : Jadi, ini kegiatanmu sehari-hari?
Harahap : Berangkat ke pasar… jual kayu … dan beli beras … sayang … sayang …
Malin : Apakah itu salah?
Ucok : Tidak. Aku tidak menyalahkanmu.
Harahap : Hanya sayang saja.
Ucok : Kau lebih pintar dari kami, Lin.
Harahap : Benar, kau lebih pintar dari kami
Ucok : Kamu bisa ikut kami
Harahap : Benar, ikut merantau ke tanah Jawa.
Malin : Uh, jauh amat. Lalu, Bundaku dengan siapa?
Ucok : Ya …
Harahap : Sulit juga rupanya mencari jawabannya.
Malin : Ceritakan saja pengalamanmu di sana …
Ucok : Ya … banyak …
Malin : Kita sambil jalan saja, oke?
Harahap : Setuju …
(Malin, Ucok, dan Harahap masuk)

Adegan 11
(Bunda keluar)

Bunda : Sejak kemarin, tingkah laku si Malin jadi aneh. Ia jadi pemurung. Apa pula yang dipikirnya. Sebaiknya aku tanyai saja … Malin, Malin!
Malin : Ya, Bunda
Bunda : Kemari kau!
(Malin keluar dengan wajah suntuk)

Bunda : Ada apa, Lin? Dari kemarin kau nampak aneh. Ini sudah larut malam. Apa kau tidak mengantuk? Besok kita ke pasar …
Malin : Bunda …
Bunda : Ya … ada apa? Kau jangan aneh, Lin. Bunda jadi bingung. Atau … jangan-jangan … kau ingin kawin seperti si Fulan teman kau itu?
Malin : Bukan ingin kawin, Bun … tapi … tapi …
Bunda : Tapi, apa? Kalu kau ingin kawin, gadis mana pula yang kau taksir?
Malin : Tidak, bukan itu … Bukan itu, Bun … tapi … tapi …
Bunda : Bicara yang jelas, dari tadi tapi-tapi melulu …
Malin : Malin ingin … ingin … ingin merantau …
Bunda : Merantau?! Merantau ke mana, Lin?
Malin : Malin ingin merantau ke tanah Indonesia …
Bunda : Tanah Indonesia? Jangan, Lin… Tanah Indonesia itu jauh….
Malin : Malin ingin mengadu nasib di negeri orang …
Bunda : Kau salah, Lin … Indonesia adalah tanah air kita … Tapi, kau tidak boleh pergi ke sana
Malin : Mengapa, Bun?
Bunda : Belum kapok juga kau. Mau jadi batu lagi?
Malin : Kapok, Bun … Malin tidak akan durhaka lagi
(Bunda terduduk, lemas)

Adegan 12
(Malin mendekati seraya memijit-mijit tengkuk bundanya)

Malin : Boleh, ya, Bun? Malin ingin seperti si Ucok dan Harahap …
Bunda : O … Rupanya, mereka yang mempengaruhimu
Malin : Tidak, Bunda … Malin sendiri yang ingin merantau, ingin melihat
negeri orang, cari pengalaman…. Boleh ya, Bun?
Bunda : Kalau kau pergi, Bunda dengan siapa …
Malin : Maafkan Malin, Bun …
Bunda : Kau tidak salah … Bunda saja yang egois … Bunda harus merelakan …
Malin : Maafkan Malin, Bun … Maafkan Malin …
Bunda : Apakah hatimu sudah mantap?
Malin : Sudah … Tekad Malin sudah bulat, esok pagi Malin akan pergi …
Bunda : Kalau begitu, Bunda tidak bisa melarangmu. Kau sudah dewasa
… Hati-hatilah di negeri orang. Pandai-pandailah membawakan
diri dan jangan lupa selalu ingat pada Yang Maha Kuasa …
Sekarang, tidurlah …
(Malin masuk)

Adegan 13

Bunda : Anakku akan pergi … Aku akan sebatang kara di dunia ini …
Malang nian nasibku … Ah, aku tidak boleh meratapi nasib …
Aku tidak boleh larut dalam kesedihan. Mudah-mudahan, ia
berhasil di negeri orang …. Ya, Allah … lindungilah anakku …
Aku serahkan ia kepada -Mu

(Bunda masuk)

BABAK II

(Rumah keluarga Herlambang nampak sibuk. Para pekerja keluar masuk gudang mengangkut barang-barang dagangan yang akan dikirim ke luar pulau. Mandor-mandor berteriak-teriak menyuruh para tenaga kasar untuk bekerja dengan baik)

Adegan 1
(Sri Bulan, Pelayan 1/2/3 keluar)

Sri Bulan : Cepat dikit, sebentar lagi hujan.
Pelayan 1: Aduh, celaka … tadi tidak membawa payung …
Pelayan 2: Padahal, masih jauh
Pelayan 3: Ini gara-gara keasyikan nonton pasar sore
Sri Bulan : Habis, pasarnya amai …
Pelayan 1: Bagaimana, Non?
Sri Bulan : Pasar sorenya, ramai …
Pelayan 2: Aku tadi sempat naik kuda-kudaan lho …
Pelayan 1: Hi … hi … hi … benar. Kau tadi nampak lucu …
Sri Bulan : Ya, kau nampak lucu …
Pelayan 2: Hanis, saya penasaran
Pelayan 3: Kenapa?
Pelayan 2: Anak-anak kecil naik kuda-kudaan, masak saya tidak boleh …
Sri Bulan : Kau ini, lucu …
Pelayan 1: Tidak mau kalah dengan anak-anak …
Pelayan 3: Memperpanjang masa kanak-kanak … malu la yau …

Adegan 2
(Penyamun 1/2 keluar)

Penyamun 1: Na. … ini yang kita tunggu …Akhirnya, lewat juga …
Penyamun 2:Benar, bro … Ini pasti orang kaya …
Penyamun 1: Lihat, bajunya bagus …
Penyamun 2: Perhiasannya juga banyak
Penyamun 1: Wuihhhhhhhh, rejeki nomplok …
Penyamun 2: Tunggu apa lagi? Ayo cepat!
Penyamun 1: Kau berjaga-jaga di sana!

