113. Ketika Anak Sapihan Rewel

113. Ketika Anak Sapihan Rewel

Anak adalah satu di antara titipan Tuhan Yang Maha Esa kepada orangtua. Mereka harus disayang, dididik, dan dibimbing dengan benar. Dengan harapan, kelak setelah dewasa bisa menjadi manusia yang berbudi, yang bermartabat, serta yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agamanya.

Anak sapihan membantu ibu

Anak sapihan membantu ibu

Namun, untuk mendewasakan anak tidak semudah membalik telapak tangan, tidak semudah menelan agar-agar, dan juga tidak semudah menggoreng telur. Pembelajaran harus dimulai sejak dini –maaf, saya tidak sedang menggurui Anda. Oleh karena itu, kesabaran dan ketelatenan dari orangtua sangatlah dibutuhkan.
Sekali waktu, yang namanya anak juga rewel (=merajuk). Apalagi, ketika anak sapihan yang bicara pun belum jelas, cedal, dan masih sepotong-sepotong kosakata yang digunakan. Kala rewel, kadang kala mereka memukul orangtuanya. Mereka belum tahu bahaya. Ibaratnya, diajak tidak mau, ditinggal kalang-kabut (diejak ora gelem, ditinggal gulung-koming, Jawa) …
Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan oleh orangtua? Dalam kondisi seperti itu, dicubiti sampai bilur-bilur tidak akan membuat si anak diam, dipukuli sampai pingsan juga tidak menyelesaikan masalah, dan bahkan dicekik sampai mati pun si anak akan mati dalam kesia-siaan. Namanya juga anak, apalagi “hanya” anak sapihan. Dalam segalanya, mereka tak akan mampu mengalahkan orangtua. Mereka pasti patah dan kalah. Entah lagi jika orangtua ingin menikmati hidup sendiri, bersenang-senang sendiri, dan menikmati indahnya dunia sendiri …
Agar tidak rewel, orangtua harus pandai-pandai mengasuh anak-anaknya, mempelajari “adat” mereka, mempelajari bahasa tubuh mereka, meninabobokkan mereka, dan jangan cabut mereka dari akar budayanya. Dengan harapan, si anak sapihan cepat besar sehingga mampu berbicara dengan jelas, sehingga dunia seisinya pun mengerti apa yang dimau.
Makanya, orangtua harus arif dan bijaksana, berilah mereka makanan dengan gizi yang cukup, bekali dengan pendidikan yang cukup, bentengi mental dengan iman yang cukup, dan seterusnya …
Sttt, sayup-sayup terdengar senandung Ibu Pertiwi,
”Tidurlah Intan, tidurlah permataku sayang
Hari sudah malam, pejamkanlah sayang …
Tidurlah Intan, tidurlah permataku sayang
Esok hari nanti, bermain kembali …”
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Catatan Pinggir dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke 113. Ketika Anak Sapihan Rewel

  1. Jillian Cahue berkata:

    I thought you were going to chip in with some decisive insigth at the end there. Not leave it with ‘we leave it to you to decide’

  2. Indrawati ajach. berkata:

    5 f
    1 . Boleh q jadi pen
    ggemar artikel 2
    u.
    2 . Diam 2 q jadi fa
    n banget ma ka
    karya tulisan 2
    u.
    3. Q ingin jalin pe
    rsaudaraan n p
    ersahabatan m
    a u.
    Mudah mudahan niat yg tulus ini d akses positif.
    Seandaix q yg jadi
    anak rewel dlm sapihan q d ciwir g pa2 karena u orang tua yg welas asih dan..

Komentar ditutup.