51. BANGSA MANUSIA INDONESIA

51. BANGSA MANUSIA INDONESIA

Bangsa Indonesia
Bangsa n 1 kesatuan orang-orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri; 2 golongan manusia, binatang, atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal-usul sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan; 3 macam; jenis; 4 kedudukan (keturunan) mulia (luhur); 5 jenis kelamin.
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990 : 76)

Merujuk pada pengertian tersebut maka yang dimaksud dengan bangsa Indonesia adalah hasil penjumlahan dari seluruh suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Sebab, asal-usul mereka sama, konon dari Hindia Belakang, Yunan. Adat-istiadat mereka, meskipun tidak sama persis, ada kesamaan. Bahasa pemersatu mereka miliki, bahkan pada bahasa daerah pun ada kemiripin. Begitu pula dengan sejarah masa lalunya, mereka senasib, sepenanggungan. Di samping itu, mereka telah memiliki pemerintahan sendiri, dan telah pula mendapatkan pengakuan dari dunia (baca : negara lain).

Pengertian tersebut menjadi lebih jelas setelah dikaitkan dengan pengertian kedua, sebab pada pengertian tersebut terlihat bahwa yang dimaksud dengan bangsa Indonesia adalah golongan menusia yang mempunyai asal-usul sama dan sifat-sifat khas atau bersamaan yang mendiami kawasan yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Manusia Indonesia
Sebagai bangsa yang beragama –ingat, atheis tidak berhak hidup di bumi Indonesia, maka sudah dapat dipastikan adanya pengakuan bahwa bangsa ini tidaklah muncul dengan sendirinya. Mereka ada karena ada yang menciptakan, dan Sang Maha Pencipta tersebut adalah Tuhan YME. Tentang bagaimana proses penciptaan manusia pertama sampai dengan tumbuhnya bangsa ini bergantung pada keyakinan agama masing-masing manusia Indonesia itu sendiri.

Di samping karena keterbatasan ilmu yang penulis miliki, masalah tersebut sudah masuk dalam lingkaran kekuasaan iman. Pada daerah tersebut, ilmu tidak mampu menjangkaunya. Adalah hal yang sia-sia jika ada keinginan menguak areal tersebut.

Pertanyaannya, siapa manusia Indonesia? Pancasila mengajarkan bahwa sila kelima dijiwai oleh sila keempat. Sila keempat dan kelima dijiwai oleh sila ketiga. Sila ketiga, keempat, dan kelima dijiwai oleh sila kedua. Dan, sila kedua, ketiga, keempat, dam kelima dijiwai oleh sila pertama. Dengan demikian, manusia Indonesia adalah manusia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka dari itu, pengakuan tentang ke-Esa-an Tuhan menjadi sentral parameter dan sekaligus menjadi tolok ukur menjadi atau tidak menjadinya seseorang sebagai manusia Indonesia.

Sebagai catatan kecil, ke-Esa-an adalah sifat mutlak Tuhan-nya manusia Indonesia. Oleh karena itu, dalam hal ini, tidak ada “modifikasi” oleh tangan manusia –siapapun mereka dan apapun alasannya. Dengan demikian, manusia Indonesia tidak akan menuhankan Tuhan YME sembari memuja tuhan lain sebagai tandingan.

Padahal, menuhankan sesuatu di luar makhluk akan menggiring pemujanya untuk memeluk suatu agama. Masalahnya, manusia beragama yang mengakui ke-Esa-an Tuhan tidak hanya tinggal di antara Sabang sampai Meraoke. Mereka dapat bertempat tinggal di mana saja, di seluruh penjuru bumi, dari belahan bumi bagian utara sampai belahan bumi bagian selatan, dari ujung timur sampai ujung barat.

Dengan demikian, untuk menjadi bangsa Indonesia hanya ada lima syarat yang harus dipenuhi, yaitu : pengakuan kesamaan asal usul, adanya kesamaan adat, memiliki kesamaan sejarah, dan berpemerintahan sendiri. Sedangkan syarat untuk menjadi manusia Indonesia itu adalah manusia beragama yang mengakui ke-Esa-an Tuhan dengan segala konsekuensinya. Dengan kata lain, manusia beriman. Oleh sebab itu, manusia Indonesia dapat muncul sebagai bangsa apa saja, ras apa saja, apa pun warna kulitnya, dan di manapun tempat tinggalnya.

