71. BELAJAR (MEM-) BELA NEGARA “ILMU INDONESIA”

71. Belajar (Mem-) Bela Negara “Ilmu Indonesia”

Pengantar
Daerah ilmu adalah daerah pikir dengan cakupan yang terbatas, sebatas materi yang dapat ditangkap nalar. Adanya dikotomi antara ilmu umum dengan ilmu agama –mungkin– dikarenakan adanya anggapan bahwa agama itu juga termasuk ilmu. Menurut saya, di dalam agama itulah ilmu bernaung. Sebab, ada bagian agama yang tidak dapat ditangkap ilmu, dan bagian tersebut hanyalah dapat diterima oleh iman (keyakinan). Adalah hal yang sia-sia jika ada keinginan untuk menguak areal iman.
Dalam konteks ke-Indonesia-an, ilmu menjadi sangat penting dalam rangka membangun peradaban bangsa. Lebih-lebih sejak pasca Proklamasi 1945 hingga saat ini, tak henti-hentinya derita melanda penduduk negeri ini. Bukankah seharusnya setelah merdeka, menata langkah untuk maju bersama? Bukan malah sikut kiri, sikut kanan. Atau malah lebih parah lagi, menggunting dalam lipatan untuk maju sendiri. Apalah artinya, seorang jenderal terangkat ke singgasana jika ribuan prajurit menjadi penopang singgasananya itu.

