112. MENEMUKAN HARTA KARUN

112. MENEMUKAN HARTA KARUN

Harta karun … Hmm, sesuatu yang mengiurkan. Betapa tidak, tanpa harus bersusah payah untuk membuat /membeli tahu-tahu ”mak bedunduk” sudah di depan mata. Oleh karena itu, ada sebagian orang yang berprofesi sebagai pemburu harta karun.
Memang, untuk mendapatkan harta karun pun membutuhkan biaya. Makin tinggi nilai si harta maka makin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.
Nilai tertinggi harta karun terletak pada nilai historis yang dikandungnya, bukan pada materi penyusunnya. Bagi pemilik harta karun menjunjung tinggi nilai tersebut adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena adanya nilai tersebut maka harta karun tidak dapat diganti dengan uang, berapapun nominalnya.
Pertanyaannya sederhana, siapa pemilik harta karun tersebut? Konon, bumi, air, dan seterusnya adalah milik negara dan seterusnya. Apakah berarti harta karun lantas serta merta jatuh ke tangan negara? Eit, nanti dulu.
Jika pemilik harta karun memang sudah tidak ditemukan maka konon tersebut mendapatkan relevansinya. Namun, jika pemiliknya masih ada (sekalipun ”hanya” keturunannya) maka klaim tersebut menjadi tidak tepat. Jika dipaksakan, lantas apa bedanya dengan membawa pulang telur yang ditemukan di kandang ayam tetangga?
Sedangkan bagi yang ”sekedar” menemukan maka nilai tersebut nyaris tidak ada manfaatnya karena, antara mereka dengan harta karun tersebut tidak ada ikatan emosi.
Namanya juga tidak ada ikatan, jadi menjadi wajar jika mereka begitu mudah untuk melepaskan –sekalipun harus lepas ke tangan asing, sekalipun telah ditentang kiri kanan– dalam acara lelang harta karun bertaraf internasinal, misalnya.
Di INDONESIA yang ada di seberang jalan, masalah temuan harta karun diurus oleh Pamong Seni Budaya. Mereka tidak boleh semaunya menjual harta karun yang telah ditemukan. Jika dan hanya jika karena terpaksa negara melepaskan harta tersebut untuk dijual maka aturan main harus jelas. Misalnya, 12% dari harta karun harus tersisa untuk tanda mata. Dengan rincian, 1% untuk musium tempat di mana harta karun ditemukan, 1% untuk musium ibu kota negara, dan 10% sisanya dibagi secara merata untuk musium-musium pada level Bagian –lihat: 106. Gugus Satuan Teritorial INDONESIA yang ada di seberang Jalan Indonesia, indonesia.
Dengan demikian, yang dilepaskan oleh negara hanya 88%. Tentu saja, yang dimaksud prosentase tersebut dilihat dari sudut kualitas maupun kuantitasnya.
Di samping itu, larinya uang hasil penjualan pun harus jelas. Dalam hal ini, –setahu saya– 20% dari hasil bersih penjualan tersebut masuk ke tempat di mana harta karun ditemukan sebagai zakat maal. Malah seorang teman berbisik ke saya, bukan 20% melainkan 25%. Dalam hal ini, saya rujuk kepada pendapat yang lebi benar. Sedangkan yang 80% masuk ke kas negara. Dengan begitu, pusat kekuasaan tidak ”hanya pintar” mengeruk harta karun daerah yang dikuasai.
Seharusnya, semua harta karun yang ditemukan di persada Ibu Pertiwi TIDAK DIJUAL. Dengan begitu, untuk mempelajari sejarah tanah air, generasi berikut tidak perlu ke luar negeri … Mungkin, sudah saatnya begi generasi sepuh untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka benar-benar TIDAK MELUPAKAN SEJARAH, bukan ”TIDAK” MELUPAKAN SEJARAH.
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Catatan Pinggir dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 112. MENEMUKAN HARTA KARUN

  1. Kandi Klees berkata:

    Hi, I just thought I’d post and let you know your blog layout is messed up on the Samsung Mobile phone browser. Anyhow keep up the good work.

  2. Indrawati ajach. berkata:

    –Harta karun —
    menurut wawasan nusantara harus jelas siapa pemilikx siapa ahli warisx.
    Kalau harta karun itu milik negara, harus jelas asal usulx.
    Tentu ada latar belakang apa knapa siapa kapan d mana ?
    Siapa tahu harta itu dari keringat rakyat, kalau memang demikian kita kembali dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat impas kan ?
    Sebagai anak bangsa yg nasinalis tentu tidak melupakan sejarah ,dari orde lama orde baru n revormasi.

Komentar ditutup.