100. BILAL BIN RABAH

100. BILAL BIN RABAH

(Matahari kian meninggi. Panas sang raja siang terasa mulai menyengat. Di langit, tak segumpal awan pun menaungi mayapada. Angin yang biasa berembus lembut pun entah pergi ke mana. Siang itu benar-benar terik …..Bilal dan seorang temannya, yang juga seorang budak akan melepaskan penat setelah bekerja seharian)

Adegan 1

Bilal :Tugas dari tuan Umayyah sudah aku kerjakan. Berarti, aku bisa beristirahat … Oya,
aku mendengar, Muhammad membawa agama yang tidak membedakan antara tuan
dengan sahaya, antara yang kaya dengan yang miskin. Aku ingin mencari tahu …
Budak 1 : Hai, Lal. Apa yang kau ucapkan itu? Kau jangan macam-macam …
Bilal : Ah, tidak. Aku tidak mengucapkan apa-apa …
Budak 1 : Kamu jangan bohong, Lal! Aku mendengarmu …
Bilal : Kamu salah dengar, Kawan. Angin sahara yang kau kira suaraku itu …
Budak 1 : Jangan bohong kau, Lal!
Bilal : Sungguh, aku tidak bohong
Budak 1 : Baik, lihat saja nanti …
Bilal : Maksudmu?
Budak 1 : Kita hanyalah budak, Lal. Sebagai budak, kita harus taat pada majikan …
Bilal : Majikan hanya bisa menguasai ragaku. Namun, jiwaku bebas merdeka.
Budak 1 : Maksudmu?
Bilal : Jika sempat membaca dua kalimat sahadat sebelum mati, aku akan senang …
Budak 1 : Kau jangan nekat, Lal. Kalau ada apa-apa, tanggung sendiri akibatnya …
Bilal : Moga Allah memberiku kesempatan bersahadat di depan beliau …

(Budak 1 kaget, lalu masuk. Bilal pun masuk. Umayyah keluar. Ia berjalan mengitari kebun kurmanya dengan sombong. Budak 2 memayungi Umayah. Budak 3 membawakan cemetinya. Budak 4 membawakan air minumnya. Di sebuah tempat, mereka berhenti)

Adegan 2

Umayyah : Itu ’kan yang bernama Bilal?
Budak 2 : Benar, Tuan. Dia adalah Bilal bin Rabah
Umayyah : Budakku yang membangkang itu?
Budak 4 : Benar, Tuan
Umayyah : Hmm, hanya seorang budak sudah berani bertingkah …
Budak 3 : Budak yang tidak tahu diri …
Budak 4 : Mau minum, Tuan?
Umayyah : Tidak … Aku ingin memberinya pelajaran
Budak 3 : Siap, Tuan … Apa yang harus saya lakukan?
Umayyah : Bawa dia ke hadapanku
Budak 3 : Siap, Tuan
Budak 2 : Seret dia!
Umayyah : Ya, seret dia ke hadapanku!
Budak 4 : Mau minum, Tuan?
Umayyah : Tidak … cepat, seret dia …
Budak 3 : Baik, Tuan

(Budak 3 masuk. Sesaat kemudian, ia keluar menyeret Bilal)

Adegan 3

Budak 3 : Jongkok!
Umayyah : Benarkah kau akan menjadi pengikut Muhammad?
Budak 2 : Dia tidak mau mengaku, Tuan
Budak 3 : Apa yang harus saya lakukan, Tuan?
Umayyah : Hmm, kau tidak mau menjawab? Baik, cambuk dia! … Cambuk sampai mengaku!

(Budak 3 menelentangkan Bilal. Budak 2 datang membantu)

Budak 4 : Mau minum, Tuan?
Umayyah : Tidak! … Oya, ya … aku mau minum sedikit…

(Budak 4 melayani Umayyah minum)

Umayyah : Kau jangan hanya bengong, sana bantu kawanmu!
Budak 4 : Baik, Tuan

(Budak 4 meletakkan minuman, kemudian ia membantu kawan-kawannya)

Umayyah : Pegangi tangannya yang kuat!
Budak 2 : Beres, Tuan
Budak 4 : Jangan khawatir, Tuan …
Umayyah : Ya, ya begitu … Hayo, cepat ayunkan cambukmu!

