107. Damar Wulan

DAMAR WULAN

Damarwulan pulang dengan membawa kemenangan

Damarwulan pulang dengan membawa kemenangan

BABAK 1
Kramagung:
Pagi itu, Istana kepatihan terlihat semarak dan ceria. Pucuk-pucuk dedaunan bergoyang riang ditiup sepoi angina. Bunga-bunga bermekaran di sana-sini, menaburkan aroma wangi ke segala penjuru. Kicau burung terdengar bersahut-sahutan, menambah indahnya pagi yang sudah indah itu. Patih Logender, Layang Seta, Layang Kumitir, Anjasmara, serta dua orang pengawal keluar. Patih duduk di kursinya. Layang Seta, Layang Kumitir, dan Anjasmara duduk di hadapannya. Sedangkan pengawal berdiri di depan pintu.

Adegan 1

Patih Logender : Anak-anakku semua, tidakkah kamu mendengar kabar?
Layang Seta : Kabar?
Layang Kumitir : Kabar apa, Rama?
Patih Logender : Kamu juga tidak tahu, Anjasmara?
Anjasmara : Mana kami tahu, Rama?
Patih Logender : Kalian ini payah semua …
Layang Seta : Maksud Rama?
Patih Logender : Ya, siang malam televisi mengabarkan pengangkatan ayahanda
sebagai patih baru … E, anak sendiri tidak tahu …keterlaluan …
Layang Seta : Maafkan kami
Anjasmara : Sorry, Dad … sorry, piis

Anjasmara

Anjasmara


Layang Kumitir : Kamu nakal, Anjasmara … itu tidak sopan …
Anjasmara : Cie … sok sopan … kakang sendiri?
Layang Kumitir : Aku? Aku kan laki-laki … lain …
Layang Seta : Laki-laki itu beda dengan perempuan …
Anjasmara : Meskipun laki-laki juga harus sopan … Ya kan, Rama?
Patih Logender : Ya, ya, anak laki-laki juga harus sopan

(Patih Udara, Damar Wulan, dan Genggong)

Adegan 2
Patih Logender : Selamat datang, duduklah yang enak, Kakang Udara
Patih Udara : Terima kasih, Adikku …
Patih Logender : Sepertinya, Kakang Udara ada perlu ….
Patih Udara : Benar
Patih Logender : Apa itu, Kakang Udara?
Patih Udara : Mmm, begini … Aku akan menitipkan anakku kepadamu …
Patih Logender : Kakang akan ke mana?
Patih Udara : Aku sudah tua … Aku akan mengasingkan diri …
Patih Logender : O, begitu … Baik, aku terima
Patih Udara : Tolong, didiklah dia dengan baik
Patih Logender : Jangan khawatir, Kakang…. Aku akan mendidiknya dengan baik
Patih Udara : Terima kasih, Adikku …
Patih Logender : Maaf, Kakang… Hari ini ada undangan rapat… Kakang aku tinggal…
Patih Udara : O, ya,ya … Aku juga akan segera mohon diri

(Patih Logender dan anak-anaknya masuk)

Adegan 3
Patih Udara : Anakku, Damar Wulan
Damar Wulan : Ya, Rama
Patih Udara : Baik-baiklah membawakan diri …
Damar Wulan : Ya, Rama
Patih Udara : Jangan adigang, adigung, adiguna Tahu kan maksudnya?
Damar Wulan : Jangan menyombongkan kekayaan, jangan menyombongkan
ketinggian derajat keluarga, dan jangan menyombongkan kepandaian
Patih Udara : Kamu harus sopan dan rendah hati …
Damar Wulan : Ya, Rama
Patih Udara : Hormatilah yang tua dan sayangilah yang muda
Damar Wulan : Ya, Rama
Patih Udara : Bersabarlah dalam menghadapi segala cobaan …
Damar Wulan : Ya, Rama
Patih Udara : Siapa yang sabar akan memetik keluhuran di kemudian hari …
Patih Udara : Ingatlah selalu pada Yang Maha Kuasa, Damar Wulan …
Damar Wulan : Ya, Rama
Patih Udara : … dan, kamu, Genggong …
Genggong : Ya, Den
Patih Udara : Asuhlah dia dan didiklah dia dengan baik
Genggong : Ya, Den
Patih Udara : Waktuku untuk pergi telah tiba… Pada suatu saat, di suatu tempat,
Rama akan menemuimu … Selamat Tinggal, Anakku …

(Patih Udara memeluk Damar Wulan dengan erat, kemudian masuk)

Adegan 4
Damar Wulan : Rama … Rama …
Genggong : Sudah, Den … sudah … Jangan jatuhkan air matamu …
Damar Wulan : Rama …
Genggong : Air mata yang jatuh akan membuat tipis kulitmu
Damar Wulan : Ya, Paman
Genggong : Den Damar harus kuat … Begitulah hidup, ada pertemuan, ada
perpisahan …
Damar Wulan : Mmm, berat, Paman… Senang saat bertemu, susah saat berpisah
Genggong : Tapi, harus dijalani … Makanya, Den Damar harus kuat lahir batin
Damar Wulan : Aku harus belajar kuat?
Genggong : Harus … Dalam hidup, suka duka datang silih berganti …
Damar Wulan : Tapi, mengapa rama harus pergi?
Genggong : Kepergian ramamu untuk kebaikanmu juga
Damar Wulan : Maksudnya?
Genggong : Agar kelak, Den Damar menjadi satria utama … tidak cengeng
Damar Wulan : Satria utama itu yang bagaimana, Paman?
Genggong : Mereka adalah pembela kebenaran dan keadilan
Damar Wulan : Paman Genggong jadi seperti Pak Guru
Genggong : Hmm, satria utama itu tidak cengeng

(Layang Seta dan Layang Kumitir keluar)

Adegan 5

Layang Seta : He, kamu … kacung, sini!
Damar Wulan : Kau memanggilku?
Layang Kumitir : Ya kamu to cung, kacung
Damar Wulan : Namaku Damar Wulan, bukan Kacung
Layang Seta : Siapa tanya namamu, anak gunung?
Layang Kumitir : Kami adalah anak-anak majikanmu
Layang Seta : Sebagai pelayan, kamu harus taat pada perintah kami
Genggong : Bukankah kalian masih bersaudara?
Layang Seta : Diam kau pak tua … Aku tidak minta nasihatmu
Layang Kumitir : Jadi orang tua itu harus banyak diam, jangan cerewet
Damar Wulan : Kalian tidak sopan
Layang Seta : Apa? Kami tidak sopan? Hahahahaha ….
Layang Kumitir : Ini rumah kami, cung … terserah kami mau apa …
Genggong : Sabar, Den … Kita hanya menumpang hidup …
Damar Wulan : Tapi, mereka telah kurang ajar
Genggong : Sudah biarkan saja … Paman tidak apa-apa …
Layang Seta : Tiap pagi, kamu harus cari rumput untuk kuda-kuda kami
Layang Kumitir : Setelah itu, kamu harus memandikan mereka
Layang Seta : Pak tua, tugasmu membersihkan rumah
Genggong : Tapi, Den Damar tidak pernah menyabit rumput
Layang Kumitir : Apa peduliku?
Layang Seta : Sudah sana, pergi …pergi! … pergi!!

(Damar Wulan dan Genggong masuk. Anjasmara keluar)

Adegan 6

Anjasmara : Kang Damar! … Kang Damar! … Kalian tahu Kakang Damar Wulan?
Di mana dia?
Layang Seta : Ooo, ini … datang-datang cari Damar Wulan …
Layang Kumitir : Sana, pergi …
Anjasmara : Iya, iya … Tapi, jangan membentak-bentak … Aku kan cewek …
Layang Seta : Lihat tuh, Kumitir … Adikmu mengaku cewek …
Layang Kumitir : Cewek kok main mobil-mobilan … Hahahaha …
Layang Seta : Kemarin, malah manjat pohon jambu
Anjasmara : Wle …
Layang Seta : Anak aneh, perempuan itu ya … main boneka
Layang Kumitir : Atau main masak-masakan … gitu
Anjasmara : Wle … Ditanya tidak menjawab malah … apok-pak …
Layang Seta : Sana-sana …, cari sendiri …
Layang Kumitir : Kamu tidak dengar, Anjas? Pergi sana, cari sendiri …
Anjasmara : Nasib-nasib, punya kakak tak perhatian
Layang Seta /Layang Kumitir : Apa?!