(Penyamun 2 menjauh)

Penyamun 1: Hai, berhenti!
Sri Bulan : Aduh, celaka … ada orang jahat …
Pelayan 1: A … a … a …
Pelayan 2: Bagaimana, Non?
Pelayan 3: Cepat, cari akal …
Penyamun 1: Serahkan semua uang dan perhiasanmu!
Sri Bulan : Jangan-jangan …
Penyamun 1: Ayo, cepat! Pilih harta atau nyawa!
Pelayan 2: Aduh, aduh, bagaimana ini …
Sri Bulan : Lari … tolong! … tolong! … tolong …!
Pelayan 3: Kok tidak orang, ya …
(Bulan, Pelayan 1/2/3 lari. Penyamun 1/2 mengejar)

Penyamun 2: Mau lari kemana … hayo …
Penyamun 1: Kau kejar yang itu, aku kejar yang ini …!
Sri Bulan dkk: Tolong! Tolong!

Adegan 3
(Malin keluar)

Malin : Hai! apa yang kalian lakukan!
Penyamun 1: Eit, jangan ikut campur!
Penyamun 2: Sana, pergi!
Malin : Kalian ini mengganggu orang lewat saja …
Penyamun 1: Kami memang penyamun
Malin : O … begini rupanya tampang penyamun?
Penyamun 2: Ya, beginilah tampang penyamun …
Penyamun 1: Sangar dan menakutkan …
Malin : Ha … ha … ha … Tapi, aku tidak takut padamu … ha … ha … ha …
Sri Bulan : Tolong kami, Tuan … Tolong kami …
Pelayan 1: Ya, Tuan … Tolong si Non …
Pelayan 2: Mereka orang jahat …
Pelayan 3: Sikat mereka, Tuan … sampai kapok …
Malin : Kalian bersembunyilah di sana … Biar akau hadapi mereka …
Sri Bulan : Baiklah, Tuan … hati-hati …

(Sri Bulan, Pelayan 1/2/3 bersembunyi di belakang batu. Malin berkelahi melawan penyamun. Malin menang, penyamun kalah)

Adegan 4

Malin : Ayo, bangun! Bangun!
Penyamun 1: Ampun, jangan pukul lagi …
Penyamun 2: Ampun, Tuan … Kapok … keook … keoook …!
Malin : Kalian mengganggu ketertiban saja.
Penyamun 1: Habis, kami tidak mempunyai penghasilan
Penyamun 2: Anak istri kami butuh makan
Malin : Makanya kerja … kerja … Kalu tidak mau bekerja, siapa yang akan
memberimu uang?
Penyamun 1: Ya, Tuan … Kami akan mencari pekerjaan …
Penyamun 2: Kami jera, Tuan …
Malin : Jangan jadi penyamun, kerjalah yang baik-baik …
Penyamun 1/2 : Ya, Tuan …
Malin : Apakah anak istri akan kamu beri makan hasil kerja seperti ini? Sadar …
Penyamun 1: Ya, Tuan … Saya sadar …
Penamun 2: Saya juga sadar … menyamun itu tercela…
Malin : Baiklah, kalian boleh pergi … Awas kalau menyamun lagi …
Penyamun 1/2 : Terima kasih, Tuan …
(Penyamun 1/ 2 masuk)

Adegan 5

(Sri Bulan, Pelayan 1 / 2 /3 keluar)

Sri Bulan : Terima kasih, Tuan
Pelayan 1: Slamet, slamet …
Pelayan 2: Beruntung, ada Tuan Pendekar
Pelayan 3: Aku masih berdebar-debat … takut …
Malin : Sudah, tenang … Jangan takut lagi …
Sri Bulan : Sekali lagi, terima kasih…. Tuan hebat sekali …
Malin : Ah, Nona terlalu memuji …
Sri Bulan : Sungguh … Tuan hebaaaaaaat … Benar kan, Tinah?
Pelayan 1: Benar, Non … Tuan ini hebat
Pelayan 2: Non, ajak tuan ini mampir …
Pelayan 3: Supaya … kita lebih aman di jalan …
Sri Bulan : Apakah ayah tidak marah?
Pelayan 1: Ya, tidak to …
Pelayan 2: Tuan Besar pasti senang … Puterinya ada yang menolong …
Pelayan 3: Tuan Besar akan sangat bereterima kasih …
Sri Bulan : Baiklah … Tuan, silakan mampir ke rumah saya …
Malin : Apakah tidak apa-apa?
Sri Bulan : Tidak, tidak apa-apa …
Malin : Baiklah … Mari, saya antarkan pulang …

(Semua masuk)

Adegan 6
(Pak Herlambang dan Bu Herlambang keluar)

