53. Bela Negara “Rupiah”

53. Bela Negara Rupiah

Beli uang dengan uang
Uang dapat dipergunakan untuk membeli uang, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Jika tujuannya untuk memudahkan saat transaksi dengan pihak asing maka yang dibeli adalah mata uang asing secara langsung. Tujuan mulia ini telah dipelintir oleh mereka yang sama sekali tidak pernah sekalipun berhubungan dengan pihak asing. Namun, sangat berkepentingan dengan mata uang mereka. Dengan uang tersebut mereka dapat memperoleh keuntungan dalam bentuk uang pula. Ironis memang, melacurkan uang sendiri.

Pembelian uang secara tidak langsung inilah yang lebih banyak menyedot pelaku. Lihat saja, dengan iming-iming bunga tinggi, hadiah besar, dan berbagai kemudahan, orang pun berbondong-bondong “membeli uang dengan uang”. Mereka akan “membelanjakan” uang mereka untuk jangka waktu tertentu di bank-bank konvensional, sebulan, triwulan, setahun, atau lebih dari itu. Pada saat yang telah disepakati bersama, mereka akan mengambil kembali uang yang telah mereka “belanjakan” dan sudah barang tentu lengkap dengan anak cucu uang tersebut.

Praktek ribawi, jelas tidak senafas dengan Islam. Dalam hal ini, patut disyukuri bank-bank syariah telah tumbuh dan mulai berkembang. Alangkah baiknya, seandainya bank-bank pemerintah memberlakukan sistem ini kepada nasabahnya yang Muslim. Dengan demikian tidak ada lagi keraguan. Dengan kata lain, satu bank dengan dua pintu. Mereka yang Muslim biarlah hidup dengan cara muslimnya.

Sedangkan bagi mereka yang non muslim biarlah hidup dengan cara mereka. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Oleh karena itu, sangatlah terpuji jika pihak bank tidak memanfaatkan ketidakberdayaan si Muslim untuk memetik keuntungan sendiri. Dengan pola seperti itu, maka bank sudah andil dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Uang sebagai senjata
Dari dunia nyata, terlihat dengan jelas bahwa uang telah hampir menguasai kehidupan dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan uang, semua nyaris bisa dibeli. Uang bisa menjadi senjata ampuh untuk menaklukan bangsa lain, tanpa harus mengangkat senjata. Uang dapat membuat jatuh bangunnya sebuah regim, seorang penguasa, ataupun seorang pejabat publik. Uang juga dapat menentukan posisi negara dalam tataran internasional. Kehebatan uang dalam hal ini dapat dilihat pada perbandingan mata uang setiap negara yang setiap hari dimuat pada berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik..

Padahal –sebut saja– antara dolar, poundsterling, rupiah, dan lain-lain berstatus sama, mata uang tertinggi suatu negara –yang padanya melekat kehormatan negara pemiliknya. Dunia bahasa Indonesia mengajarkan bahwa duduk sama rendah, berdiri sama tingi. Namun dalam hal uang, sunguh jauh panggang dari api. Pertanyaannya, adakah yang salah dalam materi pelajaran tersebut?

Dalam hal ini, bisa jadi, orang-orang pintar berargumen dengan sederet alasan yang sangat masuk akal. Semua argumen tersebut akan bermuara pada satu jawaban yang mendasar. Kita kalah dalam kekuasaan, bangsa ini tak berdaya, negara ini tak berkutik dalam menghadapi uang mereka. Dengan kata lain, Rupiah lemah. Ia menjadi “makhluk” yang tak berdaya. Jangankan dengan mata uang asing, dengan produk domistik pun, ia takluk menyerah. Rupiah tak berdaya mempertahankan kehormatannya. “Ia” terpuruk dipermainkan keadaan. Padahal, sejak proklamasi, sudah berapa kali rupiah didevaluasi?

