76. Melanjutkan Mimpi Bahasa Indonesia

76. Melanjutkan Mimpi Bahasa Indonesia

Yang dinamakan bersatu itu adalah satu dalam rasa, satu dalam kata, satu dalam gerak, satu dalam langkah, dan satu dalam yang lain-lain. Dalam satu, tidak boleh ada satu lain sebagai pembanding, apalagi ada satu lain sebagai tandingan.
Mari, kita tarik mundur. Dulu, pada 28 Oktober 1928, konon para pemuda sudah mengikrarkan Sumpah Pemuda, ada tida butir ikrar mereka. Satu di antaranya adalah pengakuan, “Menjunjung bahasa persatuan yang satu, bahasa Indonesia”. Masih konon pula, saat itu adalah masa kolonial Belanda yang tentu saja butuh nyali ultra berani untuk mengumandangkannya. Sumpah suci telah dikumandangkan sekian puluh tahun silam.
Pertanyaan sederhana, sejauh mana butir sumpah tersebut terealisasikan? Sekarang, mari kita tarik ke masa kini. Kita tidak perlu membicarakan yang berat-berat semacam karya sastra, atau yang muluk-muluk tentang bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, atau lebih gila lagi tentang aksara Indonesia. Kita bahas yang ringan-ringan saja, yang kita lihat, yang kita dengar, atau bahkan mungkin kita alami sendiri.
Anda tentunya sudah paham bahwa pada saat ini, satuan pemerintahan adalah desa, kecamatan, kabupaten /kota, provinsi, dan negara –mudah-mudahan saya tidak salah. Jika salah, mohon diluruskan.Dengan demikian, ada lima level satuan pemerintahan (a).
Ingat, rumusnya adalah : Menjunjung bahasa persatuan yang satu, bahasa Indonesia (b).
Mungkin, Anda bertanya, “Apa hubungan antara (a) dengan (b)?”. Memang, sekilas tidak ada hubungan yang mengikat di antara keduanya. Hal ini dapat terjadi karena semua elemen berjalan sendiri-sendiri –maaf. Pada level yang sama, yang satu menggunakan istilah x, yang satunya y, dan yang lain z, atau bahkan yang lain lagi. Contoh riil, yang satu bilang rayon, satunya sektor, satunya kecamatan, bahkan satunya lagi negeri. Anda bisa mencari sendiri contoh lain di sekitar tempat tinggal Anda.
Kondisi semacam itu jelas tidak baik, tidak bagus, dan tidak benar. Seharusnya, para pengambil kebijakan menggunakan istilah yang sama untuk level yang sama. Istilah baru, baru akan muncul pada level di atasnya. Nah, dari sisi penuturan saja sudah berbeda, apalagi dalam gerak dan dalam langkah.

Masalahnya,
mereka masih belum sadar juga.
Mereka masih melanjutkan mimpi juga.
Mereka masih hendak berlari juga.
Mereka masih akan bersembunyi juga.
Atau, mereka masih akan berkilah juga?
Ternyata, “Menjunjung bahasa persatuan yang satu, bahasa Indonesia” –itu, hanya ada di bibir saja …

Senyampang masih dalam bulan bahasa dan selagi hangat-hangatnya “kata” Indonesia Bersatu, ada baiknya kita merenung bersama. Apakah dalam bertutur tentang sesuatu saja sudah ada kesepahaman di antara para pengambil kebijakan? Jika sudah, mana buktinya. Jika belum, untuk apa berpanas-panas dalam upacara perayaan Sumpah Pemuda? 81 tahun INDONESIA menanti bahasa persatuan -nya dijunjung bukanlah sebentar …
Sepertinya, kita perlu mempelajari kembali bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kita. Anda setuju? Tolong, beri tahu kawan Anda. Jika Anda tidak setuju, beri tahu saya. Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bahasa dan tag , . Tandai permalink.