68. Belajar (Mem-) Bela Negara “Bahasa Indonesia”

68. Belajar (Mem-) Bela Negara ”Bahasa Indonesia”

Pengantar
Perlu diingat bahwa sebelum 1901 bahasa Melayu ditulis dengan menggunakan huruf Arab-Melayu dan dibeberapa tempat ditulis dengan menggunakan huruf latin. Karena adanya ketidak-seragaman tersebut, atas perintah dari Pemerintah Hindia Belanda maka sejak 1896 Charles Adrian Van Ophuysen memulai usahan penciptaan ejaan untuk menuliskan bahasa Melayu. Usaha tersebut dapat diselesaikan pada 1901 serta dibukukan dalam “Kitab Logat Melajoe”. Untuk selanjutnya, agar tidak terjadi kerancuan dalam pengertian, saya manggunakan kata aksara sebagai pengganti kata ejaan.

Dalam perjalanannya, aksara ciptaan Van Ophuysen itu dimodifikasi beberapa kali dengan maksud agar lebih praktis tentunya. Modifikasi terakhir adalah dengan ditetapkannya Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) oleh mantan Presiden Soeharto pada 17 Agustus 1971.

Bela Negara Bahasa Indonesia
Gencarnya pembelajaran bahasa Indonesia mempercepat terpinggirkannya aksara daerah. Ini berarti aksara daerah telah berada dalam stadium koma, di ambang kematian. Bisa jadi, hal itu dikarenakan adanya anggapan bahwa aksara daerah kurang praktis.

Namun, anggapan tersebut juga lemah, sebab pada EYD pun terdapat sederet kelemahan. Pertama, pada EYD terdapat konsonan rangkap seperti sy, ny, ng, dan sebagainya. Kedua, pada EYD terdapat vokal rangkap seperti ai, au, dan oi. Ketiga, EYD tidak dapat membedakan aksara untuk vokal /e/ pepet , vokal /e/ taling, dan vokal /e/. Juga tidak dapat membedakan aksara konsonan d pada /dupa/ dan d pada /dada/, dan sebagainya. Jadi, anggapan kurang praktisnya aksara daerah pun sebenarnya lemah.

Begitu pula dengan anggapan Van Opusyen tentang tidak praktisnya aksara Arab, bukankah aksara Arab lebih banyak “macamnya” ? dari situ dapatlah dimengerti bahwa penggunaan aksara dengan EYD tentulah didorong oleh faktor lain, ini berarti ada tangan kuat di balik itu.

Pertanyaannya adalah siapa tangan kuat yang dimaksud ? Dengan digunakannya aksara produk mereka di negeri ini, maka teknologi mereka yang berbasis aksara akan laku di sini. Lihat saja mulai dari mesin ketik sampai dengan komputer adalah produk mereka, dan ini dipermulus dengan bahasa mereka yang gencar juga dimasyarakatkan –dengan adanya jam muatan lokal Bahasa Inggris sejak Sekolah Dasar.

Perlu diingat, pada zaman kolonial Belanda, mereka yang mampu berbahasa Belanda dengan aktif akan memudahkan yang bersangkutan untuk mendapatkan posisi /tempat dalam pemerintahan kolonial. Sekarang, mereka yang mampu berbahasa Inggris makin berpeluang untuk tampil sebagai pemenang dalam kompetisi “karir”.

Pertanyaannya, apakah sekarang bangsa ini telah jatuh ke dalam kolonialis baru, imperialis Inggris, atau malah yang lain? Kalau tidak, untuk apa membebani semua peserta didik mempelajari “bahasa” mereka? Berapa persen dari mereka yang pada akhirnya menggantungkan hidup pada bahasa tersebut? Berapa persen yang tidak? Jadi, dengan kata lain, demi satu dua butir telur dunia pendidikan telah mengorbankan yang sekeranjang

Memang, tidak ada jeleknya mempelajari bahasa asing asal ada manfaat bagi yang mempelajarinya, sehingga masa yang dipergunakan untuk belajar tidak terbuang sia-sia. Mereka hidup di Indonesia, temannya orang Indonesia, tetangganya orang Indonesia, di pasar bertemu dengan orang Indonesia, di atas kendaraan umum bertemu dengan orang Indonesia, dalam kehidupan sehari-hari berhubungan dengan orang Indonesia. Lantas untuk apa susah-susah belajar bahasa asing kalau pada akhirnya hanya berhubungan dengan mereka yang sebangsa dan sebahasa pula?

Oleh karena itu, seyogyanya pembelajaran bahasa asing tidak memanfaatkan jam efektif namun dimasukkan pada kegiatan ekstra kurikuler. Oleh karena itu, meng -UAN- kan bahasa Inggris itu sebuah kesalahan besar. Dengan demikian, hanya mereka yang berkeinginan saja yang perlu mempelajari sedangkan yang tidak berkepentingan tidak terbebani. Bukankah di negara mereka, bahasa Indonesia tidak diajarkan di tingkat dasar?