Pertanyaannya, mengapa ekonom selalu gagal menciptakan rupiah yang stabil? Bukankah dengan devaluasi dimaksudkan untuk memperkuat rupiah atau paling tidak untuk meningkatkan daya saingnya? Atau, hal lain yang masih senafas dengan upaya peningkatan stabilitas ekonomi rakyat? Mengapa selalu gagal?

Kegagalan tersebut, bukan karena kurang piawainya para ekonom penyelenggara negara. Namun, ada sebab lain di luar otoritas mereka. Mereka telah melanglang buana untuk menimba ilmu untuk diterapkan di negara tercinta, demi kemakmuran rakyat tentunya. Untuk itu harus dituntaskan duduk permasalahannya dengan cara merunut ke belakang agar kesalahan tidak terlalu ditimpakan kepada tim ekonomi..

Sebagi contoh, perhatikan :
1. Gunting Syafrudin Prawiranegara, dari Rp 10.000,00 diturunkan menjadi Rp 100,00 dengan koefisien Rp 1, 00 = 100 sen
2.Kabinet Dwikora, dari Rp 1.000,00 diturunkan menjadi Rp 1, 00 dengan koefisien Rp 1, 00 = 100 sen

Dalam konteks lambang bilangan, akan terlihat sebagai berikut :
1, Devaluasi model Syafrudin Prawiranegara:
Dilepas rakyat = 10000
Diterima rakyat = 100 x 100 = 10000
Rasio = 1 : 1

2. Devaluasi model Kabinet Dwikora:
Dilepas rakyat = 1000
Diterima rakyat = 1 x 100
Rasio = 10 : 1

Dalam konteks bilangan, kita misalkan:
satu = a
sepuluh = b
seratus = c
seribu = d

Maka dalam konteks bilangan akan terlihat sebagai berikut :
1, Devaluasi model Syafrudin Prawiranegara:
Dilepas rakyat = bd = b.bc = bb.c = c.c = cc
Diterima rakyat = c.c = cc
Rasio = 1 : 1

2. Devaluasi model Kabinet Dwikora:
Dilepas rakyat = d = bc
Diterima rakyat = ac
Rasio = 10 : 1

Dari keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Dipandang dari sudut ekonomi, gunting Syafrudin Prawironegara sangat tepat, impas. Namun, dari sudut matematika sangatlah bertolak belakang. Mengapa persoalan basis seribu (103) harus diselesaikan dengan menggunakan basis seratus (102)? Bukankah, seharusnya persoalan basis seribu (103) juga diselesaikan sendiri oleh basis seribu (103)?

2. Devaluasi yang dilakukan oleh Kabinet Dwikora, jika dipandang dari segi matematika sangat tepat sebab persoalan basis seribu (103) diselesaikan oleh basis seribu (103). Namun, jika masalah ini dipandang dari segi ekonomi sangat merugikan rakyat.

Dengan segala keterbatasan ilmu yang saya miliki, semua itu disebab kan oleh karena namgsa Indonesia menggunakan sistem bilangan yang sama –seperti yang mereka gunakan– namun menerapkan harga uang yang berbeda. Yang jelas, pengalaman VOC di Indonesia beberapa abad yang lalu patut dijadikan pelajaran.

Sistem bilangan yang digunakan VOC sama dengan sistem bilangan yang berlaku di negeri Belanda, namun nilai uang mereka berbeda, di mana nilai gulden Belanda lebih tinggi dari mata uang yang dikeluarkan oleh VOC. Akhirnya, kongsi dagang Belanda itu pun bangkrut, mereka gulung tikar. Hanya saja, yang selalu kita pelajari dalam pelajaran sejarah adalah sebab kebangkrutan VOC antara lain : peperangan dan pejabat yang korup.