(Anjasmara lari masuk, Layang Seta dan Layang Kumitir menyusul masuk. Damar Wulan keluar dengan membawa sabit dan keranjang)

Adegan 7

Damar Wulan : Hmm, di sini saja cari rumputnya …

(Damar Wulan menyabit rumput, geraknya lambat. Anjasmara keluar)

Anjasmara : Heey …, ketemu …
Damar Wulan : Ketemu apa , Diajeng?
Anjasmara : Ya, ketemu kakang … masak ketemu grandong …
Damar Wulan : Kamu ini ada-ada saja
Anjasmara : Kakang, ini aku bawakan makanan
Damar Wulan : Kamu jadi repot, Diajeng
Anjasmara : Tidak, Kakang… Aku tidak repot, aku malah senang
Damar Wulan : Maksudmu?
Anjasmara : Ya … senang … bisa membawakanan makanmu … Eh, mana
rumputnya? Keranjangnya kok masih kosong …
Damar Wulan : Mmm, mmm, … masih dapat sedikit…. Aku belum cekatan
Anjasmara : Mana sabitnya, aku ajari …
Damar Wulan : Maksudmu?
Anjasmara : Kalau aku, cari rumput sudah biasa
Damar Wulan : Lho, masak … Kamu … kamu … kamu kan perempuan
Anjasmara : E … e … e … Laki-laki atau perempuan sama saja
Damar Wulan : Ya ndak gitu … Biar kakang yang merumput, kamu duduk saja …
Anjasmara : Eit, dilarang protes … Sudah sana, kakang duduk saja …

(Anjasmara menggantikan Damar Wulan merumput. Mereka tidak menyadari akan kehadiran Layang Seta dan Layang Kumitir keluar)

Adegan 8

Layang Seta : Mmm, ternyata adik kita ada di sini …
Layang Kumitir : Pantas saja di rumah tidak ada
Layang Seta : Bisa gagal rencana kita
Layang Kumitir : Lalu, bagaimana?
Layang Seta : Hmm, bagaimana, ya …
Layang Kumitir : Lihat, Kak. Adik kita yang merumput, sementara dia enak-enakan …
Layang Seta : Iya, aku juga melihatnya
Layang Kumitir : Anak gunung itu benar-benar kurang ajar
Layang Seta : Makanya, harus diberi pelajaran
Layang Kumitir : Tapi, kalau ada Anjasmara … kan tidak mungkin …

(Layang Kumitir berpikir keras. Layang Kumitir berbisik kepada Layang Seta)

Layang Seta : Adikku yang cantik, kau dipanggil rama
Anjasmara : Oh, kakang … hehehe … Ada apa?
Layang Seta : Rama memanggilmu

(Anjasmara masuk)

Adegan 9

Layang Seta : Cung, Kacung … sini …
Layang Kumitir : Cepat ….
Layang Seta : Mamangnya, kamu ini siapa? Enak-enakan duduk …
Layang Kumitir : Sementara, adikku yang bekerja?
Damar Wulan : Dia sendiri yang minta
Layang Seta : Ala … banyak alasan

(Layang Seta menampar Damar Wulan)

Damar Wulan : Sungguh, dia yang memaksaku …
Layang Kumitir : Kau pikir, aku percaya padamu?

(Layang Kumitir menyeret dan kemudian menendang Damar Wulan tiga kali. Damar Wulan terjatuh, ia memegangi perutnya. Layang Seta dan Layang Kumitir tertawa terbahak-bahak sambil berkacak pinggang)

Damar Wulan : Mengapa kalian memukuliku?
Layang Seta : Memangnya kenapa, sakit?
Layang Kumitir : Ayo, bangun!!
Damar Wulan : Apa salahku?

(Layang Kumitir memaksa Damar Wulan berdiri. Damar Wulan berdiri sempoyongan)

Layang Seta : Salahmu? Hahahaha … Ini salahmu …

(Layang Seta memukul Damar Wulan. Damar Wulan sempoyongan)

Damar Wulan : Kalian jahat …
Layang Kumitir : Jahat? Hahahahaha … Ini hadiah untuk mulutmu yang lancang …

(Layang Kumitir menampar Damar Wulan)

Damar Wulan : Kalian …
Layang Seta : Apa … apa … kamu hanya numpang makan di rumahku
Layang Kumitir : Kamu hanya menumpang kemulyaan
Damar Wulan : Bukankah ramaku juga patih Majapahit
Layang Seta : Patih Majapahit?
Layang Kumitir : Itu … dulu … sekarang yang jadi patih adalah ramaku …
Damar Wulan : Bukankah rama kita bersaudara?
Layang Seta : Itu dulu … Sekarang, tidak … Ramaku orang besar, pejabat penting
Layang Kumitir : Ramamu … jadi apa? Ramamu malah lari dari tanggung jawab
Layang Seta : Anak dititip-titipkan … enak sendiri …
Layang Kumitir : Sudah ngomongnya? Kalau sudah … ini hadiahnya
Layang Seta : Sudah cukup, nanti dia mati … Mari, kita seret dia ke penjara …

(Damar Wulan diseret masuk)

BABAK 2

Kramagung

Hari pun berganti, bulan-bulan pun berlalu, dan tahun demi tahun pun melaju, tanpa pernah berhenti, tanpa mengenal kata kompromi.
Syahdan, usai menaklukkan pemberontakan Minak Koncar, Minak Jinggo mengirimkan utusannya menemui ratu Kencono Wungu, ratu Majapahit, guna menagih janji.

(Dua orang pengawal berdiri di depan pintu masuk. Patih Logender, Menteri Keadilan, Menteri Kemakmuran, dan Menteri Kesejahteraan keluar. Semua duduk di tempat masing-masing)

Adegan 1

Pengawal 1 : Sri Ratu Kencana Wungu tiba …
Pengawal 2 : Hadirin dimohon berdiri

(Patih Logender, Layang Seta, dan yang lain-lain berdiri memberi hormat. Kencana Wungu keluar dengan diiringi oleh dua orang emban. Kencana Wungu duduk di singgasananya, emban duduk di sampingnnya)

Pengawal 2 : Hadirin dipersilakan duduk kembali …

Kencana Wungu

Kencana Wungu

Kencana Wungu : Ada berita penting apa, Paman Patih?
Patih Logender : Pemberontakan Minak Koncar telah dipadamkan oleh Minak Jinggo
Kenconno Wungu : Hmm, syukurlah … berarti, negeri kembali aman
Patih Logender : Tapi …
Kencono Wungu : Apa itu?
Patih Logender : Bagaimana dengan janji Sri Ratu kepada Minak Jinggo?
Kencana Wungu : O, itu … Kita lihat saja nanti …

(Layang Seta dan Layang Kumitir keluar)

Adegan 2

Kencana Wungu : Mengapa kalian menghadap tanpa aku panggil?
Layang Seta : Ampun, Sri Ratu … Kami sangat terpaksa …
Layang Kumitir : Benar, Sri Ratu … Kabar yang benar-benar penting
Patih Logender : Kabar apa? Cepat haturkan pada Sri Ratu …
Layang Seta : Mmm, … anu … anu …
Layang Kumitir : Ayo, Kak … Bicaralah yang jelas …
Patih Logender : Katakan, Seta … Tidak perlu tergesa-gesa …
Kencana Wungu : Aturlah nafasmu, … Ya, begitu … dan bicaralah dengan jelas …
Layang Seta : Pasukan Minak Jinggo telah datang dengan membawa kemenangan
Kencana Wungu : Mereka telah sampai di gerbang timur …
Layang Kumitir : Tapi …
Semua : Tapi apa?
Layang Seta : Minak Jinggo tidak lagi tampan seperti dulu … Ia cacat … wajahnya
menjadi buruk … jalanpun terseok-seok …
(Semua terperangah. Keadaan menjadi gaduh)

Adegan 3

Emban 1 : Ya, tidak apa-apa … Yang penting bukan wajahnya, tapi hatinya …
Emban 2 : Kalau aku, yang penting wajahnya … Kalau punya suami cakep,
bisa diajak ke mana -mana, dan perut ini rasanya kenyang terus …
Emban 1 : Kamu ini ada-ada saja …
Ke pulau Bintan naiklah sampan
Berbekal lontong berlauk ikan
Buat apa bersuami tampan
Jika kerjanya menyakitkan
Emban 2 : Weleh-weleh, Yu Jainem … pagi-pagi sudah main pantun …
Menkes : Ini masalah kepatutan … ratu kita ini anggun, cantik, dan ayu …
masak akan menikah dengan Minak Jinggo. Yang benar saja …
Menkem : Mending, menikah denganku … Aku kan masih jomblo …
Patih Logender : Jangan asal bunyi, kau … Daripada denganmu, mending denganku …
Layang Seta : Ehm, ehm …
Layang Kumitir : Jadi orangtua, harus tahu diri …
Layang Seta : Orangtua kok bersaing dengan anak muda … apa kata dunia …
Patih Logender : Iya, iya … ramamu akan mengalah … hehehehe …
Menkes : Itu lebih baih, Paman Patih … Berilah kesempatan kepada yang muda
Pengawal 1 : Utusan raja Minak Jinggo dari Blambangan tiba

(Utusan Minak Jinggo keluar. Ia menyembah, lalu duduk)

Adegan 4

Kencana Wungu : Kau diutus oleh rajamu?
Utusan : Benar, Sri Ratu … Hamba ditugasi mengantar nawala
Kencana Wungu : Nawala aku terima … Kau tunggu balasanku di luar

(Nawala diserahkan kepada Patih Logender, ia lalu keluar. Patih Logender mambaca nawala)

