59. Ini Sungguhan. Yakin, “Tidak” Menyindir Siapa-Siapa

59. Ini Sungguhan. Yakin, “Tidak” Menyindir Siapa-Siapa

Kemarin, saya sempat melihat iring-iringan sepeda santai dari sebuah sekolah dasar yang ada di pinggiran kota. Warna-warni hiasan ditempelkan hingga nampak kian semarak. Namun, semua peserta memiliki sebuah kesamaan yaitu sebuah bendera Merah Putih dengan berbagai ukuran.

Wajah mereka terlihat ceria. Sesekali terdengar teriakkan yel-yel merdeka. Jalanan yang panas, berbatu, dan sedikit berdebu ketika berpapasan dengan satu dua kendaraan bermotor tidak mengurangi semangat mereka. Kegiatan dalam rangka Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke 64 Republik Indonesia (HUT Ke 64 RI).

Ketika iring-iringan melewati kerumunan penduduk, senyum simpul tersungging di bibir mereka dengan tulus. Di antara mereka memberi semangat, malah ada yang berpesan untuk berhati-hati di jalan.

Iring-iringan makin kelihatan indah kala melewati pesawahan. Jalanan yang berkelak-kelok, seragam kaos yang dikenakan, serta warna hijau tanaman sawah yang subur. Dari kejauhan saya terus melihat …Mereka masih rapi, tidak saling mendahului, apalagi saling tabrak di antara mereka. Ah, terlalu indah untuk dilewatkan… Saya kehabisan kosakata untuk menceritakan keindahan liak-liuk iring-iringan sepeda santai tersebut.

Padahal, mereka hanyalah anak-anak sebuah sekolah dasar dari sebuah desa di pinggiran kota … hanya murid sebuah sekolah dasar dari sebuah desa di pinggiran kota … bukan anak kota, anak metropolitan, apalagi anak megapolitan… Tapi, mereka bisa tertib.
———
Pertanyaannya sederhana, apakah para mantan murid sekolah dasar tidak bisa “bersepeda dengan tertib dan tidak ribut” seperti mereka di “jalan” Indonesia? Jika belum bisa, kembalilah ke sekolah dasar untuk belajar yang kedua kalinya …
Wallahualam

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Rupa-Rupa dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke 59. Ini Sungguhan. Yakin, “Tidak” Menyindir Siapa-Siapa

  1. nusantaraku berkata:

    Semoga bisa menginspirasi kepada yang lain.
    Akankah anak-anak SD ini akan berubah setelah ke kota atau ketika dewasa?

Komentar ditutup.