115. CINTA MILITER NASIONAL INDONESIA

115. Cinta Militer Nasional Indonesia

Di INDONESIA yang ada di seberang jalan, yang dimaksud dengan tentara adalah militer “muda”. Sedangkan militer “sepuh” disebut polisi. Ia adalah anak sulung dari rakyat birokrasi –lihat halaman, Negeri Khayangan. Mereka adalah Militer Murni. Mereka muncul sebagai Angkatan Darat, Angkatan Laut, mapun Angkatan Udara. Sebagai pegawai negara, militer menurunkan militer juga. Mereka adalah Militer “Wajib” (a).

Pola Penjaringan
Agar keturunan Militer Murni bisa menjadi militer sebagaimana orangtuanya maka, mereka perlu dididik. Menjadikan keturunan militer menjadi militer lebih mudah daripada menjadikan militer dari unsur lain. Sebab, 50% peri kehidupan sehari-hari militer sudah diketahui di dalam keluarganya. Sehingga, ketika sudah menjadi militer sungguhan, mereka tidak terlalu kaget dengan baju seragamnya.

Tempat mendidik bagi mereka sudah ada, yaitu di Sekolah Calon Tamtama (Secatam), Sekolah Calon Bintara (Secaba), dan Sekolah Calon Perwira (Secapa). Saat ini, karena pola asuh yang permisif lembaga tersebut terisi oleh unsur lain. Sekolah-sekolah tersebut adalah sekolah kedinasan. Mereka mempelajari ilmu kemiliteran dari ”Guru” Militer. Secatam diperuntukkan bagi anak-anak Milter ”Wajib” dengan syarat lulus dari pendidikan dasar. Secaba diperuntukkan bagi anak- anak Militer ”Wajib” yang telah lulus pendidikan menengah. Sedangkan Secapa diperuntukkan bagi anak-anak Militer ”Wajib” lulusan pendidikan tinggi.

Pertanyaannya, bagaimana dengan unsur lain yang ingin menjadi militer? Dalam hal ini, Anda harus ingat bahwa kelak –lihat, 106. Gugus Satuan Teritorial INDONESIA yang ada di seberang Jalan Indonesia, indonesia— pada level kawedanan akan muncul Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dalam kondisi sempurna, pada satu kota terdapat 10 buah SMK, satu di antaranya adalah SMK Bela Negara. SMK Bela Negara mempunyai 10 macam jurusan, dan satu jurusan di antaranya adalah jurusan militer.

Siswa SMK Bela Negara BUKAN berasal dari Militer Murni (a). Mereka bisa berasal dari unsur sipil maupun unsur rakyat murni. Kelompok inilah yang dimaksud dengan warga negara Indonesia yang terkena /melaksanakan ”Wajib” Militer. Kelompok inilah yang ditulisan lain saya sebut sebagai Pegawai NegerI Militer (b).

Memang, pada saat ini SMK Bela Negara belum ada. SMK ini akan muncul pada tahun ke sepuluh pacsa masa transisi. Sedangkan masa transisinya saja tidak kunjung dimulai … Padahal, pada tahun pertama pasca transisi, mata pelajaran Bela Negara adalah mata pelajaran pokok di sekolah dasar untuk menggantikan Pendidikan Kewarganegaraan.

Harap maklum, garuda masih belajar terbang setelah berguru pada ayam yang ”hanya” bisa melompat setinggi pagar, pada elang yang bisa menukik tajam, pada pungguk yang bisa melihat dalam kegelapan, pada tupai yang pintar melompat, pada perkutut yang pandai menyenangkan tuannya, pada harimau yang sedang terjepit lidahnya, pada gajah yang tidak juga bisa keluar dari sumur, pada laba-laba yang jagoan menangkap nyamuk, dan seterusnya, dan bahkan belajar licik dan atau /cerdik kepada kancil …

Pertanyaan berikutnya, bagaimana jika (a) tidak normal fisiknya? Dalam hal ini, saya hanya mengingatkan, pada saat perang semesta, tampilan fisik tidak penting … Ingat pula, Panglima Besar Jenderal Sudirman pun memimpin pasukan dalam kondisi sakit.

Kelak, pada tiap kelurahan terdapat 11 orang tentara (1a dan 10b), pada tiap desa terdapat 121 orang tentara (11a dan 110b), dan begitu seterusnya. Dengan begitu, nyaris tak ada tempat bagi radikal bebas negatif untuk tumbuh dan yang hanya bikin ribut di persada Pertiwi.

Jika dikaitkan dengan perekonomian INDONESIA maka, jika (a) beragama Islam padanya cukup membayar zakat, jika non Islam mambayar ”zakat”. Sedangkan pada (b), padanya dikenai pajak. Dengan begitu barulah mendekati adil.

Pola Hubungan Tentara-Polisi
Ketika usia berangkat senja, kondisi fisik tidak lagi prima, atau sebab lain yang bisa dipertanggungjawabkan, maka seorang tentara memasuki dunia sipil. Sipil -nya tentara disebut polisi. Dengan kata lain, polisi adalah senior -nya tentara.

Bagi seorang tamtama tentara, untuk menjadi tamtama polisi harus berusia 48 tahun. Bagi seorang bintara tentara, untuk menjadi bintara polisi harus berusia 54 tahun. Sedangkan bagi seorang perwira tentara, untuk menjadi perwira polisi harus mengantongi usia 60 tahun. Pada usia 64 tahun, semuanya purna tugas.

Dari situ terlihat adanya dwifungsi ABRI. Sebagai anak kandung revolusi, tentara bisa total dalam berbakti pada Ibu Pertiwi karena bisa mencapai garis finis. Jadi, bukan habis manis sepah dibuang. Oleh karena itu, dalam kondisi normal, rasio antara tentara dengan polisi pada level yang sama adalah 1 : 1. Yang satu militer ”muda”, yang lain adalah militer ”sepuh”.

Memang, semua peraturan pendukung belum ada, karena itu, tolong buatkan …

Hmm, maaf, saya sedang menggarami air laut …
Wallahualam.

Tentang Sang Nata Sugiarno

Sang Nata Sugiarno bukan siapa-siapa ...
Pos ini dipublikasikan di Noto Bela Negara dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.