Kencana Wungu : Aku tidak mau menikah dengan Minak Jinggo
Patih Logender : Siiip … cocok dengan hatiku …
Emban 1 : Lho, Sri Ratu kok ingkar pada janjinya sendiri …
Emban 2 : Sudah diam, Yu … Kita hanyalah emban … jangan ikut campur …
Emban 1 : Iya, kita cuman emban … Tapi, emban yang menjunjung kesetiaan …
Patih Logender : Keputusan Sri Ratu sangat tepat …
Layang Seta : Ya, sebuah keputusan yang brilian …
Menkes : Terus, ratu kita akan menikah dengan siapa?
Patih Logender : Dengan salah satu dari kalian …
Layang Seta : Akulah yang paling pantas
Layang Kumitir : Hahahaha … Aku kan adikmu, Kakang … Kakang harus mengalah …
Layang Seta : Enak saja …

(Menteri Keadilan berdiri)

Adegan 5

Meneteri Keadilan : Ratu, izinkan saya berbicara…
Kencana Wungu : Aku izinkan, bicaralah …
Menteri Keadilan : Kata-kata raja adalah sabda pandita ratu
Kencana Wungu : Ya, benar … Raja tidak akan menarik ucapannya sendiri
Menteri Keadailan : Sri Ratu sudah berjanji akan menikahi Minak Jinggo jika ia berhasil
menaklukan pemberontakan Minak Koncar
Kencana Wungu : Iya, lalu?
Menteri Keadilan : Minak Jinggo sudah menang, seharusnya, ratu menepati janji …
Kecana Wungu : Kalau aku tidak mau …
Menteri Keadilan : Berarti, Sri Ratu mengingkari janji sendiri
Kencana Wungu : Kalau ya, kau mau apa?
Menteri Keadilan : Saya hanya mengingatkan
Kencana Wungu : Aku ini ratu … Semua terserah padaku … Yang lain harus patuh, titik
Menteri Keadilan : Jika tidak mau saya ingatkan, ya, sudah …
Kencana Wungu : Siapkan surat balasan dan panggil utusan dari Blambangan …

(Menteri Keadilan duduk. Patih Logender menuliskan surat balasan. Surat diserahkan kepada Kencana Wungu. Utusan Minak Jinggo keluar. Ia menyembah, lalu duduk)

Kencana Wungu : Surat rajamu sudah aku terima, dan ini balasannya …

(Utusan maju, menerima surat, menyembah, lau masuk)

Kencana Wungu : Lega rasanya, akhirnya, urusanku dengan Minak Jinggo selesai.
Paman Patih, bubarkan pertemuan ini
Patih Logender : Siap Sri Ratu …

(Kencana Wungu diiringi emban masuk. Patih Logender dan yang lain-lain masuk. Minak Jinggo, Dayun, dan tiga orang hulubalangnya keluar sambil menari. Usai menari, semua duduk kecuali Minak Jinggo)

Adegan 6

Minak Jinggo : Dayun … Apakah bajuku sudah rapi, Dayun …
Dayun : Hehehehe … Sudah-sudah, Tuanku … Tuangku sudah rapi sekali
Minak Jinggo : Dayun … Apakah celanaku tidak kedodoran, Dayun …
Dayun : Hehehehe …Tidak-tidak, Tuanku … Celananya masih pas, Tuanku …
Minak Jinggo : Dayun … Apakah kumisku masih ada, Dayun …
Dayun : Hehehe … Masih-masih, Tuanku … Kumisnya masih nempel, Tuanku
Minak Jinggo : Dayun … Lama benar utusanku tidak datang-datang, Dayun
Dayun : Sabar, Tuanku … Paling-paling sebentar lagi
Minak Jinggo : Aku sudah tidak sabar, Dayun
Dayun : Hehehehe … Maklum, Tuanku …
Minak Jinggo : Aku ingin segera bertemu dengan Kencana Wungu, Dayun …
Dayun : Harus sabar, namanya … juga akan bertemu calon isteri
(Hulubalang 1 batuk-batuk)
Adegan 7

Minak Jinggo : Dayun, siapa yang batuk-batuk itu … Dayun …
Dayun : Hehehehe … Cuma hulubalang, Tuangku …
Minak Jinggo : Apakah dia sakit, Dayun?
Dayun : Ah, tidak … tidak, Tuanku …
Minak Jinggo : Apakah gizi mereka sudah cukup, Dayun?
Dayun : Tuanku tidak perlu khawatir …
Minak Jinggo : O, ya sudah … Ada yang ingin dilaporkan?
Hulubalang 1 : Benar, Tuanku …
Minak Jinggo : Apa itu, Dayun?
Dayun : Ayo, katakan dengan jelas
Hulubalang 1 : Tuanku akan semakin terkenal setelah menikahi Ratu Majapahit
Minak Jinggo : Hahahahaha … Dayun …
Dayun : Ya, Tuanku …
Minak Jinggo : Beri dia hadiah, Dayun … Dia sudah menjilatku, Dayun …

(Dayun memberikan hadiah)

Hulubalang 2 : Tuanku memang raja perkasa, jadi sudah pantas mendapatkan Ratu
Majapahit yang cantik jelita … Betul tidak, kawan-kawan?
Hulubalang 1 /3 : Betul-betul …sangat pantas …
Minak Jinggo : Dia juga sudah menjilatku, Dayun … Berilah hadiah …

(Dayun memberikan hadiah)

Hulubalang 3 : Tuanku …
Minak Jinggo : Kau juga mau menjilatku? Hahahaha … Pantatku sudah basah semua
… Beri dia hadiah, Dayun … hahahaha …
Dayun : Payah … semua hulubalang pada jadi penjilat … rusak-rusak …
Minak Jinggo : Begitulah mereka, Dayun …

(Dayun menyerahkan hadiah. Utusan keluar)

Adegan 8

Minak Jinggo : Siapa yang datang itu, Dayun?
Dayun : Hehehehe … dia … utusan, Tuanku
Minak Jinggo : Yang aku suruh menghadap Ratu Majapahit?
Dayun : Benar, Tuanku
Utusan : Benar, Tuanku … Hamba telah membawa nawala balasan …

(Utusan menyerahkan surat balasan kepada Minak Jinggo)

Minak Jinggo : Tolong … kamu baca, Dayun …
Dayun : Baik, Tuanku …

(Dayun menerima surat balasan dari Minak Jinggo, kemudian membacanya)
Adegan 9

Dayun :

Kepada
Yth. Raja Minak Jinggo
Di Blambangan

Nawala dari Tuanku sudah aku terima. Isinya juga sudah aku pahami. Tapi sayang, aku tidak dapat memenuhi janji untuk menikah denganmu, Tuanku. Aku mempunyai pilihan lain. Untuk itu, aku minta maaf …
Siang malam aku berdoa, mudah-mudahan Tuanku Raja Minak Jinggo segera mendapatkan puteri lain yang jauh lebih cantik dari aku.
Harap maklum dan terimakasih

Majapait, tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian
Tertanda,

Ratu Kencana Wungu
Ratu Majapahit

Minak Jinggo : Apa?!!! Dia mengingkari janjinya? Enak saja ….
Dayun : Sabar, Tuanku … sabar …
Minak Jinggo : Kencana Wungu, Kencana Wungu … Jatuh bangun akau pertaruhkan
nyawa untuk menaklukkan Minak Koncar … Ternyata, hanya
pengingkaran balasanmu …
Dayun : Sabar … sabar … sabar, Tuanku
Minak Jinggo : Kakiku sampai pincang, mataku sampai juling, hidungku dilas kiri
kanan … Ini semua adalah akibat karena aku membelamu …
Hulubalang 1 : Wah, raja kita telah dikhianati
Hulubalang 2 : Kurang ajar … dia belum tahu pedasnya cabai Blambangan
Hulubalang 3 : Tuanku … Apa yang harus kami lakukan?
Dayun : Kalian … diamlah … Tuanku lagi sedih, kecewa, dan murka …
Hulubalang 1 : Benar … Padahal, Tuanku telah mengorbankan segalanya
Hulubalang 2 : Padahal dulu, sewaktu berangkat, beliau sangat gagah dan tampan …
Hulubalang 3 : Padahal, tidak gampang untuk menaklukkan Minak Koncar …
Dayun : Tuanku harus menerima kenyataan ini … Pahit, memang …
Minak Jinggo : Tidak … Kencana Wungu telah melanggar batas
Dayun : Lalu, bagaimana?
Minak Jinggo : Serang Majapahit! Bakar Majapahit, sarang pengkhianat!
Dayun : Setelah itu?
Minak Jinggo : Kita pulang ke Blambangan … Hai, para prajuritku … Hancurkan
Majapahit! Hancurkan Majapahit! Hancurkan Majapahit !

