69. Lembaran Baru

69. Lembaran Baru

Yang namanya lembaran baru, tentunya masih polos, masih putih, dan masih bersih. Itu kalau kertas. Untuk kehidupan berbangsa dan bernegara pun –sepertinya– juga bisa dianggap demikian. Hari ini, 21 September 2009, adalah 1 Lebaran 1659 I (baca: tanggal 1, bulan Lebaran, tahun 1659 Indonesia), hari bersejarah bagi Bangsa Manusia Indonesia. Karena, pada pagi ini kesadaran nasional HARUS dimulai. Siapa yang mengharuskan? Saya, dan siapa saya? Saya bukan siapa-siapa, saya hanya titik terakhir dari barisan bangsa ini … Jadi kalau saya lancang, maafkanlah saya –kan masih suasana Idhul Fitri.

Adalah hak Anda untuk mencibir, mencemooh, ataupun menjatuhkan sumpah serapah Anda. Semua akan saya terima. Biarlah apa kata Anda, terserah apa kata Anda, yang jelas, saya mengajak Anda semua untuk sadar diri dan pulang ke Taman Dunia, INDONESIA. Jangan lagi hanyut dalam pusaran global. Jangan pula terjebak dalam arogansi lokal.

Saya memandang INDONESIA adalah pusat peradaban yang terlupakan (?), bahkan oleh pemiliknya sendiri. Di Taman Dunia yang bernama INDONESIA, semua ada. Lihat etnik penduduk dengan ragam budaya pendukungnya, dari yang sekadar koteka sampai bercadar. Lihat bentang alamnya, dari padang pasir sampai puncak gunung yang tertutup salju. Lihat kekayaan sumber daya alamnya, lengkap. Lihat flora dan faunanya. Ah, semua ada dan tersedia dengan (konon) melimpah.

Taman Dunia telah cukup lama rusak. Yang membuat rusak bukan siapa-siapa, tetapi sebagian dari kita sendiri. Atau, sebagian dari kita telah bergeser kiblatnya ke asing. Atau, mungkin tergiur dengan gemerincing uang dari seberang. Atau, boleh jadi karena kebodohan kita sendiri. Lagi-lagi ah, terlampau banyak penyebab rusaknya INDONESIA.

INDONESIA yang adil dan makmur harus direalisasikan. INDONESIA yang aman dan tentrem harus diwujudkan. INDONESIA yang damai dan sejahtera harus disong-song. Pendek kata, INDONESIA yang didambakan para pendahulu harus menjadi nyata. Kalaulah mereka belum /kurang berhasil maka menjadi tugas dan kewajiban generasi berikut untuk mewujudkannya.

Mengitari simbul merdeka, 17 Agustus 1945

Mengitari simbul merdeka, 17 Agustus 1945

Mulai hari ini, mari kita sing-singkan lengan baju untuk Belajar Membela Negara, semampu kita, sekuat daya yang kita punya. Yang besar, sadarlah akan kebesarannya. Yang kecil, sadarlah akan kekecilannya. Yang tinggi, menunduklah. Yang pendek, angkat tumitlah. Yang kanan, mengirilah. Yang kiri, mengananlah. Yang mengetahui, jangan lagi tidak mau tahu. Yang tidak mengetahui, janganlah sok tahu. Tidak perlu menunggu komando lagi. Saat bangkit dari titik nadir telah tiba.

Membuka lembaran baru

Membuka lembaran baru

Mari, kita membela negari sendiri-sendiri sebagai bukti bahwa kita telah melaksanakan Bela Negara. Saya percaya, Anda telah mengetahui negeri masing-masing. Jika Anda masih bingung, silakan lihat Negeri Khayangan. Jika masih belum mengerti, silakan baca Tarian Raja Garuda secara urut.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Catatan Pinggir dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 69. Lembaran Baru

  1. Robertino berkata:

    упражнения для увеличения размера члена
    Как увеличить пенис дома
    увеличение члена скачать книгу
    Таблетки для увеличения члена
    скачать методику увеличения члена
    Техника увеличения члена

  2. Sawali Tuhusetya berkata:

    semoga ajakan simpatik ini benar2 didengar oleh segenap anak bangsa, hingga akhirnya muncul kesadaran dan perubahan paradigma bahwa sudah saatnya negeri ini perlu terus dijaga jati dirinya hingga tak gampang dipermainkan oleh negeri lain.

Komentar ditutup.