Tuan : Sudah bangun tamu kita, istriku?
Nyonya : Sepertinya sudah …
Tuan : Katanya, dia dari tanah Minang …
Nyonya : Tanah Minang? Tanah Minang itu kan …di Sumatera Batar? Waw, jauh ..
Tuan : Dia merantau …
Nyonya : Berarti, dia cari kerja …
Tuan : Begitulah … Bagaimana pendapatmu, Istriku?
Nyonya : Terserah, aku ikut saja …
Tuan : Sepertinya, dia pemuda baik-baik
Nyonya : Kelihatannya, begitu … Tapi, kita harus tetap hati-hati …
Tuan : Dia sudah menolong anak kita
Nyonya : Tapi, kita tidak boleh lengah, Suamiku …
Tuan : Kau benar, Istriku
Nyonya : Kebaikan dan kejujurannya harus diuji …
Tuan : Benar, suatu saat, aku akan mengujinya …

Adegan 7

(Utusan 1 / 2 keluar)

Utusan 1 : Selamat pagi, Tuan Saudagar.
Tuan : Pagi, siapa kalian?
Utusan 2 : Kami utusan raja Bali
Tuan : O, kalian utusan Baginda Udayana?
Utusan 1 : Benar, Tuan …Raja kami akan punya hajat
Tuan : Kapan?
Utusan 2 : Tiga bulan lagi, beliau pesan kain sutera yang halus dari Tuan …
Tuan : Biklah, nanti akan kami kirim …
Nyonya : Kalu boleh tahu, apa gerangan hajat beliau?
Utusan 1 : Mantu … putera sulungnya …
Tuan : Denmas Erlangga, maksudmu?
Utusan 2 : Benar … Denmas Erlangga diambil mantu Baginda Darmawangsa …
Tuan : O, begitu rupanya …
Nyonya : Pasti meriah
Tuan : Namanya juga hajat raja …
Utusan 1 : Bagaimana, Tuan?
Utusan 2 : Tuan sanggup, bukan?
Tuan : Ya, saya sanggup … Kain sutera akan segera dikirim…
Utusan 1 : Kalu begitu, kami langsung mohon diri …
Utusan 2 : Nasih ada urusan lain …
Tuan : Baiklah, salam untuk baginda …
Utusan 1/2 : Permisi, Tuan …
(Utusan 1 /2 masuk)

Adegan 8
(Sri Bulan keluar)

Sri Bulan : Sepertinya, baru ada tamu …
Nyonya : Benar, Bulan. Mereka utusan dari Bali …
Tuan : Bulan, panggilkan si Malin…
Sri Bulan : Ah, malu
Nyonya : Ya, malu to … Masak cewek memanggul cowok … Kau ini ada-ada saja ..
Tuan : O … begitu, ya … Jo …. Paijoooo!
(Paijo keluar, Sri Bulan masuk)

Paijo : Ya, Tuan…
Tuan : Panggilkan Malin, cepat …
Paijo : Siap, Tuan …
Tuan : Cepat, jangan lama-lama …
(Paijo masuk. Sesaat kemudian, ia keluar bersama Malin)

Malin : Tuan memanggil saya?
Tuan : Ya, duduklah …
Nyonya : Dengarkan baik-baik. Tuan akan memberi tugas pertama padamu …
Malin : Baik, Nyonya …]
Tuan : Pimpinlah pengiriman barang ke istana Baginda Udayana di pulau Bali.
Malin : Ya, Tuan
Tuan : Kau sanggup, Malin?
Malin : Sanggup, Tuan.
Nyonya : Bawalah pengawal secupnya
Malin : Siap, Nya …
Tuan : Kalian boleh pergi …
(Malin dan Paijo masuk)

Adegan 9

Nyonya : Bagaimana jika ia lolos ujianmu?
Tuan : Ya … Aku ambil dia sebagai menantu …
Nyonya : Apa? Diambil sebagai menantu? Tidak, tidak … aku tidak setuju …
Tuan : Mengapa?
Nyonya : Orangtua tidak boleh memaksakan kehendaknya …
Tuan : Tapi, aku kan ayah Sri Bulan …
Nyonya : Meskipun kau adalah ayah Sri Bulan, tetap tidak boleh …
Tuan : Tidak boleh? Kau ini ada-ada saja … Orangtua berhak atas anak-anaknya.
Nyonya : Berhak sih berhak … Tapi, orangtua juga harus menghormati hak anak-
anaknya … Orangtua tidak boleh egois …
Tuan : Maksudmu?
Nyonya : Yang mau nikah itu Sri Bulan. Bukan kamu, bukan kamu, Suamiku …
Tuan : Terus, bagaimana?
Nyonya : Tanyai saja dia, mau atau tidak … Ingat, suamiku … Sudah bukan zaman
Siti Nurbaya …
Tuan : Kalau begitu … Tolong, panggilkan dia …
(Bu Herlambang masuk)

Adegan 10
( Bu Herlambang keluar lagi bersama Sri Bulan)