(Semua menyatakan kesediaannya. Minak Jingggo, Dayun, dan para hulubalang masuk)

BABAK 3

Kramagung
Sembari pulang ke Blambangan, Minak Jinggo dan bala tentaranya merusak kadipaten, kademangan, dan desa-desa yang dilalui. Mereka melampiaskan kemarahannya pada rakyat Majapahit yang tidak tahu apa-apa. Teror terjadi di mana-mana. Penduduk pun berhamburan ke ibu kota untuk menyelamatkan diri. Gelombang pengungsi pun berdatangan.
Ratu Kencana Wungu sangat sedih, ia pun sangat menyesal. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Para bangsawan tidak ada yang berani mengambil resiko untuk menghadapi amukan Minak Jinggo. Mereka malah sibuk menyelamatkan harta bendanya.

(Dua orang pengawal berdiri di depan pintu masuk. Patih Logender, layang Seta, Layang Kumitir, Patih Logender, Menteri Keadilan, Menteri Kemakmuran, dan Menteri Kesejahteraan keluar. Semua duduk)

Adegan 1

Pengawal 1 : Sri Ratu Kencana Wungu tiba
Pengawal 2 : Hadirin dimohon berdiri

(Patih Logender, Layang Seta, dan yang lain-lain berdiri memberi hormat. Kencana Wungu keluar dengan diiringi oleh dua orang emban. Kencana Wungu duduk di singgasananya, emban duduk di sampingnnya)

Pengawal 2 : Hadirin dipersilakan duduk kembali …
Patih Logender : Bagaimana, Ratu? Apakah sudah ada petunjuk?
Patih Keadilan : Benar, Ratu …
Kencana Wungu : Kalian tenang semua. Aku sudah mendapatkan petunjuk.
Patih Logender : Maksud Ratu?
Kencana Wungu : Keluarkan tahanan dari blok 1, ruang 1, kamar 1, sel nomor 1
Patih Logender : Maksud Ratu? Itu kan tempat tahanan khusus … tahanan berbahaya …
Kencana Wungu : Dia yang bisa menyelesaikan masalahku, masalah Majapahit
Patih Logender : Ooo … Layang Seta dan Layang Kumitir, keluarkan tahanan dari blok
1, ruang 1, kamar 1, sel nomor 1 …
Layang Seta /Layang Kumitir : Siap, Rama …

(Layang Seta dan Layang Kumitir masuk. Sesaat kemudian, mereka keluar dengan membawa Damar Wulan dengan tangan dan kaki terikat)

Adegan 2

Layang Seta : Duduk!
Kencana Wungu : Lepaskan ikatannya!

(Layang Kumitir melepaskan ikatan tangan Damar Wulan)

Kencana Wungu : Siapa namamu?
Damar Wulan : Hamba, … Damar Wulan
Kencana Wungu : Damar Wulan, hari ini aku membebaskanmu …
Damar Wulan : Terima kasih Sri Ratu, Terima kasih
Kencana Wungu : Tapi dengan syarat …
Damar Wulan : Apa itu?
Kencana Wungu : Kau harus bisa menumpas Minak Jinggo dari Blambangan …
Kau sanggup, Damar Wulan?
Damar Wulan : Hamba sanggup …
Kencana Wungu : Jika berhasil, kau akan kujadikan belahan jiwaku
Damar Wulan : Maksud Sri Ratu?
Kencana Wungu : Tak ada tanya, kau sudah harus mengerti akan arti perkataanku …
Damar Wulan : Siap Sri Ratu …
Kencana Wungu : Paman Patih, ambilkan selempang Panglima Perang!

(Patih Logender berdiri dan mengambil selempang Panglima Perang, kemudian menyerahkan kepada Kencana Wungu)

Adegan 3

Kencana Wungu : Damar Wulan, majulah!

(Damar Wulan menyembah, lalu maju)

Kencana Wungu : Hari ini, Damar Wulan aku kukuhkan sebagai Panglima Tertinggi
kerajaan Majapahit. Kalian harus tunduk padanya
Semua : Siap, Sri Ratu

(Kencana Wungu mengalungkan selempang Panglima Tertinggi kepada Damar Wulan)

Patih Logender : Hidup Majapahit!
Semua : Hiduup!!!
Patih Logender : Hidup Sri Ratu!
Semua : Hiduup!!!
Patih Logender : Hidup Panglima!
Semua : Hiduuup!!!
Kencana Wungu : Paman Patih, ambilkan umbul-umbul Merah Putih

(Patih Logender berdiri dan mengambil umbul-umbul Merah Putih, kemudian menyerahkan kepada Kencana Wungu)

Adegan 4

Kencana Wungu : Merah Putih adalah simbul kebesaran Majapahit
Damar Wulan : Ya, Sri Ratu
Kencana Wungu : Merah Putih melambangkan sikap berani dari rakyat Majapahit yang
berdasarkan kesucian hati
Damar Wulan : Ya, Sri Ratu
Kencana Wungu : Merah jangan sampai luntur agar Putih tidak pudar
Damar Wulan : Ya, Sri Ratu
Kencana Wungu : Jaga baik-baik, jangan sampai jatuh ke tangan lawan
Damar Wulan : Siap, Sri Ratu
Kencana Wungu : Kini, aku serahkan Merah Putih padamu
Damar Wulan : Hamba terima, Sri Ratu

(Kencana Wungu menyerahkan umbul-umbul Merah Putih kepada Damar Wulan)

Kencana Wungu : Ingat, Damar Wulan… Jangan pernah kembali ke Majapahit tanpa
membawa kemenangan … Bawa kepala Minak Jinggo ke hadapanku..
Damar Wulan : Siap, Sri Ratu
Kencana Wungu : Bawalah pasukan secukupnya dan berangkatlah …
Damar Wulan : Mohon doa restu, Sri Ratu
Kencana Wungu : Doaku mengiringi kepergiannu. Berangkatlah, Panglima …

(Setelah menyembah, Damar Wulan masuk)

Adegan 5

Kencana Wungu : Paman Patih, bubarkan pertemuan ini …
Patih Logender : Siap, Sri Ratu …

(Kencana Wungu masuk. Semua berdiri dan memberi hormat)

Patih Logender : Pertemuan usai. Kalian boleh pergi.
Menteri Keadilan : Kita harus segera mempersiapkan diri. Saya mohon diri …
Menteri Keadilan : Benar, Kakang … Panglima Tertinggi sudah dipilih, saya juga mohon
diri …

(Menteri Kesejahteraan dan Menteri Keadilan masuk)

Layang Seta : Orang-orang bodoh … hahahaha …
Layang Kumitir : Bodoh? Maksudmu?
Patih Logender : Hahahaha …. Adikmu ini tidak pintar-pintar, Seta
Layang Kumitir : Maksud Rama?
Patih Logender : Hahahahaha …. Anak bodoh
Layang Seta : Kamu tidak mengerti juga, Kumitir?

(Layang Kumitir menggeleng)

Patih Logender : Kemarilah, akan Rama beritahu strategi kita …

(Layang Seta dan Layang Kumitir mendekat. Patih Logender berbisik-bisik. Keduanya mengangguk-angguk, tertawa-tawa. Beberapa saat kemudian, Patih Logender, Layang Seta, dan Layang Kumitirl masuk. Genggong keluar dengan membawa sapu)

Adegan 6

Genggong : Halaman sudah bersih, kuda-kuda sudah dimandikan, rumput juga
sudah ada … Tiba-tiba aku ingat Den Damar Wulan … Ke mana
perginya, sudah bertahun-tahun aku menantinya …

(Layang Seta dan Layang Kumitir keluar)

Layang Seta : Jangan gegabah, biarkan saja orang-orang bodoh pergi berperang
Layang Kumitir : Biarpun mereka yang menang, tetap saja kita yang berkuasa
Layang Seta : Itu adalah cara cantik menyisihkan lawan
Layang Kumitir : Minak Jinggo dilawan … Ya, paling-paling setengah jurus
Layang Seta : Sudah klepek-klepek … Hahahaha …
Layang Kumitir : Apalagi, hanya menghadapi si Damar Wulan …
Layang Seta : Paling dengan sekali gebrakan sudah terkapar
Layang Kumitir : Bagaimana dengan Sri Ratu?
Layang Seta : Dia? … Ah, mana sempat mikir perang … Ratu kita kan permpuan …
Layang Kumitir : Oya, … perempuan …
Layang Seta : Paling-paling, dia sudah lupa dengan wajah Damar Wulan
Layang Kumitir : Apalagi, kemarin mendapat kiriman kain sutra dari rama
Layang Seta : Paling-paling, sekarang sedang sibuk mempercantik diri …
Layang Kumitir : Hahahaha … Untuk TP-TP … Hahahaha …
Layang Seta : Hei, Pak Tua!!! Sejak kapan kau ada di situ?
Genggong : Hamba sedang bersih-bersih, Tuan
Layang Kumitir : Kau mencuri dengar, ya? Sana pergi!
Genggong : Baik, Tuan …

(Genggong masuk. Layang Seta dan Layang Kumitir pun masuk. Damar Wulan dan tiga orang prajurit keluar sambil menari. Usai menari, para prajurit duduk. Genggong keluar)