Memang, ada pepatah Cina mengatakan jika ingin mengalahkan lawan maka harus tahu isi perut lawan. Masalahnya, untuk mengetahui isi perut lawan tidak mungkin dapat ramai-ramai, cukup beberapa orang saja. Jadi, hanya mereka yang benar-benar tertarik dan ada kemampuan untuk itu saja yang dibimbing dengan intensif. Sedangkan peserta didik yang lain biarlah mempelajari ilmu yang lain.

Dengan digunakannya aksara yang sama seperti aksara yang mereka gunakan akan memudahkan mereka untuk mengadakan kontrol terhadap kemajuan yang telah dicapai bangsa ini. Mereka tidak perlu belajar lagi, rahasia Indonesia telah berada di tangan mereka. Sebaliknya, siswa-siswa kita harus membagi waktu, mempelajari aksara sendiri (aksara daerah) agar tidak punah dan mempelajari aksara mereka agar dapat dikategorikan sebagai bangsa “maju”.

Ini berarti, siswa-siswa kita belajar dua, sedangkan siswa mereka belajar satu. Waktu yang dipergunakan siswa kita lebih banyak. Semakin pandai output pendidikan, maka semakin memperkokoh posisi mereka sebagai kapitalis! Itulah tujuan mereka, membuat kita jalan di tempat setelah para pendahulu berhasil menghalau mereka dari bumi Nusantara. Atau, paling tinggi berputar-putar pada tiang tambatan yang mereka buat.

Padahal, sebenarnya sampai saat ini ada sebelas aksara “bangsa” yang hidup di bumi Indonesia dengan komposisi aksara sebagai berikut : a. Aksara Bali = 21 buah; b. Aksara Jawa = 22 buah; c. Aksara Sunda = 21 buah; d. Aksara Bugis = 23 buah; e. aksara Karo = 21 buah; f. Aksara Mandailing = 19 buah; g. aksara Lampung = 21 buah; h. Aksara Rejang = 22 buah; i. Aksara Toba = 19 buah; j. Aksara Arab = 29 buah; k. Aksara Van Opusyen dengan EYD-nya = 26 buah (Kamus Besar bahasa Indonesia, 1990 : 1056/1057)

Adanya keseimbangan dalam jumlah aksara di atas, bukanlah berarti adanya kemutlakan kesamaan fonem aksara tersebut. Sebagai contoh, pada aksara Jawa fonem /dh/, /ny/, /th/,/ng/, /re/, /le/ dan hanya terdiri dari satu aksara. Pada aksara Bugis, fonem /mp/, /ng/, ngk/, /nr/, /ny/, /nyc/ pun hanya terdiri dari satu aksara. Pada aksara Arab, /dl/, /gh/, /ts/, dan sebagainya juga hanya satu akara. Begitu pula dengan aksara-aksara yang lain.

Dalam hal ini, kita hendaknya ingat bahwa dalam Indonesia baru pasca transisi nanti, semua daerah diberi kesempatan untuk menjadi sentral, dalam arti sebuah sentral budaya bangsa. Oleh karena itu, jika bahasa Indonesia berakar dari ranah Sumatera, bilangan berakar di Jawa, tarikh berakar di Kalimantan maka lebih tepat jika Aksara Indonesia diakarkan di daerah yang belum menjadi sentral. Bukan maksud penulis menggiring opini Pembaca Budiman agar menunjuk Sulawesi sebagai cikal bakal. Atau, jangan-jangan malah ranah Indonesia sendiri? Kelak, satu fonem, satu aksara. Dengan demikian, jumlah aksara Indonesia akan semakin banyak dan lengkap.

Aksara Indonesia
Menurut saya, jumlah Aksara Indonesia ada 30 buah. Jumlah tersebut tidak muncul begitu saja. Namun, ada kaitan antara aksara dan banyaknya tahun kabisat dalam Tarikh Indonesia setiap 30 tahun. Dengan begitu, dapat dihindari dua hari idhul fitri. Sebab, selisih satu antara tahun biasa dan tahun kabisat dalam kalender bulan tersebut dimasukkan pada bulan Ramadhan. Sehingga, pada Romadhon tahun kabisat berumur 30 hari –untuk masalah ini, bagian ahli ilmu falak yang membahasnya.

Dari sini muncul pertanyaan, apakah itu bukan suatu kemunduran? Sesungguhnya, apalah artinya mundur sembilan tahun jika sesudah itu mampu melompati 228 tahun? –lihat, Indonesia, Negara yang Terlalu Maju. Bukankah, deretan panjang para pahlawan telah memberi contoh dengan merelakan dirinya berjuang ratusan tahun tanpa mengenal kata menyerah sampai tetes darah yang terakhir? Pada akhirnya, kita semua harus belajar lagi sebab –dengan segala hormat– ternyata Bangsa Indonesia masih buta huruf!

Sangkaan, bahwa bangsa ini sudah melek huruf ternyata keliru. Karena ternyata, hurufnya sendiri belum pernah tercipta. Disitulah letak perlunya masa transisi sembilan tahun! Guru, murid, dan semua isi penghuni negara ini harus kembali belajar. Pada tahun pertama pasca transisi, murid Kelas I Sekolah Dasar akan memulai babak baru. Anda merasa gamang? Saya maklum, sebab untuk menciptakan sebuah aksara bukanlah perkara remeh. Katanya, ”Menjunjung bahasa persatuan yang satu, Bahasa Indonesia”. Tapi, aksaranya … bukan Aksara Indonesia!