Sudahkah ilmu Indonesia itu merdeka?
Sebagaimana pendapat para ahli bahwa ilmu itu bercabang-cabang, masing-masing cabang melahirkan cabang baru lagi, beranting-ranting, dan beranting-ranting lagi. Semua berkembang seiring dengan lajunya pengetahuan umat manusia. Lahirnya ranting ilmu yang terlalu dini akan membuat merana ilmu itu sendiri, sebab “pasar” belum siap menerimanya. Bahkan, bisa-bisa yang melahirkan ilmu tersebut dianggap miring.
Begitu pula sebaliknya, jika ranting terlalu banyak –dan sejenis– maka, pasarpun akan menjadi jenuh. Muara dari titik jenuh itulah yang disebut dengan pengangguran. Kondisi ini sudah ada di depan mata.
Dari sini, dapat dimengerti, jika awam berpendapat untuk apa menuntut ilmu –yang membutuhkan banyak biaya — jika pada akhirnya hanya menjadi seorang pengangur. Bisa jadi, para penanggung jawab pendidikan berkilah bahwa tugas lembaga pendidikan hanya membekali siswanya dengan kail. Urusan mengail di mana itu sudah bukan tanggungjawabnya lagi.
Dalih semacam itu tidak salah, sepanjang masih ada kolam, empang, perigi, danau, atau laut yang masih sarat dengan ikan. Namun saat tempat-tempat yang seharusnya berisi ikan tersebut telah kosong, bahkan airnya pun telah lenyap, lantas untuk apa gerangan kail yang mereka cari dengan susah payah itu? Bahwa pendidikan berganti haluan, membekali siswanya dengan parang pun tak akan berguna saat kayu-kayu di hutan telah tinggal pokok-pokok pepohonannya saja. Semua telah habis, dan tandas. Dari itu, seharusnya, pendidikan mampu membekali siswanya dengan ilmu yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Tugas pendidik (guru) dan pengajar ( baca : dosen) “hanyalah” sebagai penyampai. Tugas pokok mereka bukanlah “menemukan” ilmu, sekalipun pada guru tertentu dan pengajar ada tugas tambahan untuk itu –sesekali menjadi penyelam. Pada merekalah tertumpu lahirnya ilmu yang berguna bagi zamannya. Bahkan kalau mungkin, bermanfaat bagi generasi yang akan datang. Dengan demikian, mereka tidak perlu lagi mencari tambahan ilmu pengetahuan di luar lembaga pendidikan.
Mencari tambahan ilmu menunjukkan kurangnya bobot bekal ilmu yang mereka terima dari lembaga pendidikan. Jika itu terjadi berarti ada kesenjangan yang dalam antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Itu menunjukkan lembaga pendidikan yang dimaksud tidak menghasilkan lulusan yang siap pakai juga dapat dipandang sebagai adanya kekurang percayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan. Kalau kondisi seperti ini tercipta, siapa yang rugi? Output pendidikan, bukan?
Menjamurnya Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di berbagai kawasan di satu sisi memang baik, sebab dapat dipandang ada semacam gairah menimba ilmu. Namun, di sudut lain, sisi gelap membayangi pada pencari ilmu dari keluarga yang hidupnya pas-pasan. Ini, jelas sebuah ketidakadilan dalam penyebaran ilmu. Dalam kondisi seperti itu, akhirnya penyebaran ilmu –pun kembali kepada hukum alam, atau malah mungkin hukum rimba.
Dengan model semacam itu, akhirnya ilmu hanya akan tersebar pada mereka yang beruang, sedangkan pada mereka yang tidak /kurang mampu cukuplah sebagai penonton. Untunglah, banyak LBB yang memberikan semacam beasiswa kepada siswa-siswanya dengan persyaratan tertentu dan itu sudah merupakan sebuah pengorbanan (?) dari LBB tersebut. Oleh karena itu, terlalu menggiring peserta didik ke arah yang tidak sejalan dengan jalur hidupnya (baca: bakat) hanyalah akan menghasilkan orang pintar namun kering prodiktivitas. Akhirnya, bagai kembang bunga tak jadi.
Saat memasuki bangku sekolah (baca: pendidikan) peserta didik diibaratkan seberkas sinar putih yang menembus prisma bening dan darinya akan terlahir banyak macam warna yang akan ditangkap layar. Dalam hal ini, seluas “layar” Indonesia. Jika sinar putih tadi diganti dengan ilmu murni Indonesia maka akan nampak aneka warna ilmu, misalnya : ilmu tatanegara, ilmu kesenian, ilmu kesehatan, ilmu bahasa, dan sebagainya. Kesemuanya berakhir pada ilmu “tradisional”. Memang, dari yang tradisional itulah akan lahir yang nasional. Namun, memandang nasional adalah hasil penjumlahan dari yang tradisional tidak selalu tepat.
Persoalan tidak semua yang tradisional dapat terangkat ke permukaan Indonesia sehingga menjadi milik nasional harus diatasi. Sebagai contoh, bahasa Indonesia yang terlahir dari rumpun bahasa Melayu akan membuat bangga orang Sumatera, karena satu di antara banyak bahasa daerah yang ada di Indonesia dapat tampil sebagai bahasa nasional. Perjalanan waktu yang ditempuh bahasa Melayu untuk dapat menasional cukup panjang. Namun, hasil yang dicapai juga gemilang, yaitu mampu menguasai jagat Indonesia. Pertanyaannya, bagaimana dengan ilmu yang lain? Taruhlah ilmu aksara. Daerah mana yang akan bangga dengan diguanakannya aksara latin? Taruhlah misalnya, ilmu tata negara, berakar dari daerah manakah yang diajarkan? Taruhlah dengan ilmu kesehatan, tanaman obat yang manakah yang sudah menasional Keengganan menerima kelebihan budaya etnik lain yang sebangsa jelas bukan sikap yang diharapkan dalam membangun peradaban Indonesia secara keseluruhan. Hal itu menunjukkan, ilmu murni Indonesia masih tertinggal di “simbul merdeka”, 17 Agustus 1945