Adegan 7

Genggong : Den Damar!!!
Damar Wulan : Oh, … Paman Genggong!!!
Genggong : Aden ke mana saja … Bertahun-tahun saya mencari
Damar Wulan : Aku di dalam tahanan, Paman … Aku dibebaskan karena diberi tugas
Genggong : Oh …
Damar Wulan : Paman harus membantuku dalam menumpas Minak Jinggo
Genggong : Minak Jinggo … Raja Blambangan?
Damar Wulan : Iya, Paman
Genggong : Aduh, Jagat …
Damar Wulan : Mengapa, Paman? Paman takut?
Genggong : Tidak, … Paman tidak takut … Paman rela mati demi Den Damar
Wulan
Damar Wulan : Aku diangkat menjadi Panglima Tertinggi Majapahit, Paman
Genggong : Paman ikut senang
Damar Wulan : Andaikan rama masih ada …
Genggong : Beliau pun pasti bangga
Damar Wulan : Aku ingin mendapatkan restunya, Paman

(Anjasmara keluar. Ia membawa sepasang merpati)

Adegan 8

Damar Wulan : Diajeng, kakang akan pergi berperang
Anjasmara : Aku ikut, Kakang
Damar Wulan : Kau ini ada-ada saja, Diajeng … Orang mau perang kok ikut …
Anjasmara : Lalu, aku dengan siapa? Baru saja, Kakang keluar dari penjara,
sekarang pergi lagi. Memangnya, apa yang Kakang cari dalam
peperangan? Ketenaran? Kehormatan? Atau apa, Kakang? Jangan
pergi Kakang, kau hanya dikorbankan … Kau harus tahu itu
Damar Wulan : Stt, tidak boleh bicara sembarangan… Kakang harus bela negara …
Anjasmara : Mengapa tidak Sri Ratu sendiri yang menyelesaikan masalahnya?
Damar Wulan : Tempat ratu bukan di bidak, Diajeng
Anjasmara : Iya, tapi … bukan Kakang Damar Wulan yang seharusnya berangkat
Damar Wulan : Lalu siapa?
Anjasmara : Mereka … atau … Hmm, ternyata … mereka hanya segerombolan
gedibal yang hanya bisa membuat masalah …
Damar Wulan : Sudah, sudah … tidak baik menuduh sembarangan …
Anjasmara : Kerjanya hanya bisa membuat orang susah
Damar Wulan : Sudah, sudah … tidak baik menabur fitnah …
Anjasmara : Aku … Aku sudah enek, aku muak, dan aku mau muntah …
Damar Wulan : Inilah hidup dan harus kita lalui … Diajeng, relakan kakang pergi
Anjasmara : Iya, Kakang … Sebenarnya, Minak Jinggo itu orang baik-baik.
Bertempur dengannya sama dengan memusuhi hati nurani sendiri.
Berhati-hatilah di medan laga …

(Genggong batuk-batuk kecil)

Adegan 9

Genggong : Aduh, jangan lama-lama … Kasihan tuh para prajuitnya …
Anjasmara : Sebentar, Paman
Damar Wulan : Iya, Paman … sebentar
Genggong : Ya, sudah … Paman Genggong ini sabar lho …
Anjasmara : Kakang, … aku membawa sepasang merpati
Damar Wulan : Merpati putih
Anjasmara : Merpati tak pernah ingkari janji, apalagi merpati putih …
Damar Wulan : Kakang juga tidak pernah ingkar, Diajeng
Anjasmara : Aku pegang janjimu, Kakang
Damar Wulan : Janji adalah hutang
Anjasmara : Awas kalau bohong … biar tambah panjang hidungnya …
Damar Wulan : Kamu ini ada-ada saja
Genggong : Sudah siang …
Anjasmara : Sebentar, Paman … Sebentar lagi …
Damar Wulan : Diajeng, kakang harus pergi … doakan bisa kembali …
Anjasmara : Iya, Kakang …Aku akan mendoakanmu, siang dan malam … Kutunggu kau di perbatasan …
Pulanglah dengan membawa kemenangan …

(Anjasmara dan Damar Wulan melepaskan merpati. Semua masuk)

BABAK 4

Kramagung
Keputren Blambangan yang asri semakin nampak menawan kala bunga-bunga bermekaran. Apalagi sejak pagi burung-burung liar riuh-rendah berkicau. Prenjak kecil pun tidak mau ketinggalan, mereka melompat-lompat dari satu dahan ke dahan lain sembari memperdengarkan suaranya nan merdu.

(Permaisuri Waita, Puyengan, dua orang emban, dan dua orang prajurit keluar. Prajurit berdiri di pintu gerbang)

Adegan 1

Waita : Sudah hampir setahun Kakang Minak Jinggo pergi …
Puyengan : Benar, Kanda Dewi
Waita : Mudah-mudahan pulang dengan membawa kemenangan
Puyengan : Iya, Kanda Dewi … Tapi …
Waita : Tapi apa, Diajeng?
Puyengan : Bukankah itu berarti … Kakang Minak Jinggo akan menikahi Ratu
Kencana Wungu?
Waita : Ya, tidak apa-apa to …
Puyengan : Kanda Dewi tidak cemburu?
Waita : Ah, tidak … Kanda Minak Jinggo layak beristeri tiga atau empat
orang … Kamu harus belajar tidak cemburu, Dinda …
Puyengan : Iya, Kanda Dewi
Waita : Dari pagi perenjak-perenjak kecil bernyanyi riang
Puyengan : Benar
Waita : Sepertinya akan ada tamu agung
Puyengan : Jangan-jangan, Kakang Minak Jinggo yang akan datang

Adegan 2

Emban 1 : Tuan Puteri kita benar-benar wanita utama
Emban 2 : Ya harus begitu, beliau kan contoh bagi para rakyatnya
Emban 1 : Tidak gampang menjadi contoh
Emban 2 : Banyak orang gagal setelah menjadi nomor satu
Emban 1 : Maksudmu?
Emban 2 : Ya … mereka sibuk mengurus dirinya sendiri
Emban 1 : Tidak gampang menjadi ratu
Emban 2 : Lha iya to … Jadi emban saja sudah sulit
Emban1 : Sudah harus begini, harus begitu
Emban 2 : Tidak bisa semau sendiri
Emban 1 : Tidak boleh begini, tidak boleh begitu
Emban 2 : Semua ada aturannya
Emban 1 : Menabrak aturan … tanggung sendiri akibatnya
Emban 2 : Benar … tanggung sendiri akibatnya

(Minak Jinggo, Dayun, Hulubalang 1 /2 /3 keluar)
Adegan 3

Minak Jinggo : Kok sepi, Dayun? Apakah tidak ada upacara penyambutan?
Dayun : Benar, Tuanku … tidak ada penyambutan
Minak Jinggo : Apakah karena aku gagal, Yun?
Dayun : Ah, tidak …
Minak Jinggo : Pasti karena aku gagal …
Dayun : Tidak , Tuanku … Jangan berpikir yang tidak-tidak …
Minak Jinggo : Aku telah paham perangai mereka
Dayun : Hamba tidak mengerti, Tuanku …
Minak Jinggo : Mereka hanya mau menghargaiku ketika aku menang
Dayun : Ah, Tuanku tidak boleh berpikir seperti itu
Minak Jinggo : Giliran aku jatuh, satu persatu mereka pergi
Dayun : Tidak, Tuanku … Ini buktinya, kami masih tetap setia …
Minak Jinggo : Hanya tinggal kalian yang tersisa …
Prajurit 1 : Penasihat Dayun mohon menghadap …

Adegan 4

Dayun : Tuan Puteri, kami telah kembali … Mengapa sepi?
Waita : Iya, Dayun … Lho, mana Kakang Minak Jinggo, Yun?
Puyengan : Kau tinggal di mana beliau, Yun?
Waita : Terus, ini siapa?
Puyengan : Mengapa kau membawa orang ini, siapa dia? Hii … aku takut …
Dayun : Aduh, Tuan Puteri, Tuan Puteri … Tuan Puteri ini bagaimana …
Waita : Bagaimana … bagaimana? Mana Kakang Minak Jinggo?
Puyengan : Ayo, katakan … Ayo, katakan … Mana Kakang Minak Jinggoku?
Waita : Oh … jangan-jangan … dia telah tewas … Kakang … Aku ikut …
Puyengan : Kalau Kakang tewas … aku juga ikut …
Emban 1 : Saya juga ikut …
Emban 2 : Saya juga ikut …
Emban 1 : Kita mati bersama-sama?
Waita : Siapkan api suci, aku akan bela pati
Puyengan : Aku juga …

(Emban 1 /2 menangis)

Dayun : Jangan menangis, Tuan Puteri … Ini Tuanku Minak Jinggo …
Waita /Puyengan : Haaa?!!

