96. PAMONG RAKYAT X

96. Pamong Rakyat X

Yang dimaksud Rakyat X dalam tulisan ini adalah sebagian rakyat Indonesia juga. Saya masukkan dalam kategori X karena (menurut saya) mereka berada di wilayah abu-abu, merah tidak, putih juga bukan. Siapakah mereka? Tebakan Anda benar, mereka adalah para politisi yang kita kenal selama ini.
Politisi adalah sebutan akrab bagi “aktor” politik, ahli siasat, ahli strategi, atau yang semakna dengan itu. Memang, natar milik mereka berada di situ. Artinya, kecenderungan hidup yang mereka jalani berada di area itu. Politisi tulen sangat dibutuhkan. Mereka handal, jeli, kritis, dan konsisten dalam membela kepentingan orang banyak.
Politisi tulen berbeda dengan politisi sayur. Yang belakang ini, tidak handal, tidak jeli, tidak kritis, dan tidak konsisten. Oleh karena itu, politisi sayur tidak memiliki greget. Bisa jadi hal ini disebabkan: Pertama, praktik demokrasi yang mereka lakukan adalah demokrasi model sana, bukan model sini. Padahal, tanpa seperti itu pun, mereka sudah menjadi orang terhormat. Kedua, jumlah mereka yang mutlak menguasai parlemen menjadikan mereka sebagai pemain tunggal –meskipun jempol besar, namun tanpa jari yang lain maka yang didapat hanya besarnya. Jika dugaan saya ini benar, berarti kekuranggrgetaan tersebut menjadi bukan murni salah mereka.
Sebagaimana natar-natar Rakyat Murni yang lain, Rakyat X juga mempunyai pamong sebagai pemimpinnya. Selama ini, tokoh tersebut disebut ketua partai politik. Misalnya, Tuan Z adalah Ketua Partai Onde-Onde, Nyonya Y adalah Ketua Partai Serabi, dan sebagainnya. Pamong Rakyat X menguasai 10 % kursi di parlemen.
Oleh karena itu, saringan bagi para politisi makin ketat. Sebab, jumlah partai politik di INDONESIA yang ada di seberang jalan tidaklah lebih dari 10 buah. Ingat, semua identitas rakyat yang melekat sudah tidak dinafikan lagi. Di samping itu, unsur Pancasila sudah mendapatkan tempat. Unsur agama sudah mendapatkan tempat. Unsur birokrasi pun sudah menemukan tempatnya. Semua unsur rakyat bisa duduk bersama dan setara.
Memang, ini adalah pola emansipatif, bukan pola pragmatis. Dengan pola emansipatif, energi bangsa ini bisa dihemat. Dengan pola emansipatif, dana bangsa ini bisa dihemat. Dengan pola emansipatif, selesailah sudah era devide et impera dengan sempurna … dan itu adalah bagian dari bela negara. Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Lahan Kehidupan dan tag , , . Tandai permalink.