Pengalaman pahit VOC diulang kembali oleh Indonesia saat merdeka. Bedanya, penguasa saat itu –tanpa ada maksud menafikan keberadaan raja-raja yang masih berdaulat– adalah orang Belanda, sedangkan pada saat Indonesia merdeka para penguasa adalah bangsa sendiri. Hanya saja, ada istilah yang belum muncul saat itu, krisis multi dimensi. Problem VOC belum sekompleks saat Indonesia merdeka … Memang, Indonesia tidak akan bangkrut seperti VOC. Indonesia punya segalanya, dan semua bisa dijual … termasuk rakyatnya …

Oleh karena itu, ketidakberanian (?) para pakar Matematika di negara ini menciptakan sistem bilangan sendiri setelah merdeka sekian puluh tahun –dalam rangka memperkuat rupiah– untuk menghadang uang mereka tentunya sangat disayangkan. Masa yang demikian panjang itu, akhirnya terbuang sia-sia. Sungguh sangat beruntung, hidup tidak selalu menggunakan kalkulasi Matematika. Sebab, jika Matematika dijadikan tolok ukur, entah apa yang terjadi.

Kembali ke masalah bilangan. Secara hakiki, satu di Amerika Serikat dan dimanapun juga, termasuk di Indonesia adalah sama. Tetapi Rp 1,00 ≠ 1 $ Sangat jauh sekali selisih antara keduanya. Oleh karena adanya perbedaan cara pandang terhadap bilangan setelah masuk ke dalam pusaran uang itulah maka diperlukan keberanian membongkar sistem bilangan lama dan membangun sistem bilangan baru, yang tidak merugikan mereka, namun menguntungkan kita sebagai bangsa. Sampai di tiik ini, adakah keberanian untuk itu?

Apalah artinya seragam dalam sistem bilangan, jika pada akhirnya uang kita (baca rupiah) menjadi tak berdaya di hadapan uang mereka, bahkan menjadi santapan uang mereka belaka. Bukankah –lebih baik–membangun sistem bilangan baru yang lebih adil? Dari sini pun muncul sebuah pertanyaan, beranikah para pakar –penguasa langit atas– Matematika melakukan? Nah, di situlah letak masalahnya! Sejujurnya, saya meragukan hal itu.

Pada tulisan yang lain telah disingung bahwa sebenarnya nilai kualitas seribu adalah 1 dengan 0 sebanyak empat buah, karena nilai kualitas yang diterima konsumen (baca : negara Indonesia) sengaja dijatuhkan oleh produsen bilangan –maaf, lewat tangan para Pakar Matematika– sehingga menjadi 1 dengan 0 sebanyak tiga buah, dan ini merupakan sumber petaka krisis keuangan /ekonomi di negara ini maka hak yang seharusnya diterima negara harus dikembalikan.

Dengan demikian, secara formal –misalnya– seribu rupiah tetap seribu rupiah, namun secara materi akan bertambah. Oleh karena itu, pada dasarnya secara formal keuangan negara tetap, tidak bertambah /tidak berkurang. Sunguhpun demikian, kekuatan rupiah akan menanjak tajam, bahkan tajam sekali.

Akan terjadi lompatan kuantitas uang. Hal ini dikarenakan, pada saat negara melaksanakan kewajibannya maka Bank Indonesia –sebagai bank sentral– harus menyiapkan dana sesuai nilai formal uang tersebut. Adanya penambahan kuantitas uang pada saat negara melaksanakan kewajibannya sudah barang pasti berdampak pada perekonomian rakyat. Nah, itulah perubahan.

Jika dilihat sekilas, akan terjadi banjir uang. Negara akan banyak –secara kuantitas– mengeluarkan /mencetak uang, namun secara formal –secara kualitas– uang yang dikeluarkan negara tetap. Kondisi itu akan lebih baik daripada pemerintah menambah jumlah peredaran uang dengan meluncurkan program-program pengentasan kemiskinan. Pada yang pertama akan menggairahkan usaha, sedangkan pada yang kedua akan menggairahkan “tangan tengadah”.