(Keduanya pingsan. Emban membawanya masuk)

Adegan 5

Minak Jinggo : Apakah wajahku menjadi sangat menakutkan, Dayun?
Dayun : Ah, tidak … Mereka hanya terkejut, Tuanku …
Hulubalang 1 : Namanya juga cewek
Hulubalang 2 : Gampang kaget
Hulubalang 3 : Nggak siap mental … mental kacangan …
Dayun : Jangan ngomong sembarangan … Tuan kalian lagi sedih, tahu?
Minak Jinggo : Biarkan, Dayun … sekarang kan zamannya demokrasi …
Dayun : Benar, Tuanku … Tapi, tidak boleh ngomong ngawur
Minak Jinggo : Aku tak berdaya, Dayun … Hatiku telah patah … Aku kecewa …
Dayun : Jangan larut dalam kesedihan, Tuanku …
Minak Jinggo : Mungkin ini sudah nasibku
Dayun : Tuanku adalah seorang raja … Jika rajanya bersedih, seisi negeri ikut
sedih … Tuanku harus tegar …
Minak Jinggo : Terima kasih, Dayun … Kau sangat setia …
Dayun : Sudah menjadi kewajiban hamba untuk melayani tuannya …
Minak Jinggo : Hulubalang, coba kau lihat keadaan permaisuriku …
Hulubalang 1 : Siap, Tuanku
Minak Jinggo : Apakah mereka sudah sadar atau masih pingsan …
Hulubalang 1 : Siap, Tuanku

(Hulubalang 1 masuk)

Adegan 6

Minak Jinggo : Dayun, aku harus bagaimana?
Dayun : Tenang, Tuanku … Tenang …
Minak Jinggo : Aku bingung …
Dayun : Tuanku harus tenang … Harus tabah dan sabar …
Hulubalang 2 : Benar, Tuanku
Hulubalang 3 : Jika tenang, Tuanku bisa berpikir jernih
Dayun : Hmm, kau jangan menggurui Tuanku, Hulubalang
Minak Jinggo : Pikiranku buntu … Biarkan, Dayun … bantulah aku berpikir …
Dayun : Tarik nafas panjang, Tuanku … tiga kali … Baca doa, Tuanku …

(Minak Jinggo menarik nafas panjang tiga kali dan berdoa)

Minak Jinggo : Kau benar, Dayun
Dayun : Sudah merasa tenang?
Minak Jinggo : Hmm, sudah … tenang sekali rasanya. Hatiku menjadi sejuk …
Hulubalang 2 : Diam-diam, penasihat Blambangan ini jempolan juga
Hulubalang 3 : Kau baru tahu?
Hulubalang 2 : Iya, … selama ini aku kurang memperhatikan
Hulubalang 3 : Penasihat utama harus banyak tahu. Sebab, kepadanya raja minta
pertimbangan …

(Hulubalang 1 keluar)

Adegan 7

Hulubalang 1 : Ampun, Tuanku
Minak Jinggo : Bagaimana keadaan ratumu?
Hulubalang : Sudah siuman, Tuanku
Minak Jinggo : Syukurlah
Hulubalang 1 : Tapi … masih menangis …
Minak Jinggo : Hmm, …
Dayun : Wajar … nanti juga akan berhenti sendiri …
Minak Jinggo : Mereka menjadi sedih karena aku, Dayun …
Dayun : Sudah suratan … sudah suratan … tidak bisa dibelokkan …
Minak Jinggo : Maksudmu?
Dayun : Kita hanyalah manusia biasa … Semua sudah diatur oleh Yang Maha
Kuasa …
Minak Jinggo : Padahal aku …
Dayun : Siapapun kita, kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah..
Serahkan semuanya pada Yang Mengatur Hidup …
Minak Jinggo : Terima kasih, terima kasih …
Dayun : Sudah tenang, Tuanku?
Minak Jinggo : Ya, hatiku telah tenang …

(Waita, Puyengan, dan dua emban keluar. Waita dan Puyengan langsung bersimpuh di hadapan Minak Jinggo)

Adegan 8

Waita : Kakang, … maafkan kami … maafkan kami …
Puyengan : Ampuni kami, Kakang … Kami sudah kurang ajar …
Waita : Benar, Kakang … Hukumlah kami …
Puyengan : Kami rela dihukum mati …

(Minak Jinggo membimbing Waita dan Puyengan berdiri)

Minak Jinggo : Kalian tidak bersalah … Kalian tidak bersalah …
Waita : Kami sudah keterlaluan
Puyengan : Ya, sampai-sampai tidak mengenalimu lagi …
Minak Jinggo : Sudah, jangan menangis lagi …matahari menjadi redup karena
isak tangis setiamu …
Emban 1 : Iya-ya … Matahari mendadak redup …
Emban 2 : Angin berhenti bertiup …
Hulubalang 1 : Air sungai berhenti mengalir …
Hulubalang 2 : Bumi bergoncang perlahan tapi pasti…
Dayun : Kala kata telah kehilangan makna
Waita : Jangan lagi kau tanya …
Puyengan : Masih adakah sumpah setia …
Minak Jinggo : Kalian jadi nglantur semua … Jadi gila semua …
Dayun : Biar, Tuanku … Ijinkan kami menjadi gila …
Waita : Gila menjaga kesetiaan ini
Puyengan : Remah-remah kesetiaan yang tersisa …
Minak Jinggo : Edan, … edan semua …
Prajurit 1 : Telik sandi mohon menghadap

(Telik Sandi keluar)
Adegan 9

Telik Sandi : Tuanku, pasukan Majapahit telah menyerang desa-desa …
Minak Jinggo : Akhirnya, musuh datang juga …
Telik Sandi : Mereka bergerak cepat
Minak Jinggo : Sebelum tentara Majapahit datang, kalian boleh lari sejauh mungkin..
Selamatkan diri kalian, selamatkan keluarga kalian … Aku akan
menghadapi mereka seorang sendiri …
Dayun : Jangan, Tuanku … Kami ada di belakangmu, Tuanku …
Hulubalang 1 /2 /3: Kami akan setia sampai tetes darah yang terakhir
Minak Jinggo : Kalian yakin dengan ucapan kalian?
Semua : Kami yakin, Tuanku …
Minak Jinggo : Terima kasih atas kesetiaan kalian…
Dayun : Hai, anak-anak Blambangan… Musuh telah datang…
Hulubalang 1 : Song-songlah mereka!!!
Hulubalang 2 : Hancurkan mereka!
Minak Jinggo : Hidup Blambangan!
Dayun : Tuan, kami menunngu di alon-alon … Ayo, Anak-anak … Kita
bersiap-siap …

(Semua masuk kecuali Minak Jinggo, Waita, dan Puyengan)

Minak Jinggo : Diajeng, doakan aku bisa pulang dengan selamat …
Waita : Ya, Kakang … Hati-hati di medan laga ..
Puyengan : Ya, Kakang … doa kami selalu menyertaimu …

(Minak Jinggo masuk. Waita dan Puyengan juga masuk)

BABAK 5

Kramagung
Musuh jangan dicari, namun jika ia datang, jangan lari. Nasihat leluhur itulah yang agaknya membuat para prajurit, hulubalang, dan senopati sibuk mempersiapkan diri. Mereka rela berperang demi negaranya dan demi kehormatan rajanya.

(Damar Wulan beserta prajuritnya keluar. Damar Wulan menurunkan perintah penyerbuan. Kemudian, mereka masuk. Minak Jinggo, Dayun, hulubalang 1/2/3 keluar. Mereka melakukan pemanasan)

Adegan 1

Minak Jinggo

Minak Jinggo

Minak Jinggo : Kalian harus tetap bersatu. Tanpa persatuan dan kesatuan, negeri ini
akan hancur …
Semua : Siap!
Minak Jinggo : Kalian harus taat pada pimpinan selama dia berjalan lurus …
Semua : Siap!
Minak Jinggo : Jangan pernah takut membela tanah air …
Semua : Siap!
Minak Jinggo : Siapkan senjata kalian … serbuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!

(Semua masuk. Pasukan Damar Wulan keluar dari sisi kanan, sedangkan pasukan Minak Jinggo keluar dari sisi kiri)

Hulubalang 1 : Ternyata hanya pasukan tikus curut … Hahahaha …
Hulubalang 2 : Ya … hanya dapat baunya … Hahahahha …
Hulubalang 3 : Anak baru menetas sudah dikirim perang … Hahahaa …
Prajurit 1 : Jangan menghina ya …
Prajurit 2 : Kami tidak takut …
Prajurit 3 : Kecil-kecil cabai rawit …
Dayun : Sudah bicaranya, serbuuuu!
Genggong : Serbuuuuuuuuuuuuu!

(Prajurit Damar Wulan kalah, mereka masuk. Pasukan Minak Jinggo mengejar, mereka masuk. Prajurit Damar Wulan keluar)

Adegan 2

Prajurit 1 : Ayo lari, ayo lari!
Prajurit 2 : Ayo sembunyi, ayo sembunyi!
Prajurit 3 : Sembunnyi di mana, sembunyi di mana!
Prajurit 1 : Sembunyi di sini, sembunyi di sini!
Prajurit 2 : Hi, hi … tidak, tidak!
Prajurit 3 : Di situ banyak kotoran, di situ banyak kotoran!
Prajurit 1 : Ayo lari, ayo lari!
Prajurit 2 : Ayo sembunyi, ayo sembunyi!
Prajurit 3 : Sembunnyi di mana, sembunyi di mana!
Prajurit 1 : Sembunyi di sini, sembunyi di sini!

