56. Gubernur Jenderal Lautan Nusantara

56. Gubernur Jenderal Lautan Nusantara

Hmm, mimpi saya tentang INDONESIA yang ada di seberang Jalan Indonesia, indonesia makin menjadi-jadi, kian tak terkendali. Coba bayangkan akan adanya Gubernur Jenderal Lautan Nusantara, kalau bukan mimpi di siang bolong, apa namaya? Ups, Anda menganggap saya gila? Tidak masalah bagi saya mendapatkan tudingan tersebut … Tapi, biarkanlah saya merenda mimpi ini, senyampang belum ada undang-undang yang melarang warganya untuk bermimpi. Sebagai pra syarat, Anda sudah harus membaca Noto Nusa (ntara) terlebih dahulu.

Pada Noto Nusa (-ntara) terlihat satuan teritorial sesudah negara adalah : bagian, wilayah, provinsi, karesidenan, kabupaten, kota, kawedanan, kecamatan, desa, dan kelurahan.

Satu di antara bagian dalan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah Lautan Nusantara yang meliputi semua perairan yang masuk dalam wilayah negara kita. Nah, pada Lautan Nusantara itulah tempat bagi Gubernur Jenderal Bagian Lautan Nusantara.

Daerah teritorialnya dimulai dari garis pantai saat pasang sampai dengan garis batas terluar negara ini. Mengingat keberadaan perairan Nusantara tidak dapat dipisahkan dari NKRI maka pemetaannya pun mengikuti pola pemetaan Noto Nusa (-ntara). Oleh karena itu, jika ditarik lurus ke bawah akan muncul pantai x. Nah, pada Pantai x dengan radius tertentu akan muncul Kelurahan Pantai x.

Kelurahan Pantai X

Kelurahan Pantai X

Gubernur Jenderal Bagian Lautan Nusantara memimpin 10 orang Gubernur Madia, misalnya : Gubernur Madia Laut Sumatera, Gubernur Madia Laut Jawa, dan sebagainya. Setiap Gubernur Madia Laut membawahi sepuluh –ingat, sepuluh bukan angka mati– orang gubernur laut. Begitu seterusnya, sampai terakhir muncul Lurah Pantai x

Pejabat ini masuk dalam jajaran pemerintahan eksekutif. Penduduknya adalah semua manusia yang mencari nafkah di situ –masalah penduduknya tinggal di darat, itu urusan lain. Dari situ akan terlihat, tidak sejengkal pun teritorial di bumi Pertiwi yang lepas dari pengamatan /pengawasan …

Tolong, jangan ganggu saya … biarkan saya melanjutkan mimpi indah ini. Jika Anda telah lelah mendengar adanya penyimpangan demi penyimpangan, pertikaian demi pertikaian, bentrokan demi bentrokan … Silakan naik ke Negeri Khayangan untuk membangun Demokrasi Indonesia yang adil –fersi Tarian Raja Garuda.

Biarkan mereka menyimpang sendiri, biarkan mereka bertikai sendiri, biarkan mereka bentrok sendiri. Toh, yang mereka ributkan telah lama pergi. Pertiwi telah meninggalkan mereka … Pertiwi telah duduk dengan anggun di kursinya. Ia menanti anak-anaknya kembali sadar dari sihir global!
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Penguasa dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.