Menghitung Ilmu Indonesia yang Tersisa
Tidak diragukan, jika kelebihan setiap ilmu murni Indonesia dimanfaatkan dan ditambah sedikit polesan akan mampu melepaskan bangsa ini dari belenggu tiran kolonialis modern. Penjajahan ilmu bak jala sutera, sangat halus, dan nyaris tidak kentara. Sebab, penjajah dan yang dijajah sebangsa. Siapa kawan dan siapa lawan pun menjadi samar.
Oleh karena itu, sepanjang negara tidak mampu memasang prisma bening kedua, maka kemerdekaan yang hakiki masih jauh. Sekedar mengingatkan, untuk memasang prisma bening ke dua maka harus pulang ke situasi 17 Agustus 1945. Atau kalaupun dipaksa, akan mentok pada pagi 18 Agustus 1945. Keimpulannya sederhana, Indonesia krisis ilmu. Ilmu murni Indonesia telah dikepung dari segala penjuru. Atau, jangan-jangan tidak ada ilmu murni Indonesia? Jika hal ini benar, apa gunanya berguru pada guru yang latah?
Ilmu murni Indonesia adalah ilmu dasar, karena itu diajarkan di sekolah dasar. Jika ilmu dasar yang diajarkan saja sudah bukan berakar dari Indonesia maka bukan salah mantan murid jika mereka menjadi liar. Kepada sejawat gurunya saja mantan murid yang kebetulan berkuasa saja sudah liar, apalagi terhadap negara /bangsanya –lihat Periodesasi Kepala Sekolah Dasar Negeri, Sebuah Bentuk Pengkhianatan Birokrat Pendidikan terhadap Pancasila. Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab? Yang mengajar, yang diajar, ataukah yang menyuruh mengajar?
Sekarang, mari kita hitung ilmu yang tersisa. Dengan kacamata pendidikan? Hanya tinggal satu, puluh, dan ratus –yang kesemuanya masuk ranah Ilmu Bilangan. Dari kacamata teknologi? Dari kacamata kesehatan? Dari kacamata pertanian? Dari kacamata militer? Dari kacamata informasi? Dari kacamata keuangan? Dari kacamata seni budaya? Dari kacamata agama? Dari kacamata persenjataan,? dan seterusnya.
Dari pentingnya ilmu yang berakar di Indonesia demi masa depan bangsa dan negara ini maka harus ada satu wadah yang lebih besar bagi para ilmuwan. Untuk itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai lembaga bentukan pemerintah sangat layak untuk dinaikkan statusnya menjadi sebuah lembaga tinggi negara. Dengan demikian, LIPI bernaung di bawah MPR. Oleh karena itu, badan ini diharapkan merangkul ilmuwan-ilmuwan lain yang masih terkotak-kotak di luar, seperti ICMI misalnya. Kotak-kotak ilmuwan tersebut dapat dipandang sebagai satuan organik.
Lembaga ini mendapat mandat dari pemegang kedaulatan rakyat serta mendapat tugas tambahan untuk menggali “ilmu murni (ilmu dasar)” Indonesia dan segala bentuk pertangungjawaban keilmuan menjadi tanggungjawabnya. Ini berarti, perlindungan hak cipta –apapun itu– menjadi tanggung jawabnya. Pada “ilmu murni” Indonesia itulah terletak jati diri sebagai bangsa Indonesia. Ilmu yang berakar dan tumbuh akan melahirkan sebuah sistem yang kokoh. Sebagai contoh, ketika Ilmu Bilangan Indonesia yang berakar dari Jawa saja yang diurai sudah nyaris menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara karena dapat menyelesaikan biang korupsi –singkatnya, lihat Meretas Jalan Menuju Indonesia Raya (Bagian 1 dan 2). Bisa Anda bayangkan jutaan lapangan kerja yang tersedia ketika Ilmu Kesehatan Indonesia diurai, ketika Ilmu Persenjataan Indonesia diurai, ketika Ilmu Samudera Indonesia diurai, ketika Ilmu Transportasi Indonesia diurai, dan sebagainya. Dengan sistem itulah, peradaban Indonesia dibangun.
Memang, semua yang saya tuliskan dalam blog ini barulah sebatas kata, sebatas teori. Namun, jika Anda memiliki kemampuan menggambarkan rasa INDONESIA yang sesungguhnya maka Anda akan bersegera membantu saya untuk memperbaiki “taman larangan” yang telah rusak karena ulah nakal anak-anak tetangga.
Oleh karena itu, mereka yang alim, yang pintar, yang kuat , yang besar, yang banyak harus segera bangun. Jangan hanya tidur, makan, berantem melulu. Telah lebih dari 64 tahun Indonesia Menanti realisasi janji proklamasi, 17 Agustus 1945.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Ilmu dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke 71. BELAJAR (MEM-) BELA NEGARA “ILMU INDONESIA”

  1. StuntThug berkata:

    You have to express more your opinion to attract more readers, because just a video or plain text without any personal approach is not that valuable. But it is just form my point of view

  2. Sawali Tuhusetya berkata:

    kajiannya lengkap sekali, mas. layak dijadikan sebagai rujukan dalam pembahasan masalah ilmu dan agama. sayng sekali, potensi yang dimiliki kaum ilmuwan selama ini justru dimanfaatkan utk berselingkuh dengan kekuasaan.

    • sugiarno berkata:

      Itulah yang saya sayangkan, perselingkuhan ilmuwan dg kekuasaan dan melacurkan ilmu demi kekuasaan. Jadi, kalau semua lini kehidupan rusak menjadi tanggung jawab … Terima kasih atas semuanya.

Komentar ditutup.