99. Kanal 5

99. Kanal 5

1. Pemerintah itu cermin bagi rakyat. Ketika perilaku pemerintah baik maka akan baik pula rakyatnya, begitu pula sebaliknya. Pemimpin itu cermin bagi yang dipimpin. Ketika perilaku pemimpin baik maka akan ikut baik pula perilaku yang dipimpin, begitu pula sebaliknya. Atasan itu cermin bagi bawahan. Ketika perilaku para atasan baik, cepat atau lambat perilaku bawahan pun akan ikut baik pula dan begitu pula sebaliknya.

2. Di padang gembalaan Ibu Pertiwi, musim kawin telah datang berulang kali. Namun, salah kawin masih terus terjadi. Seharusnya, sapi berkawin dengan sapi, bukan dengan kelinci. Onta berkawin dengan onta, bukan dengan buaya. Garuda berkawin dengan garuda, bukan dengan naga, dan begitu seterusnya …

3. Menarik pohon bukanlah dari daunnya, sebab jika dari daun maka daun akan sobek, sedangkan si pohon tidak bergeming. Menarik pohon juga bukan dari rantingnya, sebab ranting tidak kuat menarik pohon, ranting akan patah, sedangkan pohon akan dengan cepat menumbuhkan ranting baru. Menarik pohon harus dari batangnya dengan begitu, semua bagian pohon ikut tercabut. Untuk itu, sebelum dicabut, tempat menanam berikutnya jauh-jauh hari sudah harus disiapkan. Untuk itu, sebelum dicabut, pohon harus disiram air agar ketika dicabut tidak ada bagian pohon yang rusak apalagi terputus …

4. Meskipun sudah bolong-bolong dimakan rayap dan menjadi sarang tikus, membakar lumbung tidaklah dibenarkan. Sebab, di samping isi lumbung akan musnah, rayap akan ikut punah, sementara tikus masih bisa lari ke mana-mana. Pindahkan isi lumbung yang masih bisa diselamatkan ke lumbung lain yang ada di seberang jalan, tatalah dengan rapi. InsyaAllah, lumbung di seberang jalan anti rayap dan anti tikus.

5. Demi negara ini, para raja berparlemen harus berpikir ulang dan rakyat –dari segala komponen — pun harus berpikir ulang. Apakah akan diteruskan kisah dari satu krisis ke krisis berikutnya? Apakah akan diteruskan cerita pilu bail out dari satu bank ke bank berikutnya? Apakah akan diteruskan pembasmian orang-orang tak berdosa karena ber -isme lain dari satu generasi ke generasi berikutnya? Masih kurangkah air mata yang tumpah sejak Proklamasi? Masih kurangkah harta rakyat yang dikorbankan? Masih kurangkah nyawa prajurit yang dikorbankan? Ah, seharusnya saya tidak bertanya …
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di kanal dan tag , , . Tandai permalink.