Sri Bulan : Ada apa, Ayah?
Nyonya : Duduk yang manis, dengarkan baik-baik kata ayahmu …
Sri Bulan : Sepertinya masalah gawat …
Tuan : Begini, Bulan … (diam)
Nyonya : Lanjutkan, Suaamiku …
Sri Bulan : Sebenarnya, ada apa? Aku jadi bingung …
Tuan : E … e … bagaimana pendapatmu tentanf Si Malin Kundang?
Sri Bulan : Mas Malin? E… e … dia baik …
Tuan : Hanya itu?
Sri Bulan : Maksud ayah?
Nyonya : Yang lain … yang lain … begitu maksud ayahmu, Bulan …
Sri Bulan : Dia pemuda baik-baik … hanya itu …
Tuan : Kalau begitu … Dia akan ayah ambil sebagai menantu …
Sri Bulan : Apa?! … Tidak, tidak … Aku tidak mau …
Tuan : Katamu, dia pemuda baik-baik
Nyonya : Ayolah, Bulan …
Sri Bulan : Pokoknya, tidak … (Sri Bulan menangis) … Pokoknya, tidak …
Tuan : Lho, tadi, kamu bilang, dia pemuda baik-baik …
Sri Bulan : Iya, tapi … tapi … tapi …
Tuan : Tapi apa, Bulan?
Sri Bulan : Tapi, aku tidak mau … Aku tidak mau … Aku tidak mau menolaknya …
Tuan : A … Ayah kira tidak mau sungguhan …
Nyonya : Kamu nakal, Bulan …
Tuan : Sekarang, lega rasa hatiku …
Nyonya : Aku juga lega, Suamiku
Nyonya : Calon menantu kita, pemuda baik-baik …

Adegan 11
(Pelayan 1 /2 /3 keluar)

Pelayan 1: Tuan Besar, rombongan Tuan Malin sudah datang
Pelayan 2: Benar, Tuan
Pelayan 3: Mereka membawa oleh-oleh buanyak sekali …
Tuan : Berarti, tugasnya lancar …
Nyonya : Kau yakin, Tinah?
Pelayan 1: Yakin, Nya …
Pelayan 2: Orang-orang sedang membongkar barang di gudang …
Pelayan 3: Tuh, Tuan Malin ke sini …
(Malin dan Paijo keluar. Pelayan 1 /2 /3 masuk)

Tuan : Bagaimana tugasmu, selesai?
Malin : Lancar semua, Tuan …
Nyonya : Syukurlah …
Malin : Ini, Tuan … Uang dari Baginda Udayana …
(Pak Herlambang menerima uang dari Malin. Uang kemudian diserahkan kepada Bu Herlambang).

Malin : Baginda juga menitipkan ini …
Tuan : Ha?! Undangan?! Istriku, kita diundang baginda …
Nyonya : Oya?
Tuan : Berarti, kita sudah termasuk orang penting …
Nyonya : Eit, mulai sombong niye? …
Tuan : Ah, enggak-enggak … cuman bergurau …
Nyonya : Malin, duduklah yang enak. Tuan akan bicara sedikit kepadamu …
Malin : Ya, Nya …
Nyonya : Ayo, Suamiku … Katakan segera kepadanya …
Tuan : Malin, maukah kau kuambil sebagai menantu?
Malin : Ah, Tuan jangan bergurau … Saya ini anak desa yang miskin … Tuan dan
Nyonya akan menyesal …
Tuan : Kami tidak memandang kekayaanmu
Nyonya : Kami tidak memandang asal-usulmu …
Malin : Kalau begitu, terserah pada Tuan dan Nyonya
Tuan : Bagaimana, Lin?
Malin : … saya ikut saja …
Tuan : Berarti, kau setuju (!) Paijo, panggilkan Pak Penghulu …
Paijo : Sekarang, Tuan?
Tuan : Lha iya to … cepat sana … Malin, berdandanlah … Kamu, kamu, dan
kamu … undang orang-orang kampung kita …
Pengawal 1 /2 /3: Siap, Tuan …
(Nyonya, Malin, Paijo dan Pengawal 1/2/3 masuk)

Adegan 12
(Paijo dan Penghulu keluar)

Paijo : Tuan, acara bisa segera dimulai … semua siap …
Tuan : Pak Penghulu, tolong nikahkan anak saya …
Penghulu : Ha … ha … ha .. boleh-boleh, apakah pengantinnya sudah siap?
Tuan : Sebentar lagi…
Penghulu : Anak-anak cepat tumbuh dewasa
Tuan : Benar, Pak … Baru kapan hari lulus SD …Sekarang sudah menikah …
Penghulu : Hidup ini singkat
Tuan : Benar
Penghulu : Hiasilah hidup dengan menabur kebaikan …
Tuan : Benar …
Penghulu : Dunia ini adalah ladang akherat …
Tuan : Ya, Pak
Penghulu : Jangan membuat kerusakan di muka bumi …
Tuan : Iya, Pak
Penghulu : Takutlah kepada murka Allah SWT …
Tuan : Iya, Pak
Penghulu : Siksa Allah SWT sangatlah pedih
Tuan : Iya, Pak

Adegan 14
(Malin, Sri Bulan, Nyonya, Pelayan 1 /2 /3 dan orang-orang desa keluar)

Penghulu : Kalain sudah siap?
Malin : Siap
Penghulu : Tuan Herlambang, mereka akan aku dikahkan …
Tuan : Malin, ikuti kata-katanya ..
(Penghulu dan Malin bersalaman)

Penghulu : Saya terima nikahnya Sri Bulan binti Herlambang dengan mas kawin
seperangkat alat solat, tunai …
Malin : Saya terima nikahnya Sri Bulan binti Herlambang dengan mas kawin
seperangkat alat solat, tunai …
Penghulu : Bagaimana, sah?
Undangan: Sah, sah, sah …
(Penghulu membaca doa dan hadirin mengamini. Semua masuk. Penari keluar)

