77. KORUPSI ADALAH MUSUH BERSAMA.

77. Korupsi adalah Musuh Bersama

Bela negara adalah usaha sadar untuk mempertahankan eksistensi negaranya dari gangguan radikal bebas negatif lokal dan dari intervensi global. Dikatakan sadar karena para pelaku tahu sebab dan akibat dari perilakunya. Para pelaku juga tahu, siapa kawan dan siapa lawan yang harus dihadapi. Pelaku juga tahu akan kekuatan dan kelebihan yang dimiliki pihak lawan.

Ada beberapa sebab dari bela negara. Pertama, tumbuhnya kesadaran bahwa negara merupakan sebuah kebutuhan yang mendasar agar mendapatkan perlindungan darinya. Dalam hal ini, dapat berupa jaminan tersalurkannya hak-hak yang bersifat universal maupun yang bersifat pribadi. Memang, kesadaran tidak serta-merta muncul secara kolektif. Di samping itu, harus ada faktor pemicu munculnya kesadaran tersebut.
Kedua, munculnya musuh bersama. Gangguan pada sebuah elemen kehidupan akan mempengaruhi elemen yang lain. Saat ini, musuh bersama yang dihadapi oleh bangsa Indonesia bukan lagi semacam “penjajah” primitif. Atau semacam –isme tertentu. Bukan, bukan itu. Musuh bersama bagi bangsa Indonesia saat ini adalah korupsi… Anda jangan memandang sebelah mata padanya. Perilaku korupsi sudah sangat menggurita. Korupsi sudah tersusun secara sistemik. Nyaris sudah tidak ada lagi elemen kehidupan yang lolos dari serbuannya.
Anda juga jangan terkecoh dengan pemberitaan bahwa telah ditangkap koruptor uang negara senilai sekian atau sekian. Kasus korupsi bukan hanya terjadi pada uang. Korupsi dengan wajah lain jauh, jauh, dan jauh lebih jahat dari itu. Korban yang jatuh pun telah tak terhitung jumlahnya.
Sebagai contoh, gara-gara korupsi “kapasitas” segelintir orang pengambil kebijakan terjadilah korupsi “lahan kehidupan”. Gara –gara korupsi lahan kehidupan, jutaan orang menjadi penganggur, atau paling tinggi menjadi kuli di negeri sendiri. Itu sama artinya dengan pola pemiskinan terselubung terus berlanjut. Di saat mereka jatuh, datanglah “pahlawan” sebagai dermawan.
Contoh lain, gara-gara korupsi “bilangan” yang dilakukan segelintir orang, Rupiah menjadi kododoran. Orang-orang pintar menyebutnya sebagai krisis moneter. Gara-gara rupiah kedodoran, orang-orang bodoh menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah. Gara-gara orang bodoh menyelesaikan perkara dengan uang, yang tidak bodoh tapi tidak memegang uang harus rela hanya menjadi penonton kue kemerdekaan menjadi bahan rebutan serta dihabiskan para gentong nasi yang nyaris tidak pernah kenyang.
Contoh lain lagi, gara-gara korupsi hari “Jumat” jam kerja para pegawai menjadi kurang efektif untuk hari itu. Karena kurang efektif, produktivitas menjadi kurang optimal. Karena produktivitas yang kurang optimal, capaian pada hari itu pun menjadi minim. Muaranya, masyarakat sendiri yang rugi. Belum masalah bulan dan tahun yang telah dikorup. Muaranya, budaya hedon menyelinap masuk.
Asalkan mau berhening barang sejenak, sebenarnya, terlalu banyak contoh yang bisa dirunut penyebab dari sebuah akibat. Anda bisa mencari contoh-contoh lain di sekitar Anda. Sebab, bisa jadi Anda termasuk korban dari perilaku tersebut.
Pertanyaannya sederhana. Sadarkah Anda bahwa ada musuh besar –yang bernama korupsi– yang mengintai bangsa Indonesia?
