91. HANYA

91. HANYA

Setiap kebenaran akan bernilai benar jika didukung oleh kebenaran sebelumnya. Oleh karena itu, kebenaran tidak memperhitungkan jumlah suara pendukungnya. Taruhlah hanya ada seorang atau bahkan sama sekali tidak ada seorangpun yang mendukung kebenaran maka kebenaran itu akan tetap melaju dan mencari jalannya sendiri untuk memberikan penerangan bagi kehidupan yang kian gulita. Sandaran utama kebenaran adalah kebenaran Tuhan Yang Maha Esa. Dia adalah tunggal (1). Masalah setiap agama menyebut Tuhan mereka dengan sebutan yang berbeda itu masalah lain. Urusan ada perbedaan tentang konsep ketuhanan yang mereka anut pun itu masalah lain.
1 hanyalah lambang bilangan, hanya sebuah lambang, tidak lebih dari itu. Lambang bilangan ada dalam sistem bilangan. Dengan menggunakan pendekatan bilangan, tidak ada simpul yang tidak terurai, hanya masalah waktu yang akan membuktikan. Tarian Raja Garuda menggunakan pendekatan bilangan sebagai dasar pijakan.
Mereka yang pernah mengenyam bangku sekolah tentu masih hangat dalam pikirannya bahwa ketika guru memberikan sebuah soal ulangan, tidak semua anak mendapatkan nilai seratus. Mungkin, hanya beberapa anak saja yang dapat menyelesaikan soal tersebut, atau bahkan bisa jadi seisi kelas tidak mampu mengerjakan dengan benar.
Dalam kasus seperti itu, ada dua kemungkinan. Pertama, siswa dalam kelas yang kurang memperhatikan penjelasan dari guru sehingga mereka gagal. Kemungkinan kedua, soal yang diberikan guru salah. Dengan kata lain, kemungkinan pertama adalah kasus muara. Sedangkan kemungkinan kedua adalah kasus hulu.
Sekarang, mari kita tarik ke konteks kekinian. Kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), pemiskinan serta penganggur terdidik adalah kasus muara. Kasus Century Gate adalah kasus muara. Kasus carut marut DPT dalam Pemilu adalah kasus muara. Mundur sedikit, krisis moneter adalah kasus muara. Kasus pembubaran Partai Masyumi adalah kasus muara. Tarik mundur lagi, kasus politik 1965 adalah kasus muara. Tarik lagi, pembubaran konstituante 1959 adalah kasus muara. Yang jelas, semua kasus pasca proklamasi adalah kasus muara.
Padahal, penyebab semua kasus dan korban kasus belajar pada guru yang sama, yaitu guru sini dengan ilmu sana. Ilmu yang mereka pelajari pun sama. Menuding faktor mental yang bejat pun kurang tepat sebab, sekalipun mental bejat jika tidak ada peluang untuk bejat maka kebejatannya hanya akan berhenti di situ, hanya pada dirinya, tidak akan merambat ke mana-mana. Dengan demikian, kemungkinan pertama pun gugur.
Kemungkinan kedua, dengan menggunakan pendekatan bilangan dapat diketahui bahwa ternyata soal (baca: teori) yang guru berikan salah. Guru sini dengan ilmu sana memberikan teori Sistem Bilangan Hindu Arab pada anak bangsa Indonesia. Artinya, mengajar merayap pada Garuda! Artinya, memberi kail untuk mengail ikan di padang pasir! Artinya, memberikan kapak untuk mencari kayu di lautan! Artinya, membekali peserta didik dengan modal dasar hidup di bumi yang bernama Indonesia dengan ilmu yang aindonesiais. Hasil sudah telanjang di depan mata. Hasil pendidikan HANYA dipersembahkan pada kepuasan global. Sementara yang tersisa hanyalah limbahnya.
Silakan lihat tayangan televisi, dari rusaknya ekosistem sampai perilaku mantan murid yang besar-besar, yang seharusnya menjadi panutan khalayak malah menjadi bahan hujatan, tontonan, dan bahan tertawaan. Ah, benar-benar nista. Hanya nista yang tersisa.
Secara pribadi, saya hanya bisa prihatin. Harap maklum, saya bukan siapa-siapa, juga bukan apa-apa. Saya hanyalah pemilik Tarian Raja Garuda. Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Pendidikan dan tag , , , , . Tandai permalink.