66. Guru Penjaga Perbatasan

66. Guru Penjaga Perbatasan

Saya percaya, Anda semua pernah mengenyam pendidikan dengan duduk manis di sebuah sekolah selama sekian tahun. Kemudian, diantara Anda ada yang berkesempatan merasakan bangku perkuliahan hingga tamat. Bahkan, bisa jadi sampai ke mancanegara.

Padahal, pada tulisan saya yang lain ada disebutkan bahwa –dengan segala hormat– guru belum melakukan apa-apa terhadap pendidikan bangsanya. Mungkin karena itu, mereka pernah terkenal sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Kalaupun ada di antara mereka yang melakukan sesuatu maka itu tidak lebih dari pendidikan pada level sekolah, belum mencapai level negara.

Senjata Guru Penjaga Perbatasan

Senjata Guru Penjaga Perbatasan ...


Pada mereka yang saya sebutkan belakangan ini, umum sering menyebutnya sebagai guru yang professional. Terlepas dari cara pandang kriterianya, tanpa penilaian pun, guru yang professional sudah nampak dengan sendirinya dalam keseharian mereka.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin para mantan muridnya bisa sampai menyelesaikan pendidikan tinggi sementara gurunya sendiri belum melakukan apa-apa. Atau sederhananya, bagaimana guru bisa mengajar terbang jika guru sendiri belum pernah terbang? Hmm, rupanya Anda belum tahu. Anda telah berguru pada Guru Jarkoni –bisa mengajar belum bisa nglakoni (pinjam istilah penulis lain).

Anda pun harus tahu bahwa bukan hanya tentara yang bertugas sebagai penjaga perbatasan, guru pun ada, petani pun ada, militer pun ada, seniman pun ada, dan yang lain-lain pun ada. Hanya saja, mereka “tidak” pernah kelihatan muncul di permukaan. Mereka berada pada titik terluar dari ingkaran kekuasaan. Andaikan tumbuhan, mereka dapat diibaratkan sebagai tudung akar.

Guru penjaga perbatasan ada di sekolah dasar. Mereka mendidik sekaligus mengajar para murid Kelas Satu. Wajah mereka memang polos, tampilan mereka pun biasanya terkesan sederhana, ramah, sabar, keibuan /kebapaan, teliti, dan telaten. Namun, di balik itu, mereka bisa mengubah wajah negara di kemudian hari. Saat goresan pena mereka tegak maka akan tegaklah negaranya, saat goresan mereka miring maka akan miring pula negaranya. Guru-guru lain sesudah mereka hanya melanjutkan pola dasar yang telah mereka buat.

Sebelum Anda melanjutkan membaca tulisan ini, saya ingatkan bahwa ikatan yang tersisa di antara kita hanya Tuhan YME yang menguasai hidup mati kita dan Ibu Pertiwi sebagai tanah air kita. Keberadaan ikatan yang lain, hanya akan membuat ribet. Jika Anda tidak mampu melepaskan diri dari jerat yang lain, lebih baik Anda segera berhenti membaca, dan segera keluar dari situs ini.

Sekarang, mari kita tengok apa yang mereka ajarkan. Mereka mengajarkan Bahasa Indonesia. Namun saat menulis, mereka menggunakan Aksara Latin. Mereka mengajar berhitung (baca: Matematika). Namun, yang digunakan Sistem Bilangan Hindu Arab. Mereka memperkenalkan tahun, namun tahun yang digunakan tarikh Masehi. Mereka … Mereka … Apakah semuanya sudah Indonesiais?

Saya tidak perlu menjawab. Anda pun tidak perlu menjawab. Oleh karena itu, menurut saya, jika hendak memperbaiki negara ini maka hanya ada satu cara yaitu Indonesiakan Guru Penjaga Perbatasan terlebih dahulu. Tanpa itu, berapapun anggaran pendidikan yang disiapkan akan habis dimakan dunia yang rakus. Jangankan hanya 20% dari APBN, 1000% pun masih akan kurang.

Saya tidak bermaksud memojokkan guru. Mereka adalah insan-insan terhormat. Masalahnya, siapa yang ada di balik Guru Penjaga Perbatasan? INDONESIA atau asing? Dari sistem yang mereka ajarkan, akhirnya Anda tahu bahwa ada tangan guru asing bermain disitu. Siapa? Ah, haruskah lagi-lagi saya yang harus menguak tabir? Anda sudah harus bisa membukanya sendiri. Ketakutan Anda hanya akan membuat bangsa ini kian terpuruk. Cukup sudah air mata berderai karena ketakutan …

Katanya, satu di antara tujuan didirikannya negara ini adalah “Mencerdaskan peri kehidupan bangsa”. Lantas, setelah mantan murid cerdas, cerdasnya pun menjadi cerdas fersi asing, yang hanya pandai merusak dengan dalih membangun. Saya tidak perlu membuktikan, silakan lihat sendiri isi penjara. Di situ ada dari maling ayam sampai mantan pejabat tinggi. Silakan simak kasus korupsi, institusi yang seharusnya menjadi barometer malah terlibat. Silakan lihat kondisi alam, sumber daya alam apa yang tidak dikeruk asing? Ah, terlalu menyakitkan … hanya onggokan ampas yang tersisa.

Guru Penjaga Perbatasan sudah kedodoran dan nyaris takluk pada Guru Asing. Gurunya saja sudah hampir kalah, apalagi muridnya, apalagi mantan muridnya. Pertanyaannya, siapa yang seharusnya bertanggung jawab untuk membantu mereka? Saya, Anda, ataukah Beliau? Oleh karena itu, bersiap-siaplah untuk menghadapi Perang Kemerdekaan Babak II, yaitu perang cara berpikir.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Pendidikan dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 66. Guru Penjaga Perbatasan

  1. OTAKU berkata:

    pak tulisan anda benar-benar membakar.
    salam..

  2. nusantaraku berkata:

    Bagaimana meyakinkan “Pendidikan Indonesia” harus menjadi prioritas?
    Sedangkan dunia luar sering berkata “kepakan saya, gunakan konvensi global, buat teknik dan metode kuno”, apalagi “aksara Indonesia” maupun “tata angka Indonesia’. Sudah berlaksa-laksa jam dan hari orang meninggalkannya dengan alasan “kuno”.
    Mohon pencerahannya.

    • sugiarno berkata:

      Sederhana, NOL -kan kesaktian Petruk yang Jadi Ratu sampai tiga orde … Caranya, pandang korupsi sebagai musuh bersama. Globalnya, lihat Meretas Jalan Menuju Ibdonesia Raya (Bagian 1 dan 2). Detailnya, lihat Revolusi Bilangan Start Sebuah Keadilan. Bagaimana akan bisa menjadi tuan di negeri sendiri jika para pemimpinnya saja takut meninggalkan bayang-bayang global … Padahal, setiao kebenaran akan bernilai benar jika dilandasi oleh kebenaran sebelumnya. Ketika hulu sudah tercemar, hanya kejadian luar biasa yang bisa membuat hilir menjadi jernih. Pada akhirnya, berpulang kepada yang menjadi RI 1 … Indonesiais atau globalis? Trim’s atas semuanya …

Komentar ditutup.