82. KANAL 1

KANAL 1

1. Ayo, semua berdiri. Berikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ki Dalang yang sudah dengan sukses melakonkan episode panjang kisah Petruk Jadi Ratu, yang memakan waktu lebih dari 64 tahun di negeri ini. Ingatkan dia, hari sudah siang. Katakan padanya, penonton sudah puas. Katakan padanya, tuan rumah sudah lelah dan butuh istirahat …

2. Jika benar-benar menghormati pahlawan, tidak cukup hanya dengan mengheningkan cipta. Tidak pula cukup hanya dengan membangunkan monumen untuknya. Antarkan darah daging mereka memasuki Negeri Khayangan … Itu baru layak mengaku sebagai bangsa besar, bangsa yang tidak melupakan jasa para pahlawannya. Tanpa itu = BOHONG

3. Kalau hanya bisa beli ini setelah jual itu, tidak usah orang besar, anak SD pun bisa. Kalau hanya bisa membangun ini setelah hutang ke situ, tidak usah orang besar, anak SD pun bisa. Kalau hanya bisa mengambil milik si ini untuk diberikan ke si itu, tidak usah orang besar, anak SD pun bisa. Kalau hanya bisa memindahkan gelandangan dari kota A ke kota B, tidak usah orang besar, anak SD pun bisa. Kalau hanya bisa kejar-kejaran bicara, tidak usah orang besar, anak SD pun bisa. Kalau hanya bisa menjiplak sana dan menjiplak sini, tidak usah orang besar, anak SD pun bisa. Kalau hanya bisa membuat masalah namun tidak bisa menyelesaikan, tidak usah orang besar, anak SD pun bisa.

4. Selama guru masih dalam genggaman mantan murid sejawatnya, silakan melakukan korupsi sebanyak mungkin dan sebesar mungkin. Dengan catatan, dapat bermain cantik dan jangan dibawa kabur ke luar negeri. INDONESIA itu mengerti, bukan hanya mau dimengerti. Kuncinya, jujur tapi harus pintar.

5. ”Pintarnya hanya berebut kekuasaan. Membentur-benturkan orang banyak. Ketika zaman susah, di mana mereka? Orang kok tidak punya malu,” ia menelan ludah, ”Itu kan hasil pendidikanmu, hasil pembelajaranmu, Guru?”
”Eit, jangan salah! Aku belum pernah mengajar mereka. Aku kan bersafari selama enam puluh empat tahun bersama kalian semua,” jawab Guru membela diri.

6. Sadarlah, sumber petaka nasional yang bernama korupsi ada di pendidikan. Sadarlah, telah cukup banyak orang baik-baik menjadi korban … Benahi institusi pendidikan bersama-sama. Dekati korupsi dengan bilangan. Kelak, Anda akan tahu siapa biang koruptor. Insya Allah, korupsi yang tersusun secara sistemik akan kena batunya.

7. Maaf, saya tidak bermaksud kurang ajar. Bacalah dengan benar lambang-lambang bilangan ini : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,10, … 99, 100, 891, 999, 1000, … 1234, 5678, 6789, 9999, 10000

Mari, kita cocokkan bacaan Anda : satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, … sembilan puluh sembilan, seratus, delapan ratus sembilan puluh satu, sembilan ratus sembilan pulus sembilan, seribu, … seribu dua ratus tiga puluh empat, lima ribu enam ratus tujuh puluh delapan, enam ribu tujuh ratus delapan puluh sembilan, sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, sepuluh ribu.

Apakah bacaan Anda seperti itu? Yakin? Yakinkan sekali lagi! Jika Anda membaca seperti itu dengan segala hormat, Anda termasuk pengidap latah! Maaf, sekali lagi maaf … Saya tidak peduli, siapapun Anda … latah.

Anda membaca dengan gaya Hindu Arab, bukan gaya INDONESIA. Artinya, Hindu, bukan. Arab, bukan. INDONESIA, juga bukan … Alhasil, jatuhnya seperti gombal amoh Dijadikan taplak meja terlalu sempit, dijadikan sapu tangan terlalu lebar.

Membaca ala INDONESIA lambang bilangan di atas adalah :
satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, …sembilan puluh sembilan, seratus, delapan ratus sembilan puluh satu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan, sepuluh ratus, … dua belas ratus tiga puluh empat, lima puluh enam ratus tujuh puluh delapan, enam puluh tujuh ratus delapan puluh sembilan, sembilan puluh sembilan ratus sembilan puluh sembilan, seribu.

Bisa Anda bayangkan betapa bangkrutnya negara ini gara-gara mereka “yang besar-besar” belum bisa berhitung dengan benar … Baru empat lima digit sudah salah, apalagi dua belas digit …

8. Sangat disayangkan jika guru telah ikut berhanyut ria bersama arus globalisasi –yang pada akhirnya membuat kacang lupa pada kulitnya– sehingga mantan murid memandang korupsi sebagai aset budaya bangsa yang patut dijaga dan dilestarikan. Apalagi Super Body Guru pun berdiri di belakangnya …

9. Sadar, 17 Agustus 2009 adalah akhir dari bermain ular-ularan bangsa Indonesia. Ekor ular telah tertangkap … Permainan telah usai. Siapkan diri untuk permainan berikutnya, Tarian Raja Garuda. Rumusnya : 1  10  100

10. Presiden tidak mungkin bisa bermain seorang diri. Masih ada sembilan orang lain yang setara dengannya. Mereka mempunyai daerah kekuasaan sendiri-sendiri. Di samping itu, masih ada satu orang lain yang lebih tinggi dari mereka.

11. Mereka yang melacurkan Ibu Pertiwi, sekalipun mengaku sebagai bangsa Indonesia ternyata bukan Manusia Indonesia, mereka adalah anak tetangga! Mereka adalah penumpang gelap! Riilnya, petani jangan melacurkan sawahnya demi uang. Guru jangan melacurkan pendidikan bangsanya demi uang. Ilmuwan jangan melacurkan ilmunya demi uang. Imam jangan melacurkan agamanya demi uang. Rupidin jangan melacurkan rupiah demi uang. Tentara jangan melacurkan pertahanan dan keamanan negaranya demi uang. Presiden jangan melacurkan tanah airnya demi uang. Pejabat jangan melacurkan jabatannya demi uang, dan seterusnya, dan seterusnya …
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di kanal dan tag . Tandai permalink.