BABAK III

(Sri Bulan dan para pelayan sedang berada di halaman rumah. Sri Bulan duduk memandangi para pelayan yang sedang bekerja membersihkan halaman yang penuh dengan bunga-bunga)

Adegan 1

Pelayan 1: Saya perhatikan, sejak tadi si Non bermuram durja …
Pelayan 2: Kau benar. Ada apa, ya?
Pelayan 3: Mana aku tahu. Coba, kau yang tanya …
Pelayan 1: Apa kita sudah melakukan kesalahan, ya?
Pelayan 2: Sepertinya tidak. Kupikir, ia sedang memikirkan sesuatu.
Pelayan 3: Kamu ini ada-ada saja. Mikir apa, coba? Harta orangtuanya
melimpah tidak habis dimakan tujuh turunan …
Pelayan 1: Suaminya juga setia, sudah gitu gagah. Lalu kurang apa lagi?
Pelayan 2: Ya, namanya juga manusia… Mungkin ada sesuatu yang kurang.
Pelayan 3: Coba, kalau menurut kamu. Apanya yang kurang?
Pelayan 1: Iya,ya, kurang apa lagi?
Pelayan 2: Aku tidak tahu. Aku hanya menduga-duga …
(Sri Bulan batuk-batuk)

Adegan 2
(Para pelayan berhamburan mendekat)

Pelayan 1: Nona sakit?
(Sri Bulan menggeleng. Pelayan 2 mendekat, ia memijit-mijit tengkuk Sri Bulan)

Pelayan 2: Nona harus cerita. Ada apa?
Pelayan 3: Apakah Non mendapat marah dari Tuan Besar?
(Sri Bulan menggeleng)

Pelayan 2: Nyonya Besar?

(Sri Bulan menggeleng)

Pelayan 1: Kalau begitu, pasti Tuan Malin yang membuat Non bersedih hati ..
Pelayan 2: Jangan-jangan, kami kurang baik melayani …
Sri Bulan : Kalian jangan bingung. Aku tidak apa-apa …
Pelayan 1: Lha gitu, Non… Bicaralah, sejak tadi lho Non diam … Kami jadi
bingung …
Pelayan 2: Iya, kalau Non diam, kami tidak tahu yang Non mau …
Pelayan 3: Non ingin sesuatu? Minta dibuatkan rujak manis?
Sri Bulan : Ah tidak, masih pagi, nanti saja …
(Grup musik keluar)

Adegan 3
(Sri Bulan berdiri)

Sri Bulan : Calon artis, lagunya enak ya?
Pelayan 1: Eee… kamu pengamen dari mana?
Pengamen 1: Kami dari Jakarta
Pelayan 2: Lho lho lho…jauh amat
Pelayan 3: Kenal dengan Pasha?
Pelayan 2: Lho, yang nyanyi itu, Pasha
Sri bulan : Pashanya Ungu?
Pelayan 1: Bukan…ini Pasha Merah
Pelayan 2: Ooo, kamu itu…
Pelayan 1: Tapi suaranya oke juga
Sri Bulan : Kamu boleh menyanyi lagi

Adegan 4
(Malin keluar)

Malin : Bagaimana dengan penampilan mereka, dinda?
Sri Bulan : Bebar-benar memukau
Pelayan 1: Saya tidak menyangka, ternyta mereka bisa juga
Pelayan 2: Non, suruh mereka menyanyi lagi
Pelayan 3: Iya, Non, suaranya merdu
Sri Bulan : Baik…tapi…tapi…aku mau Bang Malin yang menyanyi, kalian setuju?
Pelayan 1/2/3 : Iya…setuju
Sri Bulan : Bagaimana penonton, setuju?
Malin : Apa? Aku diminta menyanyi?Ah, tidak…tidak…suraku jelek
Sri Bulan : Nggak apa-apa…
Pelayan 1: Ayolah tuan, hiburlah si Non
Pelayan 2: Dari tadi, si Non murung melulu
Pelayan 3: Tuan harus menghiburnya, kasihan si Non
Malin : Baiklah, aku akan menyanyikan sebuah lagu, tapi lagu apa?
Sri Bulan : Terserah abang
Malin : Baiklah kalau begitu
(Malin menyanyi. Usai menyanyi grup musik masuk)

Adegan 5
(Semua pelayan duduk pada tempat maisng-masing)

Malin : Kudengar dari mereka, dari tadi kau murung, ada apa?
(Sri Bulan tidak menjawab, dia menunduk)

Malin : Katakan, apakah kau menginginkan sesuatu?
(Sri Bulan tidak menjawab, Malin mendekat)

Malin : Ayolah… aku janji…
Sri Bulan : Yakin?
Malin : Suer! Aku janji, katakan, apa yang kau mau?
Sri Bulan : Sungguh, kanda tidak bohong?
Malin : Percayalah, kapan kanda bohong?
Sri bulan : Memang, kanda tidak pernah
Pelayan 1: Katakan, ayo…Non
Pelayan 2: Iya, biar jelas
Pelayan 3: Supaya kami tidak bingung semua
Malin : Mereka benar. Katakan istriku

(Sri Bulan melangkah, Malin mengikuti. Pelayan masuk)

