114. Antara Pendidikan dengan Kembang Plastik

114. Antara Pendidikan dengan Kembang Plastik

Yang namanya kembang identik dengan yang indah-indah dan yang harum-harum. Ketika bunga mulai bermekaran , lazimnya kupu-kupu dan lebah pun datang. Secara alami, mereka melakukan penyerbukan sembari mengisap nektar, madu bunga. Itu terjadi pada bunga sungguhan, bunga yang lengkap. Sesudah itu, terjadilah pembuahan …

Kembang plastik lain lagi ceritanya. Jika dilihat dari kejauhan, memang elok dan menawan. Bentuk dan warnanya beraneka ragam, benar-benar mirip dengan bunga asli ciptaan Sang Maha Pencipta. Bahkan dari pintarnya produsen, butir-butir embun pun bisa nampak menempel di ujung-ujung bunga.
Kembang-kembang plastik mudah didapat di pasar-pasar sampai di pusat-pusat perbelanjaan dengan harga bervariasi. Makin cantik si kembang, makin tinggi harga yang ditawarkan. Makin elok rangkaian si kembang, makin tinggi pula harga yang dipatok. Pendek kata, harga kembang plastik bersaing ketat dengan bunga-bunga alami. Malah tidak jarang, lebih mahal.

"hanya" kembang plastik

kembang plastik

Namun, namanya juga hanya kembang plastik maka hasil yang didapat para kolektor pun ”hanya” sebatas nilai keindahan. Alih-alih bertumbuh, berkembang-biak, atau menghasilkan madu, justru si empunya harus panda-pandai merawatnya agar tidak menjadi sarang debu, sarang nyamuk /sarang laba-laba, dan hanya mengecoh pandangan mata …
Diam-diam saya berpikir, bagaimana dengan institusi pendidikan kita? Andaikan kembang, kembang sungguhankah ia? Ataukah kembang plastikkah ia?
Menilai hasil institusi pendidikan bisa dilihat dengan melihat hasil karya output yang dihasilkan. Diakui atau tidak, sadar atau tidak, semua pelaku penyelenggara negara ini adalah output pendidikan. Sekarang saatnya menghitung secara jujur antara keberhasilan dan atau kegagalan pendidikan.
Tentang kegagalan hasil karya out put pendidikan, sebut saja misalnya : Gejala rusaknya alam sudah hampir di semua pulau. Gejala korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sudah hampir sampai di pusat-pusat kekuasaan. Gejala kekerasan sudah merupakan konsumsi sehari-hari. Gejala pembusukan birokrat sudah mulai terasa sampai di sekolah-sekolah. Bahkan, yang akhir-akhir ini lagi naik daun yaitu masalah teroris pun adalah produk pendidikan –baik langsung maupun tidak langsung.
Tentang keberhasilannya, sepertinya tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Oleh karena itu tidak ada gunanya dihitung.
Jika institusi pendidikan adalah kembang sungguhan maka ”biji-biji” generasi baru yang cinta tanah air yang bertumbuh, yang tidak suka tawuran, yang bisa berbakti pada orangtua /guru /negara, dan yang siap menghadapi gempuran global. Atau dengan kata lain, out put pendidikan akan menjadi rahmat bagi sesama serta negaranya.
Jika institusi pendidikan ternyata hanya kembang plastik maka hanya menjadi pajangan sudut ruangan Ibu Pertiwi. Sudah banyak menghabiskan dana (konon 20% APBN) ternyata hasilnya hanyalah seonggok pengangguran, tukang ribut, tukang korup, dan yang sejenis dengan itu … Jadi, wajar kan jika lebah-lebah menjadi beringas? Bunganya, hanya kembang plastik … Tanpa madu …
Oleh karena itu, jangan terkecoh dengan standar nilai, jumlah lulusan, atau berbagai predikat juara dalam even lokal /nasional /regional /internasional. Mereka berprestasi ketika masih menjadi siswa, sesudah itu? Bagaimanakah nasib mereka selepas dari pendidikannya? Atau, siapa yang seharusnya memberi jalan pada mereka agar juga bisa berprestasi di dunia nyata? Memangnya, mau makan ijazah? Atau makan piagam? Seharusnya, semua diberi tempat, lebih-lebih bagi anak-anak yang berprestasi. Dengan begitu, mereka tidak tercabut dari akar budayanya. Dengan begitu, ada manfaatnya bagi yang bersangkutan. Dengan begitu, ada manfaatnya bagi daerahnya. Dengan begitu, ada manfaatnya bagi negaranya.
Pertanyaannya sederhana, bagaimana caranya? Gampang, sekolah lagi, di sekolah dasar tentunya … (maaf).
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Pendidikan dan tag , , , , . Tandai permalink.