Saya tidak sedang mempengaruhi jalan pikiran Anda. Menurut saya, Musuh dari luar dapat dengan mudah dideteksi. Sedangkan musuh dari dalam, aman-aman saja. Mereka berseliweran dengan aman di depan mata, tanpa ada yang berani mengusik dan atau /mungkin karena ketidaktahuan kita. Sebab, bisa jadi yang menjadi musuh tersebut bersembunyi pada diri pribadi kita.
Oleh karena itu, psoses bela negara dimulai dengan mengalahkan diri sendiri. Caranya, lepaskan semua kepentingan di luar kepentingan terhadap Tuhan YME dan kepentingan Indonesia. Memang, sulit. Tapi, jika Anda menginginkan kebaikan bersama maka hal itu menjadi mudah. Memang, harus ada kejut psikhis untuk itu. Shock therapy ini menjadi perlu sebab pada orang-orang tertentu, untuk menciptakan kejut psikhis harus ada tangan lain yang bergerak. Dengan begitu, bangsa Indonesia cepat sadar bahwa mereka sudah 72 hari bermalam di titik nadir.
Sekedar untuk direnungkan, Anda masih ingat dengan cerita sapi, buaya, dan kancil dari guru “masa lalu” Anda? Tarik cerita tersebut ke situasi 17 Agustus 1945. Siapa yang menjadi sapi? Siapa yang menjadi buaya? Dan, apakah kancilnya sudah dikeluarkan dari dalam kotak? Ketika Angkatan ’45 berkedudukan sebagais sapi, siapa buayanya? Anda tidak perlu menjawab pertanyaan ini, kita sudah sama-sama tahu. Sapinya masih menggendong buaya ke mana-mana … Sementara anak-anak sapi kehausan menanti induknya.
Pada hakekatnya, membela negara sama artinya dengan membuktikan ketaatan kepada Tuhan YME. Kepentingan terhadap Tuhan YME adalah ketaatan kita menjalankan perintah –Nya serta menjauhi segala larangan –Nya. Dalam hal ini, para pemuka agama seperti agama yang Anda anut dapat menjelaskan. Sedangkan kepentingan Indonesia adalah tersusunnya masyarakat yang adil, makmur, aman, tenteram, damai, sejahtera, dan seterusnya.
Ketika Indonesia HANYA dipandang sebagai negara bangsa maka hanya persoalan bangsa yang mengemuka, sedangkan unsur-unsur yang lain pun terbenam. Padahal, bentangan kepulauan dari Sabang sampai Merauke tidak hanya terisi bangsa –Manusia– Indonesia– saja. Di situ juga ada bangsa –hewan– Indonesia, bangsa –tumbuhan– Indonesia, bangsa –sumber daya alam– Indonesia, bangsa –seni budaya– Indonesia, bangsa –gunung–Indonesia, dan lain-lain. Semuanya harus dilindungi dan diharmonisasikan sehingga membawa manfaat bagi bangsa Manusia Indonesia khususnya dan bagi dunia umumnya.
Sebelum meninggalkan blog ini, sebaiknya Anda melihat terlebih dahulu format demokrasi berkelanjutan di Negeri Khayangan, Natar Bangsa Manusia Indonesia, dan Nilai Natar. Sebagai sebuah peradaban, semua elemen yang ada mempunyai kewajiban melakukan pembelaan terhadap Indonesia dan semua ada nilainya, ada harganya. Oleh sebab itu, dari sisi manusia –nya saja, cakupan bela negara Indonesia memiliki dimensi yang sangat luas. Implikasinya pun luas.
Pertanyaannya sederhana, pasca Proklamasi Kemerdekaan, sudahkan setiap elemen kehidupan melaksanakan kewajiban bela negara secara serentak? Dengan segala hormat, BELUM. Bela negara –nya masih sporadis dan masih berjalan sendiri-sendiri. Maklum, belum pernah “Belajar (Mem-) Bela Negara”.
Semua ada konsekuensinya, tentu saja.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Uang dan tag , , , , . Tandai permalink.