Adegan 6

Malin : Sepertinya masalah gawat
Sri Bulan : Sebenarnya tidak, tapi mengganjal pikiranku
Malin : Apa itu?
Sri Bulan : Kau yakin akan menuruti apa yang kumau?
Malin : Asal jangan minta bintang
Sri Bulan : Permintaanku sederhana, aku ingin bertemu dengan mertuaku
Malin : Apa? tidak…tidak… orang tuaku sudah meningal semua
Sri Bulan : Paling tidak aku tau dimana kuburannya
Makin : Ah…percuma istriku
Sri bulan : Mengapa?
Malin : Ya…ya…karena kampung halamanku jauh…ya, jauh sekali
Sri Bulan : Kan sekalian bisa rekreasi?
Malin : Jalannya berbahaya, banyak penyamun
Sri Bulan : Kita bawa pengawal
Malin : A…a…a…
Sri Bulan : Bawa seratus orang pengawal, cukup?
Malin : A…a…a…tapi orang tuaku kaya sekali, aku takut mereka marah
Sri Bulan : Apa orang tuaku kurang kaya? Coba, lapangan terbang itu, siapa yang punya? Stasiun kereta apai itu, siapa yang punya?
Malin : Tapi…tapi…

(Sri Bulan menjauh)

Adegan 7

Malin : Maafkan aku, manisku, sayangku, cintaku…
Sri Bulan : Tidak ada yang perlu dimaafkan
Malin : Aku tidak ingin kamu kecewa
Sri Bulan : Mengapa aku harus kecewa?
Malin : Aku takut mereka menolakmu
Sri Bulan : Mengapa menolakku?
Malin : Karena…karena…
Sri Bulan : Sudahlah, kalau tidak mau ya sudah, aku tidak memaksa…
Malin : E…e…e…
Sri Bulan : Aku hanya ingin berbakti pada orang tua
Malin : E…e…e…
Sri Bulan : Aku tidak mau menjadi menantu durhaka
Malin : E…e…e…
Sri Bulan : Baiklah, kita bicara yang lain saja …
Malin : E … e … e … Bukan itu maksudku … Sebenarnya … sebenarnya … aku …
Sri Bulan : Katakan, suamiku … Jangan ragu
Malin : Baiklah, aku … aku mau …
Sri Bulan : Kau yakin?

(Malin mengangguk. Pak Herlambang dan Bu Herlambang, keluar)

Adegan 8

Tuan : Kalian sibuk?
Malin : Tidak, Ayah
Sri Bulan : Kami merencanakan sesuatu. Benarkan, Mas?
Nyonya : Apa itu, Anakku?
Tuan : Kau kelihatan gembira sekali. Ada apa, Bulan?
Malin : Kami akan pulang kampung
Tuan : Oya, kapan?
Sri Bulan : Secepatnya. Begitu kan, Mas Malin?
Malin : Be … benar, Istriku.
Sri Bulan : Boleh kan, Ayah?
Tuan : Oya, jelas
Nyonya : Syukurlah, ayahmu mengizinkan
Tuan : Berbakti kepada orangtua itu harus, Anakku.
Malin : Ayah dan Ibu tidak keberatan?
Tuan : Tidak, tidak. Kalian boleh pergi.
Nyonya : Siapkan oleh-oleh untuk mertuamu, Bulan
Sri Bulan : Ya, Bu
Tuan : Jadilah menantu yang baik, Anakku
Sri Bulan : Ya, Ayah

Adegan 9
(Pelayan 1, 2, 3 keluar)

Nyonya : Dari mana saja, kalian?
Pelayan 1: Anu … anu … anu, Nya …
Pelayan 2: Anu, Nya … Kami membuatkan rujak si Non …
Nyonya : Rujak? Aha … Kita akan punya cucu, suamiku …
Tuan : Oya? Benarkah itu?
Pelayan 3: Benar, Tuan … Sebentar lagi, tuan dan nyonya punya cucu …
Pelayan 1: Si Non mintanya aneh-aneh, Tuan
Pelayan 2: Kapan hari pingin makan rujak sambil naik dokar keliling pasar
Nyonya : Seperti itu? Aneh …
Pelayan 3: Si Non juga pingin nanggap pengamen …
Tuan : Ha …ha … ha … Ngidam yang keren, gitu lho …
Sri Bulan : Uh, Ayah …
Tuan : Ibumu dulu, ngidamnya … ngelus-ngelus kepala kereta api … ha …ha
… ha … Benar kan, Istriku? Jangan-jangan sekarang kamu lagi ngidam naik
perahu …
Sri Bulan : Ayah … Uuuh …
Tuan : Ha … ha … ha … Ya … ya … Turuti saja, Malin …
Malin : Ya, Ayah …
Tuan : Asal … jangan minta mandi di laut, turuti saja … ha … ha … ha …
Nyonya : Jangan, Bulan … Jangan pingin mandi di laut … Ibu nggak rela, nggak rela …
Tuan : Ha … ha … ha …
(Semua tertawa. Semua masuk)

Adegan 10
(Tari Nelayan. Usai menari)

Penari 1 : Lihat, ada perahu besar menuju ke mari …
Penari 2 : Mana … mana …
Penari 1 : Itu … itu, di sana itu …
Penari 3 : Wow, besar sekali
Penari 1 : Pasti milik saudagar kaya dari seberang
Penari 2 : Byuh … byuh … cck ..cck … kapalnya … buuweeesssuaaarrr …
Penari 3 : Berarti akan ramai desa kita
Penari 1 : Ayo, kita kabarkan kepada orag-orang
Penari 2 : Ayo, ayo …
Penari 3 : Tentu menyenangkan
Penari 1 : Daerah kita kedatangan saudagar kaya …
(Penari masuk)

Adegan 11
(Nelayan keluar)

