62. Suka Berantem = Generasi Terlambat Lahir

62. Suka Berantem = Generasi Terlambat Lahir

Di tempat saya berdiri, saya berusaha berdiri tegak, tidak condong ke kiri ataupun condong ke kanan. Juga berusaha untuk tidak berat ke depan maupun berat ke belakang. Saya hanya butuh satu titik untuk itu.

Oleh karena itu, tidak ada alasan yang menguatkan untuk menelikung saya. Di hadapan saya, semua saya pandang sama sebagai tamu nomor satu. Dengan segala hormat, saya tidak peduli dengan semua harta, gelar, pangkat, dan jabatan Anda di luar sana.

Jangan khawatir, Anda yang besar akan saya perlakukan sesuai dengan kebesaran yang Anda punya. Anda yang kecil jangan merasa saya remehkan, saya jauh lebih kecil dari Anda. Jadi, buang jauh-jauh rasa khawatir Anda. Ketahuilah, saya bukanlah siapa-siapa.
Dunia pun tidak akan menangis kalaupun saya pergi.

Saya hanya mengingatkan bahwa kita adalah bersaudara. Kalaupun tidak sedarah, mungkin sedaerah, mungkin seagama, mungkin senasib, atau mungkin-mungkin yang lain, atau paling tidak, kita sebangsa dan senegara. Oleh karena itu, perbedaan yang ada di antara kita tidak selayaknya dijadikan bahan untuk memperkeruh suasana. Dunia mengakui, justru karena adanya perbedaan itu, Indonesia menjadi menarik untuk disimak.

Ingat, asing betah bercokol sampai ratusan tahun di bumi Pertiwi karena kita dapat diadu domba. Padahal, selama kita bertikai, mereka akan mengangkut semuanya. Silakan lihat, kepemilikan pulau /aset tertentu di tangan asing, betapa rusaknya hutan, bekas-bekas galian tambang yang merana, pemiskinan yang masih terus berlanjut, terlunta-luntanya para Tenaga Kerja Indonesia di negeri tetangga, dan yang lain.

Oleh karena itu, lupakan sejenak semua perbedaan yang ada. Mari berpegang erat pada satu kesamaan, yaitu : NKRI, Merah Putih, Garuda Pancasila, Pancasila, Rupiah, 17 Agustus 1945, Presiden, dan sebagainya. Jika kita mau, menyelesaikan krisis multi dimensi akan lebih cepat karena Gerbang Kemerdekaan yang telah dibangun oleh para pendahulu telah ada di depan mata.

Sudah bukan masanya terjadi benturan fisik antara sesama Manusia Indonesia. Mari, kita belajar dari kegagalan masa lalu untuk baik di masa depan. Ingat, Perang Kemerdekaan telah usai hampir 60 tahun silam. Jadi, janganlah kita menjadi generasi yang terlambat lahir … jangan menjadi generasi yang masih suka berantem. Medan perang sudah bergeser, tentaranya sudah berbeda, senjatanya telah berbeda, eranya telah berbeda, dan cara menyelesaikan pun harus berbeda.

Anda jangan tersinggung, saya sedang berbicara kepada Angin. Mudah-mudahan, Angin segera bangun dari tidurnya yang panjang dan menghalau awan yang menutup negeri tercinta ini dengan hembusannnya.

Mudah-mudahan Anda mengerti dengan yang saya maksud.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Catatan Pinggir dan tag , , . Tandai permalink.