110. KORUPTOR UANG = “PENDERITA DIARE” UANG (a), ANTI KORUPTOR UANG = “PENDERITA SEMBELIT” UANG (b)

110. KORUPTOR UANG = “PENDERITA DIARE” UANG (a) , ANTI KORUPTOR UANG = “PENDERITA SEMBELIT” UANG (b)

Maaf, saya tidak sedang mengada-ada ataupun menggiring opini Anda untuk menyetujui pendapat saya. Bukan itu tujuan tulisan ini dibuat.

Tidak usah orang dewasa yang waras, anak-anak pun tahu bahwa perilaku koruptif adalah tindakan yang salah, nista, dan tercela. Sedangkan perilaku anti koruptif adalah sebuah perilaku yang terpuji sehingga perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi dan perlu didukung oleh segenap lapisan masyarakat.

Hanya saja, masalahnya, (a) dan (b) berada di tempat yang salah pada saat yang salah, sehingga –seandainya– (b) berada di posisi (a) maka (b) pun akan terkena diare, begitu pula sebaliknya. Dalam hal ini, lepaskan pendapat bahwa mau menjadi koruptor uang atau anti koruptor uang semua tergantung pada orangnya. Atau, asal benteng imannya kuat seseorang tidak mungkin menjadi koruptor.

Bisa jadi yang bersangkutan tidak menjadi koruptor uang, namun menjadi koruptor dalam bentuk lain, koruptor periuk nasi orang lain misalnya. Memang, menjadi koruptor periuk nasi orang lain sangat samar, nyaris tidak kasat mata karena halusnya. Yang jelas, karena perilaku tersebut, ada orang lain yang menjadi kesulitan untuk mendapatkan biaya hidup bagi diri, keluarga, dan malah mungkin anak keturunannya

Oleh sebab itu, dari judul di atas, terlihat bahwa orang dan iman tidak dibawa-bawa. Tetapi, uang yang menjadi sumber masalah. Mudah-mudahan Anda mengerti dengan yang saya maksud.

Sekarang, ada masalah apa dengan uang di republik ini? Singkat kata, ada yang salah dengan rupiah. Nah, karena salah maka siapa pun yang dilewati akan merasakan akibatnya. Entah sebagai ”penderita diare” atau entah sebagai ”penderita sembelit”. Mengingat yang pertama dilewati rupiah adalah para pejabat /para pegawai di lingkup pemerintahan maka penderita kedua jenis ”penyakit” itu pun berasal dari kalangan mereka. Sedangkan mereka yang berada di luar itu, hanya bisa bingung, dan ribut (maaf).

Menaikkan anggaran /gaji mereka, tidak menyelesaikan masalah. Sebab, akar masalah bukan di situ, realita di lapangan sudah membuktikan. Justru kebijakan tersebut akan membuat jumlah penderita makin banyak, malah –dengar-dengar– belakangan ini tidak tanggung-tanggung, pemain papan atas juga terseret.

Menurut saya, agar mereka tidak berkepanjangan menderita sakit ”diare” uang maupun sakit ”sembelit” uang dan hanya menjadi bahan cemoohan dunia maka butuh solusi cepat. Sederhana, urusan uang diselesaikan dengan uang. Silakan revisi bilangan rupiah, silakan hitung sisa uang koruptor, dan silakan berpikir dengan cara ”orang gila” karena cara ”orang waras” telah gagal, total. Itu kalau mau. Insya Allah, keduanya akan sembuh.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Uang dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke 110. KORUPTOR UANG = “PENDERITA DIARE” UANG (a), ANTI KORUPTOR UANG = “PENDERITA SEMBELIT” UANG (b)

  1. Gie berkata:

    om… harus segera dikasih obat sakit ”diare” uang maupun sakit ”sembelit” uang. kalau tidak…T_T…

Komentar ditutup.