Konsep ini menuntun kepada satu pengertian yang sangat mendasar bahwa yang dimaksud dengan Manusia Indonesia adalah bangsa manusia –secara keseluruhan– yang mengakui ke-Esa-an-Nya. Sebaliknya, mereka yang menampik ke-Esa-an Tuhan, sekalipun mengaku sebagai bangsa Indonesia ternyata bukan Manusia Indonesia.

Sebab, bagaimana mungkin akan menjadi manusia Indonesia seutuhnya jika jiwanya pecah. Di satu sisi memuja Tuhan YME, di sisi lain memuja tuhan lain. Di satu sisi memuja Tuhan YME, di sisi lain memuja kekuasaan. Di satu sisi memuja Tuhan YME, di sisi lain menuhankan uang. Di satu sisi mengaku ber-Tuhan Yang Maha Esa, di sisi lain menentang aturan yang datang dari Tuhannya.

Bukankah pada setiap pengakuan ada aturan lain yang mengikat? Oleh karena itu, sebagai konsekuensi pengakuan sebagai Manusia Indonesia, maka mereka harus tunduk sepenuhnya pada aturan main yang telah ditetapkan oleh agama yang dianutnya. Dengan demikian, mereka harus taat sepenuhnya kepada Tuhan YME, taat kepada Rasulullah SAW. –jika Islam– /ajaran yang dibawa oleh penyebar agama mereka, dan taat kepada pemerintahnya (a).

Ketaatan kepada Tuhan YME dan taat kepada ajaran agama sudah sering dibahas oleh para pemuka agama dalam berbagai kesempatan. Masalah sering timbul pada tataran ketaatan kepada pemerintah. Sejak manusia dilahirkan, perintah pertama datang dari orangtua, kemudian dari guru, dan terakhir dari pemerintah itu sendiri (b).

Baik pada (a) maupun pada (b), jika antara ketiganya sejalan maka tidak akan menimbulkan masalah, namun pada saat terjadi perbedaan arah tujuan perintah maka suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju harus dikembalikan pada ajaran agama. Bukankah ajaran agama Tuhan Yang Maha Esa tidak mungkin bertentangan dengan perintah Tuhan Yang Maha Esa? Oleh karena itu, pada saat ada perbedaan pandangan dalam hal apa pun juga, bukan serta merta senapan yang harus berbicara.

Simpulan
Oleh karena manusia Indonesia adalah manusia yang ber-Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa maka sudah sepantasnya, mereka yang bukan manusia Indonesia menghormati eksistensinya. Pola ini akan menggiring budaya permisif yang datang dari “sana” pulang ke negeri asalnya Sebagai contoh sederhana, kegembiraan menyambut “tamu asing” dengan aneka suguhan yang tidak sesuai dengan ajaran Tuhan YME dengan imbalan segepok uang mereka tak ubahnya dengan melacurkan negeri untuk menghidupi anak bangsa ini. Bukankah, jika negara ini sebagai Ibu Pertiwi, maka bangsa ini sebagai anak-anaknya? Sebagai anak, mana mungkin melacurkan Ibunya, apa lagi “menjualnya”.

Dengan kata lain, mereka yang melacurkan Ibu Pertiwi, sekalipun mengaku sebagai bangsa Indonesia ternyata bukan manusia Indonesia, mereka adalah anak tetangga! Mereka adalah penumpang gelap! Maka dari itu, di dalam menata bangsa ini tidak ada pilihan lain, ajaran agama dari Tuhan YME harus dijadikan landasan yang utama oleh pemegang kekuasaan. Tanpa itu, berarti penguasa telah mengingkari dasar negara sendiri.

Bangsa Manusia Indonesia
Yang dimaksud dengan bangsa ini adalah bersatunya manusia Indonesia sebagai bangsa. Penyatuan ini dapat terjadi jika dan hanya jika para pemimpin sudah dapat memberikan teladan kepada yang dipimpin. Tanpa itu, manusia Indonesia hanya menjadi tumbal bagi “penumpang gelap” bangsa Indonesia. Sebab, ketaatan dan kepatuhannya hanya berbuah pengkhianatan. Oleh karena itu, jangan salahkan jika ada di antara mereka yang melawan –entah dengan kekuatan, lisan, atau hanya dengan doa.
Wallahualam

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bangsa dan tag , , . Tandai permalink.