(Budak 2 dan budak 4 memegangi tangan Bilal. Budak 3 mulai mencambuk. Setiap cambukan mendarat, Bilal menyebut, ”Ahad…”)

Umayyah : Kurang keras!

(Umayyah berkacak pinggang)

Adegan 4

Bilal : Haus … haus … haus … aku minta minum …
Umayyah : Minum? Gampang … Airku banyak … Tapi, kau harus mengingkari Muhammad
Bilal : Tidak …, aku tidak akan mengingkari beliau
Umayyah : Kau tertipu, Lal! Tuhan kita adalah Latta … Tuh, patungnya ada di kabah …
Bilal : Tuhanku adalah Allah
Budak 3 : Tapi, kau haus kan?
Bilal : Ya, haus … sangat haus …
Umayyah : Makanya, jangan ikuti agama Muhammad … Nanti, aku beri ale-ale …
Bilal : Tidak, tidak … agama Muhammad tak dapat diganti dengan ale-ale …
Umayyah : Nanti, kau kuberi roti
Bilal : Tidak, tidak … agama Muhammad tidak dapat diganti dengan roti …
Umayyah : Nanti, kau kuberi uang …
Bilal : Tidak, tidak … Allah itu Maha Kaya … Aku tidak butuh uangmu, Tuan …
Umayyah : Dasar bandel … Ambilkan batu yang besar di sana itu! Tindihkan ke dadanya!
Budak 3 : Siap, Tuan

(Budak 3 segera melaksanakan tugas. Bilal terus menyebut, ”Ahad, Ahad, Ahad”. Utusan Abu Bakar keluar)

Adegan 5

Utusan : Assalamualaikum …
Umayyah : Waalaikumsalam …
Utusan : Hai, Umayyah. Aku diutus oleh Abu Bakar menebus orang ini
Umayyah : Oya? Mana uang tebusannya?
Utusan : Ini … Berapa yang kau minta, Umayyah?
Umayyah : Hmm, … tebuslah dia dengan uang dinar seberat tubuhnya
Utusan : Apa kau bilang? Uang dinar seberat tubuhnya? Yang benar saja …
Umayyah : Hahahahaha … Kau kaget? Hahahaha ….
Utusan : Kau gila, Umayyah?
Umayyah : Aku gila? Hahahahaha … Tinggal Abu Bakar, sanggup atau tidak?
Utusan : Baik … baik, si mata duitan. Ini uang dinar yang kau minta.
Umayyah : Wow, uang dinar … uang dinar … Aku jadi tambah kaya. Aku jadi tambah kaya …
Hahahaha …
Utusan : Dasar tamak
Umayyah : Emang gue pikirin … kacian deh loe …
Utusan : Sekarang lepaskan dia!

(Budak 2 /3 /4 melepaskan Bilal. Umayyah dan budak-budaknya masuk. Utusan menolong Bilal berdiri dan memberinya minum)

Adegan 6

Utusan : Minumlah … minumlah …
Bilal : Terima kasih, Tuan
Utusan : Jangan memanggilku tuan … Kau sudah merdeka, kau bukan budak lagi …
Bilal : Oh … terima kasih … terima kasih
Utusan : Kita ini bersaudara … Jadi harus saling mengasihi dan menyayangi …
Bilal : Ya … ya …
Utusan : Mari, kita temui Abu Bakar yang telah menebusmu
Bilal : Ya … ya …
Utusan : Beliau yang akan mengantarmu menemui Muhammad Rasulullah …

(Utusan memapah Bilal masuk)

(Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti. Kadar keimanan Bilal bin Rabah makin kokoh. Hingga suatu hari, Ali mengatakan bahwa masjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat jemaah masjid terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang. Kemudian, atas masukan dari Abdullah bin Zaid dari kaum Anshar, Rasulullah mengutus Bilal bin Rabah sebagai penyeru. Mereka beranjak keluar masjid. …”Semua pemain keluar”)

Adegan 7

Bilal : Ya Rasul Allah, apa yang harus kuucapkan?
Fulan : Kata Rasul, ”Pujilah Allah, ikrarkan utusan -Nya, serulah manusia untuk shalat”

(Bilal memandang langit … Kemudian, ia mengumandangkan adzan. Usai adzan, semua masuk)
Tamat

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Drama dan tag , . Tandai permalink.