65. Jangan Berdiri di Depan Pintu

65. Jangan Berdiri di Depan Pintu

Para orangtua biasa memberi nasihat kepada putra-putrinya dengan maksud agar sang buah hati tumbuh menjadi manusia yang berakhlak mulia. Tentu saja keinginan tersebut sangat wajar. Siapatah gerangan yang tidak ingin memiliki keturunan yang bisa menenteramkan hatinya?

Satu di antara nasihat yang terkenal adalah, “Jangan berdiri di depan pintu”. Kedengarannya biasa-biasa saja. Alasan klasik yang diutarakan pun sangat masuk akal, yaitu mengganggu orang yang hendak lewat.

Secara harfiah, pintu adalah akses keluar /masuk rumah.. Pintu yang bagus dan kokoh akan membuat penghuninya merasa aman dan nyaman. Masalah bahan dan model pintu tergantung dari modal yang telah dikeluarkan oleh si empunya pintu.

Jangan berdiri di depan pintu

Jangan berdiri di depan pintu

Tukang membuat pintu, bukanlah tukang sembarangan. Ia harus bisa menyesuaikan ukuran pintu dengan “besar” penghuninya. Semakin besar penghuninya, pintu yang disediakan pun akan semakin besar. Jika pintu yang disiapkan terlalu kecil, bisa-bisa dahi kejedok, bisa-bisa tidak muat, atau bisa-bisa yang lain.

Kembali ke “Jangan berdiri di depan pintu”.Pada nasihat tersebut juga terdapat makna tersirat yang sangat dalam. Jika anak-anak saja sudah tidak boleh berdiri di depan pintu maka yang bukan anak-anak tentu saja menjadi sangat tidak boleh melakukannya.

Sekarang, mari kita tarik ke kondisi kekinian. Dari peminta-minta sampai milyuner, dari pencari kerja sampai korban pemutusan hubungan kerja, dari pelacur fisik (maaf) sampai pelacur jabatan, dari maling jemuran sampai maling lahan hidup orang lain, dari demonstrasi damai sampai yang paling anarkhis, dan dari-dari yang lain sampai-sampai yang lain adalah karena ada yang berdiri di depan pintu sudah lebih dari 64 tahun. Dan, pintu itu adalah Pintu Gerbang Kemerdekaan.

Bisa Anda bayangkan akibatnya, betapa panjangnya antrian, betapa berdesak-desakannya, betapa ributnya, betapa susahnya, dan betapa-betapa yang lain. Belum lagi kala kepentingan asing datang menyapa, belum lagi kala wabah penyakit datang berkunjung, belum lagi kala bencana alam datang menghampiri, maka menjadi kian lengkap derita hidup bangsa ini.

Saya hanya berharap, moga di tahun baru nanti, 1 Lebaran 1659 I (2 Syawal 1430H) satu demi satu mulai belajar melangkah untuk memasuki Pintu Gerbang Kemerdekaan yang telah dibangun oleh para pendahulu dengan susah-payah …
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Catatan Pinggir dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke 65. Jangan Berdiri di Depan Pintu

  1. Marc Hooks berkata:

    I’d come to pass on with you on this. Which is not something I usually do! I love reading a post that will make people think. Also, thanks for allowing me to comment!

  2. sugiarno berkata:

    Hmm, ternyata sampai detik ini, mendekati 1 Lebaran 1660 I (2 Syawal 1431 H), yang di depan sendiri masih juga HANYA berdiri di depan Pintu Gerbang Kemerdekaan. Saya hanya berpikir, jangan-jangan semua yang pernah di depan sendiri tidak mempunyai kunci yang pas untuk memasukinya. Jika dugaan saya benar –pantas saja– semua urusan jadi ribet dan ribut …

Komentar ditutup.