58. Belajar Menjadi Manusia Indonesia

58. BELAJAR MENJADI MANUSIA INDONESIA

Ciri-ciri Manusia Indonesia
Kali ini, kita berbicara dalam konteks moral. Jadi tolok ukur yang digunakan bersifat normatif yang tidak dapat dijabarkan dengan angka-angka mati. Dengan demikian, skala penilaian adalah baik dan buruk. Saya tidak memberi tempat bagi nilai antara keduanya dengan maksud agar jelas. Jikalau baik, agar menjadi terang akan baik baginya, dan jikalau buruk menjadi terang akan keburukan yang ada padanya.

Ciri-ciri manusia Indonesia dapat ditelusuri dari kata kunci yang ada pada Pancasila, falsafah bangsa Indonesia sendiri. Sepanjang pemahaman saya, kata-kata kunci yang padat tersebut menjadi ciri dasar manusia Indonesia. Kata-kata kunci tersebut antara lain: Ber-Tuhan Yang Maha Esa; (berperi) kemanusiaan; adil; beradab; (mau) bersatu (bukan hanya jasadnya, namun juga jiwanya); (dapat mengambil) hikmah; (me) rakyat; bijaksana; (suka) musyawarah; dan (berjiwa) sosial.

Dalam hal ini, saya tidak hendak menafsirkan Pancasila sesuai kehendak saya sendiri, sebab falsafah tersebut sudah baku, jelas, padat, dan rinci. Jadi, tergantung pada individu untuk mengaplikasikan dalam kehidupannya. Dengan demikian, kata-kata kunci menjadi itu skala penilaian. Bahwa tidak ada yang sempurna di dunia, itu pasti. Namun, setidaknya dengan skor tertentu menunjukkan seseorang sudah baik.

Pada dasarnya, semua kata kunci tersebut merupakan bentuk pengamalan (?) tentang pengakuan ke-Esa-an Tuhan. Dengan kata lain, bagi Manusia Indonesia, posisi Tuhan YME adalah sentral. Dia adalah asal dan tujuan akhir Manusia Indonesia. Dengan adanya pengakuan bahwa dirinya lahir di dunia atas kehendak -Nya, hidup atas kehendak -Nya, dan kalaupun mati maka kematian itupun atas kehendak -Nya.

Memang, hidup menyediakan banyak pilihan. Namun, jika berani menarik garis tegas maka akan tersisa dua kelompok besar, yaitu baik dan tidak baik. Urusan benar atau salah, itu masalah lain –tergantung kepada siapa yang berkuasa.

Di samping itu, Manusia Indonesia bukan “makhluk” statis. Mereka dinamis, sportif, inovatif, kreatif, berbaik sangka, dan sifat-sifat terpuji yang lain. Oleh karena itu, pada saat Manusia Indonesia berada pada posisi apapun juga, mereka akan sadar diri. Jika besar maka sadar akan kebesarannya, jika kecil juga sadar akan kekecilannya. Jika jempol, ia tidak akan makan rejeki kelingking, begitu pula sebaliknya …

Riilnya, manusia Indonesia termasuk kelompok manusia beragama, orang beriman. Sebagai orang beriman, manusia Indonesia tidak akan melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Sebagai makhluk berakal, manusia Indonesia tidak mau terperosok untuk kedua kali pada lubang yang sama. Untuk itu, mereka akan waspada.

Dengan demikian, manusia Indonesia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Dunia hanya dipandang sebagai sarana untuk sebuah pengabdian total kepada Tuhan YME. Oleh sebab itu, mereka tidak akan berdalih membangun, padahal sebenarnya merusak. Mereka tidak akan berbuat zalim namun juga tidak mau dizalimi. Mereka tidak gentar panasnya peluru yang mematikan dalam membela yang benar. Mereka tidak takut kelaparan karena telah tahu mana makan yang baik dan halal baginya. Mereka tidak silau terhadap kemilau dunia meskipun berada di tengah kemilauan dunia. Mereka juga tidak congkak saat berada di puncak kekuasaan. Mereka berbudi bawa leksana (Jawa)

Pendeknya, karena berbenteng iman, manusia Indonesia memandang semua yang ada padanya sebagai amanah, sebagai barang titipan, yang pada keduanya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan dan ada pertanggungawaban. Dengan kata lain, seluruh aktivitas manusia Indonesia hanya dalam rangka mencari ridho-Nya.

