64. Tuan Jadi-Jadian

64. Tuan Jadi-Jadian

Menjadi tuan? Hmm, tentu sangat menyenangkan. Tinggal perintah kepada para kacung, para embok, para bawahan, para pembantu, para pegawai, dan semua beres. Sementara para pembantu bekerja keras, tuan tinggal ongkang-ongkang kaki sambil main facebook, atau selonjor di kursi malas sembari nonton bola, atau berlibur ke manca negara, atau melakukan sesuatu yang lain, yang menyenangkan hati tentunya.

Tuan yang dimaksud dalam tulisan ini bukan tuan seperti yang digambarkan di atas. Di INDONESIA, tuan tidak bisa mendadak menjadi tuan, apalagi langsung menjadi tuan besar. Untuk menjadi tuan, perlu perjuangan dengan membuka lahan kehidupan terlebih dahulu. Artinya, tuan harus belajar menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Ketika tangan /tenaganya sudah tidak mencukupi tuntutan, tuan akan mengambil pekerja. Dengan begitu, jadilah ia seorang tuan kecil. Entah, pada generasi ke berapa, tuan kecil baru akan bisa menjadi tuan besar. Tanpa itu, maka yang muncul adalah tuan jadi-jadian.

Saat ini, jenis tuan yang disebut belakangan ini bejibun jumlahnya. Namanya juga tuan jadi-jadian, maka hasil kerjanyapun asal jadi. Kalaupun bagus, maka sebenarnya itu adalah hasil kerja para kacungnya, para emboknya, para bawahannya, para pembantunya, para pegawainya yang diakui sebagai hasil kerja si tuan jadi-jadian. Mereka sudah terbiasa mengkitakan kami, mengkamikan kita, mengkamikan saya, mensayakan kami, dan bahkan tidak jarang tanpa malu sampai mensayakan kita.

Tuan jadi-jadian ada di semua lini kehidupan, tampilan mereka pun beragam. Modal mereka untuk menjadi tuan hanya mantera sakti yang berupa selembar ijasah, makin tinggi ijazah yang dipegang makin saktilah dia. Jika dibarengi dengan tambahan modal /uang, ijasahnya menjadi semakin sakti. Apalagi jika bisa menambahkan dengan sedikit koneksi, maka jadilah tuan jadi-jadian semakin sakti mandraguna.

Tuan jadi-jadian bisa menyihir hutan yang luas membentang menjadi padang ilalang. Dia juga bisa menyulap lahan persawahan nan subur menjadi pabrik /komplek pertokoan yang gemerlap. Dia pun juga bisa berada pada banyak tempat pada satu waktu. Bahkan, dia pun mampu menghabiskan jatah makan dua, tiga, empat orang lain. Pendek kata, tuan jadi-jadian sangat pintar, sangat hebat, dan nyaris tanpa tanding.

Namanya juga berhadapan dengan tuan jadi-jadian, maka para kacung, para embok, para pembantu, para bawahan, para pegawai, dan seterusnya harus pandai-pandai memberikan sesaji agar dia berkenan. Tanpa itu, dia akan marah dan bisa menggigit. Kondisi semacam itu akan sangat menakutkan dan sangat menyakitkan.

Saya percaya 100%, Anda bukan tuan jadi-jadian. Swear –maaf keliru, suer!
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Lahan Kehidupan dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 64. Tuan Jadi-Jadian

  1. Hey, very nice blog! Beautiful and Amazing. I will bookmark your blog and take the feeds also

Komentar ditutup.