48. Malunisasi

Malunisasi

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kehormatannya, Bangsa Manusia Indonesia menempatkan rasa malu pada tempat yang tinggi. Dalam hal ini, rasa malu tersebut adalah rasa malu yang memang pada tempatnya.

Rasa malu tidak perlu dimunculkan dengan menetapkan Hari Malu Nasional, toh yang penting actionnya. Malu menipu diri sendiri, malu membodohi publik, malu tidak bisa menepati janji, malu melanggar aturan main yang semestinya, malu tidak bisa bekerja dengan baik, dan sebagainya.

Pertanyaannya sederhana, mengapa harus malu? Terlepas dari pandangan agama yang mengatakan bahwa malu adalah sebagian dari iman, rasa malu harus dimunculkan karena rakyat Indonesia sudah pintar-pintar. Meskipun tidak ahli, mereka sudah bisa membaca arah angin perubahan, sudah bisa membaca arah angin kekuasaan …

Hingar-bingar perpolitikan beberapa saat yang lalu menyisakan gores. Dari layar kaca, rakyat bisa melihat para pemimpin saling patuk, Pertiwi pun nyaris terbuka auratnya. Padahal, transparan tidak identik dengan telanjang. Tapi, biarlah, toh itu yang dimau oleh tuhan yme –nya Pancasila.

Semua hingar-bingar perpolitikan nyaris usai. Mari kita kembali ke barisan masing-masing. Yang Merah berkumpullah dengan Merah agar kelihatan Merahnya dan hiduplah sesuai aturan main Merah. Yang Putih berkumpullah dengan Putih agar kelihatan Putihnya dan hiduplah sesuai aturan main Putih. Yang Merah Putih? Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Catatan Pinggir dan tag , . Tandai permalink.