Jadi, jika mengaku beragama Islam, mereka akan hidup secara Islami. Jika beragama Nasrani, mereka akan hidup sebagaimana ajaran Al Masih. Jika sebagai pengikut Hindu maka ajaran Weda menjadi pedoman hidupnya. Jika memposisikan diri sebagai penganut Buda maka ajaran Sang Buda akan dipatuhi. Jika menempatkan diri sebagai penganut Khong Hu Chu, maka akan menjadi penganut yang baik, dan begitu seterusnya

Manusia Indonesia berusaha mengaplikasikan ajaran agamanya sebatas kemampuan maksimal yang ada pada dirinya. Dengan demikian, yang dapat menilai bukan orang lain. Penilaian orang lain seringkali keliru dan bias. Tidak jarang, kita terkecoh dengan tampilan luar seseorang. Kita menyangka baik, ternyata culas dan pendendam. Kita menyangka jahat, ternyata lembut.

Pertanyaannya, adakah ajaran agama yang membimbing ke arah hidup glamour, vulgar, otoriter, anarkhis, atau mengajarkan hal-hal negatif yang lain? Tidak bukan? Bangsa Indonesia sering terjebak oleh ulah bangsa lain lain …

Tentara Tuhan
Sekarang saatnya menghitung, apakah kita –termasuk penulis– meskipun dilahirkan, dibesarkan, tinggal, dan kelak akan mati di negara Indonesia (?) termasuk manusia Indonesia? Jika tidak, berarti, kita termasuk kaki tangan penjajah!

Manusia Indonesia dapat muncul dalam berbagai strata kehidupan, dari rakyat jelata sampai penguasa, dari si miskin yang papa sampai pengusaha kaya raya. Jika muncul sebagai rakyat, mereka akan menjadi rakyat yang baik, yang tahu akan kesulitan pemerintahnya. Saat menjadi penguasa, ia akan menjadi penguasa yang baik, yang tahu akan kesulitan rakyatnya. Saat miskin karena kefakirannya, ia tidak menjadi peminta-minta. Saat kaya, mereka akan berderma.

Sifat baiknya, prasangka baiknya, dan hal-hal baik yang ada pada dirinya yang seringkali dimanfaatkan oleh orang lain –yang bukan manusia Indonesia. Nah, disitulah letak perlunya Tentara Tuhan pada setiap level pemerintahan. Mereka akan berada pada posisi keamanan sipil. 0leh karena itu, sangat berbahaya saat yang bukan manusia Indonesia duduk sebagai pengendali kekuasaan. Mereka akan membawa ke situasi ketidakpastian.

Ternyata –untuk menjadi Manusia Indonesia– saya masih perlu belajar. Saya percaya, Anda sudah menjadi Manusia Indonesia …
Wallahualam

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bangsa dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 58. Belajar Menjadi Manusia Indonesia

  1. nusantaraku berkata:

    Pada hakikatnya semua ajaran agama membimbing ke arah hidup sederhana, lemah lembut,penuh keyakinan, bergairah, saling mengasih dan mencintai.
    Dan cukup tepar barangkali disebut bahwa bangsa Indonesia sering terjebak oleh ulah bangsa lain lain, karena kurang ‘belajar’.

  2. nusantaraku berkata:

    Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan.
    Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika selama ini keluar kata kata dan pendapat yang tidak berkenan.
    Terima kasih.

  3. soe hok gie berkata:

    hmmm, saya rasa manusia Indonesia sekarang bukanlah manusia Indonesia. tak satupun ciri2 itu saya temui. trus harus bagaimana kita? belajar dari sekarang sudah kepalang tanggung, tidak belajar mati. ataukah ciri2 itu sengaja di lipat dan dibuang oleh orang2 tak bertanggung jawab?

Komentar ditutup.