Nelayan 1: Aku punya tebak-tebakan
Nelayan 2: Apa itu?
Nelayan 3: Aku juga punya lho … Coba, kau duluan …
Nelayan 1: Kepala gundul banyak kutunya. Apakah itu, kawan?
Nelayan 2: Apa, ya?
Nelayan 3: Itu gampang, kawan. Jawabannya … tidak pernah keramas. Ya, kan?
Nelayan1 : Salah, bro. Bukan itu …
Nelayan 2: Apa, ya … Anu, ketombean
Nelayan 1: Salah, salah … ha … ha … ha … kalian menyerah?
Nelayan 2: Ya, aku tidak tahu
Nelayan 3: Aku juga tidak tahu …
Nelayan 1: Menyerah semua?
Nelayan 2: Ya, aku menyerah
Nelayan 3: Aku juga menyerah
Nelayan 1: Jawabannya adalah onde-onde …

(Penari 1, 2, 3 keluar)

Nelayan 1: Bagaimana keadaan laut?
Penari 1 : Sip, lautnya tenang …
Nelayan 2: Pantas saja, perahumu penuh ikan
Penari 2 : Di sana, kami melihat perahu besar dan mewah
Penari 3 : Benar, pasti milik saudagar kaya dari seberang
Nelayan 3: Kau yakin?
Penari 1 : Itu lihat … tuh … tuh … benderanya sudah kelihatan …
Nelayan 1: Oya … ya … itu … itu …
Nelayan 2: Haaaiii! haaaaaaaiiiiii …

(Semua melambai-lambaikan tangan)

Adegan 12
(Ucok dan Harahap keluar)

Ucok : Ada apa, ada apa?
Harahap : Kalian berteriak-teriak macam orang kesetanan, ada apa?
Nelayan 1: Tuh, lihat! Ada perahu besar menuju ke sini …
Ucok : Oya … cck… cckk … Besar sekali …
Harahap : Pasti milik saudagar kaya
Nelayan 2: Ccck … cckk … besar sekali …
Nelayan 3: Luar biasa …
Ucok : Itu … itukan si Malin …
Harahap : Ah, yang benar kau …
Ucok : Coba perhaikan baik-baik …
Harahap : Ya … ya, benar. Dia si Malin Kundang teman kita
Ucok : Ayo, kita kabari bundanya
Harahap : Ayo, ayo …
Nelayan 1/2/3 : Aku ikut, aku ikut …
(Ucok, Harahap, Nelayan 1,2,3, Penari 1,2, 3 masuk)

Adegan 13
(Malin Kundang, Sri Bulan, Pelayan 1/2/3, dan pengawal 1/2 keluar)

Sri Bulan : Inikah kampung halamanmu, Mas Malin?
Malin : Ya, di sinilah aku dilahirkan
Sri Bulan : Sebuah kampung yang indah …
Pelayan 1: Benar, Non. Kampung ini indah sekali
Pelayan 2: Bunga-bunga tumbuh di mana-mana …
Pelayan 3: Non … banyak orang menuju ke mari …
Sri Bulan : Oya, … Siapa mereka, Mas?
Malin : Tenang, Istriku. Biasa, mereka hanya ingin melihat.
Sri Bulan : Aku takut, jangan-jangan mereka jahat …
Malin : Mereka tidak akan mengganggumu …
Pengawal 1: Tenang, Non … Jangan takut …
Pengawal 2: Kami yang menjaga keselamatan Non …
Sri Bulan : Tapi …
Malin : Sudah, tenanglah …

(Sri Bulan bersembunyi di belakang Malin)

Adegan 14
(Bunda, Pak Ilham, Bu Ilham, Ucok, Harahap, Nelayan 1/2/3 keluar)

Ucok : Tuh, Bunda…. Lihat …
Pak Ilham : Oooh, benar … benar, itu si Malin…
Bu Ilham : Iya, benar … Itu si Malin …
Bunda : Kalau ia si Malin, mengapa ia tidak menjemputka?

(Semua angkat bahu. Ucok dan Harahap mendekati rombongan Malin Kundang)

Ucok : Apakah tuan bernama Malin Kundang?
Pengawal 1: Benar-benar, dia Tuan Malin Kundang …
Ucok : Berarti, dia kawan saya …
Malin : Siapa pula jadi kawan kau … Enak saja …
Harahap : Kau juga sudah lupa padaku, Lin?
Malin : Apa katamu, lupa? Kapan kita berteman? Aku nggak kenal kalian!
Ucok : Astagfirullahaladzim … Kau … sudah lupa pada kami?
Pengawal 2: Sudah sana, minggir. Jangan ganggu Tuan Muda …
Ucok : Rupanya, ia sudah lupa daratan
Harahap : OKB … Orang Kaya Baru … sombong …
Malin : Enyah kalian!