Oleh karena itu, sastrawan, pujangga, ahli bahasa daerah, dan ahli Bahasa Indonesia perlu duduk semeja untuk menciptakan aksara baru. Mereka yang berkompeten tersebut mempunyai tugas membangun peradaban Aksara Indonesia sebagai penopang bahasa Indonesia yang sudah terlebih dahulu merdeka. Dalam hal ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun perlu turun tangan.

Dengan adanya satu Aksara Indonesia yang stiril dari pengaruh imperialis, barulah kita dapat berharap tumbuhnya industri yang berbasis aksara di negeri ini. Dengan demikian, tenaga terdidik untuk bidang itu tidak lari ke luar negeri. Di sini lapangan kerja luas tersedia, itu berarti pengurangan pengangguran dan hemat devisa, pasar dalam negara berada dalam genggaman sendiri. Memang, tidak serta-merta tahap itu tercapai.

Ketika lahir generasi baru maka tugas generasi lama adalah mempersiapkan jalan, bukannya malah menutup jalan. Itu berarti, dalam jangka pendek (baca : 9 tahun), tugas generasi lama adalah mempersiapkan perangkat teknologi sederhana sebagai parangkat pendukung Aksara Indonesia. Sedangkan dalam jangka panjang (baca : 18 tahun), ketika generasi baru sudah membutuhkan teknologi maju maka generasi lama sudah mencapai tahap itu dan mampu memenuhinya. Dengan begitu, semua berjalan secara alami.

Pertanyaannya sederhana, mampukan generasi lama mempersiapkan perangkat yang diperlukan sebagai pendukung aksara Indonesia? Jika tidak, lebih baik, tutup saja perguruan tinggi untuk bidang itu. Gampang, bukan?

Di dunia ada 6912 bahasa (Iklan Citybank: Jawa Pos, 5 November 2008, halaman 3) dan menurut UNESCO ada 2500 bahasa terancam punah (Pita Metro TV: 20 Februari 2009, Pukul 21.50). Bahasa-bahasa yang terancam punah tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: Pertama, habisnya para pengguna bahasa dari muka bumi. Kedua, pengguna bahasa beralih menggunakan bahasa lain yang mempunyai daya dukung lebih kuat. Ketiga, adanya tekanan dan di luar kemampuannya untuk melawan. Keempat, terlambat datangnya kesadaran akan arti penting rasa nasionalisme mereka.

Meski tanpa didukung oleh aksara, Bahasa Indonesia telah berkibar di bumi Nusantara sejak ratusan tahun silam. Malah, ada gejala untuk menjadi bahasa dunia. Sungguhpun termasuk gejala positif, namun tidak ada keuntungan yang dapat dipetik Indonesia dengan mendunianya bahasa negaranya. Sebab, pada akhirnya, tetap saja mereka yang menguasai teknologi komunikasi maju yang akan meraih untung.

Tanpa Aksara Indonesia, kedudukan Bahasa Indonesia tak ubahnya dengan Bahasa Inggris, (maaf) hanya sebatas bahasa pengantar kaum penjajah … Perbedaan di antara ke duanya hanya ada pada bungkus, hanya ada pada ”bunyinya”, sedangkan isinya sama.

Tugas kita sekarang adalah membuka hati agar berani melihat kenyataan, bahwa ternyata Bahasa Indonesia barulah menyentuh bibir, belum sampai ke hati. Mudah-mudahan, Anda mengerti dengan yang saya maksud.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bahasa dan tag , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke 68. Belajar (Mem-) Bela Negara “Bahasa Indonesia”

  1. From all the blogs I’ve pore over lately, this one-liner seems to be the most impressive – it gave me something to consider about.

  2. Very excessive dispatch to conditional on be ashamed on.. I am absolutely impressed with this article. Looking in support of days posts.

  3. beatathome berkata:

    I love sangnata.wordpress.com

    betathome.pl

  4. I have added sangnata.wordpress.com to my favorites, good work

    tabletki na odchudzanie

  5. We truly appreciate your blog post. There are actually so many ways we could put it to proper use by means of little or no effort with time and resources. Thank you really for helping make this post respond to many concerns we have had before now.

  6. I can not thank you adequately for the content on your website. I know you set a lot of time and energy into them and really hope you know how much I appreciate it. I hope I am able to do the identical thing man or woman at some point.

  7. Sawali Tuhusetya berkata:

    postingan yang bagus dan mencerahkan, mas gi. seiring dengan perkembangan global, bahasa indonesia saat ini makin dihadapkan pada tantang yang makin rumit dan kompleks. ia tidak saja menghadapi persoalan eksternal dengan makin menjamurnya istilah asing yang digunakan, baik dalam ragam lisan maupun tulis, melainkan juga problem kebanggaan dan kecintaan bangsa kita sendiri yang mulai luntur.

Komentar ditutup.