102. “Tidak Ada” Damar Wulan di Indonesia

102. “Tidak Ada” Damar Wulan di Indonesia

Menurut cerita rakyat, Damar Wulan berhasil mengalahkan Minak Jinggo dan membawa kepalanya pulang ke Majapahit sebagai bukti. Namun, di tengah perjalanan, ia dihadang oleh Layang Seta dan Layang Kumitir yang mengaku sebagai utusan Ratu Kencana Wungu, ratu Majapahit. Tanpa rasa curiga, kepala Minak Jinggo pun diserahkan.
Di hadapan ratu, Layang Seta dan Layang Kumitir mengaku telah mampu mengalahkan Minak Jinggo dan menyerahkan kepalanya sebagai bukti. Karena itu, mereka mendapatkan kehormatan. Ke mana kaki melangkah, mereka dielu-elu sebagai pahlawan. Padahal, tak setetes peluh pun andil mereka dalam menaklukkan lawan. Padahal, saat Damar Wulan menyabung nyawa, mereka bersenang-senang /mengumpulkan harta.
Setelah menempuh perjalanan panjang, Damar Wulan dan bala tentaranya memasuki gerbang Majapahit. Mereka datang dengan wajah kuyu karena kelelahan. Mereka datang dengan perut lapar karena kehabisan bekal. Mereka datang dengan lusuh karena tubuh mereka lama tak dibasuh.

Damarwulan menanti


Pertanyaannya, siapa yang menjadi pahlawan yang sebenarnya dan siapa pula yang menjadi pahlawan kesiangan?
Bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia? Jangan-jangan yang sedang berebut dan menikmati kue kemerdekaan adalah gerombolan ”Layang Seta dan Layang Kumitir”. Sedangkan ”Damar Wulan dan” pasukan ”-nya” masih berdiri di pintu gerbang untuk menghadap kepala negara dan tidak jarang malah diusir …
Memang, Damar Wulan dan pasukannya tidak membawa bukti. Mereka hanya membawa bakti puteri boyongan yaitu Waita dan Puyengan. Sebagai kepala negara –seharusnya– Kencana Wungu tahu itu …
Untunglah, kisah Damar Wulan hanya terjadi di Majapahit. Di sini, di Indonesia tidak ada Layang Seta dan Layang Kumitir. Juga, tidak ada Damar Wulan. Jadi jangan khawatir, tidak ada, tidak ada … Kalaupun ada, pertanyaan akan berlanjut. Siapa Layang Seta -nya? Siapa yang pantas menjadi Layang Kumitir? Siapa pula Damar Wulan -nya? Lalu, siapa Kencana Wungu, Waita, dan Puyengan -nya? Mudah-mudahan Anda telah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Negara dan tag , , , , , . Tandai permalink.