40. Anekdot

40. Anekdot

Suatu pagi. Seorang ibu tani yang tinggal di pedalaman Pulau Jawa hendak menanam padi. Ia membawa serta dua orang anaknya yang masih kecil ke sawah. Seorang masih bayi dan yang seorang baru mulai disapih. Sementara anak-anaknya yang lebih besar sibuk menyelesaikan urusan mereka masing-masing.
Ibu tani tersebut berbekal sebungkus singkong (telo, Jawa) rebus sebagai pengganjal perut dan sebotol air. Sebuah bekal makanan yang sangat sederhana. Ia tidak mengetahui kandungan gizi pada makanan yang dikonsomsinya, yang penting kenyang.
Matahari semakin tinggi, hangat panasnya mulai terasa. Ia tak peduli. Satu demi satu, peluhnya mulai menetes membasahi bumi pertiwi. Dari kejauhan, sesekali dilihatnya dua orang anaknya. Diam-diam, ia tersenyum.
“Bu, lo!” terdengar teriakan nyaring anak sapihannya.
“Ya, ambillah!” jawabnya singkat.
“Lo, Bu! Lo!” teriakan si anak makin keras.
“Ya, ambil! Jangan teriak-teriak!” jawab ibu tani tak mau kalah kerasnya, “Makan …! Telo itu memang untuk dimakan!”
Si anak sapihan terus berteriak-teriak, ”Lo! Lo!!” dan si ibu juga tetap menjawab dengan teriakan-teriakannya yang jauh lebih keras. Ia tak bergiming dari tempatnya. Bahkan, kala si bayi menangis dan menjerit pun, ia masih terus sibuk dengan dunianya sendiri. Ia ingin tanaman padinya cepat tumbuh, cepat besar, cepat berbuah, dan panen. Bahkan, khayalannyapun sempat melayang!
Seiring dengan semilirnya angin, anak sapihannya telah diam. Ia sudah tidak berteriak-teriak lagi. Ia telah lelah berteriak-teriak. Tangisan si bayi pun telah tak terdengar. Tentu saja, ibu tani merasa senang. Ia menyangka, anak sapihannya telah makan dan kenyang. Ia semakin giat bekerja!
Matahari mulai condong. Ibu tani telah menyelesaikan tugasnya. Senyum tersungging di sudut bibirnya yang tipis. Ia puas melihat hasil kerjanya. Dengan langkah kakinya yang ringan, ia menuju dangau tempat dua orang anaknya …. Kala dilihat anak sapihannya meringkuk pucat di sudut dangau dengan noda darah yang telah mengering dan bayinya lenyap, ibu tani terkesiap, “Di mana adikmu?”
“Lo, Bu! Lo!” jawab si sapihan sambil menunjuk semak-semak yang bergerak-gerak di kejauhan sana. Ia berusaha mengungkapkan yang ia tahu agar ibunya mengerti.
“Lo, lagi! Lo, lagi!” gumannya pendek.
Rupanya, ibu tani lupa bahwa masih ada “Lo” lain selain “telo” yang telah menelan bayinya. Ia masih terus celingukan mencari, entah sampai kapan … Sementara itu, sepasang mata menatap tajam dari rimbun semak-semak!!!***

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Rupa-Rupa dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 40. Anekdot

  1. pakode berkata:

    coba saja klo kembali lagi di jumat pagi itu, kita harus kluar ongkos brapa lagi untuk bolak balik ke jaman itu…http://www.pakode.wordpress.com

    • sugiarno berkata:

      Bicara masalah ongkos, mahal … mahal sekali. Bayangkan untuk sampai ke situ butuh biaya se -INDONESIA. Selebihnya, silakan baca Belajar Berhitung ala Indonesia, Kala Rupidin Bangun, dan Revolusi Bilangan Start Sebuah Keadilan. Trim’s atas kunjungannya.

Komentar ditutup.