(Ucok dan Harahap menjauh)

Adegan 14
(Ucok dan Harahap kembali dengan membawa Bunda. Pak Ilham, Bu Ilham, Nelayan 1/2/3 mengikuti dari belakang)

Pak Ilham : Malin … ini bundamu …
Malin : Apa? Bundaku? Ha … ha … ha … Kalian ini ada-ada saja …
Bu Ilham : Kau tidak boleh begitu, Lin.
Malin : Kalian ini siapa? Berani-beraninya menasihatiku …
Bu Ilham : Sadar, Lin … Sadar, itu tidak baik …
Malin : Ha … ha … ha … Apanya yang tidak baik…. Ibuku bukan dia …
Pak Ilham : Terus, siapa ibumu?
Malin : Ibuku kaya … pakaiannya bagus-bagus, tidak kumal seperti dia …
Bunda : Cukup, Lin … cukup … cukup …

(Bunda terduduk dan menangis)

Ucok : Lin … sadar … sadar …
Malin : Dari tadi, aku sudah sadar … Kalian saja yang ngawur!
Sri Bulan : Siapa mereka, Mas?
Malin : Tahu … Mereka membawa perempuan tua itu ke sini …
Sri Bulan : Siapa dia?
Harahap : Dia itu … ibunya Malin …
Sri Bulan : Benarkah itu?
Malin : Ha … ha … ha … Mana mungkin ibuku seperti dia, Istriku? Yang benar
saja … ha … ha … ha …
Ucok : Benar, Non … Ibu itu ibundanya si Malin …
Malin : Kau jangan membuat fitnah, ya … Pengawal … hajar dia!
Pelayan 1: Waduh-waduh … kok jadi begini …
Pelayan 2: Aku jadi takut …

(Pengawal 1/2 mendekati Uco)

Adegan 15

(Bunda bangkit, ia berdiri di depan Ucok)

Bunda : Kau sudah benar-benar lupa pada bundamu ini, Lin? Sadar, anakku …
Malin : Siapa pula yang jadi anakmu?! Ha … ha … ha … Kau mimpi, perempuan tua
… ha … ha … ha …Sana, pergi! … Pergi!! Merusak pemandangan saja.
Bu Ilham : Kau tidak boleh mengusir ibumu seperti itu, Lin …
Malin : Dasar penipu! Kau mau uangku, kan?
Pak Ilham : Kau tidak boleh menghina ibumu
Malin : Kenapa? … Dia miskin. Lihat, bajunya saja rombeng … Dia bukan ibuku
Bunda : Malin …Aku memang miskin …
Malin : Sudah, jangan banyak omong … Pergi! … Pergi!! … Pergi!!!
(Malin mendorong Bunda, ia terjatuh. Bu Ilham dan Pak Ilham membantunya berdiri)

Bu Ilham : Jika kau tidak mau mengakui dia sebagai ibumu, ya sudah, tidak apa-apa
Pak Ilham : Ayo, Uni … kita pulang …
Malin : Cepat pergi … pergi … pergi … Atau, aku harus berteriak-teriak lagi?

(Malin mendorong-dorong bundanya. Bunda malah duduk dan bersimpuh)

Adegan 16

Bunda : Ya, Allah Yang Maha Pengasih … Anakku telah durhaka kepadaku … Sadarkanlah dia … Aku tidak akan mengutuk dia … Aku takut, ia menjadi
batu lagi…
Malin : Kutuk saja aku, kutukanmu tidak akan mempan … Kau bukan ibuku …
Bunda : Ya Allah Yang Maha Pemurah … Aku kembalikan anakku kepada –Mu..
Ayo, kita pulang …
(Bunda, Bu Ilham, Pak Ilham, Ucok, Harahap, Nelayan 1/2/3 masuk)

Sri Bulan : Mari, kita lanjutkan perjalanan kita …
Pelayan 1: Siap-siap, Non … sebentar lagi bertemu mertua lho …
Malin : Kita pulang …
Sri Bulan : Lho … bukankah di sini tempat tinggal orangtuamu, Mas?
Malin : Jangan tanya apa-apa lagi. Kita pulang, titik!
Sri Bulan : Uuuh, gagal …
Malin : Gara-gara perempuan tua itu, gagal semua rencana kita. Ayo, kita pulang
… Pengawal, siapkan kapal kita …

(Tiba-tiba, angin bertiup. Mula-mula perlahan, kencang, kencang, dan makin kencang. Langit yang tadinya cerah mendadak gelap gulita. Mendung hitam datang berarak-arak dari barat, timur, utara, dan selatan.Halilintar bersahut-sahutan, dan hujan turun bagai dicurahkan dari langit. Tiba-tiba …. “Ddduuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrr” …petir menyambar Malin Kundang )

Malin : Aaaaaaaaaaaaaaaaa ………………..
(Malin jatuh pingsan. Mendung mendadak sirna. Sri Bulan menolong Malin)

Sri Bulan : Bangun, bangun, suamiku …
Malin : Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa …………………….
Sri Bulan : Masih ingin jadi batu lagi? Kalau masih ingin, jadilah batu sendiri. Jangan
bawa-bawa aku …Aku tidak mau ikut jadi anak durhaka sepertimu … Kami
dari Indonesia, Kami menghormati orangtua bagaimanapun keadaannya.
Pelayan dan Pengawal! Mari, kita pulang! Tinggalkan anak durhaka ini di sini
sendiri …
Malin : Jangan, jangan, Istriku … Jangan tinggalkan aku …
Sri Bulan : Enak saja, kepada ibumu saja kau durhaka … Apalagi kepada ibu anak-
anakmu …
Malin : Maafkan aku, Istriku. Maafkanlah … Aku sadar … Aku salah …
Sri Bulan : Yakin, tidak diulang lagi?
Malin : Ya, aku yakin
Sri Bulan : Percuma kau merantau ke Indonesia jika tetap durhaka pada ibumu
Malin : Maafkan aku, Istriku, aku khilaf …
Sri Bulan : Kalau begitu, mari kita temui ibumu … Mohonlah ampun padanya …
(Semua berdiri dan masuk)

Tamat Jember, 13 Juni 2009

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Drama dan tag , , , . Tandai permalink.