(Semua bersembunyi di balik bebatuan. Pasukan Minak Jinggo keluar)

Hulubalang 1 : Hai …Jangan lari!
Hulubalang 2 : Jangan sembunyi, ya!
Hulubalang 3 : Kok tidak ada ya … Hai … di mana dirimu!
Dayun : Oii … di sini … di sini!

(Prajurit Damar Wulan berhamburan masuk. Pasukan Minak Jinggo mengejar masuk. Damar Wulan keluar dari sisi kanan, Minak Jinggo keluar dari sisi kiri)

Adegan 3

Minak Jinggo : Ooo, ini pemimpinnya
Damar Wulan : Ya, aku pemimpin mereka
Minak Jinggo : Hmm, siapa namau, Bocah Bagus? Aku Minak Jinggo
Damar Wulan : Namaku Damar Wulan
Minak Jinggo : Damar Wulan, Damar Wulan … Kau diutus Ratu Kencono Wungu?
Damar Wulan : Ya, aku diutus memenggal kepalamu …
Minak Jinggo : Hahahahaha … lakukan saja kalau bisa … hahaha … Kencono Wungu
sudah gila … Anak masih bau ketek dikirim perang … hahaha …
Damar Wulan : Kau jangan menghina ratuku …
Minak Jinggo : Kau masih muda, Damar … Kau belum tahu apa-apa … Pulanglah,
aku tidak mau berperang denganmu …
Damar Wulan : Harus mau, aku harus membunuhmu
Minak Jinggo : Lakaukan saja kalau kau bisa … Nih, perut, … dada, …, punggung, …
atau leher? Pilih sudah … kau mau yang mana … Aku tidak akan
melawan … Kau anak baik …Aku tidak mau bermusuhan denganmu…
Damar Wulan : Wah repot … Ya, nggak mungkin aku menyerang …
Minak Jinggo : Lakukanlah dharmamu … dan aku melakukan dharmaku …
Damar Wulan : Baiklah … maafkan aku, Minak Jinggo …

(Damar Wulan mundur. Ia mengumpulkan tenaga, memukul, memukul, dan memukul. Minak Jinggo tidak bergeming. Damar Wulan menghunus keris pusakanya dan menghujamkan berkali-kali ke arah Minak Jinggo. Raja Blambangan masih kukuh di tempatnya. Ketika Damar Wulan menghantamkan kerisnya ke kapala Minak Jinggo, Minak Jinggo menepisnya. Akibatnya, Damar Wulan jatuh terjengkang, dan pingsan. Minak Jinggo masuk. Damar Wulan sadar)

Adegan 4

Damar Wulan : Benar kata Diajeng Anjasmara … Minak Jinggo orang baik … Aduh
… bagaimana ini … Oh Tuhan, … tolonglah aku … Aku harus
mengenyahkan orang baik. Padahal, aku juga bukan orang jahat …
Aku tidak bisa, aku tidak bisa melakukan … Rama, … bantulah aku …
Anakmu dalam kesulitan, Rama … Bantulah aku, Rama …

(Damar Wulan terus menerus merintih dan memanggil ramanya. Tiba- tiba, angin datang berhembus, langit mendadak mendung, dan kilat datang menyambar-nyambar. Bersamaan dengan berhentinya itu semua, Patih Udara keluar)

Patih Udara : Damar Wulan, anakku … bangunlah …
Damar Wulan : Oh, … Rama …

(Damar Wulan langsung memeluk kaki Patih Udara. Dengan penuh kasih, Patih Udara membelai kepala Damar Wulan)

Patih Udara : Sudah, jangan menangis … Hapuslah air matamu … Tidak baik …
Damar Wulan : Rama, aku dalam kesulitan
Patih Udara : Ya, rama sudah tahu
Damar Wulan : Lalu … bagaimana?
Patih Udara : Pergilah ke kaputren Blambangan. Di sana ada jawabannya …
Damar Wulan : Kaputren?
Patih Udara : Berjalanlah lurus ke arah matahari terbit, lompatilah tembok kaputren
Damar Wulan : Baiklah, Rama
Patih Udara : Hati-hati dan selalu mintalah pertolongan pada Yang Maha Kuasa
Damar Wulan : Baik, Rama … Damar mohon restu ..

(Damar Wulan masuk. Patih Udara masuk. Waita, Puyengan, dan dua embannya keluar)

Adegan 5

Waita : Diajeng, apa pendapatmu tentang sikap Ratu Kencono Wungu?
Puyengan : Ya, … tidak ksatria … tidak menunjukkan sikap seorang ratu
Waita : Berarti, kita sependapat … Ia harus disadarkan
Puyengan : Stt, ada seseorang di balik pohon sawo …
Waita : Hai, orang yang di balik pohon sawo … keluarlah!
Puyengan : Jika tidak, kami panggilkan pengawal!

(Damar Wulan keluar)

Waita /Puyengan : Wow, … keren … Cakep banget ..
Waita : Siapa namamu dan dari mana asalmu, anak muda?
Damar Wulan : Nama hamba, Damar Wulan. Hamba dari Majapahit …
Puyengan : Keperluanmu? Sudah bosan hidup? Berani-beraninya masuk ke sini…
Damar Wulan : Tolong beritahu hamba … Bagaimana cara mengalahkan Minak
Jinggo
Waita : Gila kamu, ya? Kakang Minak Jinggo itu suamiku, tahu?
Damar Wulan : Hamba tahu, karena itu … apapun syaratnya akan hamba penuhi …
Waita : Kau yakin?
Damar Wulan : Hamba bersumpah akan memenuhi semua syarat yang diminta …
Puyengan : Apapun itu?

(Damar Wulan mengiyakan. Waita berbisik pada Puyengan. Waita, Puyengan, dan emban masuk. Beberapa saat kemudian Waita dan Puyengan keluar)
Adegan 6

Waita : Baiklah, Damar Wulan … Kami sanggup membantu dengan syarat,
kau mau menerima kami sebagai istri-istrimu …
Damar Wulan : Ha?! Menjadi istri hamba?
Puyengan : Bagaimana, kau mau atau tidak?
Damar Wulan : Hamba setuju … Tapi, … hamba sudah mempunyai calon istri…
Waita : Siapa dia?
Damar Wulan : Dia adalah Diajeng Anjasmara … Saat ini, ia menanti hamba di
perbatasan
Puyengan : Berarti, Kanda Dewi Waita jadi istri ke dua dan aku yang ketiga ..
Waita : Bagaimana?
Damar Wulan : Baik, hamba setuju … Sekarang, bantulah saya …

(Waita mengeluarkan sebuah gulungan kain berwarna putih, kemudian membukanya)

Waita : Ini adalah gada besi kuning, senjata Kakang Minak Jinggo
Puyengan : Dengan senjata itu, kau bisa menunaikan dharmamu …
Damar Wulan : Terima kasih, Dewi … Mmm, kalau boleh tahu, … mengapa kalian
mengkhianati Minak Jinggo? Bukankah ia suami kalian?
Waita : Kau salah, Damar Wulan … Justru kami akan membalaskan sakit
hatinya pada ratumu si Kencono Wungu
Puyengan : Jika dilihat sekilas, kami memang berkhianat …
Waita : Kami rela begini demi suami kami
Puyengan : Kakang Minak Jinggo tidak mungkin melakukan penyerangan ke
Majapahit jika tidak dikhianati … Ia raja yang agung …
Damar Wulan : O …
Waita : Nah, sekarang pergilah … Tunaikan baktimu pada Pertiwi …

(Damar Wulan mohon diri, semua masuk. Damar Wulan keluar)

Adegan 7

Damar Wulan : Hai Minak Jinggo, keluarlah! Ini hadapi aku, Damar Wulan! …
Minak Jinggo, keluar kau! Jangan hanya tidur! … Minak …!

(Minak Jinggo keluar)

Minak Jinggo : Weleh-weleh, Kau kembali lagi, Bocah Bagus? … Pulang, sana …
pulang! Ini urusanku dengan ratumu … Kamu jangan ikut-ikutan …
Damar Wulan : Sekarang sudah menjadi urusanku ….
Minak Jinggo : Kemarin kamu sudah klepek-klepek … lupa?
Damar Wulan : Pairin dari Semarang, urusan kemarin kita selesaikan sekarang …
Minak Jinggo : Siapa takut, majulah …

(Damar Wulan mengeluarkan besi kuning. Minak Jinggo terkesiap)

Minak Jinggo : Dari mana kau dapatkan pusakaku itu, Cah Bagus? Kau maling, ya?
Damar Wulan : Itu tidak penting. Yang jelas, besi kuning sudah ada di tanganku …
Minak Jinggo : Aku tahu, hari ini adalah hari kematianku … Tapi, aku harus bertahan hidup …
sampai Sang Maut menjemputku …
Damar Wulan : Bersiaplah Minak Jinggo!

