97. KANAL 4

97. Kanal 4

1. Perubahan dimulai dari atas (atasnya lagi, lebih atas lagi, dan yang paling atas). Perubahan yang dimaksud bukanlah person -nya, melainkan cara pandangnya. Selama cara pandang mereka yang berada di atas tetap dan tidak berubah maka jangan pernah bermimpi akan terjadi perubahan, apalagi perubahan yang mendasar. Sedangkan kesejahteraan dimulai dari bawah. Padahal, perubahan = reformasi …

2. ”Pada dekade 2010, terjadi perubahan mendasar di negeri Indonesia. Bangsa Indonesia tidak mau lagi berkepanjangan hidup dalam ketidakpastian hukum, berputar-putar mengelilingi simbul merdeka, dan berhenti dari satu titik krisis ke titik krisis yang lain. Mereka ingin segera mengakhiri semua kebohongan dan kepalsuan. Sebuah gerakan nasional untuk SADAR DIRI pun dimulai …. “ (Dipetik dari: Gila Indonesia, http://www.sangnata.wordpress.com)

3. Meski hanya berbekal bambu runcing, Indonesia mendapatkan kemenangan yang gemilang di garis depan. Itu dulu, dulu sekali yaitu dengan berhasil menghalau bangsa sampah keluar teritorialnya.. Mengapa bisa begitu? Sebab, di garis depan semua turun tangan membantu militer /tentara. Namun, di garis belakang tidak, sekali lagi tidak. Di garis belakang, Indonesia kedodoran. Mengapa bisa begitu? Sebab, semua telah hanyut dalam efforia merdeka … sementara guru berjuang seorang diri di sana untuk menghalau ilmu bangsa sampah dari dalam kelasnya. Alih-alih membantu, justru guru dinistakan dengan dipandang sebagai Agen Perubahan, justru guru dikalungi bunga telasih sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, dan justru dikencingi dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 162/U/2003. Muara dari kedodorannya guru bukan meledak di dalam kelas, namun di Jakarta …

4. Ketika uang diangkat sebagai nomor satu maka rusaklah semua lini kehidupan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh uang harus diselesaikan dengan uang, itu baru bisa dikatakan mendekati adil. Rupiah adalah uang resmi di negara ini. Duka Rupiah tak terperi, sudah dua ”orang” anaknya (baca: ketip dan sen) mati, dicarikan madu, dilacurkan, dan dikurangi kuantitasnya. Ketika anak-anak rupiah mati, ia bagai perempuan tanpa pakaian dalam (maaf). Ketika Rupiah dicarikan madu, rusaklah ”hati” Rupiah. Ketika Rupiah dilacurkan, nistalah Rupiah. Ketika kuantitas Rupiah tidak sebanding dengan kualitasnya, rusaklah perekonomian …

5. Sudah tiba saatnya bagi Bangsa Indonesia untuk belajar taat kepada para pemimpin. Sudah tiba pula saatnya bagi para pemimpin untuk belajar tidak mengkhianati mereka yang dipimpin. Sudah saatnya bagi Bangsa Manusia Indonesia untuk mempelajari Tarian Raja Garuda …
”Tarian Raja Garuda, tarian asli Indonesia
Bergerak bersama, berhenti bersama
Taat pada Yang Esa.
Tarian Raja Garuda, tarian asli Indonesia
Satukan hati, satukan langkah
Menuju Indonesia Raya …..”

Itu kalau mereka mau. Sekali lagi, kalau mereka mau.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di kanal dan tag , , . Tandai permalink.