Dalam hal ini, ada sedikit perbedaan yang mendasar. Sekalipun secara materi jumlah uang yang beredar sama-sama bertambah, namun dengan mereformasi bilangan terlebih dahulu, secara formal uang yang beredar tidak bertambah. Namun, pada program-program pengentasan kemiskinan, secara formal jumlah uang yang beredar pun bertambah. Dan, bukankah, jika secara formal uang bertambah maka laju inflasi pun akan meroket? Lihat saja, sebagai contoh, setiap ada kenaikan gaji PNS /ABRI atau saat ada kenaikan UMR, prosentasenya selalu berada di bawah prosentase kenaikan harga barang kebutuhan di pasar yang mengikutinya.

Senering
Devaluasi rupiah memang harus dilaksanakan, namun pelaksanaannya kelak pada pasca masa transisi. Dalam hal ini, ada sedikit hal mendasar yang perlu penulis tambahkan. Perlu diingat bahwa satuan uang kecil di bawah rupiah adalah sen, kelip, ketip, dan tali.
Di antara empat satuan uang tersebut, dua di antaranya yang menggunakan bilangan dasar sepuluh adalah sen dan ketip.
Perhatikan :
1 rupiah = 10 ketip
1 rupiah = 100 sen
1 ketip = 10 sen

Sedangkan kelip dan tali mempunyai korelasi tersendiri, dan sepengetahuan saya tidak ada sangkut-pautnya dengan bilangan dasar sepuluh.
Perhatikan :
1 kelip= 5 sen
1 tali = 5 kelip
1 tali = 25 sen

Dengan demikian, satuan uang kecil yang berpeluang untuk hidup adalah sen dan ketip. Dari itu, muncul pertanyaan, di mana posisi keduanya? Perhatikan : a. Dalam konteks basis seribu (10 pangkat tiga), 1 rupiah = 10 ketip; b. Pengertian seribu berubah dari (10 pangkat 3) menjadi (10 pangkat empat); c. 10 pangkat empat = (10 pangkat tiga) x (10); Maka: 1 rupiah = 10 ketip x 10 = 100 ketip

2. Karena : a. Dalam konteks basis seribu (10 pangkat tiga), 1 ketip = 10 sen; b.Pengertian seribu berubah dari (10 pangkat tiga) menjadi (10 pangkat empat); c. 10 pangkat empat = 10 pangkat tiga x 10; Maka: 1 ketip = 10 sen x 10 = 100 sen

Oleh karena itu, devaluasi /senering saat itu mirip dengan gunting Syafrudin Prawironegara yang terkenal itu juga mirip dengan devaluasi Kabinet Dwikora. Setiap Rp 1 0000,00 (seribu rupiah) uang lama diturunkan nilainya menjadi Rp 1,00 (satu rupiah) uang baru dengan angka koefisien 1 0000 (seribu).

Ini berarti : a. Rp 1 0000, 00 uang lama akan diturunkan menjadi Rp 1, 00 uang baru; b. Rp 1, 00 uang baru akan senilai dengan 100 ketip; c. Rp 1, 00 uang baru akan senilai dengan 1 0000 sen; d. 1 ketip senilai dengan 100 sen

Dari sini terjadilah perubahan pengertian, perhatikan!
Pengertian lama, dalam basis seribu (10 pangkat tiga) :
a. Ketip n mata uang yang nilainya sama dengan sepersepuluh rupiah atau sepuluh sen, picis; seketip sepuluh sen, sepicis; b. Kelip n mata uang dari nikel bernilai lima sen
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990 : 411-435)

Pengertian baru, dalam basis seribu (10 pangkat empat) :
a. Ketip n mata uang yang nilainya sama dengan seperseratus; rupiah atau seratus sen, picis; seketip seratus sen, sepicis; b. Kelip : ditiadakan

Dengan demikian, baik dipandang dari sudut ekonomi maupun dipandang dari sudut Matematika, devaluasi kali ini benar. Ada tiga buah keuntungan mendasar dalam devaluasi pada akhir masa transisi, yaitu :

Pertama, rakyat tidak dirugikan. Devaluasi akan sangat tidak bermakna kala rakyat sebagai pengguna (konsumen) uang menderita kerugian, terlebih jika kerugian tersebut mencapai prosentase yang tinggi.