(Damar Wulan menyerang Minak Jinggo. Mereka berkelahi. Kepala Minak Jinggo terpukul besi kuning. Ia jatuh terkapar)

Damar Wulan : Maafkan aku, Minak Jinggo. Aku tahu, kau orang baik … Dan, aku
juga bukan orang jahat … Kita sama-sama menjadi korban …
Maafkanlah aku … Tidak boleh ada dua matahari …

(Damar Wulan memberikan penghormatan lalu memenggal kepala Minak Jinggo. Prajurit-prajurit Majapahit berhamburan datang. Mereka bersorak senang. Kepala Minak Jinggo diletakkan di nampan oleh Genggong. Nampan dibawa prajurit 1)

Damar Wulan : Kita singgah di kaputren Blambangan dan langsung pulang!
Semua : Siap

(Semua masuk. Damar Wulan, Dayun, Waita, Puyengan, dan prajuritnya keluar)

Adegan 8

Waita : Majapahit masih jauh, Kakang?
Damar Wulan : O, masih sangat jauh …
Puyengan : Kanda Dewi, lihat ke bawah sana …
Waita : Wow, indah sekali …
Genggong : Benar, Puteri … Kita melihat dari puncak gunung. Jadi, semuanya
nampak indah …

(Layang Seta dan Layang Kumitir keluar)

Layang Seta : Bagaimana dengan tugasmu, Damar Wulan?
Layang Kumitir : Jangan-jangan, kau kabur dari peperangan, ya …
Damar Wulan : Tidak …, saya berhasil …
Layang Seta : Terus, mana kepala Minak Jinggo?
Damar Wulan : Ini …

(Damar Wulan menyuruh prajurit yang membawa nampan menunjukkan kepala Minak Jinggo kepada Layang Seta dan Layang Kumitir. Kedua anak Patih Logender itu saling mengedipkan mata)

Layang Seta : Hebat…. Begini, Damar Wulan …
Layang Kumitir : Kami mendapat tugas dari Sri Ratu Kencana Wungu membawa
kepala Minak Jinggo ke istana …
Layang Seta : Sebab, jika terlalu lama … bisa-bisa membusuk di perjalanan ..
Layang Kumitir : Kuda-kuda kami masih segar, sementara kudamu telah kelelahan …
Damar Wulan : Ooo, ya … ya … bawalah … Terima kasih, kalian telah baik kepadaku
Genggong : Jangan, Den Damar … Itu barang …
Damar Wulan : Biar, Paman … Mereka berniat membantu … Serahkan kepalanya …

(Prajurit 1 menyerahkan kepala Minak Jinggo kepada Layang Seta. Layang Seta dan Layang Kumitir masuk)

Genggong : Celaka … Den Damar kehilangan barang bukti …
Waita : Kejadian inilah yang aku takutkan, Paman …
Puyengan : Kita harus lebih waspada …
Genggong : Senyampang belum terlambat, perjalanan ini harus dipercepat …
Semua : Ya, … harus dipercepat …

(Semua masuk)

|Sementara itu, di istana Majapahit terlihat adanya kesibukan penyambutan yang luar biasa. Sebab, telah tersiar kabar bahwa Layang Seta dan Layang Kumitir berhasil mengalahkan Minak Jinggo. Dengan cepat berita itu menyebar ke segala penjuru negeri. Rakyat berdiri berjajar di tepi jalan mengelu-elukan kedatangan para pahlawannya|

(Dua orang pengawal berdiri di depan pintu masuk. Patih Logender, Menteri Keadilan, Menteri Kemakmuran, dan Menteri Kesejahteraan keluar. Semua duduk di tempat masing-masing)

Adegan 9

Pengawal 1 : Sri Ratu Kencana Wungu tiba …
Pengawal 2 : Hadirin dimohon berdiri

(Patih Logender, Layang Seta, dan yang lain-lain berdiri memberi hormat. Kencana Wungu keluar dengan diiringi oleh dua orang emban. Kencana Wungu duduk di singgasananya, emban duduk di sampingnnya)

Pengawal 2 : Hadirin dipersilakan duduk kembali …
Pengawal 1 : Pahlawan Layang Seta dan Pahlawan Layang Kumitir tiba …
Pengawal 2 : Hadirin dimohon berdiri …

(Semua berdiri. Layang Seta –membawa nampan– dan Layang Kumitir keluar)

Patih Logender : Hidup Layang Seta!
Semua : Hiduup!
Patih Logender : Hidup Layang Kumitir!
Semua : Hidup!

(Kenaca Wungu bertepuk tangan. Semua duduk. Layang Seta menunjukkan kepala Minak Jinggo kepada Kencana Wungu. Kain penutup kepala Minak Jinggo disingkap sedikit oleh Kencana Wungu. Layang Seta menyerahkan kepala Minak Jinggo kepada pengawal 2)

Kencana Wungu : Aku bangga pada kalian … bangga sekali …
Patih Logender : Mereka adalah pahlawan kita, Sri Ratu …
Kencana Wungu : Benar … Kalian berdua patut mendapat hadiah dariku …

(Kencana Wungu bertepuk tangan. Emban 1 masuk, ia keluar dengan membawa dua untai bunga)

Kencana Wungu : Berdirilah …

(Kencana Wungu mengalungkan bunga kepada Layang Seta dan Layang Kumitir. Semua bertepuk tangan)

Adegan 10

Pengawal 1 : Pasukan berantakan tiba …
Semua : Ha?! Pasukan berantakan?!!

(Damar Wulan, Genggong, Waita, Puyengan, Anjasmara, dan prajurit 1 /2 /3 keluar. Semua duduk)

Kencana Wungu : Siapa kalian? … Oh, bukankah kau si Damar Wulan? Berani-
beraninya kau injak lagi bumi Majapahit …
Damar Wulan : Maksud Sri Ratu?
Patih Logender : Dasar tidak tahu malu … gagal dalam tugas masih berani pamer gigi
Damar Wulan : Aku gagal? Apa maksudmu, Paman Patih Logender?
Kencana Wungu : Aku tidak mau mendengar penjelasanmu … Kau telah gagal,
pergilah sejauh mungkin!
Patih Logender : Yang jadi pahlawan adalah Layang Seta dan Layang Kumitir.
Sedangkan kau … kau pecundang, Damar Wulan …
Menteri Keadilan : Kami semua menjadi saksi … Mereka yang berhasil membawa kepala
Minak Jinggo, bukan kau …
Genggong : Hmm, permainan politik tingkat tinggi … sampai-sampai orang
sekelas Menteri Keadilan pun terkecoh … Lihat, siapa yang
mempertahankan umbul-umbul Merah Putih di medan perang?
Menteri Keadilan : Maksudmu?

(Waita dan Puyengan berdiri)

Waita : Kalian semua telah tertipu kecoak-kecoak itu …
Puyengan : Ini semua adalah ulah Layang Seta dan Layang Kumitir
Patih Logender : Hei, siapa kalian … berani-beraninya menghina pahlawan kami …
Waita : Diam kau! Pangkatmu hanya patih!
Puyengan : Kami adalah permaisuri Kakang Minak Jinggo …
Patih Logender : Ooo, … Tapi, ini Majapahit, bukan Blambangan, Nyonya …
Waita : Blambangan bumi Tuhan, Majapahit juga bumi Tuhan
Puyengan : Apa bedanya? Kebenaran harus ditegakkan di manapun …
Kencana Wungu : Sekarang, apa maumu?
Waita : Dulu, Kakang Minak Jinggo telah kau ingkari … Sekarang, Kakang
Damar Wulan juga akan kau ingkari?
Puyengan : Terimalah Kakang Damar Wulan
Kencana Wungu : Mengapa aku harus menerimanya? Yang membawa bukti adalah
Layang Seta dan Layang Kumitir …
Waita : Kami adalah saksi hidup …
Puyengan : Lagi pula, mana sempat pasukan perang berdandan seperti mereka …
Waita : Buka matamu, Ratu Kencana Wungu … Kau seorang ratu sebuah
negara besar, jangan terkecoh kadal …
Kencana Wungu : Hmm, kau benar … Aku bersedia menerimanya sebagai suamiku …
Genggong : Eit, nanti dulu … Sri Ratu menjadi istrinya yang ke empat …
Kencana Wungu : Maksudmu?
Anjasmara : Aku adalah istri pertamanya
Waita : Aku ke dua
Puyengan : Aku yang ke tiga
Kencana Wungu : Berarti … berarti, aku keempat … Capek, deh …Tapi, tidak apa-apa …
Kakang Damar Wulan, majulah …

(Damar Wulan berdiri dan maju. Kencana Wungu melepaskan mahkotanya, kemudian meletakkan mahkota tersebut di atas kepala Damar Wulan. Semua berdiri memberikan penghormatan)

Tamat.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Drama dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 107. Damar Wulan

  1. Garuda_Kecil berkata:

    Wakaka… Lucu om, tapi banyak pelajaran penting dan berharga yang bisa dipetik dari drama ini…..^_^

Komentar ditutup.