93. Kanal 3

93. Kanal 3

1. Saya hanya khawatir, bangsa ini menjadi bangsa aduuuuu adaaaaa, melihat kebesarannya aduuuuu (kagum), melihat yang dihasilkan adaaaaa (remeh) … Saya hanya khawatir, para pejabat di negara ini menjadi pejabat aduuuuu adaaaaa, melihat jabatannya aduuuuu (kagum), melihat hasil kerjanya adaaaaa (remeh) … Saya hanya khawatir, para atasan di atas bawahan bermental aduuuuu adaaaaa, melihat posisinya aduuuuu (kagum), melihat hasil kerjanya adaaaaa (remeh) …

2. Sejak dahulu kala, dunia sudah mengakui kebesaran bangsa ini. Ingat, di saat bangsa-bangsa barat masih dalam masa kegelapan, bangsa ini sudah mampu membuat candi Borobudur. Ingat, bala tentara Khan pernah ditumbangkan oleh strategi jitu Raden Wijaya dan bahkan kekuasaan Majapahit mampu melebihi luas Indonesia yang sekarang. Sebelum sana memperkenalkan tokoh hero semacam Superman, bangsa ini sudah mengenal Gatotkaca. Ingat, Sriwijaya pun menyimpan kebesaran … Itu, dulu, dulu sekali. Sekarang? Sebagian pejabat, sebagian atasan, dan sebagian yang “dipaksakan” menjadi atasan sibuk mencari patron, mencari contekan, atau mencari bahan jiplakan dengan dalih studi banding ke sana dan ke sana. Hasilnya? Benang kusut!!! Sekolah mahal, akan lulus mahal, cari kerja mahal, naik pangkat mahal, bea berobat mahal, harga pupuk mahal, harga beras mahal, harga minyak mahal, semua mahal, mahal, dan mahal … Maling ayam digebuk, maling bank melenggang. Maling coklat disikat, maling uang rakyat nakmat.

3. Enam puluh empat tahun telah terjadi kemandekan dalam berpikir, bukanlah singkat. Bisa saja Anda menganggap saya mengada-ada. Tapi, Anda harus cepat sadar. Cara berpikir yang dipakai bangsa ini masih cara lama, masih bergaya bangsa inlander. Padahal, Belanda putih telah pergi. Kebekuan dalam berpikir harus cepat dicairkan. Caranya? Gampang!!! Anda harus loyal kepada pemimpin Anda (baca: atasan Anda) sepanjang perintahnya tidak melanggar hukum Tuhan YME (Tuhan sesuai ajaran agama yang Anda anut). Loyal bukan berarti taat buta. Loyal bukan berarti menelan mentah-mentah setiap perintah. Loyal bukan berarti membebek atau membeo saja …

4. Ternyata, yang diminta si rakus bukan loyalitas, dedikasi, kesetiaan, pengabdian, apalagi prestasi, atau yang sejenis dengan itu. Yang diminta hanya sederhana, UANG! Dalam pandangannya, yang terlihat hanya seberapa besar Anda memberi dan seberapa sering Anda mengirim. Namanya juga si rakus, bertemu kadal diuntal, ketemu kodok diemplok. Ah, ternyata sebegitu nista hidupnya. Padahal, sudah mengenakan baju safari. Mudah-mudahan si rakus “hanya” ada dalam kehidupan saya, tidak sempat menemui Anda. Jika Anda bertemu dengannya, sampaikan salam saya padanya, “INDONESIA itu kaya, uangnya banyak, satu dengan seratus dua puluh delapan nol di belakangnya”.

5. Terlalu sering pelacur dikejar aparat, padahal mereka “hanya” melacurkan dirinya sendiri. Kalaupun itu dosa maka dosanyapun ditanggung sendiri. Kalaupun sakit, sakitnya pun ditanggung sendiri. Tapi, belum pernah ada ceritanya pejabat yang melacurkan jabatannya dikejar aparat. Memang, melacurkan jabatan tidak perlu berdiri berjam-jam di tepi jalan sampai digigit nyamuk, hanya cukup dengan membuat sebuah peraturan. Namun, dampaknya sangat luas, jatuhnya wibawa penyelenggara negara.

Maaf, saya lagi mengigau. Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di kanal dan tag , , . Tandai permalink.