Kedua, rupiah menjadi mampu bersaing dengan mata uang asing sehingga membuat mata uang republik ini tidak “diremehkan”. Lebih-lebih dengan adanya dua mata uang kecil di bawah rupiah, maka dengan sendirinya posisi rupiah akan terangkat. “Ia” memiliki dua lapis fondasi. Menurut penulis, itu sudah cukup membuat rupiah kokoh dalam menghadapi dunia.

Ketiga, antara satuan bilangan dengan uang terdapat hubungan –karena masing-masing menggunakan basis bilangan yang sama, dan ini sangat penting.
Kembali ke masalah uang.

Setelah uang keluar dari kas negara –karena negara melakukan kewajibannya-maka uang akan jatuh ke tangan masyarakat, dan menjadi hak mereka. Secara hakiki, kekayaan yang dimiliki masyarakat adalah lambang bilangannya /jumlah nominal uang, bukan pada bilangannya. Dari sini terlihat adanya dominasi atas dan dominasi bawah, dan juga terlihat daerah kekuasaannya. Dominasi atas (baca : negara) menguasai bilangan yang tertera pada uang sedangkan dominasi bawah (baca : rakyat) menguasai lambang bilangan yang tertera pada uang tersebut. Dengan demikian, keduanya mendapatkan daerah “kekuasaan”. Adil, bukan?

Dominasi ini akan tetap dipertahankan dan akan dilanjutkan pada saat revolusi bilangan benar-benar terlaksana, sebab sistem bilangan di Indonesia telah baku. Pada hari H nanti –start awal pasca transisi, semua satuan bilangan yang telah ditidurkan oleh para pakar Matematika –laksa dan keti– serta satuan bilangan miliar yang telah dipaksa tidur akan dibangunkan oleh MPR (baca PPKI II) untuk berbakti bersama-sama pada Pertiwi.

Pada hari itu, kekayaan yang dimiliki negara ada pada bilangan uang sedangkan kekayaan yang dimiliki rakyat ada pada lambang bilangan uang– yang keduanya tertera pada uang yang sama. Nah, pada hari H + 7 –misalnya– devaluasi /senering rupiah seperti terurai di atas dilaksanakan.
—–
“Glodak!!!” waduh, saya terbangun … ah, ternyata hanya mimpi mam- Bela Negara Rupiah!
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Uang dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 53. Bela Negara “Rupiah”

  1. sugiarno berkata:

    mas kombe@ Trim’s, nanti saya usahakan.
    mas klip@ Betul, kesejahteraan tidak berbanding lurus dengan uang … Memang, uang bukan nomor satu. Namun, jika tidak memegang, bingung juga … Apalagi, ketika rupiah klepek-klepek di rumah sendiri …

  2. klipingcliping berkata:

    Soal kesejahteraan sebenarnya tidak bisa di paralelkan dgn uang. Ada yg uangnya banyak tapi beli apa2 mahal kesana kemari harus bayar parkir beli bensin tapi ada yg gak punya uang keperluannya datang sendiri karena diberi atau buat sendiri. Soal nilai uang juga gimana persepsi manusianya dgn sebuah cerita bisa buat nilai uang turun atau naik bahkan rush padahal segepok uang bagi orang yg terdampar tdk punya nilai.Itulah kalau uang sdh jadi dewa sepertinya semua bisa diatasi dgn uang.

  3. Blog anda OK Banget!. Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

    Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

    Salam hormat
    http://kombes.Com

Komentar ditutup.